Kesan Bacaan “Cerita Buat Para Kekasih” Karya Agus Noor

Cerita buat Para KekasihCerita buat Para Kekasih by Agus Noor

My rating: 3 of 5 stars

Ini buku Agus Noor pertama yang secara utuh aku baca. Sebelumnya, aku hanya membaca beberapa cerpennya yang tersebar di Internet dan di blog pribadinya, Dunia Sukab. Salah satu yang paling memukau adalah “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi.” Agus Noor memang seorang penutur cerita yang piawai menangkap peristiwa-peristiwa sosial untuk dia sajikan secara kritis dalam cerita-ceritanya.

Secara keseluruhan, aku akan mengatakan cerita-cerita dalam buku ini bagus. Namun aku tidak menyukai beberapa cerita yang dalam pandanganku terlampau surealis atau mistis yang penuh dengan metafora-metafora yang membingungkan. Bagiku, kekuatan sebuah cerita adalah kedekatanya dengan pengalaman keseharian kita. Meskipun dengan latar belakang yang fiktif dan bahasa yang tinggi ataupun tertimbun oleh diksi-diksi asing, apabila ceritanya mampu menyentuh kesadaran pengalaman yang terjangkau oleh kita, cerita tersebut akan menarik.

Maka cerita-cerita yang Agus Noor sajikan berangkat dari problematika sosial, sebagian besar soal cinta dan romansa, adalah yang aku sukai dari buku ini.

Sebagaimana judulnya, cerita-cerita dalam buku ini sebagian besar adalah cerita-cerita cinta. Bacaan ini cocok bagi mereka yang sedang semangat dalam menikmati ekspresi tersebut. Banyak kutipan-kutipan percintaan yang bisa seseorang ambil, baik untuk dipersembahkan kepada sang kekasih, atau sekadar dipergunakan untuk caption di Instagram . Salah satunya misalnya kutipan,

Wanita memang selalu berbahaya, karna kita tak pernah tahu apa yang dipikirkannya

Meskipun ritmeku dalam membaca buku ini cukup pelan, aku menikmatinya. Semoga saja juga aku bisa menikmati karya-karya Agus Noor selanjutnya.

View all my reviews

Iklan

Review Anna Karenina Oleh Leo Tolstoy (Percobaan Menggunakan Fitur Lintas Postingan Goodreads ke Blog)

Anna KareninaAnna Karenina by Leo Tolstoy
My rating: 4 of 5 stars

Cinta memang tidak selamanya menyenangkan. Beberapa dari cinta itu tersembunyi di balik hasrat-hasrat dan nafsu. Benarkah suatu tindakan yang kita katakan atas nama cinta memang benar-benar atas nama cinta? Jangan-jangan ia hanyalah persangkaan kita saja. Sejatinya ia adalah hasrat dan nafsu.

View all my reviews

Menonton Sherlock Holmes Musim ke-04; Kesan Baru Pada Babak Baru Petualangan si Detektif

Sherlock Holmes adalah satu dari sedikit tokoh abadi yang ada dalam ingatan kolektif umat manusia. Siapapun yang pernah membaca dan menonton, mestilah mengenal tokoh karangan sir Arthur Conan Doyle ini.

Banyak bentuk adaptasi Sherlock Holmes. Baik ke dalam bentuk literatur maupun sinema. Tapi beberapa tahun belakangan ini, Sherlock Holmes identik dengan satu sosok, Benedict Cumberbatch. Benedict bersama dengan Martin Freeman mengambil peran sebagai detektif swasta Sherlock Holmes dan rekannya dr. John Watson dalam serial TV yang tayang di BBC sejak 2010.

Sherlock Holmes dan John Watson

Benedict berhasil membangun gambaran kepribadian baru bagi Sherlock Holmes sebagai seorang detektif swasta, atau konsultan detektif sebagaimana klaim Sherlock sendiri dalam serial ini.

Serial Sherlock Holmes tahun ini sudah memasuki musim ke-04 setelah sekitar tiga tahun vakum. Pada musim ini ada beberapa perubahan suasana cerita yang aku lihat. Baik dari segi plot dan alur, maupun tampilan sinematik.

Tampilan sinematik Sherlock Holmes pada musim ini lebih ciamik dengan penggunaan efek spesial yang memukau. Efek-efek ini hadir dalam nuansa yang mendukung penonton untuk turut masuk ke dalam dunia Sherlock dan bahkan juga ke dalam pikiran si Detektif sembari menapaki alur berpikirnya dalam usahanya memecahkan suatu kasus.

Penggunaan teknologi perfilman terkini menghadirkan nuansa yang lebih modern. Didukung pula dengan latar belakang waktu yang juga kekinian dengan turut menjadikan gaya hidup milenial seperti Twitter dan Internet sebagai bagian dari cerita. Meskipun memang pada musim-musim sebelumnya bagian semacam itu juga ada namun aku rasa integrasinya tidak sedalam sebagaimana di musim ini.

Sedangkan plot serial Sherlock pada musim ini aku rasa semakin rumit. Kondisi ini akan menyulitkan siapapun yang menonton serial ini di tengah jalan. Pada tiga musim sebelumnya, yang mana setiap musim terdiri dari tiga film, kita bisa menikmati setiap film sebagai film independen dan pada saat yang sama ada juga bagian yang menjadi kepingan puzzle dari keseluruhan serial. Porsi antara tayangan film yang independen dibandingkan dengan bagian dari film yang merupakan puzzle serial menurutku berkisar 70:30. Namun hal tersebut tidak aku temukan di musim ke-04 ini. Pada musim ini aku rasa porsinya antara keduanya justru terbalik. Sehingga setiap film makin sulit dinikmati sebagai tayangan yang independen.

Selain itu, pada musim ini juga sosok Sherlock mengalami suatu perubahan signifikan. Bukan pada kualitas intelektualnya yang tetap luar biasa, melainkan pada sisi emosionalnya. Sebelumnya Sherlock secara bertahap pada tiga musim yang lalu berkembang dari seorang anti sosial menjadi pribadi yang mulai memberi tempat kepada perasaan yang terjalin antar manusia. Perkembangan itu hadir berkat persahabatannya dengan John Watson. John mengubah Sherlock dari seseorang yang awalnya merupakan sosok yang cenderung tidak peduli kepada perasaan manusia, menjadi sosok yang dapat turut ikut merasakan perasaan-perasaan itu.

Perubahan ini menjadikan musim ini lebih penuh dengan drama dibandingkan dengan musim-musim sebelumnya. Sherlock mulai diombang-ambingkan oleh perasaan-perasaan sentimentil. Dilema antara akal dan hati yang terjadi padanya kerapkali membuatnya frustasi. Keadaan ini membuat emosi penonton turut teraduk-aduk. Beberapa momen bahkan sanggup membuat air mata jatuh.

Pada musim ini juga terdapat plot twist yang mind blowing. Alur cerita pun berjalan dengan lebih cepat dan hadir dengan kerumitan yang lebih kompleks. Ini menjadikan kita sebagai penonton mesti menonton dengan serius agar tidak kehilangan satu kepingan yang bisa saja terlewatkan namun merupakan poin penting pada saat deduksi akhir. Mereka yang menonton dengan perhatian yang setengah-setengah aku pastikan akan terjebak dalam kebingungan yang membosankan.

Serial Sherlock Holmes hadir dalam durasi sekitar 90 menit untuk setiap filmnya. Durasi yang sangat panjang untuk ukuran film serial sebenarnya. Namun durasi yang panjang itu akan terasa pendek ketika adrenalin kita berpacu lebih cepat imbas dari keseruan yang kita rasakan saat menontonnya.

Sesulit Itukah Meminta Maaf?

Selepas Menonton Film “The Terror, Live”

Satu lagi film korea yang cukup bagus aku saksikan. Film yang berjudul “The Terror, Live” ini bercerita mengenai aksi terorisme yang dilakukan oleh seseorang yang menuntut permintaan maaf Presiden atas keluarganya. Namun Sang Presiden dengan berbagai dalih politisnya tidaklah meminta maaf. Jangankan meminta, menginginkannya pun tidak.


Sang Teroris pada mulanya menghubungi suatu stasiun radio untuk menyampaikan keluhannya mengenai beberapa hal yang menurutnya tidak adil di negara itu. Setelah mengeluh dan merasa keluhannya tidak ditanggapi dengan baik oleh penyiar, ia pun mengancam akan meledakkan sebuah jembatan. Karena menganggap ancaman tersebut adalah ancaman kosong belaka, Sang Penyiar tidak meggubrisnya sama sekali. Ternyata beberapa saat kemudian terjadilah ledakan yang dijanjikan teroris itu. Kepanikan pun terjadi. Di tengaj kepanikan yang melanda, Sang Penyiar sadar bahwa ini bukan main-main. Dia juga sadar bahwa hal ini akan menjadi berita besar dan dia adalah akses ekslusif langsung ke pada sumber berita. Akhirnya, ketika Sang Teroris kembali menghubungi stasiun radio itu dan menyatakan keluh kesahnya sekali lagi dan bahwasanya ia tidaklah sedang bermain-main, Sang Penyiar yang merasa ini adalah kesempatan besar untuk menaikkan karirnya, menawarkan acara “live” kepada Sang Teroris. Dan begitulah, drama teror kemudian terjadi antara Sang Teroris dan Sang Penyiar pada acara yang ditayangkan secara live.

Tuntutan Sang Teroris sebenarnya sederhana, ia hanya ingin Presiden meminta maaf atas keluarganya yang, menurutnya, telah diperlakukan tidak adil oleh Negara. Sang Teroris, meskipun telah meledakkan jembatan dan menyandera beberapa orang, pada mulanya tidak bermaksud membunuh siapa-siapa. Ledakan yang terjadi sama sekali tidak menelan korban jiwa. Namun Pemerintah tetap kukuh untuk tidak bernegosiasi dengan Sang Teroris. Bahkan dengan arogan, sebagaimana yang ditampakkan, balik menantang Sang Teroris. Kepentingan politik (Presiden yang tinggi hati), bisnis (stasiun TV yang loba dan tamak), dan personal (Sang Penyiar yang terjebak pada egoismenya sendiri) tumpang tindih. Permintaan yang sejatinya sangat sederhana terhalang oleh kuasa-kuasa tertentu. Kekuasaan yang dengan tegas menolak merendahkan dirinya sedikit saja untuk dapat menyelamatkan banyak nyawa. Kekuasaan yang lebih memilih harga diri meskipun harga diri semu itu meminta tumbal yang tidak sedikit.

Asal bukan dirinya yang terancam untuk dikorbankan, ia kan tenang-tenang saja.

Pada detik-detik akhir kehidupannya, Sang Teroris melontarkan pertanyaan yang begitu menggugah bagiku. Ia berkata, “sesulit itukah meminta maaf?” Sesulit itukah, sampai-sampai hal yang lain, termasuk kehidupan, jadi begitu mudahnya untuk dilepas? Dan ya, memang sangat sulit meminta maaf itu. Apalagi bagi manusia yang terlalu tinggi hatinya. Manusia yang merasa harga dirinya terlalu mahal untuk ditukar dengan permintaan maaf yang menurutnya akan mengurangi kadar harga diri itu. Sebagaimana negara kita ini yang begitu beratnya meminta maaf kepada korban-korban ketidakadilannya di masa lalu. Ketidakadilan yang telah merenggut begitu banyak nyawa dan menistakan begitu banyak nama. Sekuat itulah Kesombongan membelenggu hati manusia.

Dari film ini aku belajar bahwa hal yang lebih mahal dari harga diri adalah kerendahan hati. Betapa beratnya merendahkan hati yang telah tertimbun oleh keangkuhan dan kesombongan. Jika Keangkuhan dan Kesombongan telah merajai hati manusia, kebaikan-kebaikan sosial paling kecil sekalipun akan enggan untuk dilakukan.

%d blogger menyukai ini: