Tentang Pontianak dan Manusia-manusianya

Manusia memang selalu unik di manapun mereka berada. Termasuk di Pontianak ini. Setelah beberapa hari berinteraksi dengan kawan-kawan dari HMI cabang Pontianak, baik yang berasal dari struktural pengurus cabang, BPL, maupun LDMI, aku bisa menangkap keunikan itu dengan caranya sendiri-sendiri.

Kedatanganku di sini dalam rangka pengelolaan training Latihan Kader Dakwah (LKD) yang diselenggarakan oleh LDMI HMI pada akhir tahun nanti. Kedatanganku sengaja lebih awal dari hari pelaksanaan pelatihan demi dapat melakukan konsolidasi konsep dan teknis dengan pihak-pihak terkait; Pengurus Cabang, BPL, dan LDMI itu sendiri.

Aku sudah mendiskusikan berbagai macam hal. Diskusi paling menarik adalah diskusiku bersama ketua umum BPL HMI cabang Pontianak, Abdul Muiz.

Dari Kanda Muiz, aku mendapatkan pemahaman penting mengenai kultur perkaderan di lingkungan HMI cabang Pontianak. Dalam diskusi tersebut juga kami menyatukan pemahaman mengenai training yang akan kami kelola. Mulai dari penyeleksian dalam tahapan screening, hingga metode penilaian yang akan kami terapkan.

Kanda Muiz sepakat dengan gagasanku untuk menerapkan metode penilaian kualitatif. Metode ini aku dapatkan ilmunya dari Training Management Training yang aku ikut beberapa waktu lalu. Dengan metode ini, konversi nilai itu tidak ke dalam angka-angka. Tapi kata-kata.

Sebelumnya, gagasan mengenai metode penilaian ini sudah aku diskusikan juga secara mendalam bersama koordinator Steering Committee, ayunda Fauziah Husaini. Aku sudah terlebih dahulu menjalin diskusi yang intens via WhatsApp dengan yunda Fauziah. Aku membantunya mempersiapkan perangkat lunak pelatihan berupa konsep dan kurikulum.

Selama berinteraksi dengan manusia-manusia Pontianak ini, salah satu kekentalan budaya yang aku temui, terutama di lingkungan HMI, adalah budaya melayu. Irama logat melayu yang kental masih umum menghiasai lidah pada penutur bahasa di sini.

Selain itu, aku juga menemukan kekentalan budaya China/ Tionghoa yang tampak jelas di jalan-jalan kota. Budaya Tionghoa di sini juga berbanding lurus dengan budaya Kristen. Secara etnis Tionghoa itu sebagian besar adalah pemeluk agama Kristen. Bangunan-bangunan gereja yang megah dan indah dapat dengan mudahnya kita temukan.

Belum lagi kedatanganku ke sini bertepatan dengan liburan natal sekaligus juga tahun baru. Perayaan kedua momentum tersebut terasa begitu hidup.

Ada satu karakteristik kebudayaan HMI cabang Pontianak yang aku pikir bernilai sangat positif dan dapat menjadi pelajaran berharga bagi kader HMI di cabang-cabang lain, terutama cabangku sendiri.

Karakteristik tersebut adalah bagaimana kader-kader HMI cabang Pontianak mau memberikan kontribusinya pada kegiatan-kegiatan yang ada meskipun kegiatan tersebut tidak memiliki kaitan langsung dengan mereka selain bahwa kegiatan tersebut berada dalam naungan HMI. Misalkan saja LKD ini. Ternyata, para panitia (organizing committee) kegiatan ini terdiri dari utusan-utusan setiap komisariat. Tidak hanya terbatas pada anggota LDMI semata. Mereka masih mau membantu kegiatan lembaga profesi padahal mereka sendiri bukanlah bagian langsung dari lembaga tersebut.

Menurutku kemauan itu adalah suatu nilai yang sangat positif. Pada beberapa cabang, jangankan bukan bagian dari institusi penyelenggara, berbeda gerbong politik pun dapat menjadi alasan keengganan seseorang untuk memberikan sumbangsihnya pada suatu kegiatan.

Masih ada beberapa hari lagi yang akan aku habiskan di sini, insya Allah. Aku berharap beberapa hari ke depan itu akan menjadi momentum yang bisa aku manfaatkan untuk bisa lebih banyak lagi belajar dari manusia-manusia di sini.

Iklan
%d blogger menyukai ini: