Kabar Gembira Dari Pontianak

Catatan Mengenai Kemenangan HMI Pada Pilpresma IAIN Pontianak

Siang tadi, aku menerima selentingan kabar yang cukup menggembirakan. Dalam suasana siang yang menyenangkan dengan ditemani oleh karya sastra menawan dari Knut Hamsun yang baru saja mulai aku baca, kabar tersebut menambah rasa senang di hatiku.

Kabar tersebut datang dari kota yang baru-baru ini saja aku tinggalkan setelah menghabiskan waktu di sana selama dua pekan penuh; Pontianak. Kabar gembiranya berkenaan dengan kemenangan kawan-kawan HMI cabang Pontianak dalam kontestasi pemilihan presiden dan wakil presiden mahasiswa di lingkungan IAIN Pontianak.

Kandidat yang diusung oleh kawan-kawan HMI di sana, Khairul Tamam dan Badrus Saleh, berhasil memenangi pemilihan.

(BACA: Perhitungan Suara Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa IAIN Pontianak)

Kemenangan kawan-kawanku ini menggembirakan bagiku sebab selama keberadaanku di sana, kebanyakan orang-orang yang berinteraksi denganku, adalah mereka, kader-kader HMI IAIN Pontianak.

Mulai dari unsur-unsur LKD (Latihan Kader Dakwah) yang aku kelola, hingga teman ngopi, nongkrong, dan jalan-jalan, sebagian besar berasal dari kampus Islam terbesar di Kalimantan Barat tersebut.

Aku bahkan berkesempatan untuk terlibat diskusi yang diselenggarakan oleh Komisariat Dakwah, salah satu komisariat HMI di IAIN Pontianak di samping Komisariat Syariah dan Komisariat Tarbiyah, sebanyak dua kali. Sekali sebagai peserta, sekali sebagai pembicara.

Maka dari itu, sedikit banyak aku turut menyaksikan sendiri bagaimana mereka membangun konsolidasi politik internal dan menyusun kekuatan untuk menghadapi pemilihan ini. Sebagai orang luar yang mengamati pergerakan ini secara sederhana, aku bisa dengan jelas merasakan geliat antusiasme mereka untuk memenangkan kontestasi ini dengan didorong, salah satunya, oleh semangat perkaderan HMI.

Aku bahkan sempat membangun percakapan mengenai pergerakan mereka ini. Mengenai harapan-harapan mereka yang mereka titipkan pada kontestasi ini, berserta pula kekhawatiran yang menggelayuti langkah-langkah mereka.

Dalam dua kali diskusi yang mereka selenggarakan, sekali membahas mengenai refleksi pergantian tahun, dan sekali membahas mengenai Mission HMI di mana aku bertindak sebagai pembicara, aku mampu menangkap harapan beserta kekhawatiran itu.

Harapan dan kekhawatiran mereka berkutat pada bagaimana kursi kepemimpinan yang ingin mereka capai ini menentukan pergerakan HMI di internal kampus IAIN ke depannya.

Kursi kepemimpinan internal kampus memang merupakan alat yang efektif untuk memuluskan agenda perkaderan. Dengan kepemimpinan tersebut, geliat perkaderan dan perekrutan dapat diberi kesempatan yang seluas-luasnya. Sebaliknya, saat kursi kepemimpinan tersebut dipegang oleh orang-orang yang kontra dengan HMI, akan ada upaya-upaya tertentu dalam menghalang-halangi perekrutan dan perkaderan.

Kini kawan-kawan HMI IAIN Pointianak dapat bernafas lega. Namun tentu jangan sampai menjadi jumawa. Kesombongan adalah kekalahan pertama orang-orang besar. Kemenangan ini mesti disikapi dengan rendah hati. Segala niatan dan tujuan harus dikembalikan kepada basis nilai yang dianut oleh HMI. Niatan yang ikhlas dari kesadaran ilahiah akan kebenaran, dan tujuan yang mencoba mencapai ridha ilahi. Sebagaimana yang termaktub dalam pasal 04 Anggaran Dasar HMI.

Kesempatan yang diperoleh dari kursi kepemipinan ini haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan perekrutan dan perkaderan, yang merupakan fungsi utama HMI sebagai organisasi kader di mana insan cita (yang berkualitas akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan Islam, dan bertanggung-jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT) dibentuk dan dibina.

Namun kesempatan tersebut janganlah sampai memuat unsur ketidakadilan bagi pegerakan-pergerakan eksternal lainnya yang ada lingkungan kampus. Sebab tindakan tersebut justru akan berlawanan dengan nilai-nilai dasar perjuangan HMI sendiri yang begitu menujungjung kemerdekaan dalam berpikir dan bertindak. Cukuplah jika kursi kepemimpinan tersebut menjadi pembuka ruang fasilitas agar perkaderan dan perekrutan dapat berjalan dengan mulus dan tanpa tertanggu.

Terakhir, kita semua tentu harus sadar bahwa kepemimpinan adalah ujian dari Allah. Ujian yang akan memperlihatkan bagaimana kualitas kita sebagai khalifah Allah di muka bumi. Maka bagi kawan-kawan HMI di IAIN Pontianak, buktikanlah bahwa kepemimpinan yang berada di genggaman kalian ini adalah anugerah dan berkah. Bukan hanya bagi anggota dan kader HMI, melainkan juga bagi seluruh mahasiswa IAIN Pontianak.

Mukafaah

Tantangan #My500Words; Hari ke-05

LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab), kampus tempatku menempuh pendidikan tinggi, adalah kampus yang secara penuh dibiayai oleh pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, dan merupakan lembaga di bawah naungan Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud yang bertempat di Riyadh, Saudi Arabia.

Sebagai lembaga yang dibiyai penuh oleh para raja minyak, LIPIA memiliki fasilitas yang tidak tanggung-tanggung. Sebut saja biaya kuliah gratis 100%, buku-buku pelajaran yang juga dibagikan secara gratis, asrama dengan fasilitas menengah ke atas untuk mahasiswa-mahasiswa berprestasi, hingga dukungan tenaga pengajar yang bukan dosen sembarangan. Bisa dibilang, untuk ukuran Indonesia, atau bahkan wilayah Asia Tenggara, LIPIA adalah tempat terbaik untuk belajar Bahasa Arab.

Ada satu lagi fasilitas yang memanjakan para mahasiswa/i LIPIA, fasilitas itu adalah; mukafaah.

Mukafaah kurang lebih bermakna tunjangan bulanan berupa uang yang diberikan kampus kepada para mahasiswanya. Dengan tujuan, kira-kira, agar para mahasiswa tidak perlu lagi memikirkan biaya hidup dan dapat lebih fokus untuk belajar. Kerajaan Saudi Arabia memang berkomitmen dengan sungguh-sungguh untuk memuliakan para penuntut ilmu. Baik di negeri mereka, maupun di negeri lain selama masih dalam naungan dan jangkauan mereka.

Besaran mukafaah beragam. Mukafaah yang paling tinggi diterima oleh para mahasiswa yang kuliah di Arab Saudi. Menyusul kemudian mahasiswa seperti kami, yang tidak kuliah di Arab Saudi tapi masih dalam naungan negeri padang pasir tersebut. Untuk mahasiswa tingkat fakultas di LIPIA seperti aku, besaran mukafaah itu adalah 200 real Saudi per bulan. Bagi mahasiswa kelas reguler, mukafaah itu tetap diberikan meskipun pada bulan-bulan musim liburan. Adapun bagi mahasiwa kelas tambahan seperti aku, mukafaah hanya diberikan pada masa perkuliahan aktif. Yaitu empat bulan setiap semesternya.

Namun adanya mukafaah ini tidak serta merta membuat setiap mahasiswa LIPIA hidup makmur. Apalagi jika melihat kenyataan hidup yang cukup keras di Ibu Kota ini.

Meskipun sama-sama mendapatkan mukafaah, mahasiswa yang kuliah di Saudi dapat dikatakan jauh lebih makmur daripada mahasiswa LIPIA. Hal tersebut karena beberapa sebab;

  1. Mukafaah mereka empat kali lipat lebih banyak,
  2. Tempat tinggal, akomodasi dan konsumsi ditanggung sepenuhnya oleh pihak kampus,
  3. Biaya hidup kota-kota di Saudi yang tidak semahal kota Jakarta.

Para mahasiwa LIPIA saban hari semakin merasakan bahwa mukafaah yang diterima sama sekali tidak dapat diandalkan untuk mencukupi biaya hidup sehari-hari. 200 real Saudi itu setara dengan kira-kira 500 ribu Rupiah. Dengan uang sejumlah itu, hanyalah cukup bagi sewa tempat tinggal saja.

Dulu, ketika inflasi masih rendah dan nilai tukar Rupiah dengan Dollar masih kuat serta biaya hidup yang masih murah, 500 ribu sebulan cukup membuat seorang mahasiswa yang tinggal sendirian hidup makmur. Jumlah tersebut bahkan cukup untuk menghidupi satu keluarga kecil.

Semakin ke sini, biaya hidup semakin meningkat imbas dari inflasi yang meninggi dan perekonomian yang tidak cukup kuat untuk mengimbanginya. Maka dari itu mukafaah pada masa-masa yang aku jalani di LIPIA, boleh dibilang hanya sekadar “uang jajan” yang hanya cukup untuk sedikit bersenang-senang di awal bulan atau membeli beberapa barang yang diinginkan.

Bukan berarti kami sebagai mahasiswa LIPIA tidak bersyukur atau tidak tahu berterima kasih. Hanya saja seperti itulah kenyataannya.

Jika melirik mahasiswa-mahasiswa di kampus-kampus lain yang mesti berjuang keras untuk membiayai kuliah, ataupun mengeluarkan dana hingga ratusan juta, apa yang kami hadapi di sini berkenaan dengan mukafaah ini sama sekali bukanlah suatu masalah. Aku pun tidak menuliskannya pada catatan ini sebagai suatu masalah yang ingin aku kemukakan atau adukan. Aku hanya harus menulis 500 kata hari ini dan kebetulan hari ini juga mukafaah kami cair. Lantas aku menuliskan mukafaah begitu saja sebagai judul catatanku kali ini dan membiarkan tanganku mengetikkan sisanya.

Sampai di sini sudah lebih dari 500 kata yang aku tulis. Maka dari itu akan aku akhiri.

Sampai nanti.

%d blogger menyukai ini: