Kabar Gembira Dari Pontianak

Catatan Mengenai Kemenangan HMI Pada Pilpresma IAIN Pontianak

Siang tadi, aku menerima selentingan kabar yang cukup menggembirakan. Dalam suasana siang yang menyenangkan dengan ditemani oleh karya sastra menawan dari Knut Hamsun yang baru saja mulai aku baca, kabar tersebut menambah rasa senang di hatiku.

Kabar tersebut datang dari kota yang baru-baru ini saja aku tinggalkan setelah menghabiskan waktu di sana selama dua pekan penuh; Pontianak. Kabar gembiranya berkenaan dengan kemenangan kawan-kawan HMI cabang Pontianak dalam kontestasi pemilihan presiden dan wakil presiden mahasiswa di lingkungan IAIN Pontianak.

Kandidat yang diusung oleh kawan-kawan HMI di sana, Khairul Tamam dan Badrus Saleh, berhasil memenangi pemilihan.

(BACA: Perhitungan Suara Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa IAIN Pontianak)

Kemenangan kawan-kawanku ini menggembirakan bagiku sebab selama keberadaanku di sana, kebanyakan orang-orang yang berinteraksi denganku, adalah mereka, kader-kader HMI IAIN Pontianak.

Mulai dari unsur-unsur LKD (Latihan Kader Dakwah) yang aku kelola, hingga teman ngopi, nongkrong, dan jalan-jalan, sebagian besar berasal dari kampus Islam terbesar di Kalimantan Barat tersebut.

Aku bahkan berkesempatan untuk terlibat diskusi yang diselenggarakan oleh Komisariat Dakwah, salah satu komisariat HMI di IAIN Pontianak di samping Komisariat Syariah dan Komisariat Tarbiyah, sebanyak dua kali. Sekali sebagai peserta, sekali sebagai pembicara.

Maka dari itu, sedikit banyak aku turut menyaksikan sendiri bagaimana mereka membangun konsolidasi politik internal dan menyusun kekuatan untuk menghadapi pemilihan ini. Sebagai orang luar yang mengamati pergerakan ini secara sederhana, aku bisa dengan jelas merasakan geliat antusiasme mereka untuk memenangkan kontestasi ini dengan didorong, salah satunya, oleh semangat perkaderan HMI.

Aku bahkan sempat membangun percakapan mengenai pergerakan mereka ini. Mengenai harapan-harapan mereka yang mereka titipkan pada kontestasi ini, berserta pula kekhawatiran yang menggelayuti langkah-langkah mereka.

Dalam dua kali diskusi yang mereka selenggarakan, sekali membahas mengenai refleksi pergantian tahun, dan sekali membahas mengenai Mission HMI di mana aku bertindak sebagai pembicara, aku mampu menangkap harapan beserta kekhawatiran itu.

Harapan dan kekhawatiran mereka berkutat pada bagaimana kursi kepemimpinan yang ingin mereka capai ini menentukan pergerakan HMI di internal kampus IAIN ke depannya.

Kursi kepemimpinan internal kampus memang merupakan alat yang efektif untuk memuluskan agenda perkaderan. Dengan kepemimpinan tersebut, geliat perkaderan dan perekrutan dapat diberi kesempatan yang seluas-luasnya. Sebaliknya, saat kursi kepemimpinan tersebut dipegang oleh orang-orang yang kontra dengan HMI, akan ada upaya-upaya tertentu dalam menghalang-halangi perekrutan dan perkaderan.

Kini kawan-kawan HMI IAIN Pointianak dapat bernafas lega. Namun tentu jangan sampai menjadi jumawa. Kesombongan adalah kekalahan pertama orang-orang besar. Kemenangan ini mesti disikapi dengan rendah hati. Segala niatan dan tujuan harus dikembalikan kepada basis nilai yang dianut oleh HMI. Niatan yang ikhlas dari kesadaran ilahiah akan kebenaran, dan tujuan yang mencoba mencapai ridha ilahi. Sebagaimana yang termaktub dalam pasal 04 Anggaran Dasar HMI.

Kesempatan yang diperoleh dari kursi kepemipinan ini haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan perekrutan dan perkaderan, yang merupakan fungsi utama HMI sebagai organisasi kader di mana insan cita (yang berkualitas akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan Islam, dan bertanggung-jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT) dibentuk dan dibina.

Namun kesempatan tersebut janganlah sampai memuat unsur ketidakadilan bagi pegerakan-pergerakan eksternal lainnya yang ada lingkungan kampus. Sebab tindakan tersebut justru akan berlawanan dengan nilai-nilai dasar perjuangan HMI sendiri yang begitu menujungjung kemerdekaan dalam berpikir dan bertindak. Cukuplah jika kursi kepemimpinan tersebut menjadi pembuka ruang fasilitas agar perkaderan dan perekrutan dapat berjalan dengan mulus dan tanpa tertanggu.

Terakhir, kita semua tentu harus sadar bahwa kepemimpinan adalah ujian dari Allah. Ujian yang akan memperlihatkan bagaimana kualitas kita sebagai khalifah Allah di muka bumi. Maka bagi kawan-kawan HMI di IAIN Pontianak, buktikanlah bahwa kepemimpinan yang berada di genggaman kalian ini adalah anugerah dan berkah. Bukan hanya bagi anggota dan kader HMI, melainkan juga bagi seluruh mahasiswa IAIN Pontianak.

Tentang Pontianak dan Manusia-manusianya

Manusia memang selalu unik di manapun mereka berada. Termasuk di Pontianak ini. Setelah beberapa hari berinteraksi dengan kawan-kawan dari HMI cabang Pontianak, baik yang berasal dari struktural pengurus cabang, BPL, maupun LDMI, aku bisa menangkap keunikan itu dengan caranya sendiri-sendiri.

Kedatanganku di sini dalam rangka pengelolaan training Latihan Kader Dakwah (LKD) yang diselenggarakan oleh LDMI HMI pada akhir tahun nanti. Kedatanganku sengaja lebih awal dari hari pelaksanaan pelatihan demi dapat melakukan konsolidasi konsep dan teknis dengan pihak-pihak terkait; Pengurus Cabang, BPL, dan LDMI itu sendiri.

Aku sudah mendiskusikan berbagai macam hal. Diskusi paling menarik adalah diskusiku bersama ketua umum BPL HMI cabang Pontianak, Abdul Muiz.

Dari Kanda Muiz, aku mendapatkan pemahaman penting mengenai kultur perkaderan di lingkungan HMI cabang Pontianak. Dalam diskusi tersebut juga kami menyatukan pemahaman mengenai training yang akan kami kelola. Mulai dari penyeleksian dalam tahapan screening, hingga metode penilaian yang akan kami terapkan.

Kanda Muiz sepakat dengan gagasanku untuk menerapkan metode penilaian kualitatif. Metode ini aku dapatkan ilmunya dari Training Management Training yang aku ikut beberapa waktu lalu. Dengan metode ini, konversi nilai itu tidak ke dalam angka-angka. Tapi kata-kata.

Sebelumnya, gagasan mengenai metode penilaian ini sudah aku diskusikan juga secara mendalam bersama koordinator Steering Committee, ayunda Fauziah Husaini. Aku sudah terlebih dahulu menjalin diskusi yang intens via WhatsApp dengan yunda Fauziah. Aku membantunya mempersiapkan perangkat lunak pelatihan berupa konsep dan kurikulum.

Selama berinteraksi dengan manusia-manusia Pontianak ini, salah satu kekentalan budaya yang aku temui, terutama di lingkungan HMI, adalah budaya melayu. Irama logat melayu yang kental masih umum menghiasai lidah pada penutur bahasa di sini.

Selain itu, aku juga menemukan kekentalan budaya China/ Tionghoa yang tampak jelas di jalan-jalan kota. Budaya Tionghoa di sini juga berbanding lurus dengan budaya Kristen. Secara etnis Tionghoa itu sebagian besar adalah pemeluk agama Kristen. Bangunan-bangunan gereja yang megah dan indah dapat dengan mudahnya kita temukan.

Belum lagi kedatanganku ke sini bertepatan dengan liburan natal sekaligus juga tahun baru. Perayaan kedua momentum tersebut terasa begitu hidup.

Ada satu karakteristik kebudayaan HMI cabang Pontianak yang aku pikir bernilai sangat positif dan dapat menjadi pelajaran berharga bagi kader HMI di cabang-cabang lain, terutama cabangku sendiri.

Karakteristik tersebut adalah bagaimana kader-kader HMI cabang Pontianak mau memberikan kontribusinya pada kegiatan-kegiatan yang ada meskipun kegiatan tersebut tidak memiliki kaitan langsung dengan mereka selain bahwa kegiatan tersebut berada dalam naungan HMI. Misalkan saja LKD ini. Ternyata, para panitia (organizing committee) kegiatan ini terdiri dari utusan-utusan setiap komisariat. Tidak hanya terbatas pada anggota LDMI semata. Mereka masih mau membantu kegiatan lembaga profesi padahal mereka sendiri bukanlah bagian langsung dari lembaga tersebut.

Menurutku kemauan itu adalah suatu nilai yang sangat positif. Pada beberapa cabang, jangankan bukan bagian dari institusi penyelenggara, berbeda gerbong politik pun dapat menjadi alasan keengganan seseorang untuk memberikan sumbangsihnya pada suatu kegiatan.

Masih ada beberapa hari lagi yang akan aku habiskan di sini, insya Allah. Aku berharap beberapa hari ke depan itu akan menjadi momentum yang bisa aku manfaatkan untuk bisa lebih banyak lagi belajar dari manusia-manusia di sini.

Merancang Suatu Bentuk Pelatihan yang Ideal

Catatan Harian TMT BPL PB HMI Korwil JABODETABEKA Banten; Hari ke-03

Salah satu kelemahan utama instruktur di HMI adalah kemampuan merancang pelatihan. Hal tersebut aku sadari betul setelah seharian kemarin bersama fasilitator TMT belajar bagaimana membuat rancangan yang rapi dan juga sangat detil. Mulai dari awal hingga akhir suatu pelatihan. Awalannya pun bukan sekedar sehari dua hari sebelum pelatihan, melainkan lebih jauh dari itu dengan menariknya ke awal penyusunan konsep yang benar-benar matang.

Hari ketiga pelatihan TMT ini, Kamis (11/10) dimulai dengan suasana yang ceria. Fasiltator mengajak kami bergoyang di pagi hari dengan senam Maumere. Inilah salah satu unsur yang menarik dari pelatihan ini. Ada sisipan-sisipan kesenangan yang membuat suasana menjadi santai di tengah-tengah materi yang sebenarnya sangat serius.

Pada hari ini, fokus utamanya adalah perancangan pelatihan. Perancangan tersebut, seperti yang sudah aku singgung di awal, bukan hanya rancangan pelatihannya saja. Melainkan juga rancangan langkah-langkah awal mula dari analisa situasi yang kemudian akan menjadi bahan penyusunan konsep pelatihan dan pembuatan modul bagi pelatihan tersebut.

Aku merasakan bahwa perihal perancangan ini benar-benar aktivitas yang sangat menguras pikiran. Tidak heran jika sepanjang hari kemarin, kami hanya berkutat di praktek perancangan pelatihan ini dengan lebih dari satu cara dan lebih dari sekali revisi atas apa yang sudah kami kerjakan. Kami dituntut oleh fasiltator untuk bisa membuat rancangan yang benar-benar rapi dan detil. Bukan sekadar suatu rancangan yang simulatif semata, melainkan suatu rancangan yang aplikatif dan realistis. Suatu rancangan yang benar-benar dapat terterapkan secara nyata. Lengkap dengan antisipasi atas kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Pada sesi pertama di pagi hari, setelah suasana cair oleh goyang Maumere, fasilitator memberikan pemahaman teoritis mengenai perancangan pelatihan. Apa saja instrumen yang dibutuhkan untuk menyusun rancangan tersebut dan apa pula langkah-langkahnya.

Selepas penyampaian teoritis tersebut, yang memakan waktu tidak sampai satu jam, kami langsung dibagi kedalam empat kelompok di mana masing-masing kelompok terdiri dari tiga orang. Setiap kelompok diberi tugas untuk menyusun rancangan pelatihan Basic Training (Latihan Kader I) HMI dengan mengunakan diagram ikan Ishikawa. Aku berkesempatan berkelompok bersama Hendro (Bandar Lampung) dan Irsyad (Depok). Kami menyusun rancangan LK1 dengan latar belakang sebuah komisariat di HMI cabang Bandar Lampung.

img-20181012-wa0001
Hasil rancangan pertama yang sederahana. Menggunakan diagram Ishikawa.

Pada siang harinya. selepas salat Zuhur, kami mempresentasikan hasil rancangan kami dengan metode Wood Cafe. Teknisnya, masing-masing kelompok menentukan satu orang sebagai presentator yang diam di tempat (stand) yang telah ditentukan untuk kelompok tersebut, sedangkan dua anggota kelompok sisanya bertindak sebagai visitor yang akan mengunjungi stand kelompok lain secara bergilir untuk mendengarkan pemaparan presentator mereka.

Selepas presentasi, ada refleksi dari fasilitator untuk mengevaluasi hasil rancangan kami. Dari hasil evaluasi tersebut tampaklah banyaknya kekurangan dari rancangan kami. Salah satu yang paling esensial adalah ketelitian langkah demi langkah yang masih kurang. Rancangan kami masih terlalu luas, terlalu general. Startegi taktisnya dari rancangan tersebut belum kami bubuhkan sehingga sulit membayangkan penerapannya secara nyata.

Oleh karena itu, fasilitator kemudian melebur kami menjadi dua kelompok saja untuk bisa melanjutkan (melengkapi) rancangan kami. Kami diberi waktu hingga malam hari untuk merampungkan rancangan ini dengan lebih rapi dan lebih detil. Bergabung ke dalam kelompok kami kelompok yang terdiri dari TB. Masykur (Cilegon), Iqbal (Tangerang), dan Heru (Serang).

Malam hari selepas salat Isya dan makan malam, kami kemudian menjabarkan hasil rancangan kami secara bergilir. Dalam presentasi kali ini, kami maju bergiliran setiap kelompok. Kelompok lain yang menyaksikan kemudian memberikan kritik dan saran atas hasil kerja kami.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kemudian kami memasuki sesi terakhir untuk hari ini. Sesi yang menurutku paling menguras pikiran.

Masih sama seperti sebelumnya, kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan diarahkan untuk merancang pelatihan. Ada tiga kelompok, kelompok pertama merancang Basic Training, kelompok kedua merancang Intermediate Training dan kelompok terakhir merancang Training of Trainer. Aku bersama Irsyad (Depok), Wakid (Malang), dan Yogi (Serang) mendapat tugas untuk merancang Basic Training.

Bedanya, kali ini metode untuk merancang yang kami pergunakan kali ini adalah metode 4D (Discovery, Dream, Design, Destiny), suatu metode yang akan menghasilkan suatu skema yang rapi dan detil. Setelah fasilitator menjelaskan mengenai langkah-langkah yang mesti kami tempuh dalam menyusun rancangan ini, kami langsung mulai membangun rancangannya.

Pada titik inilah aku, dan kawan-kawanku yang lain merasakan betapa aktifitas ini menguras pikiran dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Menjadi seorang konseptor yang mampu menghasilkan rancangan yang matang bukanlah sesuatu yang mudah. Butuh kecerdasan yang tinggi dan imajinasi yang luas demi bisa dapat menyusun langkah demi langkah dengan presisi yang tepat dan akurat beserta kemungkinan-kemungkinan yang menyertainya.

Hingga pukul dua dini hari, kami belum kunjung juga menyelesaikan rancangan kami. Kami masih berkutat pada diskusi yang alot untuk menentukan langkah demi langkah yang mesti kami tetapkan. Kealotan juga terjadi saat kami mendata tantangan dan ancaman yang mungkin akan ada di hadapan langkah-langkah yang kami tetapkan serta bagaimana mengatasinya.

Master of Training memutuskan agar kami melanjutkan tugas perancangan ini di pagi hari dan mengarahkan kami agar istirahat.

Aku merasa beruntung karena fasilitator membawakan materi ini dengan santai. Padahal materinya adalah materi yang serius. Aku melihat di sinilah keseimbangan yang perlu kami ambil ketika mengelola pelatihan. Materi yang berat jika disajikan dengan metode yang juga berat, tentu akan menimbulkan kejenuhan. Maka salah satu triknya, materi yang berat disajikan dalam bingkai metode yang ringan dilengkapi dengan partisipasi yang luas dari para peserta.

Menuju Sosok Seorang Fasilitator

Catatan Harian TMT BPL PB HMI Korwil JABODETABEKA Banten; Hari ke-02

Training ini berjalan dengan santai. Namun muatan materinya butuh perhatian yang sangat serius sebab berkaitan dengan suatu bangunan ideal yang akan menentukan pola perkaderan HMI di masa depan. Dalam menyajikan materi, MoT menggunakan metode yang beragam. Namun dari keberagaman metode itu, ada satu kekuatan khas yang mewarnai semuanya, yakni warna partisipatif di mana semua peserta mesti memberikan kontribusi aktifnya dalam alur penyajian materi.

Pada pagi hari, selepas salat Subuh kami melakukan olahraga ringan. Lantas kemudian pada pukul setengah sembilan, forum dibuka setelah sebelumnya kami menyelesaikan kegiatan pribadi masing-masing dan juga menyantap sarapan yang sudah disediakan oleh panitia pada pukul tujuh.

Untuk hari Rabu (10/10) ini, materi utama yang akan kami serap adalah Benchmark Fasilitator. Materi yang sungguh menarik dan sarat akan muatan yang penuh makna. Salah satu kesimpulan penting dari materi tersebut adalah penggunaan istilah ‘fasilitator’ sebagai ganti dari istilah ‘narasumber,’ atau ‘instruktur,’ atau bahkan ‘master.’ Fasilitator menjadi padanan yang tepat bagi istilah trainer sebagaimana yang sudah aku singgung pada catatanku sebelumnya.

img_20181010_144618
Moderator dari KOHATI cabang Cilegon yang turut membantu mencairkan suasana.

Rangkuman Materi Benchmark Fasilitator

Materi ini berguna untuk membangun suatu pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya tolak ukur tertentu (bencmark) yang diterapkan atas para fasilitator di setiap training.

Fasilitator itu sendiri memiliki peranan kunci pada training. Dia berperan sebagai penentu kualitas training dan juga hasil akhir daripada training tersebut. Mulai dari tataran konsep training, kurikulum, metode, metodologi, hingga ekspektasi (tujuan dan terget) dari training.

Dalam visi BPL PB HMI, ke depannya pada perkaderan di HMI, posisi narasumber dan instruktur, akan digeser oleh fasilitator. Sehingga mulai dari pengelolaan training, hingga penyampaian materi-materi yang ada di dalamnya dipegang oleh sosok berkualifikasi fasilitator.

Untuk itu, perlu adanya suatu bentuk tolak ukur tertentu yang menjadi patokan bagi sosok fasilitator yang ideal pada Perkaderan. Pada titik inilah, Benchmark Fasilitator mendapatkan urgensinya.

Benchmark Fasilitator berlandaskan pada tiga jenjang; Pertama: keterampilan komunikasi, kemudian, Kedua: berjenjang menuju keterampilan memafasilitasi kelompok, dan Ketiga: berpuncak pada keterampilan perencanaan partisipatif.

Dalam jenjang pertama benchmark tersebut terdapat langkah demi langkah berupa skill atau keterampilan khusus yang mesti dikuasai oleh seorang fasilitator yang baik. Antara lain, adalah keterampilan mengamati (probing), mendengar, bertanya, berdiskusi (dialog), memberikan umpan balik (feedback) dlsb.

Sedangkan pada jenjang kedua, keterampilan yang dituntut itu mencakup; membangun kepercayaan, monitoring tahap-tahap kelompok, monitoring peran kelompok, membangun dinamika kelompok, mendorong kerja kelompok, mendorong partisipasi yang merata, dan penyelesaian konflik.

Terakhir, yang merupakan benchmark tertinggi bagi fasilitator adalah keterampilan perencanaan partisipatif yang mencakup keterampilan-keterampilan tertentu yakni, assessment, desain, perencanaan, manajemen, implementasi, monitoring, dan evaluasi.

Dengan Benchmark Fasilitator ini, training di HMI akan tertata rapi dan tersusun sesuai standar yang diharapkan hasilnya akan lebih maksimal dalam mewujudkan tujuan dari Perkaderan itu sendiri.

Namun, apakah Benchmark ini dapat serta merta terterapkan di lingkungan perkaderan HMI, mulai dari tingkatan komisariat, hingga tingkat nasional?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, butuh suatu analisa tersendiri yang akan mengurai mulai dari kekuatan, kelemahan, ancaman, hingga peluang yang terdapat pada masing-masing lingkungan perkaderan di HMI.

Suatu lingkungan perkaderan (HMI tingkatan cabang, atau tingkatan komisariat) mesti memiliki tantangannya sendiri-sendiri dalam mewujudkan dan menegakkan benchmark ini. Tugas kita adalah menciptakan agen-agen fasilitator pembaharu yang akan menggeser kultur-kultur perkaderan lama dan membawa nafas baru bagi perkaderan melalui Benchmark Fasilitator ini sehingga pada nantinya, setiap perkaderan di HMI dapat memiliki suatu bentuk kualitas yang khas dan bernilai tinggi serta seragam dan selaras mulai dari lingkungan perkaderan lokal, hingga nasional.

***

Master of Training (MoT), atau fasilitator (mungkin ke depannya aku akan cenderung menggunakan istilah ini pada catatan-catatanku) menyisipkan dua kali kegiatan kelompok sepanjang hari kemarin. Pada kegiatan yang pertama, kami dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok meneliti, menyusun dan mempresentasikan lima metode pembelajaran yang dapat dipergunakan dalam training.

Dokumen ringkasan hasil kerja kami dapat dilihat di LINK ini

Kelompokku sendiri, yang terdiri dari aku, Wakid (Malang), Iqbal (Tangerang), Heru (Serang), TB. Masykur (Cilegon), dan Oka (Jakarta Raya) mendapatkan bagian untuk meneliti, menyusun, dan mempresentasikan metode; 1. Mind Maping, 2. Inquiry, 3. Role Playing, 4. Comparative Script, dan 5. Debat.

img-20181010-wa0004
Kelompok kami berdiskusi untuk menyusun materi presentasi.

Lalu pada malam hari, kami kembali dibagi menjadi beberapa kelompok. Kali ini, aku satu kelompok dengan Iqbal (Tangerang) dan Totong (Serang). Tugas kami adalah membuat rangkuman materi hari Rabu (10/10) ini dan menyusun gambaran penerapannya pada lingkungan perkaderan kami masing-masing. Rangkuman yang kami susun adalah apa yang aku tulis di catatan ini di atas.

img-20181010-wa0041
Presentasi kelompok kedua bersama Iqbal dan Totong.

Forum berakhir agak terlambat pada pukul 23.00. Selepas berbincang-bincang sebentar dengan kawan-kawan yang datang berkunjung ke arena training ini, aku langsung ke kamar dan istirahat. Hari esok yang menyenangkan menanti.

Menatap Arah Baru Perkaderan Pengelola Pelatihan di HMI

Catatan Harian TMT BPL PB HMI Korwil JABODETABEKA Banten; Hari ke-01

Selama kurang lebih lima hari ke depan, aku akan menjalani proses perkaderan dengan tajuk Training Managament Training (TMT) yang diselenggarakan oleh BPL PB HMI Koordinator Wilayah JABODETABEKA Banten. Pelatihan ini diselenggarakan di kota Cilegon. Kota yang memiliki banyak kenangan bagiku. Dengan cuacanya yang panas dan gerah kota ini menyambutku saat aku tiba pada hari Sabtu (06/10) lalu.

Aku datang terlalu awal. Namun aku memang meniatkannya karena ingin terlebih dahulu bertegur sapa dengan kawan-kawan dari HMI cabang Cilegon.

Akhir pekan aku jalani di kota Cilegon ini dengan sedikit jalan-jalan. Menikmati angin sore yang segar di pinggiran waduk yang terletak tidak jauh dari sekretariat HMI cabang Cilegon. Selain itu, aku turut membantu panitia penyelenggara menyiapkan beberapa hal. Termasuk tempat yang akan dipergunakan untuk pelatihan ini. Yakni BLK (Balai Latihan Kerja) kota Cilegon.

img_20181007_145956
Angin sore yang segar.

Para peserta selain diriku baru berdatangan pada hari Senin. Pada hari itu pula, sore harinya, kami menuju BLK setelah sebelumnya bermalam di sekretariat HMI cabang Cilegon. Setibanya kami di BLK, pendaftaran peserta langsung dibuka. Sepanjang hari itu hingga malam hari, kami tidak melakukan apa-apa selain menata tempat pelatihan sembari menunggu kedatangan kawan-kawan peserta yang lain.

Screening Test dan Pembukaan

Pada pagi hari Selasa, setelah semua peserta yang terdaftar datang, dimulailah screening test berupa tes tertulis yang terdiri dari 10 soal. Soal-soal tersebut disusun langsung oleh Arif Maulana, ketua umum BPL PB HMI. Semua soal berkisar pada teknis pengelolaan pelatihan di HMI. Sebenarnya tes ini lebih cocok disebut sebagai pre-test ketimbang screening. Sebab sejatinya tidak ada yang ter-‘saring’ dari proses ini dan juga soal-soal yang diajukan lebih kepada pengujian pemahaman dan wawasan kami mengenai pelatihan di HMI.

Selepas Zuhur, pelatihan ini kemudian dibuka. Hadir dalam pembukaan jajaran pengurus HMI cabang Cilegon beserta kawan-kawan anggota HMI cabang Cilegon, KAHMI Banten, dan juga Ketua Bidang PA PB HMI, Helmi Yunan Ihnaton yang kemudian dirinya membuka rangkaian kegiatan training ini secara resmi. Prosesi pembukaan selesai selepas waktu Ashar. Kami kemudian diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan bebas hingga lepas Isya di mana kami akan memulai forum dengan orientasi training.

img-20181009-wa0034
Selepas seremonial pembukaan.

Orientasi Training

Sebenarnya apa sih TMT ini? Jujur saja, pertanyaan tersebut masih menggelayut pada banyak benak kader HMI. Bahkan juga para peserta yang datang untuk mengikuti pelatihan ini masih berpijak pada gambaran yang kabur mengenai apa sebenarnya TMT ini berserta maksud dan tujuannya.

TMT ini sebenarnya adalah produk Pedoman Perkaderan hasil kongres ke-29 di Pekanbaru. Secara konsep, ia masih sangat muda. Saking mudanya, belum ada sama sekali penyelenggaraan TMT tersebut meski sudah beberapa tahun ini masuk ke dalam Pedoman Perkaderan. Maka TMT yang kami ikuti ini adalah proyek percontohan untuk membuktikan efektivitas dan efisiensi TMT ini dalam mencetak sumber daya pengelola pelatihan yang mumpuni.

Bertindak sebagai master of training (MoT) dalam pelatihan ini adalah Arif Maulana sendiri.

Dalam Orientasi Training dia menjabarkan visinya mengenai pola perkaderan pengelola pelatihan HMI di masa yang akan datang. Beberapa dari visinya tersebut bernuansa revolusioner. Misalkan visinya mengenai peran master of training yang akan lebih dominan pada setiap pelatihan karena terlibat sejak rancangan awal pelatihan. Menurutntya, MoT harus benar-benar menjadi perancang, pengelola, dan pengevaluasi pelatihan. Bukan sekasar penjaga pelatihan yang perannya cenderung sebagai pengawas saja.

Visi ini cukup menggebrak karena akan bergesekan dengan tradisi-tradisi dalam perkaderan di HMI.

Dalam penjabarannya, dia mengungkapkan maksud dari konsep TMT ini. Konsep ini, beserta dengan konsep TOT (Training of Trainer) yang merupakan jenjang pelatihan di bawah TMT, adalah upaya untuk memperbahrui pola perkaderan di HMI dengan membangun suatu bentuk perkaderan yang tersusun dengan rapi dan terstandarisasi. Selama ini, pelatihan yang terstandarisasi hanyalah pelatihan formal. Sedangkan pelatihan informal kerap terselenggara dengan konsep yang ala kadarnya. Terutama pelatihan untuk pengelola pelatihan yang masih terpecah antara moda Senior Course, Training Instruktur, dan Training of Trainer, yang mana masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Secara sederhana, TMT bermaksud untuk menambal kekurangan-kekurangan yang tidak teratasi oleh perkaderan pengelola pelatihan seperti Senior Course dan Training Instruktur. Yakni kemampuan/ keterampilan (skill) yang mencakup perencanaan, pengelolaan, dan pengevaluasian pelatihan.

Memang, ketiga skill tersebut kurang mendapat perhatian dari perkaderan pengelola pelatihan yang sudah ada di mana pada perkaderan tersebut aspek penguasaan materi mendapatkan porsi yang lebih dominan sedangkan skill teknis untuk pelatihan hanya diberi porsi-porsi dasar saja. Seandainya pun ada porsi lebih, kelebihannya tersebut terpusat ada pada proses pengelolaan pelatihan saja. Bukan pada perencanaan dan pengevaluasian.

Ke depannya, akan ada penyelarasan/ standarisasi dalam dunia perkaderan para pengelola pelatihan. Lebih radikal dari itu, akan ada pula penyelarasan berbagai istilah yang terdapat dalam perkaderan di HMI. Misalkan penggunaan istilah “instruktur” dan “master” sebagai mereka yang sudah lulus dan memenuhi kualifikasi pengelolaan training, akan digeser dengan istilah “trainer.”

Istilah ini dikemukakan agar dapat lebih sesuai dengan istilah-istilah perkaderan lainnya di mana kata training-lah yang kerap digunakan. Seperti pada pelatihan formal yang menggunakan istilah Basic Training, Intermediate Training, dan Advance Training.

Akhirnya pula perkaderan atau pelatihan untuk membina kader guna memenuhi kualifikasi tersebut menggunakan istilah yang juga selaras yakni Training of Trainer dan Training Management Training.

Lebih lanjut, dalam Orientasi Training, Arif Maulana selaku Master of Training memberikan gambaran mengenai alur yang akan kami jalani selama pelatihan ini; muatan materi dan pembinaan yang akan memberikan kami kemampuan untuk merancang, mengelola, dan mengevaluasi setiap pelatihan di HMI.

Orientasi Training diselingi dengan permainan perkenalan dan juga penempelan kertas ekspektasi dan kontribusi di Pohon Harapan. Kami juga menyepakati beberapa hal terkait dengan norma-norma selama pelatihan ini berjalan.

Forum berakhir pada pukul sepuluh lewat. Suatu hal yang sangat jarang dalam training di HMI. Namun memang ke depannya, Arif Maulana mengatakan bahwa kita ingin membangun pola pelatihan yang pendekatannya lebih humanistik. Salah satunya adalah dengan tidak memperlebar forum hingga larut malam.

Hari ini berakhir dengan baik. Semoga besok bisa lebih baik lagi.

Esensi Nilai Kemanusiaan Ada Pada Kerja-kerja Sosial

Catatan Selepas Ngaji NDP HMI Sesi ke-04 di HMI cabang Pandeglang

HMI menuntut kader-kadernya untuk mewujudkan tatanan masyarakat ideal yang dalam bahasa Konstitusi HMI, difrasakan dengan “masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.” Ini artinya, kader-kader HMI adalah mereka yang punya tanggung jawab sosial kemasyarakatan yang tinggi. Mereka adalah kader umat dan kader bangsa, yang memiliki hak sebagai pembaharu dan tanggung jawab sebagai penggerak perubahan sosial di masyarakat.

Perubahan sosial yang baik juga adalah salah satu pokok ajaran Islam. Agama dan ajaran yang menjadi asas HMI ini menuntut para pemeluknya untuk menjadi para penegak keadilan. Menjadi penggerak perubahan sosial ke arah yang lebih baik, ke arah yang berketuhanan yang maha esa. Semangat ke-tauhid-an yang menyala-nyala menjadi spirit kader-kader HMI dalam mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Maka dari itu, tidak heran apabila Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI menjadikan wacana manusia sebagai penggerak perubahan sosial sebagai salah satu nilainya yang paling esensial. Wacana tersebut sudah mengemuka dimulai dari BAB II NDP HMI yang bertajuk, “Pengertian-pengertian Dasar Tentang Kemanusiaan.”

Pada Jumat (22/9) lalu aku bersama kawan-kawan HMI cabang Pandeglang mengaji NDP HMI pada BAB ini. Kajian yang sudah menginjak kali keempat itu terselenggara di sela-sela Basic Training HMI Komisariat STAIBANA, Pandeglang. Hadir dalam kajian tersebut anggota HMI cabang Pandeglang dari berbagai Komisariat.

Pembahasan mengenai “Pengertian-pengertian Dasar Tentang Kemanusiaan” dimulai dari wacana bahwa sebagai hamba dan wakil Allah dimuka Bumi, manusia telah dianugerahi suatu instrumen bawaan yang akan menuntun manusia dalam rangka memenuhi tugasnya tadi. Instrumen itu adalah fithrah. Fithrah merupakan kecendrungan manusia kepada Kebenaran (hanief). Kecendrungan ini tertanam di dalam hati nurani manusia. Membuatnya mampu merasakan kebenaran, kebaikan, dan keindahan pada dirinya dan apa yang ada di sekitarnya. Juga membuatnya merasa berat hati dan gelisah akan kesalahan, keburukan, dan kejelekan yang meracuni dirinya dan juga menimpa tatanan masyarakatnya (bangsa dan negara).

Pembahasan kemudian berlanjut pada kesadaran bahwa nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang manusia condong kepadanya itu tampak pada kerja-kerjanya sehari-hari. Kerja-kerja sosial yang berorientasi pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan adalah inti dari kemanusiaan yang ada pada dirinya. Maka dengan menuruti fithrah yang tertanam di dalam hati nuraninya, manusia sejatinya tengah menguatkan dan mengokohkan kemanusiaannya. Kerja-kerja sosial tersebut akan membawa manusia menuju kebahagiaannya.

Kebahagiaan manusia dalam prespektif NDP HMI, terletak pada kerja-kerjanya sebagai individu dalam suatu tatanan masyarakat (bangsa dan negara) yang cenderung kepada kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Kerja-kerja semacam itu adalah kerja-kerja yang ikhlas. Kerja yang tidak mengharapkan, atau tidak berorientasi apapun di luar dari pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang terdapat dalam pekerjaan itu sendiri. Kerja ikhlas yang hanya mengharapkan dan berorientasi pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan ini pada akhirnya akan membawa manusia kepada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang mutlak. Yakni tuhannya, Allah SWT. Pangkal dan tujuan pekerjaan manusia yang ikhlas, adalah Allah SWT. Keikhlasan yang semata-mata untuk Allah inilah sumber dari kebahagiaan manusia.

Semangat pekerjaan yang berlandaskan nilai Ikhlas ini kemudian mesti terterapkan pada kehidupannya sehari-hari. Pada kerja-kerjanya sebagai individu yang merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Sebab nilai-nilai yang tidak terterapkan dalam kehidupan sehari-hari, akan kehilangan arti dan maknanya. Oleh karena itu manusia muslim dalam prespektif NDP HMI, dituntut untuk bisa melakukan kerja-kerja yang sifatnya sosial. Kader HMI, dalam usahanya untuk menyempurnakan kemanusiaannya sebagai hamba dan wakil Allah di muka Bumi, harus berperan aktif dalam memperjuangkan tatanan masyarakat berkeadilan yang makmur. Tanpa kerja-kerja sosial dalam perjuangan tersebut, kemanusiaan kader-kader HMI, dan juga manusia muslim pada umumnya, kehilangan arti dan maknanya.

Sekelumit pembahasan mengenai esensi nilai kemanusiaan dengan kesimpulan bahwa esensi tersebut terletak pada kerja-kerja sosial ini berjalan mengalir pada kajian kami malam itu. Tanpa terasa, waktu lima jam berlalu dengan berbagai debat dan diskusi mengenai topik yang kami bahas.

Belakangan ini, gelombang aksi demonstrasi kader HMI di berbagai cabang dari penjuru-penjuru Indonesia bergejolak. Termasuk di Pandeglang. Kesadaran kemanusiaan yang dipetik dari Nilai-nilai Dasar Perjuangan HMI ini mesti mewarnai aksi-aksi tersebut. Sehingga setiap gerak langkah dan teriakan-teriakan orasi kader-kader HMI itu bukanlah langkah dan teriakan yang mengharapkan pamrih atau unsur-unsur keduniaan lainnya. Melainkan semata-mata demi menegakkan kebenaran, kebaikan, dan keindahan dalam rangka mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Aku berharap, kajianku bersama kawan-kawan HMI cabang Pandeglang ini dapat memantik kesadaran kemanusiaan tersebut yang kemudian akan memberi warna yang signifikan pada aksi-aksi sosial mereka di lapangan. Semoga.

Landasan Perjuangan Pembangunan Peradaban Islam yang Modern di Indonesia

Ulasan Buku: Islam, Doktrin dan Peradaban

Salah satu tugas yang dibebankan kepada kami pasca mengikuti Training of Trainer (TOT) NDP HMI adalah menyelesaikan bacaan atas beberapa buku yang telah ditentukan dan juga menulis review atau ulasan atas buku-buku tersebut.

Buku-buku yang harus kami baca adalah karangan Nurcholish Madjid atau yang kerap akrab disapa Cak Nur. Sebagai perumus NDP HMI, karya-karya Cak Nur pasca selesainya karir beliau di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bisa dikatakan merupakan pengembangan dari NDP.

NDP yang merupakan teks ideologi HMI memuat serangkaian gagasan mengenai ajaran-ajaran pokok dalam agama Islam yang secara konstitusional merupakan landasan perjuangan HMI. Dalam karya-karya Cak Nur selanjutnya, gagasan mengenai ajaran-ajaran pokok dalam agama Islam itu mengalami perluasan dan pengembangan pembahasan. Beberapa senior di HMI bahkan mengatakan bahwa, karya-karya Cak Nur pasca HMI merupakan syarah (penjelasan) atas apa yang dia tuangkan di teks NDP.

Maka dari itu, dalam upaya untuk memahami teks NDP, menyelami pemikiran Cak Nur melalui karya-karyanya menduduki peran penting.

Buku pertama dalam daftar bacaan kami adalah “Islam, Doktrin dan Peradaban.”

Buku ini merupakan kumpulan makalah yang Cak Nur bawakan pada Klub Kajian Agama (KKA) Paramadina pada era 90-an.

Dalam pembacaanku, buku ini tampak sebagai upaya Cak Nur untuk menjelaskan Islam yang lebih terbuka dengan mengedepankan penanaman nilai-nilai esensial Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa perlu terjebak dalam simbolisme eksklusif yang melebarkan jarak antara Islam dan Peradaban Kemanusiaan.

Kondisi keberagamaan masyarakat, khususnya di Indonesia, yang begitu beragam, majemuk, dan plural, mendorong adanya suatu pemahaman keislaman yang tidak hanya menonjolkan satu entitas saja. Melainkan mampu menjadi titik temu antara keberagaman yang ada. Baik keberagaman internal, berupa jamaknya aliran-aliran pemahaman dalam Islam, maupun keberagaman eksternal, berupa pluralnya suku, agama, dan ras yang ada.

Dengan menitikberatkan pada nilai-nilai universal yang menjadi titik temu, Islam dapat tampil sebagai jawaban bagi bangunan peradaban yang maju dan modern.

Buku ini menolak suatu bentuk pemahaman yang dogmatis akan Islam. Bentuk pemahaman apapun yang mengklaim dirinya sebagai satu-satunya pemahaman yang benar. Sebagai gantinya, buku ini menawarkan bentuk pemahaman yang analitis. Suatu bentuk yang mendekati ajaran Islam, bahkan hingga ke sumber-sumber sucinya, dengan pisau analisa yang jujur dan terbuka.

Dalam pandangan buku ini, sejauh yang dapat aku pahami, Islam bukanlah sekadar doktrin yang keras dan kaku. Melainkan suatu pandangan kehidupan (the way of life) yang statis pada nilai-nilai esensialnya namun dinamis pada bentuk penerapan praktisnya. Dengan pandangan ini, Islam dapat menyesuaikan diri dengan segala bentuk tempat dan waktu di mana ia dapat merasuk masuk menjadi api yang membakar semangat membangun peradaban, namun tetap bisa ramah pada kondisi sosio-kultural masyarakat.

Buku ini merupakan gagasan Cak Nur untuk membawa Islam menyongsong era modern. Pada pengantarnya, Cak Nur mengungkapkan tentang datangnya era baru (globalisasi dalam teknologi komunikasi dan transportasi) yang mesti secara siap disongsong oleh umat Islam dengan pengetahuan.

Agama menurutnya masih memiliki peran karena manusia masih membutuhkan “pedoman”. Humanisme Universal, maupun Marxisme-Leninisme sebagai bentuk “agama baru” menurutnya telah gagal menggantikan agama formal. Kegagalan tersebut berakar dari naluri manusia yang berketuhanan.

Peran agama Islam dalam menyongsong kemajuan dan modernitas, jangan sampai seperti sejarah pahit yang pernah umat Islam alami ketika pintu-pintu perkembangan ilmu pengetahuan ditutup oleh doktrin-doktrin keagamaan yang sebenarnya hanya merupakan suatu penafsiran tertentu saja.

Suatu doktrin yang kadangkala bahkan memadamkan spirit ideal yang Nabi Muhammad usung ketika membawakan Islam. Seperti spirit untuk terus menerus belajar dan menggali pengetahuan melalui alam semesta yang padam oleh doktrin-doktrin tertentu yang menuding ilmu pengetahuan modern sebagai warisan kafir yang mesti dijauhi.

Oleh karena itu dalam buku ini juga kental sekali dorongan Cak Nur agar umat Islam mau menggeluti ilmu pengetahuan sebagai alat utama membangun peradaban. Melalui semangat tauhid, yang dalam pandangan Cak Nur bermakna “menempatkan sakralitas pada tempatnya”, yakni pada Tuhan semata, Cak Nur mendorong agar umat Islam mengekplorasi alam semesta yang memang Tuhan sediakan untuk kebaikan umat manusia.

Melalui semangat tauhid seperti itu juga, Cak Nur melawan fanatisme yang berakar pada pengkultusan (sakralisasi) seseorang atau pemahaman tertentu. Sehingga bagi Cak Nur, segala sesuatu selain Tuhan, kebenarannya adalah relatif dan dapat digugat dengan analisa yang objektif.

Pada buku ini kita dapat melihat luasnya bacaan beliau dan pemahamannya yang baik tentang bagaimana seharusnya Islam di Indonesia dikembangkan, juga bagaimana bentuk relasi agama dan negara.

Menurutnya, semangat kemajemukan (pluralisme) sangatlah dibutuhkan dalam pembentukan karakter bangsa yang besar. Islam menurutnya telah memberikan landasan etis bagi terciptanya sebuah negara bangsa.

Dalam penutup pengantar magnum opusnya ini, terdapat beberapa diskursus yang menjadi benang merah pikiran Cak Nur. Menurutnya, sikap kritis, niat dan motivasi yang benar, pengetahuan tentang konteks yang tepat, demokrasi dan kebebasan yang positif akan membawa kita pada usaha yang benar dalam membangun peradaban yang besar.

Secara garis besar, pembahasan dalam buku dikelompokkan ke dalam empat bab kajian yang masing-masing tema sub-babnya saling terkait.

Bagian kesatu, buku ini membahas masalah ketuhanan dan emansipasi harkat manusia. Bab ini mengulas tentang keimanan dan makna-makna seputar masalah tersebut seperti; tujuan hidup manusia, ibadah, semangat tauhid, kemajemukan masyarakat dan juga hubungannya dengan perkembangan pengetahuan masyarakat.

Bagian kedua, membahas masalah disiplin ilmu keIslaman tradisional. Di sini Cak Nur memaparkan kondisi perkembangan pengetahuan yang diperoleh dan kemudian dipelajari oleh umat Islam. Mulai dari filsafat, kalam, fikih, sampai tasawuf.

Bagian ketiga, membahas masalah doktrin kitab suci dan hubungannya dalam membangun masyarakat yang beretika. Dia menuliskan dan mengajukan pemikirannya mengenai konsep a-Quran terhadap alam semesta (kosmos) dan manusia (antropos) selain juga menyinggung masalah etos kerja dan dan pengaruh pandangan dunia teologis.

Bagian keempat, membahas masalah universalisme Islam dan kemodernan. Di bagian ini dibahas masalah kosmopolitanisme kebudayaan Islam, maupun makna modernitas menurut Islam. Dan salah satu poin terpenting dan menjadi ide utama dalam buku ini adalah pembahasan mengenai reaktualisasi nilai-nilai kultural dan spiritual dalam proses transformasi masyarakat.

Pada akhirnya, tidaklah berlebihan jika buku ini dikatakan sebagai landasan perjuangan pembangunan peradaban Islam yang modern ini Indonesia.

Aku yang membaca buku ini sebagai bagian dari upayaku memahami NDP HMI, turut mendapatkan pencerahan lanjutan akan suatu perjuangan berkelanjutan yang bukan hanya mesti aku jalani di HMI, melainkan juga selepasnya pada kehidupan beragama dan berbangsa.

Ngaji NDP Bersama Kawan-kawan HMI Cabang Pandeglang

Akhir pekan ini menjadi suatu momentum yang menyenangkan bagiku. Berawal dari obrolan lepas bersama Fikri Anidzar Albar, kawan seperjuanganku pada LK2 HMI cabang Cilegon 2015 yang kini menjabat sebagai Ketua Umum HMI cabang Pandeglang, aku berkesempatan mengaji Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI bersama kawan-kawan HMI cabang Pandeglang.

Selepas Training of Trainer (TOT) NDP HMI yang terselenggara pada bulan Ramadhan kemarin, kami para lulusannya dibebani dengan tanggungan magang untuk mengisi materi NDP. Bukan apa-apa, hanya sekadar sebagai penguat pendalaman materi yang sudah kami dapatkan dan juga sebagai sarana berbagi pengetahuan dengan kawan-kawan kader HMI lainnya.

Pada obrolanku bersama Fikri, aku meminta pertolongannya agar menjadi fasilitator bagi magangku di lingkungan HMI cabang Pandeglang. Permintaanku ini dia sambut dengan antusias. Bahkan dengan bersemangat dia langsung menetapkan waktu pelaksanaannya pada hari Sabtu (07/07) ini.

Setelah segala persiapan teknis selesai HMI cabang Padeglang persiapkan, yang dalam hal ini bergerak di bawah arahan Kabid. PA HMI cabang Pandeglang, Tubagus Sofyan Taufiq, aku mempersiapkan diriku untuk keberangkatan ke tempat ini.

Beruntung, pada Jumat malam (06/07) aku mendapat kabar dari Fikri bahwa salah satu senior HMI cabang Pandeglang akan berangkat dari Jakarta menuju Pandeglang dan aku dapat menumpangi mobilnya. Kesempatan bagus ini tidak aku sia-siakan. Mengendarai mobil pribadi, selain lebih murah karena ongkos perjalanan sudah barang tentu gratis, juga lebih nyaman daripada mesti berpayah-payahan naik kereta atau bis.

Senior yang merupakan mantan Ketua Umum HMI cabang Pandeglang, bernama Iin Muchlisin itu merupakan kawan perjalanan yang menyenangkan. Sepanjang perjalanan selama sekitar empat jam itu kami membicarakan banyak hal. Mulai dari wacana-wacana seputar politik dan pergerakan hingga tren teknologi dan gadget.

Kami tiba di Pandeglang pada sepertiga malam terakhir. Karena Fikri tidak membalas pesanku, Kanda Iin mengajakku untuk menginap saja di kediamannya.

Rumah Kanda Iin terletak di kaki gunung Pulosari. Udara dingin menyambut kami sesampainya kami di sana. Aku langsung merebahkan diriku begitu tiba.

Pada pagi harinya Fikri datang menjemputku. Tempat yang akan dipergunakan untuk acara ngaji NDP ini terletak di sautu desa di daerah Labuan. Mengambil tempat pada sebuah pondok pesantren yang bernama Ponpes Asy-Syadzili.

Kami berangkat dari Pulosari saat hari mulai beranjak siang setelah sebelumnya menyantap sarapan di kediaman kanda Iin dan tiba pada waktu Zuhur.

Saat tiba di tempat acara, baru ada Tubagus dan Asep, kader HMI Pandeglang yang merupakan tuan rumah acara ini. Dia santri di ponpes Asy-Syadzili itu. Setelah menunaikan salat Zuhur, kami menyantap makan siang yang disediakan pihak ponpes.

Ponpes ini adalah pesantren tradisional (salafiyah). Letaknya berada di tengah-tengah hamparan sawah dan cukup jauh aksesnya dari jalan raya. Kondisi ini yang kemudian menjadikan kader-kader HMI cabang Pandeglang yang ingin turut hadir dalam acara ini kesulitan mencari lokasinya.

Setelah para peserta acara ngaji NDP berkumpul, kami pun memulainya. Tinggal setengah jam lagi sebelum salat Ashar saat itu.

Aku membuka diskusi dengan memaparkan secara ringkas sejarah perumusan NDP. Bagaimana NDP ini merupakan kesimpulan suatu perjalanan spiritual sekaligus emosional yang Cak Nur jalani. Selepas itu aku juga menjelaskan mengenai hakikat NDP yang merupakan nilai-nilai pokok ajaran Islam menurut HMI yang diintisarikan dari al-Quran dan as-Sunnah.

Azan Ashar berkumandang. Kami menjeda forum untuk menunaikan Shalat berjamaah.

Setelah menunaikan salat Ashar, kajian kami lanjutkan. Pada sesi kali ini aku membuka diskusi dengan menjelaskan mengenai hubungan korelatif antara al-Quran, NDP, kader HMI, dan masyarakat. Penjelasan sederhananya adalah al-Quran sebagai pedoman hidup umat Islam nilai-nilainya secara kontekstual terjelaskan dalam teks NDP. Kemudian teks tersebut kader HMI jadikan filosofi gerakan perjuangannya dalam melakukan perubahan sosial di masyarakat.

Penjelasan lalu aku lanjutkan pada pemahaman holisitik mengenai topik-topik yang ada di NDP. Topik-topik tesebut secara umum terbagi tiga, ketuhanan, kemanusiaan, dan kemasyarakatan. Dari ketiga topik tersebut, dapat dipetik tiga nilai esensial yang NDP usung. Yakni tauhid, kemerdekaan, dan keadilan.

Selanjutnya, aku meminta para peserta kajian untuk menyebutkan satu per satu bab dalam NDP kemudian aku jelaskan apa saja kiranya yang menjadi nilai-nilai pokok pada bab itu.

Dengan metodologi penyampaian yang deduktif ini, di mana aku langsung mengemukakan poin penting kesimpulan dari suatu bab baru kemudian memberikan argumentasi penjelasnya, aku berharap para peserta kajian mendapatkan gambaran yang menyeluruh, meski belum begitu utuh, mengenai isi kandungan NDP.

Selain itu, aku juga ingin menghapus trauma pasca LK1 yang membebani psikologi mereka bahwa materi NDP itu berat, sulit, dan berputar-putar di kisaran wacana teologis semata.

Satu hal yang aku pikir tepat adalah bahwa kawan-kawan di HMI cabang Pandeglang ini lebih membutuhkan pemahaman NDP yang bersifat praktis ketimbang teoritis. Sebab tipikal mereka adalah tipikal aktivis demonstran yang fokus pada wacana ketidakadilan pemerintah dan pembelaan hak-hak rakyat yang terampas. Mereka membutuhkan spirit ideologis untuk menjadi bahan bakar perjuangan mereka. Bagi kader HMI, spirit tersebut tentu saja ada di NDP. Namun mereka akan terhalangi dari spirit tersebut saat NDP disampaikan kepada mereka dalam bentuk yang terlampau teoritis.

Kajian kami akhiri saat senja menjelang. Selepas foto bersama, aku, Fikri, dan beberapa kawan HMI cabang Pandeglang bergeser ke Cafe Badak yang terletak di kota Labuan. Cafe ini dimiliki dan dikelola oleh senior HMI cabang Pandeglang bernama kanda Hussain. Di sini aku dan kawan-kawan dijamu dengan makanan dan minuman.

Selepas menunaikan salat Maghrib di Cafe, kami melanjutkan perjalanan untuk menikmati malam di Pantai Carita. Kebetulan ada salah seorang anggota HMI cabang Pandeglang yang orang-tuanya adalah pengelola salah satu titik wisata di pantai tersebut. Kami mendapatkan akses masuk secara gratis berkat itu.

Kami tidak sekadar menikmati malam di Pantai Carita. Atas permintaan Fikri dan kawan-kawan yang lain, total ada kami berenam saat itu, aku melanjutkan pemaparan NDP. Kali ini, aku mengajak mereka mendalami bab Dasar-Dasar Kepercayaan. Aku mengajak mereka berdialog mengenai topik-topik yang ada di bab itu. Mulai dari topik tentang Kepercayaan, hingga Hari Kiamat.

Tanpa terasa malam mulai larut. Kami meninggalkan Pantai Carita pada pukul sebelas malam. Kami berpindah menuju kediaman Ahmad Munirudin, Wakil Sekretaris Umum bidang PU (Pemberdayaan Umat) HMI cabang Pandeglang, di mana aku akan menginap sebelum esoknya kembali ke Jakarta.

Pengalamanku dengan Pandeglang adalah pengalaman yang menyenangkan dan penuh dengan kehangatan persahabatan. Aku antusias untuk kembali mengunjungi daerah ini, entah dengan niatan perkaderan ataupun sekadar kunjungan jalan-jalan. Ada sesuatu dari Pandeglang yang selalu membuatku rindu. Untuk sesuatu itulah aku akan kembali lagi.

Antara Pengelola Perkaderan dan Penyelenggara Perkaderan

Dari kanan ke kiri: Ilham (Jakarta Raya), Syahrul (Ciputat), TB (Cilegon), Rajiv (Jakarta Selatan), Hola (Jakarta Selatan), Raja (Pandeglang), Ucu (Lebak).

Dalam peran dan fungsinya, posisi Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI adalah sebagai pengelola. Dalam artian BPL bertanggungjawab atas kualitas pelatihan/ perkaderan dan memiliki wewenang untuk bagaimana caranya agar kualitas yang diharapkan tersebut dapat tercapai.

Namun posisi BPL ini akan timpang dan tidak dapat berjalan dengan baik, atau bahkan mandeg sama sekali jika tidak ada dukungan dari struktur kepemimpinan yang ada di tubuh HMI itu sendiri. Struktur Kepemimpinan di HMI mulai dari Pengurus Besar (PB) hingga ke tingkatan Komisariat berperan sebagai penyelenggara perkaderan. Sehingga BPL sangat bergantung kepada Struktural itu untuk melahirkan perkaderan yang berkualitas.

Sebagai contoh misalkan pada tingkatan Komisariat. BPL memang berwenang untuk mengelola perkaderan yang berlangsung di komisariat itu, namun pengelolaan itu tidak akan terlaksana jika pihak Komisariat tidak menyelenggarakan satupun program perkaderan. Seperti Latihan Kader I atau Basic Training. Penyelenggaraan Basic Training adalah tugas Komisariat. Maka ia yang menentukan tanggal pelaksanaan, tempat pelaksanaan, serta teknis pelaksanaan. Lantas pada saat pelaksanaannya, BPL lah yang berwenang untuk mengelolanya. Dengan mengintruksikan beberapa anggotanya untuk menjadi Instruktur atau Master of Training. Wewenang itu juga termasuk menerapkan metode tertentu pada Basic Training itu guna mencapai tujuan yang sesuai dengan Pedoman Perkaderan. Pada wilayah pengelolaan ini, Komisariat sebagai penyelenggara bertugas menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan Instruktur atau Master of Training agar latihan/ training bisa berjalan dengan baik dan memiliki kualitas sesuai dengan yang diharapkan.

Demikianlah seterusnya pada setiap tingkatan kepempimpinan dan jenjang perkaderan di HMI. Ada Struktural yang bertindak sebagai penyelenggara, ada BPL yang bertindak sebagai pengelola. Hal serupa juga berlaku pada program-program perkaderan lainnya yang mencakup training-training formal maupun informal serta perkaderan non-formal seperti Follow Up dan Upgrading. Pihak struktural mempersiapkan penyelenggaraan perkaderan-perkaderan itu, dan BPL kemudian mengelolanya dengan berpedoman pada Pedoman Perkaderan maupun pedoman-pedoman ke-HMI-an lainnya.

Masalah akan timbul ketika Struktural maupun BPL bertindak di luar posisinya. Misalnya saja ketika Struktural mengelola sendiri Perkaderan. Seperti jika Komisariat mengelola Basic Training tanpa Instruktur BPL. Atau ketika BPL mengurusi segala hal yang berkaitan dengan Perkaderan, termasuk penyelenggaraannya (kecuali penyelenggaran perkaderan internal BPL itu sendiri.)

Kesadaran masing-masing pihak, baik BPL maupun Struktural, untuk bertindak sesuai dengan fungsi dan perannya masing-masing sangat penting untuk menghindari adanya tumpang tindih tanggung jawab maupun konflik kepentingan pada proses perkaderan. Kenyataan hari ini di mana banyak pihak yang belum memiliki kesadaran yang baik akan fungsi dan peranannya masing-masing sangat menyedihkan. Kualitas Perkaderan menjadi tebengkalai karena hal itu. Belum lagi ketika kemudian Perkaderan disusupi hal-hal yang tidak berkaitan dengannya. Seperti ketika Perkaderan menjadi arena permainan politik dan perebutan pengaruh.

Perkaderan yang sehat akan melahirkan kader-kader yang berkualitas. Kader-kader yang berkualitas akan menjadi penopang utama organisasi dan roda penggeraknya yang dapat memajukan organisasi hingga semakin dekat dengan tujuannya. Sebaliknya, perkaderan yang sakit akan melahirkan kader-kader pragmatis, miskin nilai, dan buta arah serta tujuan. Sehingga pada akhirnya malah semakin membuat organisasi jauh melenceng dari garis perjuangannya.

Hal yang Keliru Pada Metodologi Penyampaian Konstitusi HMI

Obrolan Santai Bersama Nadya Maharani

Mulai dari Kamis malam tadi aku berkesempatan mengelola Latihan Kader I (LK1) atau Basic Training HMI cabang Jakarta Barat Komisariat USAKTI. Pada kesempatan ini, aku berada dalam tim MoT bersama Nadya Maharani, ketua umum BPL HMI cabang Jakarta Barat. Nadya adalah mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Trisakti. Dengan basis pendidikan ini ia kerapkali menjadi pemateri Konstitusi HMI dan perlahan tapi pasti menjelma spesialis materi tersebut.

Pagi tadi, selepas Bina Suasana kami sempat berdiskusi mengenai metodologi penyampaian Konstitusi HMI. Menurut Nadya, ada beberapa kekeliruan pada metodologi penyampaian yang para pemateri Konstitusi HMI pergunakan.

Materi Konstitusi HMI kerapkali tidak tersampaikan secara baik dan benar sesuai dengan Pedoman Perkaderan karena para pematerinya lebih menitikberatkan fokus pembahasan pada makna di balik pasal 4 AD HMI yang memuat tujuan HMI semata. Padahal, kata Nadya, Tujuan HMI yang notabene penjelasannya ada pada teks Tafsir Tujuan HMI adalah bagian dari pembahasan materi Mission HMI.

Nadya memaparkan bahwa fokus penyampaian materi Konstitusi HMI seharusnya lebih pada Anggaran Rumah Tangga HMI. Terutama pasal-pasal awal yang menjelaskan Keanggotaan. Sebab beberapa pasal kunci dalam anggaran Dasar, seperti Pasal 3 tentang Azas, 4 tentang Tujuan dan Pasal 9 tentang Peran, telah memiliki penjabaran tersendiri yang menjelma ke dalam materi-materi yang berdiri sendiri. Misalkan pasal 3, 4, 6, dan 7 Anggaran Dasar HMI yang secara berurutan adalah tentang azas, tujuan, sifat, dan status, sudah masuk ke dalam pembahasan materi Mission HMI. Atau pasal 9 tentang peran yang telah masuk pembahasan pada materi Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI.

Maka dari itu, penyampaian pasal 4 secara mendalam dan terperinci, apatahlagi sampai menghabiskan durasi keseluruhan materi, adalah pemborosan dan juga pengulangan yang tidak perlu. Pengulangan yang akhirnya menyingkirkan pembahasan-pembahasan lain yang sebenarnya tidak kalah penting seperti masalah Keanggotaan tadi.

Menurut Nadya, seorang anggota HMI harus menyadari dan memahami betul mekanisme keanggotaan dirinya. Mulai dari bagaimana seorang mahasiswa muslim bisa menjadi anggota HMI, hingga apa saja yang menyebabkan seorang anggota terlepas dari statusnya sebagai anggota. Pemahaman ini penting menurut Nadya karena berkaitan langsung dengan perorangan anggota. Sehingga merupakan suatu hal yang mendasar yang harus selesai sejak semula.

Ketika dahulu mengikuti LK1 pada salah satu komisariat di HMI cabang Kota Bogor, aku merasakan metodologi penyampaian yang Nadya kritik itu. Pada waktu itu delapan jam habis untuk pembahasan mengenai tujuan HMI yang dikemas dalam metode Dekontruksi & Rekontruksi serta disisipi oleh beberapa drama. Aku, dan kawan-kawan sesama peserta pada waktu itu memang lantas betul-betul meresapi kandungan Tujuan HMI itu hingga bahkan menghafalkan lafaznya di luar kepala. Namun kami sama sekali tidak mendapatkan informasi yang memadai mengenai Konstitusi HMI itu sendiri. Sebagian penyelenggara training saat itu memberi penjelasan bahwa hal-hal yang belum tersampaikan akan tersampaikan pada kajian follow up pasca LK1. Namun aku selepas LK1 itu sama sekali tidak kembali lagi untuk follow up. Selain karena jarak yang jauh, aku juga sibuk mempersiapkan pendirian HMI komisariat LIPIA bersama kawan-kawan.

Metodologi manakah yang lebih efektif dan bermanfaat? Aku masih perlu mendalami Pedoman Perkaderan dan juga melakukan diskusi lanjutan dengan pada pemateri Konstitusi HMI untuk sekiranya dapat menjawab pertanyaan tersebut.

%d blogger menyukai ini: