Mengapa Mahasiswa Malas Mengkaji Ilmu?

Sebuah Pertanyaan dan (Semoga) Jawaban

Banyak kemungkinan yang bisa menjadi faktor penyebab kajian keilmuan kurang mendapatkan minat. Bisa jadi karena konten kajiannya. Bisa jadi karena penyampai kajiannya. Bisa jadi karena waktu dan tempat kajiannya berlangsung. Bisa jadi juga karena hal-hal sederhana seperti sekadar karena kajiannya itu tidak tampak “menarik.”

Dalam memandang persoalan ini, saya tidak ingin terjebak dalam pepatah; buruk rupa, cermin dibelah. Pihak yang pertama-tama perlu melakukan introspeksi adalah penyelenggara kajian dan unsur-unsur kesalahan dan kekeliruan pertama-tama juga harus diasumsikan melekat pada pihak tersebut.

Namun tetap menarik bagi saya untuk mencoba memahami apa yang sebenarnya menjadi problematika mahasiswa-mahasiswa itu.

Kalau kita berkaca pada data-data yang berkenaan dengan intelektualitas yang ada di lingkungan mahasiswa, kita akan menemukan kenyataan bahwa memang ada degradasi yang cukup parah.

Apa sebenarnya yang mahasiswa-mahasiswa itu lakukan? Beratus-ratus ribu jumlah mereka, namun berapa persenkah yang mau meluangkan waktu untuk benar-benar berpikir?

– Ahmad D. Rajiv

Kemarin, aku diajak oleh salah seorang kawanku di kota ini ke warung kopi. Sesampainya di sana, kami duduk dan memesan minuman. Kami tidak sendiri saat itu. Ada beberapa kawan lain yang turut serta. Apa yang terjadi kemudian menunjukkan betapa kita sudah begitu tenggelam ke dalam realitas lain selain apa yang ada di hadapan mata kita; masing-masing orang di sekeliling meja itu sibuk dengan ponselnya sendiri-sendiri, sibuk bercengkrama dengan orang-orang lain di tempat-tempat lain sedangkan orang-orang yang ada di hadapannya sama-sama terperangkap dalam kebisuan.

Saat para mahasiswa datang ke kafe-kafe, yang pertama-tama mereka cari bukanlah makanan atau minuman, melainkan colokan dan akses internet.

– Ahmad D. Rajiv

Ada kecendrungan bahwa para mahasiswa ini lemah dalam mengahadapi apa yang ada di hadapan mereka dan lebih memilih untuk berada di suatu tempat yang lain, di dunia yang maya. Tidak heran jika saat para mahasiswa ini bertemu atau berdiskusi, status, stories, dan obrolan di grup-grup chatlah yang dominan mereka perhatikan.

Begitu juga saat mereka sendirian di kosan dan berhadapan dengan pelajaran yang harus mereka pahami. Mereka lebih suka memperbaharui postingan status dan stories dengan foto-foto buku, kopi, atau laptop, kemudian tenggelam dalam obrolan dengan orang-orang yang mengomentari postingan mereka itu ketimbang benar-benar mempelajari apa yang ada di hadapan mata mereka.

Maka bukan hal yang aneh jika “skripsi” bagi mahasiswa-mahasiswa itu ibarat beban hidup yang tak tertanggungkan dan proses yang mereka jalani dengan begitu tertatih-tatih. Sebab mengkaji ilmu bukanlah aktifitas yang menarik bagi mereka.

Apabila ada suatu kajian keilmuan yang ramai, biasanya malah karena faktor-faktor lain di luar dari pada ilmu itu sendiri. Seperti iming-iming sertifikat, tempat yang “wah”, ataupun pembicara yang “terkenal.” Soal pembicara yang terkenal ini pun yang lebih dikejar darinya adalah sensasi viralitasnya. Syukur-syukur bila mereka bisa dapat foto bareng pembicara yang akan memancing ratusan love di Instagram. Sedikit sekali yang benar-benar tergerak untuk mengambil manfaat keilmuan.

Fenomena ketidaktertarikan akan kajian keilmuan ini bahkan turut terjadi di organisasi yang berbasis kader. Organisasi yang karakteristik kaderisasinya adalah kaderisasi keilmuan atau intelektualitas. Jika di lingkaran yang katanya intelektual itu saja kajian keilmuan mulai kehilangan minat para anggotanya, apatahlagi lingkaran lain yang memang basisnya bukan intelektualitas?

Kalau kita mau melihat ke dalam, degradasi itu bermula dari individu-individu mahasiswa. Apatisme dan hedonisme adalah dua virus utama. Jangankan mahasiswa biasa, mahasiswa yang merupakan kader organisasi pun banyak terjangkiti virus ini. Kajian Keilmuan tidak mungkin akan berkembang pada individu yang masih menyimpan apatisme dan hedonisme.

Kedua virus ini hanya bisa diobati dengan dua cara; aktif membaca, dan aktif menulis. Membaca membantu kita mengikis akar-akar apatisme dengan memberikan kesadaran kepedulian akan keadaan sekitar. Sedangkan menulis mengasah kepekaan kita lewat gagasan-gagasan yang kita coba hadirkan dan tawarkan sebagai solusi atas permasalahan yang sudah kita baca. Kepekaan inilah yang dengan sendirinya menjauhkan kita dari sifat-sifat hedonis.

Kedua pondasi ini, membaca dan menulis, adalah stimulus yang akan terus menerus merangsang mahasiswa untuk mengkaji ilmu.

Seperti itulah kiranya.

Iklan

Esensi Nilai Kemanusiaan Ada Pada Kerja-kerja Sosial

Catatan Selepas Ngaji NDP HMI Sesi ke-04 di HMI cabang Pandeglang

HMI menuntut kader-kadernya untuk mewujudkan tatanan masyarakat ideal yang dalam bahasa Konstitusi HMI, difrasakan dengan “masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.” Ini artinya, kader-kader HMI adalah mereka yang punya tanggung jawab sosial kemasyarakatan yang tinggi. Mereka adalah kader umat dan kader bangsa, yang memiliki hak sebagai pembaharu dan tanggung jawab sebagai penggerak perubahan sosial di masyarakat.

Perubahan sosial yang baik juga adalah salah satu pokok ajaran Islam. Agama dan ajaran yang menjadi asas HMI ini menuntut para pemeluknya untuk menjadi para penegak keadilan. Menjadi penggerak perubahan sosial ke arah yang lebih baik, ke arah yang berketuhanan yang maha esa. Semangat ke-tauhid-an yang menyala-nyala menjadi spirit kader-kader HMI dalam mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Maka dari itu, tidak heran apabila Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI menjadikan wacana manusia sebagai penggerak perubahan sosial sebagai salah satu nilainya yang paling esensial. Wacana tersebut sudah mengemuka dimulai dari BAB II NDP HMI yang bertajuk, “Pengertian-pengertian Dasar Tentang Kemanusiaan.”

Pada Jumat (22/9) lalu aku bersama kawan-kawan HMI cabang Pandeglang mengaji NDP HMI pada BAB ini. Kajian yang sudah menginjak kali keempat itu terselenggara di sela-sela Basic Training HMI Komisariat STAIBANA, Pandeglang. Hadir dalam kajian tersebut anggota HMI cabang Pandeglang dari berbagai Komisariat.

Pembahasan mengenai “Pengertian-pengertian Dasar Tentang Kemanusiaan” dimulai dari wacana bahwa sebagai hamba dan wakil Allah dimuka Bumi, manusia telah dianugerahi suatu instrumen bawaan yang akan menuntun manusia dalam rangka memenuhi tugasnya tadi. Instrumen itu adalah fithrah. Fithrah merupakan kecendrungan manusia kepada Kebenaran (hanief). Kecendrungan ini tertanam di dalam hati nurani manusia. Membuatnya mampu merasakan kebenaran, kebaikan, dan keindahan pada dirinya dan apa yang ada di sekitarnya. Juga membuatnya merasa berat hati dan gelisah akan kesalahan, keburukan, dan kejelekan yang meracuni dirinya dan juga menimpa tatanan masyarakatnya (bangsa dan negara).

Pembahasan kemudian berlanjut pada kesadaran bahwa nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang manusia condong kepadanya itu tampak pada kerja-kerjanya sehari-hari. Kerja-kerja sosial yang berorientasi pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan adalah inti dari kemanusiaan yang ada pada dirinya. Maka dengan menuruti fithrah yang tertanam di dalam hati nuraninya, manusia sejatinya tengah menguatkan dan mengokohkan kemanusiaannya. Kerja-kerja sosial tersebut akan membawa manusia menuju kebahagiaannya.

Kebahagiaan manusia dalam prespektif NDP HMI, terletak pada kerja-kerjanya sebagai individu dalam suatu tatanan masyarakat (bangsa dan negara) yang cenderung kepada kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Kerja-kerja semacam itu adalah kerja-kerja yang ikhlas. Kerja yang tidak mengharapkan, atau tidak berorientasi apapun di luar dari pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang terdapat dalam pekerjaan itu sendiri. Kerja ikhlas yang hanya mengharapkan dan berorientasi pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan ini pada akhirnya akan membawa manusia kepada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang mutlak. Yakni tuhannya, Allah SWT. Pangkal dan tujuan pekerjaan manusia yang ikhlas, adalah Allah SWT. Keikhlasan yang semata-mata untuk Allah inilah sumber dari kebahagiaan manusia.

Semangat pekerjaan yang berlandaskan nilai Ikhlas ini kemudian mesti terterapkan pada kehidupannya sehari-hari. Pada kerja-kerjanya sebagai individu yang merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Sebab nilai-nilai yang tidak terterapkan dalam kehidupan sehari-hari, akan kehilangan arti dan maknanya. Oleh karena itu manusia muslim dalam prespektif NDP HMI, dituntut untuk bisa melakukan kerja-kerja yang sifatnya sosial. Kader HMI, dalam usahanya untuk menyempurnakan kemanusiaannya sebagai hamba dan wakil Allah di muka Bumi, harus berperan aktif dalam memperjuangkan tatanan masyarakat berkeadilan yang makmur. Tanpa kerja-kerja sosial dalam perjuangan tersebut, kemanusiaan kader-kader HMI, dan juga manusia muslim pada umumnya, kehilangan arti dan maknanya.

Sekelumit pembahasan mengenai esensi nilai kemanusiaan dengan kesimpulan bahwa esensi tersebut terletak pada kerja-kerja sosial ini berjalan mengalir pada kajian kami malam itu. Tanpa terasa, waktu lima jam berlalu dengan berbagai debat dan diskusi mengenai topik yang kami bahas.

Belakangan ini, gelombang aksi demonstrasi kader HMI di berbagai cabang dari penjuru-penjuru Indonesia bergejolak. Termasuk di Pandeglang. Kesadaran kemanusiaan yang dipetik dari Nilai-nilai Dasar Perjuangan HMI ini mesti mewarnai aksi-aksi tersebut. Sehingga setiap gerak langkah dan teriakan-teriakan orasi kader-kader HMI itu bukanlah langkah dan teriakan yang mengharapkan pamrih atau unsur-unsur keduniaan lainnya. Melainkan semata-mata demi menegakkan kebenaran, kebaikan, dan keindahan dalam rangka mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Aku berharap, kajianku bersama kawan-kawan HMI cabang Pandeglang ini dapat memantik kesadaran kemanusiaan tersebut yang kemudian akan memberi warna yang signifikan pada aksi-aksi sosial mereka di lapangan. Semoga.

Antara Pengelola Perkaderan dan Penyelenggara Perkaderan

Dari kanan ke kiri: Ilham (Jakarta Raya), Syahrul (Ciputat), TB (Cilegon), Rajiv (Jakarta Selatan), Hola (Jakarta Selatan), Raja (Pandeglang), Ucu (Lebak).

Dalam peran dan fungsinya, posisi Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI adalah sebagai pengelola. Dalam artian BPL bertanggungjawab atas kualitas pelatihan/ perkaderan dan memiliki wewenang untuk bagaimana caranya agar kualitas yang diharapkan tersebut dapat tercapai.

Namun posisi BPL ini akan timpang dan tidak dapat berjalan dengan baik, atau bahkan mandeg sama sekali jika tidak ada dukungan dari struktur kepemimpinan yang ada di tubuh HMI itu sendiri. Struktur Kepemimpinan di HMI mulai dari Pengurus Besar (PB) hingga ke tingkatan Komisariat berperan sebagai penyelenggara perkaderan. Sehingga BPL sangat bergantung kepada Struktural itu untuk melahirkan perkaderan yang berkualitas.

Sebagai contoh misalkan pada tingkatan Komisariat. BPL memang berwenang untuk mengelola perkaderan yang berlangsung di komisariat itu, namun pengelolaan itu tidak akan terlaksana jika pihak Komisariat tidak menyelenggarakan satupun program perkaderan. Seperti Latihan Kader I atau Basic Training. Penyelenggaraan Basic Training adalah tugas Komisariat. Maka ia yang menentukan tanggal pelaksanaan, tempat pelaksanaan, serta teknis pelaksanaan. Lantas pada saat pelaksanaannya, BPL lah yang berwenang untuk mengelolanya. Dengan mengintruksikan beberapa anggotanya untuk menjadi Instruktur atau Master of Training. Wewenang itu juga termasuk menerapkan metode tertentu pada Basic Training itu guna mencapai tujuan yang sesuai dengan Pedoman Perkaderan. Pada wilayah pengelolaan ini, Komisariat sebagai penyelenggara bertugas menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan Instruktur atau Master of Training agar latihan/ training bisa berjalan dengan baik dan memiliki kualitas sesuai dengan yang diharapkan.

Demikianlah seterusnya pada setiap tingkatan kepempimpinan dan jenjang perkaderan di HMI. Ada Struktural yang bertindak sebagai penyelenggara, ada BPL yang bertindak sebagai pengelola. Hal serupa juga berlaku pada program-program perkaderan lainnya yang mencakup training-training formal maupun informal serta perkaderan non-formal seperti Follow Up dan Upgrading. Pihak struktural mempersiapkan penyelenggaraan perkaderan-perkaderan itu, dan BPL kemudian mengelolanya dengan berpedoman pada Pedoman Perkaderan maupun pedoman-pedoman ke-HMI-an lainnya.

Masalah akan timbul ketika Struktural maupun BPL bertindak di luar posisinya. Misalnya saja ketika Struktural mengelola sendiri Perkaderan. Seperti jika Komisariat mengelola Basic Training tanpa Instruktur BPL. Atau ketika BPL mengurusi segala hal yang berkaitan dengan Perkaderan, termasuk penyelenggaraannya (kecuali penyelenggaran perkaderan internal BPL itu sendiri.)

Kesadaran masing-masing pihak, baik BPL maupun Struktural, untuk bertindak sesuai dengan fungsi dan perannya masing-masing sangat penting untuk menghindari adanya tumpang tindih tanggung jawab maupun konflik kepentingan pada proses perkaderan. Kenyataan hari ini di mana banyak pihak yang belum memiliki kesadaran yang baik akan fungsi dan peranannya masing-masing sangat menyedihkan. Kualitas Perkaderan menjadi tebengkalai karena hal itu. Belum lagi ketika kemudian Perkaderan disusupi hal-hal yang tidak berkaitan dengannya. Seperti ketika Perkaderan menjadi arena permainan politik dan perebutan pengaruh.

Perkaderan yang sehat akan melahirkan kader-kader yang berkualitas. Kader-kader yang berkualitas akan menjadi penopang utama organisasi dan roda penggeraknya yang dapat memajukan organisasi hingga semakin dekat dengan tujuannya. Sebaliknya, perkaderan yang sakit akan melahirkan kader-kader pragmatis, miskin nilai, dan buta arah serta tujuan. Sehingga pada akhirnya malah semakin membuat organisasi jauh melenceng dari garis perjuangannya.

Menjadi Bagian dari Perkaderan

Hari ini adalah momentum bersejarah dalam hidupku. Hari ini aku, secara resmi, memulai perjalananku di dunia perkaderan di HMI. Perjalananku itu aku mulai dari sini, dari Latihan Kader II (Intermediate Training) HMI cabang Bekasi. Setelah sebelumnya melalui proses perkaderan instruktur di Senior Course yang aku ikuti beberapa waktu lalu, hari ini adalah hari di mana proses itu menampakkan benihnya yang sudah mulai bertumbuh.

Aku magang di LK ini bersama beberapa kawan sesama alumni SC HMI cabang Jakarta Barat. Mereka adalah Ferdian Mahmuda, dari HMI cabang Ciputat, dan Salim M.N. dari HMI cabang Jakarta Timur. Senang rasanya bisa bersama kawan-kawanku itu di magang pertamaku ini. Senang bisa kembali belajar bersama-sama.

Namun yang lebih menyenangkan adalah pada training ini kami dikoordinatori oleh instruktur idolaku, yunda Anah Shity Ijah Khodijah atau yang lebih dikenal dengan akronim namanya; ASIK. Suasana arena training dan kawan-kawan HMI cabang Bekasi yang akrab menambah kesenangan yang ada pada proses ini. Sehingga proses ini aku yakin tidak akan menjadi suatu perjalanan yang membosankan dan meletihkan.

Perkaderan adalah karir kedua yang bisa kader HMI geluti selain karir politik. Perkaderan yang notabene adalah ranah pengabdian, memiliki daya tariknya sendiri bagi kader-kader HMI yang punya kesadaran akan keberlangsungan regenerasi kader di tubuh HMI. Meskipun Perkaderan adalah dunia yang bisa begitu menyedot tenaga dan jiwa, tetap saja ada kader yang mengambil jalan ini karena keterpanggilan hatinya akan pengabdian.

Kader-kader yang menempuh jalan perkaderan itu bahagia ketika tunas-tunas muda dan generasi baru penggerak Himpunan lahir. Mereka bahagia ketika mengenalkan Himpunan kepada generasi muda potensial yang nantinya akan menjadi pelanjut estafet perjuangan Bangsa dan Agama.

Menjadi bagian dari Perkaderan ini adalah upayaku untuk turut menyumbangkan pengabdian. Khususnya bagi Himpunan, dan juga bagi generasi muda Indonesia pada umumnya.

Aku sendiri sadar bahwa dunia Perkaderan bukanlah dunia yang suci. Para instruktur pada Perkaderan ini bukanlah sosok-sosok maksum tanpa dosa. Maka dari itu dengan niatan yang semoga saja tulus ini aku ingin masuk ke dalam arus dan memberikan kontribusi yang juga semoga saja dapat mengarahkan arus ini ke arah yang lebih baik.

Selain itu aku juga ingin bisa menimba ilmu perkaderan sebanyak-banyaknya yang kemudian ilmu tersebut dapat aku aplikasikan dalam membangun generasi muda pada tempat di mana aku hidup nantinya. Entah itu di salah satu pondok pesantren Hidayatullah (ormas Islam tempatku berafiliasi) tempat aku mengabdi suatu saat nanti, ataupun lingkungan masyarakat di mana aku tinggal. Saat ini saja, sedikit ilmu perkaderan yang aku reguk dari HMI sudah bisa aku tetapkan ketika aku berkecimpung di Syabab Hidayatullah, sayap kepemudaan Hidayatullah.

Salah seorang kawan karibku yang juga seorang instruktur di HMI, Mualimin, pernah berkata bahwa perkaderan bukankah tentang siapa yang lebih pintar dari siapa, atau tentang tirani senioritas yang dibalut secara intelektual, melainkan tentang proses pembelajaran yang terus menerus. Di mana seorang instruktur bertugas untuk mengawal proses itu dan mendorong setiap kader agar terus menempuhnya.

Proses ini akan menjadi medan pembelajaran bagiku. Aku harus memanfaatkannya sebaik-baiknya.

Menjadi Kader Dakwah di Era Milenial

Kader Dakwah adalah pengemban Dakwah di tubuh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Mereka adalah kader-kader HMI yang tergabung dalam Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI), lembaga pengembangan profesi di HMI yang konsentrasinya ada pada bidang Dakwah. Meski setiap kader HMI sejatinya juga mengemban Dakwah sebagai bagian integral dari identitas keislamannya, Kader Dakwah adalah mereka yang secara khusus dibina untuk dapat mengemban Dakwah secara lebih profesional.

Dalam perjalanan dakwahnya, banyak tantangan yang Kader Dakwah hadapi. Salah satu yang paling serius adalah situasi dan kondisi zaman yang kini tengah berada pada era milenial. Era di mana informasi dapat disajikan jauh lebih cepat dari makanan cepat saji. Era di mana setiap orang dapat mencari tahu tentang apa saja hanya dengan mengetik beberapa kata di mesin pencari. Era di mana kehidupan di dunia maya mulai menggerus kehidupan di dunia nyata.

Era Milenial ini menjadi tantangan tersendiri bagi Kader Dakwah di mana suatu tugas dakwah tidak lagi terbatas pada penyampaian-penyampaian formal di mimbar-mimbar ceramah ataupun rubrik-rubrik dakwah di setiap majalah. Dakwah di era ini melebar sedemikian luasnya. Baik dari sisi objeknya, maupun sisi subjeknya, yaitu para pelaku dakwah.

Di era ini, Dakwah dapat ada di mana saja. Selain di masjid-masjid dan majelis-majelis, Dakwah juga ada di ruang publik yang lebih luas dan juga di media sosial, Internet, dan ruang-ruang lain di dunia maya. Dengan kata lain, ada di mana-mana. Sehingga Dakwah dapat menyentuh siapa pun. Tidak lagi terfokus pada mereka yang ingin saja. Dakwah kini menjadi lebih membumi dan merakyat.

Pada era ini pula, siapapun dengan gadget di tangan dapat menjadi seorang da’i. Atau pendakwah. Tidak penting betul apakah bacaan Qur’an-nya baik atau buruk. Atau apakah kapasitas keilmuannya di bidang Keislaman cukup dan mumpuni. Asal dia mampu merangkai kata-kata dan punya sedikit kemampuan berbicara, dia sudah sah menjadi da’i, menjadi pelaku Dakwah, orang yang menyampaikan Dakwah.

Anomali yang begitu besar ini membuat profesi da’i itu sendiri menjadi absurd. Dalam dunia di mana batas-batas menjadi kabur, batas antara seseorang yang pandai menyampaikan dakwah, dengan orang yang memang menjalani profesi sebagai seorang da’i, atau Kader Dakwah, juga turut menjelma sesuatu yang samar-samar.

Namun kondisi tersebut tidak lantas menjadikan Kader Dakwah kehilangan siginifikansinya. Kader Dakwah hanya perlu merumuskan peran yang lebih efektif dengan pembeda yang unggul dari para pelaku Dakwah lainnya.

Selain itu mereka perlu membekali diri mereka dengan kecakapan-kecakapan khas era milenial. Agar tidak ketinggalan langkah dari generasi milenial lain yang juga ingin mengambil bagian dalam dakwah meski secara membabi buta. Seperti kecakapan dalam memanfaatkan Internet, memanfaatkan dan mengelola media sosial dan kecakapan jurnalistik. Kecakapan-kecakapan tersebut adalah kecakapan dasar yang akan akan sangat membantu Kader Dakwah dalam menyampaikan Dakwah di tengah arus informasi era milenial yang sangat deras.

Kader Dakwah juga dituntut untuk dapat menyampaikan Dakwah kapan pun dan di mana pun. Pada titik ini, seorang Kader Dakwah tidak bisa lagi hanya sebatas mahir berceramah. Namun juga mesti mahir berdialog, berdiskusi, dan bahkan juga berdebat. Memiliki kemahiran literasi sehingga dapat menyebarkan dakwah dengan tulisan yang pada era ini tidak hanya terbatas pada buku, koran, dan majalah, namun meluas ke media sosial, blog, dan kanal-kanal media massa. Serta juga kemahiran konsultasi, demi dapat menjawab berbagai macam komentar yang menghampiri. Komentar-komentar yang tidak lagi dapat dibatasi maupun disaring pada era milenial yang identik dengan keterbukaan ini.

Di samping itu yang tidak kalah pentingnya untuk disadari oleh Kader Dakwah adalah meskipun siapapun dapat berdakwah di era milenial ini, Kader Dakwah tetap memiliki diferensiasi-nya sendiri di mana mereka telah memiliki bekal-bekal dasar yang menjadikan dakwah mereka adalah suatu gerakan yang profesional. Dalam artian memiliki rancang bangun yang jelas, serta visi dan misi yang lengkap serta terukur dalam suatu sistem yang rapi. Setiap orang bisa saja menjadi pelaku Dakwah, namun tidak setiap orang dapat menjadi Kader Dakwah.

Proyeksi yang cukup ideal ini bisa juga menjadi hanya sekedar slogan semata. Yaitu ketika seorang yang mengaku dirinya adalah Kader Dakwah namun dia tidak memiliki kecakapan yang profesional dalam dakwahnya itu, dan hanya berdakwah “ala kadarnya” dengan dalih hadits Rasulullah, “sampaikanlah dariku walau satu ayat.”

Obrolan Seputar Kebenaran

Catatan Sebelum Shubuh Menjelang

Sudah selarut ini, jam menunjukkan pukul dua dini hari, kami masih terduduk di sini, di Indomaret Point jl. Ampera. Ann telah tertidur di kursinya, aku menyelimutinya dengan jaketku. L mulai kembali mengetik di laptopnya, dia sedang menulis makalah untuk dapat mengikuti Intermediate Training HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Sedangkan aku kini menuliskan kata-kata ini. Ali sudah pulang duluan pada pertengahan malam tadi. Sejak lepas Isya, kami berempat berkumpul. Agenda utamanya adalah membantu L menyelesaikan makalahnya. Dalam proses menuju agenda itu, banyak percakapan yang terjadi. Saking banyaknya obrolan dengan topik-topik berbeda yang tercipta, pembahasan mengenai makalah tersebut terpinggirkan. Akhirnya kami sepakat untuk melanjutkan kembali pembahasannya pada keesokan hari. Selain itu juga Ali harus pulang dan istirahat, besok pagi-pagi sekali dia harus berangkat menuju tempat pelatihan yang tengah dia jalani di LBH (Lembaga Bantuan Hukum).

Di antara topik yang cukup lama dibahas oleh kami adalah Kebenaran. Ali yang memulainya. Dia memulai dengan mengajukan pertanyaan mengenai beberapa kebenaran yang tengah melekat pada diri L. Kebenaran-kebenaran tersebut didiskusikan. Mirip dengan proses dekontruksi pada materi Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) saat Basic Training HMI, hanya saja dengan pemahaman setingkat lebih baik dan utuh. Dialektika tanpa henti terus terjadi antara mereka berdua, dengan diselingi oleh topik-topik lain dan celetukan-celetukanku. Dialektika tersebut terpaksa harus diakhiri ketika Ali memutuskan kembali ke kost-nya untuk beristirahat.

Setelah kepergian Ali, obrolan mengenai Kebenaran itu tetap berlanjut dengan aku yang duduk menggantikan posisi Ali. Namun berbeda dengan Ali yang menerapkan gaya Socrates, aku lebih senang dengan penjelasan-penjelasan yang disederhanakan, dan memberikan kesempatan lebih banyak dengan sikap yang lebih lunak kepada L untuk mengemukakan pikirannya.

Aku mencoba untuk memberikan pemahaman kepada L mengenai konsep Kebenaran yang tercantum di Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI, percobaan yang juga dilakukan Ali dengan cara yang berbeda. Salah satu tujuannya adalah sebagai persiapan baginya untuk menghadapi test kelayakan (screening) Intermediate Training nanti. Intermediate Training HMI mengharuskan setiap calon peserta untuk lolos proses Screening. Materi-materi yang diujikan pada proses Screening adalah materi-materi wajib Basic Training HMI, salah satunya adalah NDP, ditambah dengan materi Keislaman dan test BTQ (Baca Tulis al-Quran).

Sebagai seorang anggota HMI yang sudah sekitar dua tahun lulus Basic Training, pemahaman L mengenai NDP masih dangkal. Imbas dari proses pembelajaran yang kurang atas teks dan tafsir NDP (Problem ini bisa dikatakan ada pada banyak anggota Himpunan. Mereka lulus Basic Training dengan pemahaman yang tidak utuh, lantas kemudian enggan belajar lebih dalam mendekati teks NDP, entah karena takut, segan, ataukah malas.) Jadi obrolan kami aku harapkan dapat membuatnya lebih memahami nilai-nilai yang ada dalam NDP terutama yang tercantum pada BAB I dan BAB II. Nilai-nilai seperti Kebenaran, Ketuhanan, Kemanusiaan, dll. Meski harapanku itu tidak terpenuhi seluruhnya.

Obrolan kami, hingga kami berhenti beberapa saat tadi, masih pada seputar topik mengenai nilai Kebenaran. Apa hakikat Kebenaran itu? Bagaimana mengetahuinya, dan ke mana ia menuju? Dalam NDP pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab. Jawaban dari NDP itu coba aku transformasikan kepada L dalam obrolan kami. L mengajukan banyak pertanyaan kepadaku, setelah sebelumnya diserang dengan pertanyaan yang bertubi-tubi oleh Ali pada dialektika mereka sebelumnya, seputar topik ini. Aku menjawabnya dengan penjelasan sederhana sebisa yang dapat aku jabarkan dari pemahamanku.

Topik ini memang topik yang sangat menarik. Sebab bisa dikatakan bahwa inilah dasar dari pola pikir dan cara pandang ke depan. Diskusi mengenainya bisa sangat dalam dan luas, menyentuh ke berbagai macam hal. Kenyataan-kenyataan sehari-hari banyak yang dapat dijadikan perbandingan bagi topik ini. Contoh-contoh praktis mengenainya sangat mudah ditemukan, dan begitu menarik untuk didiskusikan.

Obrolan kami berhenti tanpa kesimpulan. Lebih tepat jika tidak dikatakan berhenti, melainkan mengambil jeda. Jeda diambil sebagai kesempatan untuk membangun ulang pemahaman. L meneruskan pengetikkan makalahnya yang kami diskusikan kembali esok malam, atau malam ini sebab sekarang adalah dini hari, hingga sampai kepada bentuk yang utuh dengan isi yang baik agar layak diajukan sebagai syarat kepesertaan Intermediate Training, dan aku mengambil waktu untuk menulis #My500Words-ku. Sebentar lagi subuh. Ann masih tertidur.

%d blogger menyukai ini: