Kesan Bacaan “Cerita Buat Para Kekasih” Karya Agus Noor

Cerita buat Para KekasihCerita buat Para Kekasih by Agus Noor

My rating: 3 of 5 stars

Ini buku Agus Noor pertama yang secara utuh aku baca. Sebelumnya, aku hanya membaca beberapa cerpennya yang tersebar di Internet dan di blog pribadinya, Dunia Sukab. Salah satu yang paling memukau adalah “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi.” Agus Noor memang seorang penutur cerita yang piawai menangkap peristiwa-peristiwa sosial untuk dia sajikan secara kritis dalam cerita-ceritanya.

Secara keseluruhan, aku akan mengatakan cerita-cerita dalam buku ini bagus. Namun aku tidak menyukai beberapa cerita yang dalam pandanganku terlampau surealis atau mistis yang penuh dengan metafora-metafora yang membingungkan. Bagiku, kekuatan sebuah cerita adalah kedekatanya dengan pengalaman keseharian kita. Meskipun dengan latar belakang yang fiktif dan bahasa yang tinggi ataupun tertimbun oleh diksi-diksi asing, apabila ceritanya mampu menyentuh kesadaran pengalaman yang terjangkau oleh kita, cerita tersebut akan menarik.

Maka cerita-cerita yang Agus Noor sajikan berangkat dari problematika sosial, sebagian besar soal cinta dan romansa, adalah yang aku sukai dari buku ini.

Sebagaimana judulnya, cerita-cerita dalam buku ini sebagian besar adalah cerita-cerita cinta. Bacaan ini cocok bagi mereka yang sedang semangat dalam menikmati ekspresi tersebut. Banyak kutipan-kutipan percintaan yang bisa seseorang ambil, baik untuk dipersembahkan kepada sang kekasih, atau sekadar dipergunakan untuk caption di Instagram . Salah satunya misalnya kutipan,

Wanita memang selalu berbahaya, karna kita tak pernah tahu apa yang dipikirkannya

Meskipun ritmeku dalam membaca buku ini cukup pelan, aku menikmatinya. Semoga saja juga aku bisa menikmati karya-karya Agus Noor selanjutnya.

View all my reviews

Iklan

Orang-orang Yang Lari Dari Perubahan

Kesan Dari Novel Vegetarian Karya Han Kang

Perubahan pasti terjadi pada setiap orang. Entah karena apa. Entah perubahan itu besar atau kecil. Perubahan adalah kepastian pada siklus alam semesta yang berada dalam ruang dan waktu. Manusia menyadari ini.

Namun beberapa perubahan tidak dapat diterima begitu saja. Beberapa bahkan tidak dapat diterima sama sekali. Saat menghadapi perubahan yang tak tertanggungkan, beberapa orang akan memilih untuk meninggalkan.

Hal semacam itulah yang terjadi pada Yeong Hye saat dia tiba-tiba berubah menjadi seorang vegetarian karena mimpi-mimpi yang dia alami.

Orang-orang di sekitarnya tidak mampu menanggung perubahan drastis yang terjadi padanya. Sehingga menghasilkan konflik yang membangun keseluruhan cerita dari novel “Vegetarian” karya Han Kang yang baru selesai kubaca malam tadi ini.

Konflik serupa juga ada pada Metamorphosis karya Kafka. Pada Metamorphosis, Kafka menghadirkan suatu konflik dalam menghadapi perubahan yang benar-benar radikal sehingga cenderung tidak masuk akal.

Apa yang Han Kang hadirkan dalam novelnya ini masih lebih terkangkau ketimbang karangan Kafka yang terasa jauh mengawang-ngawang. Namun memang benang merahnya sama.

Mereka sama-sama bercerita mengenai manusia yang gagap di hadapan perubahan. Betapa orang yang kita sayangi bisa benar-benar menjadi sosok yang sama sekali lain saat berhadapan dengan perubahan yang kita alami. Mereka bahkan tidak segan-segan meninggalkan kita ketika mereka merasa bahwa diri kita adalah sosok yang berbeda dari sosok yang mereka sayangi sebelumya.

Selain kesamaan itu, ada perbedaan Han Kang dalam bertutur dalam novel ini dengan Kafka dalam Metamorphosis. Yaitu pada penokohan karakter. Jika Kafka lebih memusatkan perhatian pada Samsa sebagai tokoh utama, dan menjadikan karakter-karakter lainnya sekadar sebagai reaksi sampingan dari reaksi utama yang terjadi pada diri Samsa sendiri, Han Kang justru lebih memusatkan penuturannya pada karakter-karakter di sekeliling Yeong Hye yang paling kuat dan keras reaksinya atas apa yang terjadi pada Yeong Hye.

Tentu saja meskipun membawa warna yang kurang lebih sama, antara Vegetarian dan Metamorphosis terdapat corak masing-masing yang khas. Corak yang memiliki kekuatannya sendiri sehingga bisa berdiri sebagai karya yang sama-sama memukau.

Novel-novel dengan kekhasan corak yang kuat semacam ini menawarkan sesuatu yang lebih daripada sekadar cerita-cerita biasa. Meskipun kadangkala cerita yang dihadirkan memanglah cerita yang biasa.

Aku pikir di situlah seninya bercerita. Seni bercerita bukanlah terletak pada ceritanya, melainkan pada penuturan cerita tersebut. Betapa banyak cerita hebat jadi terdengar biasa saja karena dituturkan dengan cara yang membosankan. Betapa banyak pula cerita biasa saja, yang berasal dari kehidupan sehari-hari, menjelma luar biasa berkat penuturan yang memukau.

Aku kagum bagaimana Han Kang bisa menggali sebegitu dalamnya karakter yang dia tuturkan. Berbagai hal yang melatar-belakangi reaksi karakter tersebut dia hadirkan dengan reflektif. Membacanya, menjadikanku turut menengok latar belakang yang ada dalam kehidupanku. Latar belakang yang membuatku menjadi diriku yang sekarang ini. Betapa banyak hal yang sudah aku jalani?

Selain itu, aku juga bertanya-tanya. Apakah jika orang terkasihku tiba-tiba berubah seperti apa yang terjadi pada Yeong Hye, aku akan mampu menghadapinya? Ataukah aku akan meninggalkannya seperti suami Yeong Hye meninggalkannya. Sebaliknya, jika aku tiba-tiba berubah dengan suatu perubahan yang tak tertanggungkan, apakah orang terkasihku akan mampu menjalaninya?

Pikiran mengenai hal itu merajai akalku malam ini. Aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan-kemungkinan itu membuat dadaku sesak, dan tanpa terasa, air mataku mengalir.

Dua Buku Yang Aku Beli Hari Ini

Berburu buku bisa menjadi suatu kegiatan yang sangat menyenangkan. Apalagi jika kita mampu menemukan sebuah buku langka yang berharga dengan harga yang melegakan jiwa.

Sore ini aku kembali menelusuri selasar basement Blok M Square untuk berburu buku. Siapa tau aku bisa menemukan satu dua buku yang bisa aku jadikan bahan bacaan sepekan ke depan.

Salah satu kelebihan berbelanja buku di Blok M sini adalah kita bisa mendapatkan buku bagus dengan harga yang relatif murah. Meski memang, beberapa buku yang dijual di sini adalah buku bajakan. Tapi tentu tidak semua.

Beberapa buku bagus dalam cetakan asli juga turut dijual murah. Harga murahnya adalah karena tahun terbitannya yang sudah lama. Maupun kondisi bukunya yang merupakan buku bekas.

Jika pandai mencari-cari, dengan modal lima puluh ribu rupiah saja kita bisa berbelanja minimal dua buku. Setiap kali ke sini aku memang selalu hanya membawa dana dengan jumlah segitu. Aku tertarik untuk mengincar buku-buku bekas ataupun buku-buku cetakan lama.

Setelah sekitar dua jam berkeliling dan melihat-lihat, aku menjatuhkan pilihan kepada dua buku yang menarik perhatianku. Buku pertama adalah sebuah novel karya penerima anugerah Nobel di bidang Sastra, Bernard Shaw yang berjudul Cleopatra. Kedua adalah buku berjudul “The Amazing Results of Positive Thinking.”

Aku belum pernah membaca karya Bernard Shaw sebelumnya. Namanya hanya beberapa kali aku baca pada esai-esai yang membahas mengenai masalah sastra. Karena itulah timbul rasa penasaran dalam diriku akan karyanya. Ketika melihat namanya sebagai pengarang novel yang aku pegang, aku langsung berpikir bahwa sekarang lah saatnya aku mencicipi karya dari seorang sastrawan yang sudah mendunia ini.

Membaca karya sastra para peraih penghargaan Nobel Sastra punya keuntungan tersendiri. Kita jadi bisa menikmati karya dari pengarang yang kualitas kesusastraannya sudah diakui oleh Dunia. Dengan begitu, potensi kekecewaan selepas membaca karya tersebut bisa sangat kecil.

Potensi kekecewaan yang utama dalam membaca karya sastra para pengarang tingkat Dunia terletak pada kualitas terjemahan yang buruk. Aku harap, novel ini diterjemahkan dengan bagus oleh penerjemahnya. Tadi aku sempat membaca beberapa halaman isinya dan dalam penilaian sementaraku, terjemahannya cukup bagus.

Buku kedua dari judulnya saja sudah dapat diketahui bahwa buku tersebut adalah buku tentang pengembangan diri. Berpikir positif adalah salah satu sikap yang bisa sangat membantu seseorang dalam menghadapi persoalan sehari-hari.

Buku itu diberi judul dengan bahasa Indoenesia sebagai “Cara Hidup dan Berpikir Positif.” Bukan sekadar judulnya saja yang membuat aku tertarik, melainkan juga gambaran mengenai isi buku yang disuguhkan di bawah judul tersebut. Gambaran tersebut berbunyi:

Suatu contoh kehidupan bagaimana cara berpikir positif telah merubah kehidupan berjuta-juta orang, dan bagaimana buku ini akan mengubah kehidupan Anda dengan CARA HIDUP DAN BERPIKIR POSITIF

Sudah sekian lama aku tidak membaca buku yang bertema self improvment. Aku pikir sekarang-sekarang ini aku butuh bacaan semacam itu untuk membangkitkan kembali gairahku dalam melangkah untuk mencapai mimpi-mimpiku.

Buku-buku semacam ini adalah pengasah pikiran dan pengaya jiwa. Ia membantu kita mengembangkan diri kita menjadi suatu sosok yang lebih baik. Serta menginsafkan kita dari kekeliruan-kekeliruan pikiran maupun tindakan yang membuat kita terhalang dari kesuksesan pribadi kita.

Buku ini disusun oleh Dr. Norman V. Peale yang merupakan hasil dari “pengalaman yang mengharukan dari mereka yang mengadakan perubahan-perubahan drastis dalam hidupnya dengan menggunakan prinsip-prinsip yang dinamis.

Dalam menjelaskan mengenai bukunya, Dr. Norman mengungkapkan bahwa buku ini adalah “petunjuk yang praktis dan penuntun yang mantap bagaimana Anda bisa mulai melangkah untuk mencapai sukses, mempunyai Kepercayaan pada diri sendiri, perasaan sehat, Kehebatan serta Kekuatan yang didapatkan dari dalam diri Anda sendiri yang mungkin Anda tidak pernah tahu sebelumnya.

Betapa sebuah ungkapan yang meyakinkan. Namun aku rasa aku tidak bisa begitu saja memercayai ungkapan tersebut. Setelah selesai membaca buku ini baru aku akan memutuskan penilaianku apakah buku ini memang seperti klaim penyusunnya ataukah hanya sekadar motivasi kosong seperti yang banyak bertebaran dari mulut-mulut motivator Indonesia dan karya-karya mereka.

 

Buku yang Aku Beli Di Bandara

Beberapa tahun lalu aku pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Pada waktu itu aku tengah mengikuti pendaftaran perguruan tinggi yang aku impikan sejak lama. Jalan yang terbuka menuju perguruan tinggi itu tidak terduga bagiku. Tiba-tiba saja Tuhan membukakan kesempatan yang aku pikir sudah tertutup. Mimpi yang sudah mulai aku kubur, kembali menyala.

Aku tiba dalam keadaan tanpa tahu apa-apa. Dengan berbekal beberapa kontak dan nama aku menghadapi Jakarta. Saat itu aku hanya datang untuk mengikuti pendaftaran saja. Pendaftaran tersebut akan disusul ujian seleksi tiga bulan kemudian pas seminggu selepas Lebaran. Untuk itu, aku hanya beberapa hari berada di Jakarta demi pendaftaran tersebut.

Dari tempat asalku, aku dibekali dengan ongkos yang cukup untuk pulang pergi Jakarta dengan pesawat dan akomodasi selama seminggu. Dengan berhemat, aku mampu menyisihkan sebagian dari bekal tersebut. Aku menggunakannya untuk membeli buku untuk menemaniku selama perjalanan pulang. Urusan pendaftaranku selesai dengan cukup baik. Perjalanan pulang menurutku akan terasa menyenangkan jika ditemani dengan teman duduk yang setia.

Tak aku sangka, buku yang aku beli di bandara Soekarno Hatta itu memberikan pengaruh yang sangat besar dalam hidupku. Aku pikir aku memilih dan membeli buku itu bukanlah suatu kebetulan yang menyenangkan semata. Melainkan suatu momentum takdir yang begitu mengagumkan.

Lanjutkan membaca “Buku yang Aku Beli Di Bandara”

Apa yang Paling Penting Dari Membaca

Aku tengah berada di Wisma DPR RI yang terletak di kawasan Puncak. Aku di sini dalam rangka kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Bangsa yang diadakan oleh Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK). Ketika berada dalam suasana semacam ini; agenda yang memakan waktu berhari-hari, aku biasanya tidak memiliki waktu yang cukup luang untuk menyelesaikan tanggung jawab pribadi harianku dalam membaca dan menulis. Ini malam kedua aku berada di sini. Kemarin aku bisa mengatasi berbagai hambatan yang ada dan menyelesaikan tanggung jawab itu. Untuk bacaan, aku penuhi dengan cara mencuri-curi waktu di sela-sela forum kegiatan dan memanfaatkan beberapa saat sebelum tidur. Sedangkan untuk tulisan, aku berhasil memanfaatkan waktu jeda antara waktu Maghrib dan Isya untuk menuangkan apa saja yang ada di pikiranku mengenai suatu hal yang menguras energi perasaanku.

Malam ini juga aku tidak ingin gagal. Aku masih bisa melakukan sesuatu untuk memenuhi tanggung jawabku. Untuk itulah aku menulis catatan ini.

Catatan ini adalah jalan tengah bagiku untuk dapat menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan. Aku menulis tentang membaca. Sebagaimana juga aku suka membaca sesuatu tentang menulis.

Lanjutkan membaca “Apa yang Paling Penting Dari Membaca”

Merayakan Ketidakmungkinan

Kesanku Atas Novel “The Girl Who Saved The King of Sweden” karya Jonas Jonasson

Ini buku Jonas Jonasson kedua yang aku baca. Sebelumnya aku telah membaca The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disapperead dan puas dengan kejenakaan Alan Klarkson yang unik. Dalam buku ini pun nuansa serupa ada pada sosok Nombeko Mayeki, gadis kulit hitam buta huruf yang luar biasa. Mereka berdua itu, Alan dan Nombeko, bisa dibilang adalah ramuan tepat antara kecerdikan dan keberuntungan.

cover edisi inggris

Jonas piawai dalam mengolah peristiwa-peristiwa sejarah yang kita ketahui. Terutama peristiwa-peristiwa politik. Meramunya sedemikian rupa dengan fiksi dan karakteri fiktif yang unik. Menjalin koneksi-koneksi yang berpusat pada karakter utama dengan rapi, menghiasinya dengan nalar-nalar yang logis, dan menuturkannya dengan datar. Sehingga kejadian yang dia ceritakan dalam novelnya ini seakan-akan adalah cerita yang sebenarnya. Dilengkapi pula dengan humor absurd yang menggelitik.

Jonas di dalam novelnya ini, dan juga novel sebelumnya yang aku baca, seperti ingin menegaskan bahwa apapun mungkin saja terjadi di Dunia yang penuh kekacauan ini. Nombeko yang pada mulanya hanya seorang pegawai sanitasi rendahan, yang sehari-hari bergulat dengan WC dan kotoran, dapat menjadi sosok penentu hubungan internasional antar beberapa negara.

Momen-momen silih berganti dalam kehidupan Nombeko. Membawanya kepada hal-hal yang tak terduga, sekaligus absurd. Orang-orang yang ditemui Nombeko selama perjalanan hidupnya selalu unik dan menyimpan kisah hidup yang tak kalah menarik dengan kisah hidup Nombeko sendiri. Ada seorang kuli sanitasi yang menyimpan banyak buku di dalam gubuknya, pemimpin proyek nuklir yang tidak tahu sama sekali mengenai proyek nuklir, gadis-gadis cina yang bodoh tapi selalu beruntung, hingga seorang laki-laki yang “tidak ada”. Nombeko menghadapi semua potret manusia dalam dunia yang jenaka ini dengan cerdik. Dia memang cerdas sejak semula. Terutama dalam matematika. Meskipun dia hanya seorang gadis kulit hitam kecil yang pada mulanya buta huruf, itu tak menghalanginya dari belajar. Maka ketika dia akhirnya bisa membaca, dia melahap bacaan apapun yang ada di sekelilingnya. Bacaannya yang begitu banyak itulah yang perlahan membangun kecerdasannya. Dan dia adalah seorang pembelajar yang baik.

Cover edisi Indonesia, diterbitkan oleh Bentang Pustaka. 550 hlm.

Jonas seperti ingin merayakan ketidakmungkinan. Hal-hal yang tidak mungkin terjadi hadir dan ada. Namun Jonas dengan ketidakmungkinan yang riuh itu tidak melupakan nalar logis dari setiap peristiwa. Ketidakmungkinan yang dia tuturkan masuk akal bagi kita. Sehingga kita sadar, bahwa ketidakmungkinan itu sejatinya bukanlah ketidakmungkinan. Hanya suatu kemungkinan yang kemungkinannya sangat kecil untuk terjadi. Dan sekecil-kecil kemungkinan tetaplah sebuah kemungkinan. Ia mungkin terjadi. Meski perbandingannya 1:1000, atau 1:1000.000, atau bahkan (seperti yang diungkapkan Jonas untuk menegaskan kemungkinan cerita klimaks dalam novel ini terjadi dalam hidup Nombeko, berdasarkan perhitungan Nombeko sendiri) 1: 45.786.212.810. Kejadian-kejadian dengan kemungkinan yang sangat kecil itu memberikan suatu nuansa humor tersendiri. Kadang-kadang bahkan membuatku tercengang, mengerutkan dahi, lantas bergumam “apa? yang benar saja!”

“Seluruh dunia akan terkekeh membaca cerita ini” -Kirkus Reviews

Selain humor, ada beberapa pelajaran kecil yang aku ambil dari novel ini, terutama mengenai ideologi politik. Jonas suka menyebutkan ideologi-ideologi politik yang ada dengan gaya satir. Menjadikan ideologi yang biasanya rumit untuk dijelaskan itu menjadi sesuatu yang jenaka.

Satu hal terakhir yang menarik bagiku dari novel ini adalah ketiadaan kuasa “tangan tuhan” pada setiap peristiwa luar biasa yang ada dalam cerita. Tuhan sama sekali tidak disebut di sini. Sekali disebut, yang keluar adalah ungkapan seperti ini;

Jika Tuhan itu ada; Dia pasti punya selera humor yang bagus — hlm. 541

Aku tidak tahu apakah Jonas seorang atheis ataukah tidak, namun cara dia meniadakan peran tuhan dengan hanya berpedoman pada kausalitas dan probabilitas, menarik bagiku. Sebab biasanya novel-novel di Indonesia selalu melekatkan hal-hal berbau spiritual pada kejadian-kejadian luar biasa. Entah itu tuhan, dewa, makhluk ghaib, maupun kekuatan supranatural lainnya. Bisa dibilang novel Indonesia tidak ada yang benar-benar bersih dari mistisme, setidaknya sepanjang yang sudah aku baca.

Apapun itu, novel ini aku rekomendasikan sebagai bacaan santai akhir pekan.


%d blogger menyukai ini: