Dua Buku Yang Aku Beli Hari Ini

Berburu buku bisa menjadi suatu kegiatan yang sangat menyenangkan. Apalagi jika kita mampu menemukan sebuah buku langka yang berharga dengan harga yang melegakan jiwa.

Sore ini aku kembali menelusuri selasar basement Blok M Square untuk berburu buku. Siapa tau aku bisa menemukan satu dua buku yang bisa aku jadikan bahan bacaan sepekan ke depan.

Salah satu kelebihan berbelanja buku di Blok M sini adalah kita bisa mendapatkan buku bagus dengan harga yang relatif murah. Meski memang, beberapa buku yang dijual di sini adalah buku bajakan. Tapi tentu tidak semua.

Beberapa buku bagus dalam cetakan asli juga turut dijual murah. Harga murahnya adalah karena tahun terbitannya yang sudah lama. Maupun kondisi bukunya yang merupakan buku bekas.

Jika pandai mencari-cari, dengan modal lima puluh ribu rupiah saja kita bisa berbelanja minimal dua buku. Setiap kali ke sini aku memang selalu hanya membawa dana dengan jumlah segitu. Aku tertarik untuk mengincar buku-buku bekas ataupun buku-buku cetakan lama.

Setelah sekitar dua jam berkeliling dan melihat-lihat, aku menjatuhkan pilihan kepada dua buku yang menarik perhatianku. Buku pertama adalah sebuah novel karya penerima anugerah Nobel di bidang Sastra, Bernard Shaw yang berjudul Cleopatra. Kedua adalah buku berjudul “The Amazing Results of Positive Thinking.”

Aku belum pernah membaca karya Bernard Shaw sebelumnya. Namanya hanya beberapa kali aku baca pada esai-esai yang membahas mengenai masalah sastra. Karena itulah timbul rasa penasaran dalam diriku akan karyanya. Ketika melihat namanya sebagai pengarang novel yang aku pegang, aku langsung berpikir bahwa sekarang lah saatnya aku mencicipi karya dari seorang sastrawan yang sudah mendunia ini.

Membaca karya sastra para peraih penghargaan Nobel Sastra punya keuntungan tersendiri. Kita jadi bisa menikmati karya dari pengarang yang kualitas kesusastraannya sudah diakui oleh Dunia. Dengan begitu, potensi kekecewaan selepas membaca karya tersebut bisa sangat kecil.

Potensi kekecewaan yang utama dalam membaca karya sastra para pengarang tingkat Dunia terletak pada kualitas terjemahan yang buruk. Aku harap, novel ini diterjemahkan dengan bagus oleh penerjemahnya. Tadi aku sempat membaca beberapa halaman isinya dan dalam penilaian sementaraku, terjemahannya cukup bagus.

Buku kedua dari judulnya saja sudah dapat diketahui bahwa buku tersebut adalah buku tentang pengembangan diri. Berpikir positif adalah salah satu sikap yang bisa sangat membantu seseorang dalam menghadapi persoalan sehari-hari.

Buku itu diberi judul dengan bahasa Indoenesia sebagai “Cara Hidup dan Berpikir Positif.” Bukan sekadar judulnya saja yang membuat aku tertarik, melainkan juga gambaran mengenai isi buku yang disuguhkan di bawah judul tersebut. Gambaran tersebut berbunyi:

Suatu contoh kehidupan bagaimana cara berpikir positif telah merubah kehidupan berjuta-juta orang, dan bagaimana buku ini akan mengubah kehidupan Anda dengan CARA HIDUP DAN BERPIKIR POSITIF

Sudah sekian lama aku tidak membaca buku yang bertema self improvment. Aku pikir sekarang-sekarang ini aku butuh bacaan semacam itu untuk membangkitkan kembali gairahku dalam melangkah untuk mencapai mimpi-mimpiku.

Buku-buku semacam ini adalah pengasah pikiran dan pengaya jiwa. Ia membantu kita mengembangkan diri kita menjadi suatu sosok yang lebih baik. Serta menginsafkan kita dari kekeliruan-kekeliruan pikiran maupun tindakan yang membuat kita terhalang dari kesuksesan pribadi kita.

Buku ini disusun oleh Dr. Norman V. Peale yang merupakan hasil dari “pengalaman yang mengharukan dari mereka yang mengadakan perubahan-perubahan drastis dalam hidupnya dengan menggunakan prinsip-prinsip yang dinamis.

Dalam menjelaskan mengenai bukunya, Dr. Norman mengungkapkan bahwa buku ini adalah “petunjuk yang praktis dan penuntun yang mantap bagaimana Anda bisa mulai melangkah untuk mencapai sukses, mempunyai Kepercayaan pada diri sendiri, perasaan sehat, Kehebatan serta Kekuatan yang didapatkan dari dalam diri Anda sendiri yang mungkin Anda tidak pernah tahu sebelumnya.

Betapa sebuah ungkapan yang meyakinkan. Namun aku rasa aku tidak bisa begitu saja memercayai ungkapan tersebut. Setelah selesai membaca buku ini baru aku akan memutuskan penilaianku apakah buku ini memang seperti klaim penyusunnya ataukah hanya sekadar motivasi kosong seperti yang banyak bertebaran dari mulut-mulut motivator Indonesia dan karya-karya mereka.

 

Iklan

Menulis Adalah Tentang Mencari Diri Sendiri

Kerapkali aku terjebak pada pemikiran mengenai “untuk apa?” Pemikiran mengenai tujuan dari hal-hal yang aku lakukan. Hingga bahkan tujuan dari tujuan-tujuanku sendiri. “Untuk apa aku melakukan ini, atau melakukan itu?”

Saat memutuskan untuk menjadi seorang penulis, gagasan utamaku dan tujuan terbesarku adalah hal-hal idealis semacam “mengubah dunia.” Atau “memberi inspirasi bagi orang-orang.” Namun akhir-akhir ini aku merasa gagasan dan tujuan semacam itu terlampau klise. Sekaligus juga utopis.

Aku mulai memikirkan kembali, untuk apa sebenarnya aku menulis?

Saat menelusuri aktifitas menulisku hingga jauh ke belakang, aku menemukan bahwa menulis bagiku memberikan beberapa manfaat. Beberapa dari manfaat itu adalah hal-hal di bawah ini:

  • Menulis membantuku menata pikiranku yang berantakan. Ketika pikiranku terbebani dengan berbagai macam hal yang tumpang tindih; pekerjaan, tugas, relasi sosial, hasrat-hasrat pribadi dan lain sebagainya, menulis membantuku menata kekacauan itu dan membagi-bagi berbagai macam hal lantas menempatkannya pada pertimbangan yang seharusnya di pikiranku.
  • Menulis membantuku membangun perencanaan atas hal-hal yang ingin aku lakukan. Aku hampir-hampir tidak dapat melakukan sesuatu dengan baik hingga aku menuliskannya.
  • Menulis membantuku memahami. Beberapa kejadian membuatku tersentak. Beberapa sikap dari beberapa orang membuatku tercengang. Dengan menulis mengenai suatu peristiwa, atau mengenai seseorang, aku berusaha membangun suatu pemahaman yang baik.
  • Menulis membantuku mengingat; buku-buku yang aku baca, film-film yang membuatku terkesan, dan lagu-lagu yang sedang aku dengar. Aku merekam semuanya dengan tulisan. Bersama dengan pandanganku mengenainya.
  • Menulis mampu menenangkan diriku. Pada saat-saat di mana aku terombang-ambing di dalam kegalauan dan kegelisahan, menulis menjadi suatu terapi yang mujarab untuk menenangkan diriku.

Dari sekian manfaat menulis yang sudah aku sebutkan, aku menyadari bahwa menulis bagiku sebenarnya bukanlah suatu perkara yang luar biasa. Bukan suatu tindakan besar yang akan melahirkan kejadian besar.

Melainkan menulis bagiku adalah suatu laku sederhana bagi diriku sendiri yang akan melahirkan manfaat pertama-tama dan utamanya bagi diriku sendiri pula.

Tidak perlu bagiku melempar harapan terlampau tinggi. Harapan yang hanya mampu membiusku dengan angan-angan utopis. Tanpa mampu memberiku suatu bentuk kebermanfaatan yang nyata.

Dalam al-Quran tercantum bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum sehingga kaum itu sendiri yang mau mengubah diri mereka. Aku pikir sabdanya ini jika didudukkan dalam konteks kepenulisan dapat aku maknai sebagai isyarat bahwa menulis itu bukanlah tentang bagaimana mengubah dunia.

Namun menulis itu adalah tentang bagaimana mengubah diri sendiri terlebih dahulu. Tentang bagaimana membangun gagasan yang benar dari dalam diri sendiri dan bagaimana gagasan tersebut menemukan bentuknya yang paling tepat pada perkataan dan perbuatan yang lahir dari diri pribadi.

Sehingga dari semua manfaat yang aku dapat dari menulis aku memandang bahwa menulis ini sebenarnya adalah suatu proses yang aku jalani untuk mencari diriku sendiri.

Proses pencarian panjang dan bahkan mungkin akan berlangsung selamanya, untuk menemukan bagaiamana bentuk yang paling benar dari diriku. Untuk menemukan Kebenaran bagi diriku sendiri.

Kadangkala aku mungkin merasa bahwa aku telah benar. Namun dengan terus menulis aku akan mendapati bahwa kebenaran diriku itu kemudian waktu bisa berubah seiring dengan masuknya berbagai macam hal-hal yang baru ke dalam diriku.

Jadi menulis adalah tentang bagaimana aku mencari diri sendiri namun bukan untuk semata-mata menemukan, melainkan juga untuk menjalani proses pencarian itu dengan semangat pembaharuan kebenaran yang berlangsung terus menerus.

Aku rasa dengan pandangan yang sederhana mengenai ‘untuk apa aku menulis’ ini menjadikan menulis itu sesuatu yang ringan aku kerjakan.

Ketika Hal Pertama yang Aku Lakukan di Pagi Hari Adalah Membuka Ponsel

Aku tidur hampir sepanjang hari dan baru terbangun beberapa jam sebelum Maghrib. Hari libur ini, yang ditetapkan sebagai hari libur karena pegelaran pilkada serentak yang mana tidak termasuk pilkada Jakarta sehingga aku tidak perlu ikut-ikutan bangun ini, memberikan suasana kantuk yang nikmat. Belum lagi cuaca yang cenderung dingin belakangan ini. Bahkan pada siang hari matahari hanya sedikit tampak dan langit dikuasai warna abu-abu. Mendekam dalam selimut menjadi sesuatu yang paling menyenangkan untuk dilakukan.

Sebenarnya aku sempat terbangun di pagi hari. Pada malam hari sebelumnya, sesaat sebelum aku tidur, aku sudah merencanakan agar aku bisa mengerjakan lanjutan dari proyek terjemahan yang sedang aku garap dan juga membaca beberapa halaman dari buku yang akan aku presentasikan dalam sebuah ulasan. Namun pada saat terbangun di pagi hari itu, kemalasan begitu saja menyergapku. Saat itu, aku tidak begitu memerdulikannya dan malah menikmatinya. Baru kemudian saat-saat sore hari, di mana aku tidak mungkin tidur lebih lama lagi dan benar-benar harus bangun, aku baru menyesali kemalasanku tersebut. Aku mulai merenung dan berpikir, mengapa dia begitu mudah menaklukan diriku?

Aku ingat, ternyata ada yang salah dengan aktifitas pagiku. Seharusnya hal-hal yang pertama kali aku lakukan ketika membuka mata di pagi hari adalah; minum air putih, ke kamar mandi, menulis morning pages lalu sarapan. Tapi tadi pagi tidak. Hal yang pertama kali aku lakukan adalah meraih ponselku dan mengecek WhatsApp. Kemudian aku pun tenggelam dalam percakapan-percakapan grup yang seakan tidak ada habisnya. Sebagian besar percakapan adalah keriuhan pilkada.

Bosan dengan percakapan tersebut aku pun menutup WhatsApp. Namun masalah tetap berlanjut. Ibarat kata, keluar dari mulut singa malah masuk ke mulut buaya. Selepas menutup WhatsApp aku malah membuka Instagram. Manyaksikan satu persatu Story yang juga seakan tidak ada habisnya. Dari Instagram aku kemudian masuk ke YouTube. Semakin tenggelam lah diriku ke dalam ponselku yang kemudian membuatku sama sekali lupa dengan apa-apa yang seharusnya aku kerjakan. Aku baru berhenti memegang ponselku saat baterainya habis. Tapi alih-alih bangkit dari pembaringan, aku malah melanjutkan tidurku.

Sempurnanya kemalasanku mulai pagi hingga sore tadi aku lihat bermula dari satu problem utama; aku mengawali pagiku dengan buruk. Saat ponsel mengambil-alih aktifitas pagiku saat itu pula aku sudah memulai suatu hari yang buruk. Mengawali hari dengan ponsel adalah penyebab utama kemalasan diriku. Karena kecanduan dengan ponsel aku jadi tidak menghiraukan apapun di luarnya. Aku menjadi apatis.

Pagi hari yang baik memang sangat menentukan bagi tingkat produktifitas seseorang. Para pengusaha sukses dan penulis-penulis besar selalu mengawali pagi hari mereka dengan serangkaian aktifitas produktif yang khas. Sebagian penulis, misalnya, memanfaatkan pagi hari untuk menuangkan apapun yang ada di dalam pikirannya ke dalam bentuk tulisan. Aku pun menganut sistem semacam ini. Sistem yang aku anut adalah Morning Pages yang digagas oleh Julia Cameron dalam bukunya, The Artist Way.

Maka ketika pagi hari diambil-alih oleh hal-hal yang buruk dan tidak produktif, hampir dapat dipastikan sepanjang hari yang tersisa akan terasa buruk dan akan ada efek negatif siginifikan yang mengakibatkan menurunnya kualitas produktifitas.

Dari sini aku ingin membangun komitmen untuk tidak memegang ponsel hingga seluruh rutinitas pagiku selesai. Terutama Morning Pages. Komitmen ini sebenarnya sudah lama ada di dalam hatiku namun dalam perjalanannya komitmen tersebut belum cukup kuat tertanam. Aku masih saja suka terpengaruh dengan gagasan untuk meraih ponsel saat pertama kali membuka mata. Awalnya gagasan itu hanya berupa gagasan untuk mengecek jam. Namun kemudian malah berkembang menjadi gagasan untuk turut mengecek perpesanan, terutama WhatsApp, dan media sosial, terutama Instagram. Akhirnya gagasan semula yang cuma ‘mengecek’ sepenuhnya beralih menjadi ‘menghabiskan waktu’. Waktuku habis untuk bermain-main di ruang perpesanan dan media sosial.

Kecendrungan yang buruk itu semakin lama semaki memberikan efek candu. Jika aku tidak segera mengambil langkah yang benar-benar tegas, bukan sesuatu yang tidak mungkin jika di kemudian hari aku benar-benar mengidap penyakit nophonephobia. Aku tentu tidak ingin hal itu terjadi. Aku ingin pagi hariku berjalan dengan baik dan memberi energi yang cukup bagi pikiran dan jiwaku sehingga aku bisa menjalani hariku dengan produktif.

Aku harus benar-benar BERUSAHA!

Hikmah Di Balik Keluhan

Sebagai manusia, seringkali kita tidak bosan-bosannya mengeluh. Selalu saja ada sesuatu yang kita rasa salah dan tidak pas. Seberapa sempurna pun anugerah yang kita miliki dan kita capai, selalu saja ada ruang yang terasa kosong. Ruang yang kemudian kita isi dengan keluhan-keluhan. Ruang kosong tersebut kita temukan tidak hanya pada diri kita sendiri, melainkan juga pada diri orang lain, perkataan dan perbuatan mereka.

Selalu saja ada yang salah dengan apa yang orang lain lakukan. Anehnya, kesalahan tersebut tampak di mata kita bukan berdasarkan ada dan tiadanya kesalahan tersebut, namun berdasarkan perasaan suka dan benci. Pada orang yang kita suka, kesalahan sebanyak apapun tidak akan kita hiraukan. Sedangkan pada orang yang kita benci, satu kesalahan kecil saja akan selamanya menempeli pandangan kita.

Karakteristik pengeluh yang ada dalam diri kita ini bukanlah barang baru. Karakteristik tersebut bahkan terkonfirmasi oleh dua sumber suci umat Islam; al-Quran dan al-Hadits.

Mengapa karakteristik tersebut mesti melekat dengan diri kita? Buat apa pencipta kita menanam kejelekan tersebut di dalam jiwa kita?

Penciptaan bukanlah permainan. Oleh karena itu selalu ada hikmah atau pelajaran pada setiap keberadaan dan kejadian. Namun hikmah itu hanya dapat ditemukan, dan pelajaran itu hanya dapat dipetik, oleh mereka yang mau menggunakan akalnya untuk menyelami pemahaman apa yang terkandung di balik segala sesuatu.

Lantas apa hikmah dan pelajaran yang terkandung dalam keberadaan karakteristik pengeluh ini? Aku mendiskusikan hal ini dengan kawan-kawanku. Masing-masing dari mereka menawarkan penjelasan dan pemahaman. Ada satu penjelasan dari kawanku yang menurutku adalah suatu pemahaman yang bagus dalam memandang persoalan ini.

Dalam pandangannya, semua kejelekan yang ada pada diri kita sebagai manusia ada karena satu hikmah utama; yaitu agar kita dapat mengatasi kejelekan-kejelekan itu dan melangkah menjadi sesuatu yang lebih baik. Agar kita menjalani suatu proses perubahan.

Jadi Allah tidak serta merta menciptakan kita dengan kebaikan sepenuh-penuhnya. Dia menyisipkan beberapa nilai kejelekan, dengan tentunya telah terlebih dahulu menganugerahi kita instrumen yang cukup, agar kita belajar bagaimana caranya bisa menggantikan kejelekan itu dengan kebaikan, serta agar kita dapat menghargai nilai kebaikan utama yang kita miliki dalam diri kita berupa akal sehat dan hati nurani.

Tanpa kejelekan alamiah yang tertanam dalam diri kita kita tentu tidak akan memahami berapa berharganya akal dan hati kita sebagai instrumen yang dapat menyisihkan kejelekan tersebut dalam proses perjalanan kita menuju Kebenaran sejati.

Karakteristik pengeluh yang ada dalam diri kita ini dalam pandangan dia adalah agar kita dapat berproses menuju syukur. Dengan memahami keburukan yang terkandung dalam sifat kita yang suka mengeluh, kita bisa melangkahkan diri kita menuju pribadi yang bersyukur, pribadi yang menghargai segala sesuatu yang datang dari Tuhan, pribadi yang mampu memandang sisi-sisi kebaikan dari setiap keberadaan dan kejadian. Hingga kemudian pribadi tersebut dapat menemukan kebenaran yang terkandung pada segala sesuatunya. Demikian penjelasan kawanku.

Sebelum menyingkirkan sifat suka mengeluh itu, aku pikir seseorang perlu terlebih dahulu memahami keburukan apa yang terkandung di dalamnya. Salah satunya adalah memahami bahwa dengan sifat yang suka mengeluh, seseorang dapat terhalang dari kebaikan dan kebenaran yang ada pada segala sesuatu. Baik pada dirinya sendiri, maupun apa-apa yang ada di sekitarnya. Mengapa? Karena dengan sifat suka mengeluh, seseorang hanya mampu melihat kejelekan dan keburukan semata. Perhatiannya hanya tertuju pada kedua hal itu sehingga membuatnya lalai, dan bahkan melupakan bahwa di balik sana ada kebaikan terkandung yang menunggu dia untuk memetiknya, dan kebenaran tersimpan yang menanti dia datang meraihnya.

Teman Datang Hanya Pada Saat Dia Butuh

Memiliki hubungan pertemanan memang menyenangkan. Beberapa orang bahkan memandang bahwa teman adalah salah satu kebutuhan primer manusia. Tidak ada manusia yang mampu hidup sendiri. Manusia membutuhkan sosok untuk berbagi. Sosok untuk mendengarkan apa yang dia katakan. Sosok untuk membenarkan gagasannya maupun meluruskan kesalahannya. Dengan prespektif ini aku ingin mengatakan bahwa pertemanan itu adalah kebutuhan. Kebutuhan akan sesuatu yang bukan hanya bersifat material, namun juga moril. Ungkapan orang-orang bahwa, “teman yang sesungguhnya adalah teman yang datang tidak hanya pada saat dia butuh semata,” menurutku adalah ungkapan yang keliru. Sebab dalam pandanganku, bagaimanapun bentuknya teman itu hanya datang saat dia butuh. Minimal dia butuh akan pertemanan itu sendiri. Saat ada seorang teman yang tampaknya tetap datang kepada kita meski kita sedang tidak memiliki apa-apa, sebenarnya bukan berarti dia datang bukan dengan kebutuhan. Minimal dorongannya untuk datang adalah dorongan moril karena dia butuh dengan pertemanan itu. Kebutuhan itu ada karena dia senang, bahagia, dan nyaman dengan hubungan pertemanan itu. Patut diingat bahwa kebutuhan akan kebahagiaan jauh lebih esensial bagi manusia ketimbang kebutuhan akan materi. Maka dari itu tidak heran jika ada seorang teman yang tetap bertahan bersama temannya meski mereka tidak mendapatkan keuntungan materi apa-apa dari pertemanan mereka itu. Namun memang efek dari teman yang kebutuhan utamanya bersifat materil lebih negatif daripada teman yang kebutuhannya bersifat moril. Kesan yang ditimbulkan oleh model pertama bisa sangat buruk. Terutama saat terjadi persinggungan dan sang teman memilih untuk menjauh. Apalagi jika alasannya untuk menjauh itu adalah karena temannya tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan materil yang dia inginkan. Tapi bukan berarti teman yang kebutuhannya bersifat moril akan lebih langgeng pertemanannya dari teman yang kebutuhannya materil. Bentuknya saja yang berbeda. Misalnya jika suatu saat tiba-tiba dia merasa bahwa hubungan pertemanannya merugikan dirinya atau tidak memberinya manfaat apapun, bahkan manfaat yang paling sepele semisal perasaan bahagia saat berjumpa, dia tentu akan mengakhiri pertemanan tersebut. Kedua semangat pertemanan tersebut, materil dan moril, sama-sama memiliki kebutuhan yang harus tertuntaskan. Saat kebutuhan itu tidak terpenuhi, tidak akan akan ada pertemanan. Begitu juga sebaliknya, dengan memenuhi kebutuhan itu, pertemanan dapat menjadi sesuatu yang benar-benar menyenangkan. Siapapun teman yang masih bertahan bersama temannya pasti karena kebutuhan. Atau dalam ungkapan salah seorang temanku, “semua itu karena kepentingan, kebutuhan itu pun sejatinya adalah kepentingan juga.” Kebutuhannya paling minimal adalah perasaan bahagia saat berjumpa, perasaan senang karena seiya sekata dan sepemikiran, perasaan nyaman karena dapat saling mendengarkan dan bertukar pikiran dari hati ke hati. Dari sini aku memandang diriku sendiri, dan juga manusia-manusia lainnya, sebagai sesosok makhluk yang begitu individualistis, di mana segala sesuatu yang dia lakukan untuk orang lain sejatinya adalah untuk dirinya sendiri saja. Orang-orang yang berfilsafat menamakan sesuatu yang kembali kepada diri sendiri itu sebagai kebahagiaan. Sedangkan orang-orang yang beragama menamakannya; pahala, sesuatu keuntungan yang akan mengantarkan pelakunya pada pencapaian tertinggi, yaitu Surga. Pertemanan hadir sebagai alat untuk menuntaskan hasrat kita sebagai manusia akan kebahagiaan yang bersifat sosial. Ia hadir agar kita mampu mengisi kekosongan di dalam jiwa kita yang tidak mampu kita isi dengan tangan kita sendiri.

Pandanganku Tentang Bacaan dan Pengaruhnya Pada Seseorang

Malam ini tiba-tiba aku teringat salah satu bacaan yang paling berpengaruh dalam hidupku. Bacaan itu adalah novel The Alchemist karya Paulo Coelho. Buku yang aku baca sekitar sepuluh tahun yang lalu itu masih memberikan kesan yang kuat pada diriku hari ini. Aku tidak sedang ingin membahas mengenai isi novel tersebut. Satu hal yang tengah aku pikirkan sekarang adalah betapa bacaan kita bisa begitu memengaruhi persepsi, pola pikir, pandangan, hingga akhirnya perkataan dan perbuatan kita. Ada seorang kawan yang pernah memberiku nasehat. Dia bilang jika kamu ingin tahu tentang seseorang, bagaimana pemikiran dan kecendrungan pendapatnya, tanyakan saja kepada dirinya, buku apa saja yang dia baca. Haruki Murakami, salah seorang novelis kenamaan dari Jepang, mengungkapkan bahwa kalau kamu sekadar membaca apa yang orang-orang biasa baca, maka kamu juga akan berpikir biasa saja seperti mereka. Ini berarti bahwa jika kita ingin berbeda dari orang kebanyakan maka bacalah bacaan yang berbeda dari orang kebanyakan. Jika kita ingin lebih dari orang kebanyakan, maka bacalah lebih dari orang kebanyakan. Pembaca di atas rata-rata akan punya pemikiran yang di atas rata-rata pula. Sesuatu yang berkebalikan juga berlaku. Jika kita hanya membaca sesuatu (atau seseorang) yang itu-itu saja maka pikiran dan pandangan kita akan berputar di situ-situ juga. Mungkin kalian pernah berbincang-bincang dengan seseorang yang sepanjang omongannya kutipan yang dia pakai sebagai penguat argumentasi hanya itu-itu saja. Tokoh yang melulu dia kutip selalu yang itu-itu saja. Berdiskusi dengan orang semacam ini kadangkala membuat diri ini kesal. Sebab orang itu sudah kadung meyakini kebenaran sesuai dengan bacaannya sehingga apa yang dia dengar di luar dari bacaannya akan dia anggap salah. Di sini aku menyadari bahwa keluasan bacaan seseorang sangat berpengaruh pada keluasan pikiran dan pandangannnya serta turut pula berpengaruh signifikan pada kelapangan hatinya. Orang-orang yang memiliki referensi bacaan beragam, biasanya memiliki hati yang lapang pula. Dalam artian dia lapang dada ketika berhadapan dengan perbedaan pandangan dan pemikiran dalam diskusi atau debat. Dia juga bukan tipikal orang yang suka memaksakan pendapatnya. Hal ini karena dia memiliki latar belakang kesadaran bahwa ilmu itu luas. Kesadaran ini lahir imbas dari banyak dan beragamnya bacaan. Seorang bijak dahulu berkata, “semakin banyak engkau membaca semakin sadar dirimu bahwa banyak sekali hal yang kamu tidak tahu.” Ada anekdot yang kerap terlontarkan pada diskusi-diskusi yang membahas mengenai perilaku sebagian umat Islam yang cenderung mudah marah, anekdot itu menyindir bahwa sebenarnya problem orang-orang semacam itu cuman satu; kurang baca. Mungkin dapat dikatakan bahwa diri kita adalah apa yang kita baca. Kalau apa yang kita baca itu sekadar status-status galau di WhatsApp, caption-caption sok bijak di Instagram dan artikel-artikel acak di Internet, maka akan sebatas itulah pandangan dan pemikiran kita. Tidak akan ada sesuatu yang mendalam pada diri kita jika bacaan kita terbatas. Kita akan memandang dunia ini dengan dangkal dan kekanak-kanakkan. Pendapat yang lahir dari diri kita pun hanyalah pandangan yang egois dan emosional yang bahkan seringkali tidak mampu kita jelaskan, apalagi pertahankan dengan baik. Indonesia menduduki peringkat sangat rendah dalam hal minat baca. Kenyataan ini menjawab berbagai bentuk keanehan, ironi, dan hal-hal menyedihkan (sekaligus menjengkelkan) yang kita temukan dalam keseharian kita, di dunia nyata, terlebih-lebih lagi di Dunia Maya.

Jodoh Memang di Tangan Tuhan, Tapi Dia Tidak Akan Begitu Saja Memberikannya

Takdir memang misteri. Dengan konsep yang masih menjadi perdebatan hingga kini, Takdir meresap sebagai apologi yang tertanam dalam diri manusia atas hal-hal yang tak tertanggungkan bagi mereka; kegagalan-kegagalan yang menyedihkan dan musibah-musibah yang menguras air mata. Termasuk dalam persoalan cinta. Mereka yang sepertinya bijak akan mengajukan apologi ketika sesuatu yang disebut Takdir ini tiba-tiba datang dalam bentuk yang tidak menyenangkan. Mereka akan berkata, “sabar saja, semua pasti ada hikmahnya.” Tentu saja semua ada hikmahnya! Namun hikmah itu bukan seperti durian runtuh yang jatuh dari langit. Hikmah itu pasif dan kita sebagai manusia adalah dimensi aktifnya. Sehingga apabila kita sendiri tidak mau mencari hikmah itu, dia tidak akan mengemuka sama sekali. Banyak status-status di media sosial yang membahas mengenai takdir dalam persoalan percintaan. Atau nama lainnya adalah; jodoh. Sebagaian besar masyarakat agamis akan berkata, “tenang saja, jodoh itu di tangan Tuhan.” Ya iya lah! Memangnya ada sesuatu di dunia ini yang tidak berada dalam tangan (kuasa) Tuhan? Jangankan jodoh, daun yang jatuh pun Dia awasi. Sesuatu yang sangat disayangkan apabila wacana mengenai Takdir ini mengubah manusia menjadi sosok yang pasif dan pesimistis. Ah, buat apa berusaha mati-matian mendapatkannya, toh kalau dia adalah jodoh saya (sudah takdirnya bersama saya) ujung-ujungnya dia bakal ke saya juga, saya pasrah saja, kalaupun seandainya dia akhirnya dia tidak bersama saya, berarti ya memang dia bukan jodoh saya. Orang-orang semacam ini akan dipecundangi oleh Takdir itu sendiri, dan turut pula dipecundagi oleh mereka yang mampu mengusai takdir. Apakah takdir mampu kita kuasai? Ya! Takdir adalah “ukuran” dan “takaran.” Inna khalaqnaa kulla syai-in biqadar, kata Allah. Segala sesuatu sudah ada ukurannya atau takarannya dan manusia diberi instrumen akal serta kehendak bebas untuk bisa memahami ukuran-ukuran itu lantas memanfaatkannya untuk mencapai tujuannya. Ukuran dan takaran itu adalah Kausalitas, atau Hukum Sebab Akibat. Kausalitas itulah Takdir Allah atas Manusia. Allah menetapkan faktor-faktor tertentu yang apabila ukuran dan takarannya terpenuhi akan menghasilkan akibat-akibat tertentu pula. Misalnya saja untuk mendapatkan akibat berupa “cinta seorang perempuan” maka harus ada ukuran atau takaran yang terpenuhi. Katakanlah ukurannya adalah ketampanan, kebaikan, kemapanan, dan lain sebagainya, yang apabila faktor-faktor ini terpenuhi “cinta seorang perempuan” itu akan datang sebagai akibatnya. Tentu saja ukuran dan takaran ini sangat fluktuatif dan unik tergantung daripada akibat (hasil) yang ingin diraih. Misalkan dalam konteks catatan ini, akibat itu adalah “cinta seorang perempuan” maka ukuran dan takarannya tergantung sang perempuan. Kadangkala bahkan ukuran dan takaran seorang perempuan tidak berkaitan dengan hal-hal materil. Pada titik inilah kepandaian seorang laki-laki memahami takdir yang berlaku pada perempuan tersebut sangat menentukan persentasi keberhasilannya mendapatkan cinta perempuan itu. Jodoh memang di tangan Tuhan, maka dari itu Tuhan telah menyediakan seperangkat alat; akal, kehendak, kemampuan fisik, pikiran, dan semangat yang datang dari Jiwa, untuk meraih jodoh yang Dia genggam itu. Jangan harap Tuhan akan memberikan jodoh yang ada di tangan-Nya itu jika kamu tidak berusaha untuk menggapainya dengan usahamu. Apa gunanya Dia menciptakanmu sebagai manusia kalau untuk persoalan yang keuntungannya itu kembali ke dirimu sendiri ini, yang bisa kamu lakukan hanya ongkang-ongkang kaki, dan lantas kamu berharap Dia menjatuhkan jodoh yang ada di tangan-Nya itu ke dalam pelukanmu?! Hal semacam itu hanya dapat terjadi dalam satu tempat; mimpimu!

Lebaran Orang-orang Yang Kesepian

Lebaran menjadi momentum yang sangat membahagiakan bagi masyarakat muslim di Indonesia. Lebaran memiliki dimensi sosial yang jauh lebih luas dari sekadar perayaan keagamaan semata. Bagi masyarakat muslim itu, Lebaran bukan hanya tentang diri mereka yang berhasil menunaikan ibadah puasa selama sebulan penuh, atau euforia kembali ke fitrah (kesucian) yang narasinya mereka gaungkan, melainkan juga sebuah momentum untuk merayakan kebersamaan. Terutama kebersamaan dengan keluarga, kerabat dan handai taulan.

Dimensi sosial berupa perayaan kebersamaan ini tampak, salah satunya, pada tradisi mudik (pulang kampung). Tradisi di mana masyarakat muslim berbondong-bondong kembali pulang ke kampung halaman dengan membawa serta berbagai cerita tentang tanah perantauan dan hasil jerih payah mereka selama di sana. Kembali ke tanah kelahiran mereka merayakan kembali romantisme kebersamaan yang ada. Bersama keluarga maupun kenangan-kenangan yang masih manis dan membahagiakan untuk diceritakan.

Namun sayangnya, perayaan kebersamaan yang meriah itu tidak dapat dirasakan oleh seluruh muslim yang merayakan lebaran. Bagi beberapa orang, Lebaran adalah cerita sedih tentang Kesepian.

Mereka adalah para perantau yang dengan alasan apapun mesti menjalani Lebaran di “negeri orang” bersama dengan Kesepian yang mengiris-ngiris dada.

Kesepian mereka di sini adalah akumulasi dari berbagai sebab.

Pertama, karena ketidakmampuan untuk pulang ke kampung halaman sehingga mesti melalui Lebaran jauh dari keluarga dan handai taulan. Nasib sebagai seorang perantauan yang tidak memiliki penghasilan yang menjanjikan membuat beberapa orang harus sabar hidup tanpa kepulangan ke kampung halaman.

Kedua, karena keterasingan di tengah-tengah masyarakat yang tidak saling berkesesuaian secara kultural maupun emosional.

Ketiga, ketiadaan kawan dan pasangan yang mampu mengisi hasrat kebersamaan di dalam hati dengan sepenuh-penuhnya.

Orang-orang ini menjalani Lebaran mereka dengan nestapa. Mereka menatap hampa sekeliling mereka dengan nelangsa karena ditinggal pulang satu persatu kawan dan pasangan namun pada saat yang sama mereka tidak mampu meleburkan diri mereka bersama dengan masyarakat di sekitarnya. Beberapa dari mereka bahkan menampakkan kesedihan yang begitu mendalam karena merasa tidak ada seorangpun yang mampu menemaninya pada momentum yang seharusnya memiliki makna kebersamaan yang meriah ini.

Sebenarnya jika kita perhatikan, kesepian itu mencuat hanya dari pribadi yang tidak mampu memanfaatkan keberadaannya sebagai bagian dari masyarakat. Dia sebenarnya tidak sendiri. Namun ketidak-sendiriannya itu tidak mampu dia maknai dan jalani dengan baik sehingga melahirkan Kesepian.

Mereka dengan sengsara menanggung Kesepian itu karena ketidakmampuan mereka sendiri dalam menanggulangi lingkungan sekitar bersama masyarakatnya. Sesuatu yang sebenarnya dapat mereka lakukan tanpa perlu mengeluarkan biaya apa-apa dan hanya membutuhkan suatu kesadaran yang diiringi dengan sikap yang baik.

Maka beruntung bagi para perantau yang meski ditinggal pulang kawan dan pasangan, mampu membangun interaksi yang baik dengan lingkungan sekitar. Dengan para penetap yang sudah beranak pinak di lingkungan tempatnya bersemayam. Sehingga meskipun mereka adalah seorang pendatang, mereka dapat sedikit merasakan kehangatan rumah. Walau berada di tanah perantauan, mereka tidak terpenjara oleh kesepian yang menyedihkan.

Obat utama bagi Kesepian adalah sikap sosial yang menyehatkan. Jika seseorang yang merasa kesepian itu mau sedikit bergerak, membuka pintunya, lantas tersenyum dan menyapa orang-orang di sekitarnya, dia akan menemukan bahwa kesepian dirinya itu hanyalah ruang semu yang dia ciptakan sendiri.

Kita tidak pernah benar-benar kesepian. Sebab bagaimanapun, kita tidak tinggal di ruang yang kosong dan hampa dari sosok seperti kita. Apalagi dengan adanya sambungan komunikasi yang semakin tak mengenal batas akhir-akhir ini. Kita mampu menjangkau siapapun dengan kata, gambar, dan suara meskipun tidak dengan raga. Setidaknya belum. Maka meskipun kita berada di sini, kita tetap dapat menjangkau orang yang ingin kita jangkau yang ada di sana.

Kesepian itu hanya ruang yang tercipta dengan landasan yang subjektif oleh para penderita kesepian itu sendiri. Bukan sebuah keadaan yang nyata secara faktual. Maka ketika mereka mampu meruntuhkan ruang yang mereka bangun sendiri itu, Lebaran dapat turut mereka rasakan sebagai momentum kebersamaan yang meriah.

Bagaimana Melepaskan Diri Dari Ketergantungan Ponsel?

Penyakit paling akut bagi generasi ini bukanlah kanker atau AIDS, melainkan ketergantungan pada ponsel. Kecanduan akan perangkat bergerak ini memang bukan menyerang dan melemahkan fisik, meski pada beberapa kasus juga turut berpengaruh signifikan pada fisik, namun menyerang sesuatu yang lebih esensial dari pada itu. Dia menyerang jiwa dan pikiran pecandunya, menjebaknya dalam suatu kondisi tak terkendali yang tunduk sepenuhnya pada hasrat yang selalu meminta untuk dipuaskan.

Manusia memang dapat menjadikan berbagai macam hal sebagai candu. Candu tersebut dapat bersifat material maupun non material. Candu material misalnya alkohol, narkoba, perempuan, dan lain sebagainya. Candu non material misalnya tidur, ibadah, klepto, dan lain sebagainya. Adapun ponsel, dengan segala macam fasilitas yang ada di dalamnya; internet, media sosial, dan game, seakan menggubungkan antara dua kondisi kecanduan tersebut. Pada ponsel, ada candu yang bersifat material, berupa ponsel itu sendiri dengan segala macam embel-embelnya. Selain itu, ada juga candunya yang bersifat non material, seperti aktifitas media sosial atau bermain game.

Jika kita mengamati keadaan sekitar, dan juga mengamati diri kita sendiri, kecanduan pada ponsel ini sudah menyentuh ambang batas memprihatinkan. Kapan saja dan di mana saja ponsel itu seakan-akan tidak boleh lepas dari diri kita. Jika pun tiba-tiba terlepas, kita merasa begitu hampa. Seakan ada satu bagian dari diri kita yang hilang. Ponsel membuat kita melupakan atau minimal tidak memerhatikan segala sesuatu yang terjadi di sekeliling kita. Misalkan saja saat kita berkumpul bersama teman-teman, kita akan cenderung sibuk dengan ponsel masing-masing ketimbang membangun percakapan yang sehat dan hangat. Dorongan untuk mengabadikan momen melalui ponsel jauh lebih besar daipada keinginan untuk menikmati kebersamaan secara utuh. Menanggapi obrolan di perpesanan ponsel lebih penting bagi kita daripada obrolan yang ada di hadapan kita. Bahkan pada taraf tertentu, menggunakan ponsel sudah menjadi aktifitas kita yang utama. Sedangkan aktifitas-aktifitas lain hanyalah pengisi waktu luang di sela-sela penggunaan ponsel itu.

Sebagai teknologi, yang notabene esensinya adalah alat untuk memudahkan kehidupan manusia, ponsel tentu punya segudang manfaat. Bagi orang-orang bijak yang mampu mengendalikan dirinya dengan baik, potensi ponsel ini bisa termaksimalkan untuk segala sesuatu yang sangat menguntungkan bagi penggunanya. Sebagai seorang penulis misalnya, ponsel bisa sangat berguna untuk menangkap ide, menyusun draft, hingga melahirkan tulisan-tulisan yang bermanfaat. Bagi seorang dai, misalnya pula, ponsel bisa menjadi alat yang sangat berguna untuk menyebarluaskan pesan-pesan dakwah ke penjuru segala arah.

Dari sini sebenarnya menjadi jelas bahwa masalahnya adalah bukan menghilangkan sama sekali penggunaan ponsel sebagai solusi bagi kecanduannya sebagaimana pada kasus kecanduan narkoba, tapi bagaimana mengalihkan kecanduan tersebut menjadi kebiasaan baik yang berkelanjutan. Mengubah unsur negatif dari penggunaan ponsel menjadi potensi positif yang bermanfaat.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut aku pikir langkah pertamanya mestilah berawal dari kesadaran. Suatu pemahaman yang mendalam akan maksud dan tujuan penggunaan ponsel itu. Maka pertanyaan-pertanyaan seperti, apa manfaat yang ingin didapatkan dari ponsel dan untuk apa ponsel tersebut dipergunakan mesti terjawab mula-mula. Baru kemudian melangkah ke bagaimana memanfaatkan ponsel tersebut semaksimal mungkin untuk hal-hal yang positif. Seseorang harus punya kesadaran penuh yang berkelanjutan untuk tetap bisa terjaga dan tidak terbuai oleh godaan-godaan candu yang ada di ponsel. Maka manajemen waktu penggunaan yang efisien mesti dibarengi dengan kemampuan pengendalian diri yang cukup. Pengendalian ini dapat melibatkan orang-orang terdekat pengguna atau memanfaatkan beberapa aplikasi yang dirancang untuk membantu menghilangkan kecanduan seseorang akan ponsel. Beberapa aplikasi itu memiliki kemampuan untuk memperingatkan pengguna jika dia sudah melewati batas penggunaan yang ditentukan.

Tips lainnya yang mungkin juga bermanfaat adalah untuk tidak memasang terlalu banyak aplikasi media sosial. Tiga aplikasi media sosial sudah terlalu banyak. Pilihlah hanya aplikasi media sosial yang benar-benar dipergunakan dengan efektif dan merepresentasikan kehidupan nyata yang sebenarnya. Selain itu, perlu juga bagi kita untuk memberi jadwal-jadwal khusus bagi penggunaan aplikasi tersebut. Misalnya saja penggunaan Facebook dibatasi pada jam sekian hingga jam sekian. Jika di luar daripada jam itu maka Facebook tidak boleh digunakan.

Hanya pasang aplikasi yang berkaitan erat dengan aktifitas produktif dan profesional kita juga adalah salah satu tips yang aku rasa cukup ampuh membangun batasan yang sehat antara diri kita dengan ponsel.

Apabila kita sudah menyelesaikan masalah mendasar berupa kesadaran akan kebermanfaatan penggunaan ponsel, hal-hal selain daripada itu tidak lebih daripada perkara teknis yang sifatnya cair. Dia dapat dikembang-luaskan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.

Maka dari itu mari mulai menanam kesadaran yang kuat dalam diri kita masing-masing bahwa ponsel adalah alat untuk memudahkan kehidupan kita, bukan candu yang membawa kerusakan bagi pikiran, jiwa, dan akhirnya raga kita.

Menemukan Kembali Diri Sendiri

Pada akhirnya, tiada tempat yang paling baik selain rumah. Sepanjang ini jalan yang tertempuh, sejauh ini petualangan yang terjadi, hanya untuk membuktikan bahwa kerinduan akan rumah tempat berpulang adalah perasaan paling esensial di dalam jiwa. Dalam tingkatan yang lebih tinggi lagi, tempat berpulang itu adalah pangkuan Yang Maha Kuasa.

Tidak terasa tahun 2018 sudah sampai pada pertengahan. Dulu, di awal tahun, aku sempat membuat semacam resolusi. Kini, saat menengok kembali resolusi itu, aku malu. Ternyata diriku ini lemah dan bodoh. Ternyata juga, selama ini aku sudah tersesat. Aku begitu kuat berjuang dan bersungguh-sungguh menjadi sesuatu (seseorang) yang bukan diriku sendiri. Aku susah payah menempuh jalan yang sebenarnya tidak diriku inginkan.

Buku-buku yang aku baca terasa sangat membosankan. Mengapa? Karena buku-buku itu adalah suatu tuntutan yang orang lain berikan untuk membentuk diriku menjadi sosok ideal yang mereka inginkan. Aku tidak menampik manfaat dari bacaan-bacaan itu. Aku hanya tidak begitu menikmatinya. Tidak senikmat saat aku menekuni manga atau karya sastra.

Aku juga berpura-pura ingin menjadi sosok ideal itu. Awalnya aku berharap aku bisa, seiring dengan berjalannya waktu, membersihkan niatanku dan memurnikannya. Namun sampai saat ini semua tampak sia-sia belaka. Apa aku kurang berusaha? Apa waktu yang sudah aku tempuh kurang?

Semakin hari, waktu berlalu dengan semakin cepat. Apalagi jika waktu itu aku habiskan untuk hal-hal yang aku sendiri tidak begitu mengerti. Kebiasaan-kebiasaan buruk yang menyenangkan namun tak terpahami kegunaan dan manfaatnya. Hanya remah-remah kenikmatan sesaat yang lebih cepat hilang dari setetes embun di pagi hari. Apa memang seperti inilah denyut nadi kehidupan di zaman ini? Dengan melimpahnya akses dan koneksi, hubungan-hubungan emosional menjelma tidak lebih dari sekadar riak-riak; menggema lalu menghilang entah ke mana.

Aku merasa kehilangan diriku sendiri. Di manakah diriku yang sebenarnya? Ke manakah langkah kaki ini menuju pada akhirnya? Apa yang aku cari, apa yang aku tuju?

Saat Santiago, tokoh utama dalam The Alchemist, bertualang dari Spanyol hingga sampai ke Mesir, dia menemukan pada akhirnya pada apa yang dia cari selama ini ada tepat di samping tempat dia tidur saban malam. Namun kenyataan itu tidak menghalanginya untuk kemudian tetap kembali ke gurun, setelah mengambil apa yang dia cari itu, untuk bisa bersua dengan seorang perempuan yang berhasil memikat hatinya. Bahkan angin yang bertiup menerpa wajahnya pun dia rasakan sebagai sentuhan dan kecupan perempuan itu. Apakah cinta? Apakah rindu yang membuat hidup ini menjadi sedemikian berharga?

Pada saat-saat seperti ini, dalam kemeriahan dan keriuhan hari raya, orang-orang tumpah ruah ke dalam kegembiraan dan kesenangannya masing-masing. Sedangkan aku semakin menemukan diriku hanya sebagai remah-remah yang terabaikan oleh waktu. Aku ingin menemukan makna dari setiap senyuman, sapaan, dan kata-kata manis yang melimpah itu, tapi apa? Aku sama sekali tidak mengerti.

Perjalanan dan pencarian ini semakin terasa panjang dan melelahkan. Hujung jalan sama sekali tidak kelihatan. Nun jauh di ufuk sana hanya ada samar-samar fatamorgana yang seakan memancing untuk mendekat namun menghilang begitu sampai tinggal beberapa langkah lagi. Bayang-bayang keputusasaan semakin tampak sebagai bukan bayang-bayang. Semakin tampak sebagai sebauah keputusan yang masuk akal dan menyenangkan. Namun, keputusasaan itu sendiri adalah fatamorgana, cantik tapi menipu.

%d blogger menyukai ini: