Merancang Suatu Bentuk Pelatihan yang Ideal

Catatan Harian TMT BPL PB HMI Korwil JABODETABEKA Banten; Hari ke-03

Salah satu kelemahan utama instruktur di HMI adalah kemampuan merancang pelatihan. Hal tersebut aku sadari betul setelah seharian kemarin bersama fasilitator TMT belajar bagaimana membuat rancangan yang rapi dan juga sangat detil. Mulai dari awal hingga akhir suatu pelatihan. Awalannya pun bukan sekedar sehari dua hari sebelum pelatihan, melainkan lebih jauh dari itu dengan menariknya ke awal penyusunan konsep yang benar-benar matang.

Hari ketiga pelatihan TMT ini, Kamis (11/10) dimulai dengan suasana yang ceria. Fasiltator mengajak kami bergoyang di pagi hari dengan senam Maumere. Inilah salah satu unsur yang menarik dari pelatihan ini. Ada sisipan-sisipan kesenangan yang membuat suasana menjadi santai di tengah-tengah materi yang sebenarnya sangat serius.

Pada hari ini, fokus utamanya adalah perancangan pelatihan. Perancangan tersebut, seperti yang sudah aku singgung di awal, bukan hanya rancangan pelatihannya saja. Melainkan juga rancangan langkah-langkah awal mula dari analisa situasi yang kemudian akan menjadi bahan penyusunan konsep pelatihan dan pembuatan modul bagi pelatihan tersebut.

Aku merasakan bahwa perihal perancangan ini benar-benar aktivitas yang sangat menguras pikiran. Tidak heran jika sepanjang hari kemarin, kami hanya berkutat di praktek perancangan pelatihan ini dengan lebih dari satu cara dan lebih dari sekali revisi atas apa yang sudah kami kerjakan. Kami dituntut oleh fasiltator untuk bisa membuat rancangan yang benar-benar rapi dan detil. Bukan sekadar suatu rancangan yang simulatif semata, melainkan suatu rancangan yang aplikatif dan realistis. Suatu rancangan yang benar-benar dapat terterapkan secara nyata. Lengkap dengan antisipasi atas kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Pada sesi pertama di pagi hari, setelah suasana cair oleh goyang Maumere, fasilitator memberikan pemahaman teoritis mengenai perancangan pelatihan. Apa saja instrumen yang dibutuhkan untuk menyusun rancangan tersebut dan apa pula langkah-langkahnya.

Selepas penyampaian teoritis tersebut, yang memakan waktu tidak sampai satu jam, kami langsung dibagi kedalam empat kelompok di mana masing-masing kelompok terdiri dari tiga orang. Setiap kelompok diberi tugas untuk menyusun rancangan pelatihan Basic Training (Latihan Kader I) HMI dengan mengunakan diagram ikan Ishikawa. Aku berkesempatan berkelompok bersama Hendro (Bandar Lampung) dan Irsyad (Depok). Kami menyusun rancangan LK1 dengan latar belakang sebuah komisariat di HMI cabang Bandar Lampung.

img-20181012-wa0001
Hasil rancangan pertama yang sederahana. Menggunakan diagram Ishikawa.

Pada siang harinya. selepas salat Zuhur, kami mempresentasikan hasil rancangan kami dengan metode Wood Cafe. Teknisnya, masing-masing kelompok menentukan satu orang sebagai presentator yang diam di tempat (stand) yang telah ditentukan untuk kelompok tersebut, sedangkan dua anggota kelompok sisanya bertindak sebagai visitor yang akan mengunjungi stand kelompok lain secara bergilir untuk mendengarkan pemaparan presentator mereka.

Selepas presentasi, ada refleksi dari fasilitator untuk mengevaluasi hasil rancangan kami. Dari hasil evaluasi tersebut tampaklah banyaknya kekurangan dari rancangan kami. Salah satu yang paling esensial adalah ketelitian langkah demi langkah yang masih kurang. Rancangan kami masih terlalu luas, terlalu general. Startegi taktisnya dari rancangan tersebut belum kami bubuhkan sehingga sulit membayangkan penerapannya secara nyata.

Oleh karena itu, fasilitator kemudian melebur kami menjadi dua kelompok saja untuk bisa melanjutkan (melengkapi) rancangan kami. Kami diberi waktu hingga malam hari untuk merampungkan rancangan ini dengan lebih rapi dan lebih detil. Bergabung ke dalam kelompok kami kelompok yang terdiri dari TB. Masykur (Cilegon), Iqbal (Tangerang), dan Heru (Serang).

Malam hari selepas salat Isya dan makan malam, kami kemudian menjabarkan hasil rancangan kami secara bergilir. Dalam presentasi kali ini, kami maju bergiliran setiap kelompok. Kelompok lain yang menyaksikan kemudian memberikan kritik dan saran atas hasil kerja kami.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kemudian kami memasuki sesi terakhir untuk hari ini. Sesi yang menurutku paling menguras pikiran.

Masih sama seperti sebelumnya, kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan diarahkan untuk merancang pelatihan. Ada tiga kelompok, kelompok pertama merancang Basic Training, kelompok kedua merancang Intermediate Training dan kelompok terakhir merancang Training of Trainer. Aku bersama Irsyad (Depok), Wakid (Malang), dan Yogi (Serang) mendapat tugas untuk merancang Basic Training.

Bedanya, kali ini metode untuk merancang yang kami pergunakan kali ini adalah metode 4D (Discovery, Dream, Design, Destiny), suatu metode yang akan menghasilkan suatu skema yang rapi dan detil. Setelah fasilitator menjelaskan mengenai langkah-langkah yang mesti kami tempuh dalam menyusun rancangan ini, kami langsung mulai membangun rancangannya.

Pada titik inilah aku, dan kawan-kawanku yang lain merasakan betapa aktifitas ini menguras pikiran dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Menjadi seorang konseptor yang mampu menghasilkan rancangan yang matang bukanlah sesuatu yang mudah. Butuh kecerdasan yang tinggi dan imajinasi yang luas demi bisa dapat menyusun langkah demi langkah dengan presisi yang tepat dan akurat beserta kemungkinan-kemungkinan yang menyertainya.

Hingga pukul dua dini hari, kami belum kunjung juga menyelesaikan rancangan kami. Kami masih berkutat pada diskusi yang alot untuk menentukan langkah demi langkah yang mesti kami tetapkan. Kealotan juga terjadi saat kami mendata tantangan dan ancaman yang mungkin akan ada di hadapan langkah-langkah yang kami tetapkan serta bagaimana mengatasinya.

Master of Training memutuskan agar kami melanjutkan tugas perancangan ini di pagi hari dan mengarahkan kami agar istirahat.

Aku merasa beruntung karena fasilitator membawakan materi ini dengan santai. Padahal materinya adalah materi yang serius. Aku melihat di sinilah keseimbangan yang perlu kami ambil ketika mengelola pelatihan. Materi yang berat jika disajikan dengan metode yang juga berat, tentu akan menimbulkan kejenuhan. Maka salah satu triknya, materi yang berat disajikan dalam bingkai metode yang ringan dilengkapi dengan partisipasi yang luas dari para peserta.

Iklan

Menuju Sosok Seorang Fasilitator

Catatan Harian TMT BPL PB HMI Korwil JABODETABEKA Banten; Hari ke-02

Training ini berjalan dengan santai. Namun muatan materinya butuh perhatian yang sangat serius sebab berkaitan dengan suatu bangunan ideal yang akan menentukan pola perkaderan HMI di masa depan. Dalam menyajikan materi, MoT menggunakan metode yang beragam. Namun dari keberagaman metode itu, ada satu kekuatan khas yang mewarnai semuanya, yakni warna partisipatif di mana semua peserta mesti memberikan kontribusi aktifnya dalam alur penyajian materi.

Pada pagi hari, selepas salat Subuh kami melakukan olahraga ringan. Lantas kemudian pada pukul setengah sembilan, forum dibuka setelah sebelumnya kami menyelesaikan kegiatan pribadi masing-masing dan juga menyantap sarapan yang sudah disediakan oleh panitia pada pukul tujuh.

Untuk hari Rabu (10/10) ini, materi utama yang akan kami serap adalah Benchmark Fasilitator. Materi yang sungguh menarik dan sarat akan muatan yang penuh makna. Salah satu kesimpulan penting dari materi tersebut adalah penggunaan istilah ‘fasilitator’ sebagai ganti dari istilah ‘narasumber,’ atau ‘instruktur,’ atau bahkan ‘master.’ Fasilitator menjadi padanan yang tepat bagi istilah trainer sebagaimana yang sudah aku singgung pada catatanku sebelumnya.

img_20181010_144618
Moderator dari KOHATI cabang Cilegon yang turut membantu mencairkan suasana.

Rangkuman Materi Benchmark Fasilitator

Materi ini berguna untuk membangun suatu pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya tolak ukur tertentu (bencmark) yang diterapkan atas para fasilitator di setiap training.

Fasilitator itu sendiri memiliki peranan kunci pada training. Dia berperan sebagai penentu kualitas training dan juga hasil akhir daripada training tersebut. Mulai dari tataran konsep training, kurikulum, metode, metodologi, hingga ekspektasi (tujuan dan terget) dari training.

Dalam visi BPL PB HMI, ke depannya pada perkaderan di HMI, posisi narasumber dan instruktur, akan digeser oleh fasilitator. Sehingga mulai dari pengelolaan training, hingga penyampaian materi-materi yang ada di dalamnya dipegang oleh sosok berkualifikasi fasilitator.

Untuk itu, perlu adanya suatu bentuk tolak ukur tertentu yang menjadi patokan bagi sosok fasilitator yang ideal pada Perkaderan. Pada titik inilah, Benchmark Fasilitator mendapatkan urgensinya.

Benchmark Fasilitator berlandaskan pada tiga jenjang; Pertama: keterampilan komunikasi, kemudian, Kedua: berjenjang menuju keterampilan memafasilitasi kelompok, dan Ketiga: berpuncak pada keterampilan perencanaan partisipatif.

Dalam jenjang pertama benchmark tersebut terdapat langkah demi langkah berupa skill atau keterampilan khusus yang mesti dikuasai oleh seorang fasilitator yang baik. Antara lain, adalah keterampilan mengamati (probing), mendengar, bertanya, berdiskusi (dialog), memberikan umpan balik (feedback) dlsb.

Sedangkan pada jenjang kedua, keterampilan yang dituntut itu mencakup; membangun kepercayaan, monitoring tahap-tahap kelompok, monitoring peran kelompok, membangun dinamika kelompok, mendorong kerja kelompok, mendorong partisipasi yang merata, dan penyelesaian konflik.

Terakhir, yang merupakan benchmark tertinggi bagi fasilitator adalah keterampilan perencanaan partisipatif yang mencakup keterampilan-keterampilan tertentu yakni, assessment, desain, perencanaan, manajemen, implementasi, monitoring, dan evaluasi.

Dengan Benchmark Fasilitator ini, training di HMI akan tertata rapi dan tersusun sesuai standar yang diharapkan hasilnya akan lebih maksimal dalam mewujudkan tujuan dari Perkaderan itu sendiri.

Namun, apakah Benchmark ini dapat serta merta terterapkan di lingkungan perkaderan HMI, mulai dari tingkatan komisariat, hingga tingkat nasional?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, butuh suatu analisa tersendiri yang akan mengurai mulai dari kekuatan, kelemahan, ancaman, hingga peluang yang terdapat pada masing-masing lingkungan perkaderan di HMI.

Suatu lingkungan perkaderan (HMI tingkatan cabang, atau tingkatan komisariat) mesti memiliki tantangannya sendiri-sendiri dalam mewujudkan dan menegakkan benchmark ini. Tugas kita adalah menciptakan agen-agen fasilitator pembaharu yang akan menggeser kultur-kultur perkaderan lama dan membawa nafas baru bagi perkaderan melalui Benchmark Fasilitator ini sehingga pada nantinya, setiap perkaderan di HMI dapat memiliki suatu bentuk kualitas yang khas dan bernilai tinggi serta seragam dan selaras mulai dari lingkungan perkaderan lokal, hingga nasional.

***

Master of Training (MoT), atau fasilitator (mungkin ke depannya aku akan cenderung menggunakan istilah ini pada catatan-catatanku) menyisipkan dua kali kegiatan kelompok sepanjang hari kemarin. Pada kegiatan yang pertama, kami dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok meneliti, menyusun dan mempresentasikan lima metode pembelajaran yang dapat dipergunakan dalam training.

Dokumen ringkasan hasil kerja kami dapat dilihat di LINK ini

Kelompokku sendiri, yang terdiri dari aku, Wakid (Malang), Iqbal (Tangerang), Heru (Serang), TB. Masykur (Cilegon), dan Oka (Jakarta Raya) mendapatkan bagian untuk meneliti, menyusun, dan mempresentasikan metode; 1. Mind Maping, 2. Inquiry, 3. Role Playing, 4. Comparative Script, dan 5. Debat.

img-20181010-wa0004
Kelompok kami berdiskusi untuk menyusun materi presentasi.

Lalu pada malam hari, kami kembali dibagi menjadi beberapa kelompok. Kali ini, aku satu kelompok dengan Iqbal (Tangerang) dan Totong (Serang). Tugas kami adalah membuat rangkuman materi hari Rabu (10/10) ini dan menyusun gambaran penerapannya pada lingkungan perkaderan kami masing-masing. Rangkuman yang kami susun adalah apa yang aku tulis di catatan ini di atas.

img-20181010-wa0041
Presentasi kelompok kedua bersama Iqbal dan Totong.

Forum berakhir agak terlambat pada pukul 23.00. Selepas berbincang-bincang sebentar dengan kawan-kawan yang datang berkunjung ke arena training ini, aku langsung ke kamar dan istirahat. Hari esok yang menyenangkan menanti.

Menatap Arah Baru Perkaderan Pengelola Pelatihan di HMI

Catatan Harian TMT BPL PB HMI Korwil JABODETABEKA Banten; Hari ke-01

Selama kurang lebih lima hari ke depan, aku akan menjalani proses perkaderan dengan tajuk Training Managament Training (TMT) yang diselenggarakan oleh BPL PB HMI Koordinator Wilayah JABODETABEKA Banten. Pelatihan ini diselenggarakan di kota Cilegon. Kota yang memiliki banyak kenangan bagiku. Dengan cuacanya yang panas dan gerah kota ini menyambutku saat aku tiba pada hari Sabtu (06/10) lalu.

Aku datang terlalu awal. Namun aku memang meniatkannya karena ingin terlebih dahulu bertegur sapa dengan kawan-kawan dari HMI cabang Cilegon.

Akhir pekan aku jalani di kota Cilegon ini dengan sedikit jalan-jalan. Menikmati angin sore yang segar di pinggiran waduk yang terletak tidak jauh dari sekretariat HMI cabang Cilegon. Selain itu, aku turut membantu panitia penyelenggara menyiapkan beberapa hal. Termasuk tempat yang akan dipergunakan untuk pelatihan ini. Yakni BLK (Balai Latihan Kerja) kota Cilegon.

img_20181007_145956
Angin sore yang segar.

Para peserta selain diriku baru berdatangan pada hari Senin. Pada hari itu pula, sore harinya, kami menuju BLK setelah sebelumnya bermalam di sekretariat HMI cabang Cilegon. Setibanya kami di BLK, pendaftaran peserta langsung dibuka. Sepanjang hari itu hingga malam hari, kami tidak melakukan apa-apa selain menata tempat pelatihan sembari menunggu kedatangan kawan-kawan peserta yang lain.

Screening Test dan Pembukaan

Pada pagi hari Selasa, setelah semua peserta yang terdaftar datang, dimulailah screening test berupa tes tertulis yang terdiri dari 10 soal. Soal-soal tersebut disusun langsung oleh Arif Maulana, ketua umum BPL PB HMI. Semua soal berkisar pada teknis pengelolaan pelatihan di HMI. Sebenarnya tes ini lebih cocok disebut sebagai pre-test ketimbang screening. Sebab sejatinya tidak ada yang ter-‘saring’ dari proses ini dan juga soal-soal yang diajukan lebih kepada pengujian pemahaman dan wawasan kami mengenai pelatihan di HMI.

Selepas Zuhur, pelatihan ini kemudian dibuka. Hadir dalam pembukaan jajaran pengurus HMI cabang Cilegon beserta kawan-kawan anggota HMI cabang Cilegon, KAHMI Banten, dan juga Ketua Bidang PA PB HMI, Helmi Yunan Ihnaton yang kemudian dirinya membuka rangkaian kegiatan training ini secara resmi. Prosesi pembukaan selesai selepas waktu Ashar. Kami kemudian diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan bebas hingga lepas Isya di mana kami akan memulai forum dengan orientasi training.

img-20181009-wa0034
Selepas seremonial pembukaan.

Orientasi Training

Sebenarnya apa sih TMT ini? Jujur saja, pertanyaan tersebut masih menggelayut pada banyak benak kader HMI. Bahkan juga para peserta yang datang untuk mengikuti pelatihan ini masih berpijak pada gambaran yang kabur mengenai apa sebenarnya TMT ini berserta maksud dan tujuannya.

TMT ini sebenarnya adalah produk Pedoman Perkaderan hasil kongres ke-29 di Pekanbaru. Secara konsep, ia masih sangat muda. Saking mudanya, belum ada sama sekali penyelenggaraan TMT tersebut meski sudah beberapa tahun ini masuk ke dalam Pedoman Perkaderan. Maka TMT yang kami ikuti ini adalah proyek percontohan untuk membuktikan efektivitas dan efisiensi TMT ini dalam mencetak sumber daya pengelola pelatihan yang mumpuni.

Bertindak sebagai master of training (MoT) dalam pelatihan ini adalah Arif Maulana sendiri.

Dalam Orientasi Training dia menjabarkan visinya mengenai pola perkaderan pengelola pelatihan HMI di masa yang akan datang. Beberapa dari visinya tersebut bernuansa revolusioner. Misalkan visinya mengenai peran master of training yang akan lebih dominan pada setiap pelatihan karena terlibat sejak rancangan awal pelatihan. Menurutntya, MoT harus benar-benar menjadi perancang, pengelola, dan pengevaluasi pelatihan. Bukan sekasar penjaga pelatihan yang perannya cenderung sebagai pengawas saja.

Visi ini cukup menggebrak karena akan bergesekan dengan tradisi-tradisi dalam perkaderan di HMI.

Dalam penjabarannya, dia mengungkapkan maksud dari konsep TMT ini. Konsep ini, beserta dengan konsep TOT (Training of Trainer) yang merupakan jenjang pelatihan di bawah TMT, adalah upaya untuk memperbahrui pola perkaderan di HMI dengan membangun suatu bentuk perkaderan yang tersusun dengan rapi dan terstandarisasi. Selama ini, pelatihan yang terstandarisasi hanyalah pelatihan formal. Sedangkan pelatihan informal kerap terselenggara dengan konsep yang ala kadarnya. Terutama pelatihan untuk pengelola pelatihan yang masih terpecah antara moda Senior Course, Training Instruktur, dan Training of Trainer, yang mana masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Secara sederhana, TMT bermaksud untuk menambal kekurangan-kekurangan yang tidak teratasi oleh perkaderan pengelola pelatihan seperti Senior Course dan Training Instruktur. Yakni kemampuan/ keterampilan (skill) yang mencakup perencanaan, pengelolaan, dan pengevaluasian pelatihan.

Memang, ketiga skill tersebut kurang mendapat perhatian dari perkaderan pengelola pelatihan yang sudah ada di mana pada perkaderan tersebut aspek penguasaan materi mendapatkan porsi yang lebih dominan sedangkan skill teknis untuk pelatihan hanya diberi porsi-porsi dasar saja. Seandainya pun ada porsi lebih, kelebihannya tersebut terpusat ada pada proses pengelolaan pelatihan saja. Bukan pada perencanaan dan pengevaluasian.

Ke depannya, akan ada penyelarasan/ standarisasi dalam dunia perkaderan para pengelola pelatihan. Lebih radikal dari itu, akan ada pula penyelarasan berbagai istilah yang terdapat dalam perkaderan di HMI. Misalkan penggunaan istilah “instruktur” dan “master” sebagai mereka yang sudah lulus dan memenuhi kualifikasi pengelolaan training, akan digeser dengan istilah “trainer.”

Istilah ini dikemukakan agar dapat lebih sesuai dengan istilah-istilah perkaderan lainnya di mana kata training-lah yang kerap digunakan. Seperti pada pelatihan formal yang menggunakan istilah Basic Training, Intermediate Training, dan Advance Training.

Akhirnya pula perkaderan atau pelatihan untuk membina kader guna memenuhi kualifikasi tersebut menggunakan istilah yang juga selaras yakni Training of Trainer dan Training Management Training.

Lebih lanjut, dalam Orientasi Training, Arif Maulana selaku Master of Training memberikan gambaran mengenai alur yang akan kami jalani selama pelatihan ini; muatan materi dan pembinaan yang akan memberikan kami kemampuan untuk merancang, mengelola, dan mengevaluasi setiap pelatihan di HMI.

Orientasi Training diselingi dengan permainan perkenalan dan juga penempelan kertas ekspektasi dan kontribusi di Pohon Harapan. Kami juga menyepakati beberapa hal terkait dengan norma-norma selama pelatihan ini berjalan.

Forum berakhir pada pukul sepuluh lewat. Suatu hal yang sangat jarang dalam training di HMI. Namun memang ke depannya, Arif Maulana mengatakan bahwa kita ingin membangun pola pelatihan yang pendekatannya lebih humanistik. Salah satunya adalah dengan tidak memperlebar forum hingga larut malam.

Hari ini berakhir dengan baik. Semoga besok bisa lebih baik lagi.

Review Anna Karenina Oleh Leo Tolstoy (Percobaan Menggunakan Fitur Lintas Postingan Goodreads ke Blog)

Anna KareninaAnna Karenina by Leo Tolstoy
My rating: 4 of 5 stars

Cinta memang tidak selamanya menyenangkan. Beberapa dari cinta itu tersembunyi di balik hasrat-hasrat dan nafsu. Benarkah suatu tindakan yang kita katakan atas nama cinta memang benar-benar atas nama cinta? Jangan-jangan ia hanyalah persangkaan kita saja. Sejatinya ia adalah hasrat dan nafsu.

View all my reviews

Esensi Nilai Kemanusiaan Ada Pada Kerja-kerja Sosial

Catatan Selepas Ngaji NDP HMI Sesi ke-04 di HMI cabang Pandeglang

HMI menuntut kader-kadernya untuk mewujudkan tatanan masyarakat ideal yang dalam bahasa Konstitusi HMI, difrasakan dengan “masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.” Ini artinya, kader-kader HMI adalah mereka yang punya tanggung jawab sosial kemasyarakatan yang tinggi. Mereka adalah kader umat dan kader bangsa, yang memiliki hak sebagai pembaharu dan tanggung jawab sebagai penggerak perubahan sosial di masyarakat.

Perubahan sosial yang baik juga adalah salah satu pokok ajaran Islam. Agama dan ajaran yang menjadi asas HMI ini menuntut para pemeluknya untuk menjadi para penegak keadilan. Menjadi penggerak perubahan sosial ke arah yang lebih baik, ke arah yang berketuhanan yang maha esa. Semangat ke-tauhid-an yang menyala-nyala menjadi spirit kader-kader HMI dalam mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Maka dari itu, tidak heran apabila Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI menjadikan wacana manusia sebagai penggerak perubahan sosial sebagai salah satu nilainya yang paling esensial. Wacana tersebut sudah mengemuka dimulai dari BAB II NDP HMI yang bertajuk, “Pengertian-pengertian Dasar Tentang Kemanusiaan.”

Pada Jumat (22/9) lalu aku bersama kawan-kawan HMI cabang Pandeglang mengaji NDP HMI pada BAB ini. Kajian yang sudah menginjak kali keempat itu terselenggara di sela-sela Basic Training HMI Komisariat STAIBANA, Pandeglang. Hadir dalam kajian tersebut anggota HMI cabang Pandeglang dari berbagai Komisariat.

Pembahasan mengenai “Pengertian-pengertian Dasar Tentang Kemanusiaan” dimulai dari wacana bahwa sebagai hamba dan wakil Allah dimuka Bumi, manusia telah dianugerahi suatu instrumen bawaan yang akan menuntun manusia dalam rangka memenuhi tugasnya tadi. Instrumen itu adalah fithrah. Fithrah merupakan kecendrungan manusia kepada Kebenaran (hanief). Kecendrungan ini tertanam di dalam hati nurani manusia. Membuatnya mampu merasakan kebenaran, kebaikan, dan keindahan pada dirinya dan apa yang ada di sekitarnya. Juga membuatnya merasa berat hati dan gelisah akan kesalahan, keburukan, dan kejelekan yang meracuni dirinya dan juga menimpa tatanan masyarakatnya (bangsa dan negara).

Pembahasan kemudian berlanjut pada kesadaran bahwa nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang manusia condong kepadanya itu tampak pada kerja-kerjanya sehari-hari. Kerja-kerja sosial yang berorientasi pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan adalah inti dari kemanusiaan yang ada pada dirinya. Maka dengan menuruti fithrah yang tertanam di dalam hati nuraninya, manusia sejatinya tengah menguatkan dan mengokohkan kemanusiaannya. Kerja-kerja sosial tersebut akan membawa manusia menuju kebahagiaannya.

Kebahagiaan manusia dalam prespektif NDP HMI, terletak pada kerja-kerjanya sebagai individu dalam suatu tatanan masyarakat (bangsa dan negara) yang cenderung kepada kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Kerja-kerja semacam itu adalah kerja-kerja yang ikhlas. Kerja yang tidak mengharapkan, atau tidak berorientasi apapun di luar dari pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang terdapat dalam pekerjaan itu sendiri. Kerja ikhlas yang hanya mengharapkan dan berorientasi pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan ini pada akhirnya akan membawa manusia kepada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang mutlak. Yakni tuhannya, Allah SWT. Pangkal dan tujuan pekerjaan manusia yang ikhlas, adalah Allah SWT. Keikhlasan yang semata-mata untuk Allah inilah sumber dari kebahagiaan manusia.

Semangat pekerjaan yang berlandaskan nilai Ikhlas ini kemudian mesti terterapkan pada kehidupannya sehari-hari. Pada kerja-kerjanya sebagai individu yang merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Sebab nilai-nilai yang tidak terterapkan dalam kehidupan sehari-hari, akan kehilangan arti dan maknanya. Oleh karena itu manusia muslim dalam prespektif NDP HMI, dituntut untuk bisa melakukan kerja-kerja yang sifatnya sosial. Kader HMI, dalam usahanya untuk menyempurnakan kemanusiaannya sebagai hamba dan wakil Allah di muka Bumi, harus berperan aktif dalam memperjuangkan tatanan masyarakat berkeadilan yang makmur. Tanpa kerja-kerja sosial dalam perjuangan tersebut, kemanusiaan kader-kader HMI, dan juga manusia muslim pada umumnya, kehilangan arti dan maknanya.

Sekelumit pembahasan mengenai esensi nilai kemanusiaan dengan kesimpulan bahwa esensi tersebut terletak pada kerja-kerja sosial ini berjalan mengalir pada kajian kami malam itu. Tanpa terasa, waktu lima jam berlalu dengan berbagai debat dan diskusi mengenai topik yang kami bahas.

Belakangan ini, gelombang aksi demonstrasi kader HMI di berbagai cabang dari penjuru-penjuru Indonesia bergejolak. Termasuk di Pandeglang. Kesadaran kemanusiaan yang dipetik dari Nilai-nilai Dasar Perjuangan HMI ini mesti mewarnai aksi-aksi tersebut. Sehingga setiap gerak langkah dan teriakan-teriakan orasi kader-kader HMI itu bukanlah langkah dan teriakan yang mengharapkan pamrih atau unsur-unsur keduniaan lainnya. Melainkan semata-mata demi menegakkan kebenaran, kebaikan, dan keindahan dalam rangka mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Aku berharap, kajianku bersama kawan-kawan HMI cabang Pandeglang ini dapat memantik kesadaran kemanusiaan tersebut yang kemudian akan memberi warna yang signifikan pada aksi-aksi sosial mereka di lapangan. Semoga.

Orang-orang Yang Lari Dari Perubahan

Kesan Dari Novel Vegetarian Karya Han Kang

Perubahan pasti terjadi pada setiap orang. Entah karena apa. Entah perubahan itu besar atau kecil. Perubahan adalah kepastian pada siklus alam semesta yang berada dalam ruang dan waktu. Manusia menyadari ini.

Namun beberapa perubahan tidak dapat diterima begitu saja. Beberapa bahkan tidak dapat diterima sama sekali. Saat menghadapi perubahan yang tak tertanggungkan, beberapa orang akan memilih untuk meninggalkan.

Hal semacam itulah yang terjadi pada Yeong Hye saat dia tiba-tiba berubah menjadi seorang vegetarian karena mimpi-mimpi yang dia alami.

Orang-orang di sekitarnya tidak mampu menanggung perubahan drastis yang terjadi padanya. Sehingga menghasilkan konflik yang membangun keseluruhan cerita dari novel “Vegetarian” karya Han Kang yang baru selesai kubaca malam tadi ini.

Konflik serupa juga ada pada Metamorphosis karya Kafka. Pada Metamorphosis, Kafka menghadirkan suatu konflik dalam menghadapi perubahan yang benar-benar radikal sehingga cenderung tidak masuk akal.

Apa yang Han Kang hadirkan dalam novelnya ini masih lebih terkangkau ketimbang karangan Kafka yang terasa jauh mengawang-ngawang. Namun memang benang merahnya sama.

Mereka sama-sama bercerita mengenai manusia yang gagap di hadapan perubahan. Betapa orang yang kita sayangi bisa benar-benar menjadi sosok yang sama sekali lain saat berhadapan dengan perubahan yang kita alami. Mereka bahkan tidak segan-segan meninggalkan kita ketika mereka merasa bahwa diri kita adalah sosok yang berbeda dari sosok yang mereka sayangi sebelumya.

Selain kesamaan itu, ada perbedaan Han Kang dalam bertutur dalam novel ini dengan Kafka dalam Metamorphosis. Yaitu pada penokohan karakter. Jika Kafka lebih memusatkan perhatian pada Samsa sebagai tokoh utama, dan menjadikan karakter-karakter lainnya sekadar sebagai reaksi sampingan dari reaksi utama yang terjadi pada diri Samsa sendiri, Han Kang justru lebih memusatkan penuturannya pada karakter-karakter di sekeliling Yeong Hye yang paling kuat dan keras reaksinya atas apa yang terjadi pada Yeong Hye.

Tentu saja meskipun membawa warna yang kurang lebih sama, antara Vegetarian dan Metamorphosis terdapat corak masing-masing yang khas. Corak yang memiliki kekuatannya sendiri sehingga bisa berdiri sebagai karya yang sama-sama memukau.

Novel-novel dengan kekhasan corak yang kuat semacam ini menawarkan sesuatu yang lebih daripada sekadar cerita-cerita biasa. Meskipun kadangkala cerita yang dihadirkan memanglah cerita yang biasa.

Aku pikir di situlah seninya bercerita. Seni bercerita bukanlah terletak pada ceritanya, melainkan pada penuturan cerita tersebut. Betapa banyak cerita hebat jadi terdengar biasa saja karena dituturkan dengan cara yang membosankan. Betapa banyak pula cerita biasa saja, yang berasal dari kehidupan sehari-hari, menjelma luar biasa berkat penuturan yang memukau.

Aku kagum bagaimana Han Kang bisa menggali sebegitu dalamnya karakter yang dia tuturkan. Berbagai hal yang melatar-belakangi reaksi karakter tersebut dia hadirkan dengan reflektif. Membacanya, menjadikanku turut menengok latar belakang yang ada dalam kehidupanku. Latar belakang yang membuatku menjadi diriku yang sekarang ini. Betapa banyak hal yang sudah aku jalani?

Selain itu, aku juga bertanya-tanya. Apakah jika orang terkasihku tiba-tiba berubah seperti apa yang terjadi pada Yeong Hye, aku akan mampu menghadapinya? Ataukah aku akan meninggalkannya seperti suami Yeong Hye meninggalkannya. Sebaliknya, jika aku tiba-tiba berubah dengan suatu perubahan yang tak tertanggungkan, apakah orang terkasihku akan mampu menjalaninya?

Pikiran mengenai hal itu merajai akalku malam ini. Aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan-kemungkinan itu membuat dadaku sesak, dan tanpa terasa, air mataku mengalir.

Tikungan Tajam Perkaderan

Romantisisme Dalam Proses Perkaderan Himpunan

LINGKUNGAN perkaderan di Himpunan adalah sketsa di mana beragam manusia dari beragam latar belakang hadir dan hidup bersama-sama. Jalinan interaksi manusia-manusia itu melahirkan berbagai cerita yang menarik.

Beberapa dari cerita-cerita itu adalah romansa. Jenis cerita inilah yang aku rasa paling menarik dari jenis cerita yang lainnya. Romansa yang tercipta selama perkaderan di Himpunan berlangsung, tidak kalah menarik dengan romansa yang ada di karya puisi dan prosa.

Manusia-manusia yang terlibat dalam suatu momentum perkaderan di Himpunan minimal terdiri dari empat golongan. Pertama, para pemandu. Atau yang biasa lebih dikenal dengan panggilan “master,” berasal dari frasa Master of Training (pemandu pelatihan.) Kedua, peserta perkaderan. Ketiga, panitia penyelenggara. Keempat, para pengunjung.

Keempat golongan manusia ini berinteraksi dan bersosialisasi dalam satu lingkungan secara intens selama beberapa hari. Dari interaksi yang intens ini, wajar jika kemudian beberapa di antara mereka terlibat romansa. Atau yang biasa disebut dalam bahasa gaul sebagai cinlok (cinta lokasi).

Bentuknya pun beragam. Romansa itu bisa terjadi antar peserta. Antar peserta dengan master, atau dengan panitia. Bahkan antar para master.

img-20180719-wa0011
Master of Training

Jika kita melandaskan pemikiran pada prinsip bahwa cinta bisa terjadi pada siapa saja kepada siapa saja dalam kondisi apapun dan di manapun, kenyataan semacam ini tentu wajar adanya.

Bukan merupakan kesalahan jika ada benih-benih cinta yang kemudian tumbuh dan berkembang antar manusia yang terlibat dalam satu perkaderan yang sama. Meskipun ada di antara manusia itu, yakni para master, yang terikat dengan serangkaian kode etik untuk menjaga profesionalitas mereka dalam mengelola pelatihan.

Hal yang menarik dari romansa ini bukanlah pada kenyataan akan keberadaannya. Melainkan pada fenomena tikung-menikung pada proses pematangan romansa yang terjadi di sana.

Tentang Tikung-Menikung

img-20180721-wa0019
Para Penikung Potensial

Tikung-menikung maksudnya adalah tindakan seseorang untuk mengambil alih hubungan percintaan orang lain dengan mengalihkan perasaan objek cintanya kepada dirinya sendiri. Secara kasar, “menikung” di sini maksudnya adalah “merebut” gebetan orang.

Ungkapan “merebut” sebenarnya kurang pas. Karena biasanya dalam proses ambil alih tersebut, sang objek belum benar-benar terikat oleh satu komitmen percintaan tertentu.

Ilustrasinya begini; Si B sedang berupaya mendekati si A. Saat upaya pendekatannya tengah berlangsung, tiba-tiba ada si G yang mengambil alih perhatian si A dari si B. Meskipun toh si G juga belum tentu akan jadian dengan si A, tindakan si G ini sudah bisa dikatakan sebagai “menikung” si B.

Fenomena tikung-menikung ini ada karena pada dasarnya satu sosok, laki-laki maupun perempuan, sangatlah mungkin disukai oleh lebih dari satu orang.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa jika sejak pertama sosok yang disukai lebih dari satu orang ini tidak memberikan tanggapan apa-apa atas upaya pendekatan yang dilakukan atasnya dari siapapun, fenomena tikung-menikung tidak akan muncul.

Fenomena itu muncul jika si sosok pada mulanya memberikan harapan kepada seseorang yang mendekatinya kemudian lantas mengalihkan harapan tersebut ke orang lain karena sebab-sebab tertentu yang datang dari orang lain itu. Pada titik inilah orang pertama telah “menikung” orang kedua.

Jika menilik pada hakikat kemerdekaan dalam berperasaan, tikung-menikung adalah hal biasa dalam proses seseorang mencari pasangan yang tepat bagi hidupnya.

Namun situasi bisa jadi runyam jika korban-korban tikungan, yang kadangkala sangat tajam, terlalu baper (bawa perasaan).

Kebaperan korban tikungan bisa berakibat pada memburuknya relasi-relasi sosial yang ia jalani. Terutama relasinya dengan objek perasaan cintanya dan juga dengan sang penikung.

Selain itu, menjadi korban tikungan mestilah menyisakan rasa sakitnya sendiri di dalam hati.

Lingkungan Perkaderan; Arena Balapan Penuh Tikungan

img_20180721_091405
Setiap Tikungan Adalah Kesempatan

Percintaan adalah perlombaan. Katakanlah begitu. Dalam upaya untuk menyentuh hati seseorang yang kita cintai dan menjadikannya kekasih kita, sejatinya kita tengah berada dalam perlombaan. Sebab selain kita, tentu ada orang lain yang juga ingin menyentuh hati seseorang yang kita cintai itu.

Dalam lingkungan perkaderan, berbagai percintaan terjadi. Ada seorang master naksir salah seorang peserta. Ada peserta yang kesemsem dengan peserta lainnya. Ada pula panitia yang menaruh perhatian khusus kepada peserta tertentu. Serta berbagai bentuk percintaan lainnya.

Jika ada satu saja sosok yang didekati lebih dari satu orang, maka otomatis akan ada perlombaan. Fenomena tikung-menikung pun menjadi tak terhindarkan. Beberapa tikungan itu bisa begitu sangat tajam dan menyakitkan.

Beberapa hari yang lalu, aku baru selesai mengelola pelatihan di HMI cabang Jakarta Pusat Utara. Pada pelatihan bertajuk Intermediate Training (Latihan Kader 2) itu, yang juga dibarengi dengan training Senior Course (SC), ada sekitar 100-an orang yang terlibat secara intens selama masa 10 hari training.

Dengan komposisi laki-laki dan perempuan sekitar 3:1, kemungkinan adanya cinlok-cinlok sangat besar. Besarnya kemungkinan ini juga berimplikasi pada mencuatnya beberapa tikungan. Pada beberapa sosok tertentu, nuansa persaingan dan tikung-menikung begitu kuat dan kental.

Dalam catatanku saja, yang tentu tidak mewakili kenyataan yang sebenarnya, ada sekitar 5 romansa. Cerita-cerita romansa itu sampai kepadaku melalui penuturan pelakunya. Sebagian dari romansa tersebut lebih rumit dari pada yang lain. Karena melibatkan begitu banyak orang.

Pada romansa yang rumit itu berbagai praktik tikung-menikung terjadi. Korbannya pun bukan hanya satu dua orang.

Berbagai tindakan kreatif bermunculan untuk menghasilkan tikungan yang cantik. Tikungan yang pada akhirnya akan mengantar pada kemenangan dalam perlombaan.

Fenomena ini menarik bagiku. Menjadi catatan yang bagus untuk disimpan. Namun ada beberapa bagiannya yang cukup membuatku miris. Bahkan sedih. Beberapa dari korban tikungan itu ternyata tersakiti dengan begitu dalamnya.

Kenyataan ini membuatku lantas berpikir, apa sebenarnya yang mampu membuat seseorang bertahan dalam perlombaan yang penuh dengan tikungan ini?

Bagaimana Bertahan Pada Tikungan Tajam

img-20180723-wa0013
Bersyukur dan Ikhlas

Manusia adalah makhluk merdeka. Kemerdekaan adalah nilai kemanusiaan yang paling esensial. Itulah salah satu nilai yang termaktub dalam doktrin perjuangan Himpunan. Seorang kader Himpunan akan memaknai kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya.

Paulo Coelho, pengarang asal Brazil, pernah berkata bahwa “Kamu tidak akan memahami cinta sebelum kamu memahami Kemerdekaan.”

Mencintai seseorang, berarti menginginkan kebaikan penuh bagi orang tersebut. Kita berharap kita mampu memberikan yang terbaik bagi seseorang yang kita cintai. Bagi seorang manusia, tidak ada yang lebih baik daripada kemerdekaan dirinya.

Sehingga saat kita mencintai seseorang, kita memberikan kepadanya kemerdekaannya sepenuh-penuhnya. Kita menghargai setiap pilihan yang dia ambil dengan setulus-tulusnya. Meski pilihan itu bukanlah kita.

Inilah maksud dari perkataan Paulo Coelho tadi. Dengan memahami hakikat kemerdekaan, kita dapat sadar bahwa cinta kita kepada seseorang jangan sampai malah bermaksud merenggut kemerdekaannya.

Cinta yang merenggut kemerdekaan, adalah cinta yang tidak tulus karena disusupi oleh egoisme. Hasrat yang mendorong kita memaksa orang yang kita cintai melakukan apapun yang kita inginkan. Padahal dirinya adalah manusia merdeka yang bebas dengan segala pilihan serta tanggung jawabnya.

Dengan memahami ini, tikungan tajam tidak akan terasa menyakitkan. Apalagi sampai membunuh. Dengan memahami ini, tikungan setajam apapun tidak akan membuat kita jatuh, melainkan akan membuat kita bangkit dan lebih kencang melaju.

Landasan Perjuangan Pembangunan Peradaban Islam yang Modern di Indonesia

Ulasan Buku: Islam, Doktrin dan Peradaban

Salah satu tugas yang dibebankan kepada kami pasca mengikuti Training of Trainer (TOT) NDP HMI adalah menyelesaikan bacaan atas beberapa buku yang telah ditentukan dan juga menulis review atau ulasan atas buku-buku tersebut.

Buku-buku yang harus kami baca adalah karangan Nurcholish Madjid atau yang kerap akrab disapa Cak Nur. Sebagai perumus NDP HMI, karya-karya Cak Nur pasca selesainya karir beliau di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bisa dikatakan merupakan pengembangan dari NDP.

NDP yang merupakan teks ideologi HMI memuat serangkaian gagasan mengenai ajaran-ajaran pokok dalam agama Islam yang secara konstitusional merupakan landasan perjuangan HMI. Dalam karya-karya Cak Nur selanjutnya, gagasan mengenai ajaran-ajaran pokok dalam agama Islam itu mengalami perluasan dan pengembangan pembahasan. Beberapa senior di HMI bahkan mengatakan bahwa, karya-karya Cak Nur pasca HMI merupakan syarah (penjelasan) atas apa yang dia tuangkan di teks NDP.

Maka dari itu, dalam upaya untuk memahami teks NDP, menyelami pemikiran Cak Nur melalui karya-karyanya menduduki peran penting.

Buku pertama dalam daftar bacaan kami adalah “Islam, Doktrin dan Peradaban.”

Buku ini merupakan kumpulan makalah yang Cak Nur bawakan pada Klub Kajian Agama (KKA) Paramadina pada era 90-an.

Dalam pembacaanku, buku ini tampak sebagai upaya Cak Nur untuk menjelaskan Islam yang lebih terbuka dengan mengedepankan penanaman nilai-nilai esensial Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa perlu terjebak dalam simbolisme eksklusif yang melebarkan jarak antara Islam dan Peradaban Kemanusiaan.

Kondisi keberagamaan masyarakat, khususnya di Indonesia, yang begitu beragam, majemuk, dan plural, mendorong adanya suatu pemahaman keislaman yang tidak hanya menonjolkan satu entitas saja. Melainkan mampu menjadi titik temu antara keberagaman yang ada. Baik keberagaman internal, berupa jamaknya aliran-aliran pemahaman dalam Islam, maupun keberagaman eksternal, berupa pluralnya suku, agama, dan ras yang ada.

Dengan menitikberatkan pada nilai-nilai universal yang menjadi titik temu, Islam dapat tampil sebagai jawaban bagi bangunan peradaban yang maju dan modern.

Buku ini menolak suatu bentuk pemahaman yang dogmatis akan Islam. Bentuk pemahaman apapun yang mengklaim dirinya sebagai satu-satunya pemahaman yang benar. Sebagai gantinya, buku ini menawarkan bentuk pemahaman yang analitis. Suatu bentuk yang mendekati ajaran Islam, bahkan hingga ke sumber-sumber sucinya, dengan pisau analisa yang jujur dan terbuka.

Dalam pandangan buku ini, sejauh yang dapat aku pahami, Islam bukanlah sekadar doktrin yang keras dan kaku. Melainkan suatu pandangan kehidupan (the way of life) yang statis pada nilai-nilai esensialnya namun dinamis pada bentuk penerapan praktisnya. Dengan pandangan ini, Islam dapat menyesuaikan diri dengan segala bentuk tempat dan waktu di mana ia dapat merasuk masuk menjadi api yang membakar semangat membangun peradaban, namun tetap bisa ramah pada kondisi sosio-kultural masyarakat.

Buku ini merupakan gagasan Cak Nur untuk membawa Islam menyongsong era modern. Pada pengantarnya, Cak Nur mengungkapkan tentang datangnya era baru (globalisasi dalam teknologi komunikasi dan transportasi) yang mesti secara siap disongsong oleh umat Islam dengan pengetahuan.

Agama menurutnya masih memiliki peran karena manusia masih membutuhkan “pedoman”. Humanisme Universal, maupun Marxisme-Leninisme sebagai bentuk “agama baru” menurutnya telah gagal menggantikan agama formal. Kegagalan tersebut berakar dari naluri manusia yang berketuhanan.

Peran agama Islam dalam menyongsong kemajuan dan modernitas, jangan sampai seperti sejarah pahit yang pernah umat Islam alami ketika pintu-pintu perkembangan ilmu pengetahuan ditutup oleh doktrin-doktrin keagamaan yang sebenarnya hanya merupakan suatu penafsiran tertentu saja.

Suatu doktrin yang kadangkala bahkan memadamkan spirit ideal yang Nabi Muhammad usung ketika membawakan Islam. Seperti spirit untuk terus menerus belajar dan menggali pengetahuan melalui alam semesta yang padam oleh doktrin-doktrin tertentu yang menuding ilmu pengetahuan modern sebagai warisan kafir yang mesti dijauhi.

Oleh karena itu dalam buku ini juga kental sekali dorongan Cak Nur agar umat Islam mau menggeluti ilmu pengetahuan sebagai alat utama membangun peradaban. Melalui semangat tauhid, yang dalam pandangan Cak Nur bermakna “menempatkan sakralitas pada tempatnya”, yakni pada Tuhan semata, Cak Nur mendorong agar umat Islam mengekplorasi alam semesta yang memang Tuhan sediakan untuk kebaikan umat manusia.

Melalui semangat tauhid seperti itu juga, Cak Nur melawan fanatisme yang berakar pada pengkultusan (sakralisasi) seseorang atau pemahaman tertentu. Sehingga bagi Cak Nur, segala sesuatu selain Tuhan, kebenarannya adalah relatif dan dapat digugat dengan analisa yang objektif.

Pada buku ini kita dapat melihat luasnya bacaan beliau dan pemahamannya yang baik tentang bagaimana seharusnya Islam di Indonesia dikembangkan, juga bagaimana bentuk relasi agama dan negara.

Menurutnya, semangat kemajemukan (pluralisme) sangatlah dibutuhkan dalam pembentukan karakter bangsa yang besar. Islam menurutnya telah memberikan landasan etis bagi terciptanya sebuah negara bangsa.

Dalam penutup pengantar magnum opusnya ini, terdapat beberapa diskursus yang menjadi benang merah pikiran Cak Nur. Menurutnya, sikap kritis, niat dan motivasi yang benar, pengetahuan tentang konteks yang tepat, demokrasi dan kebebasan yang positif akan membawa kita pada usaha yang benar dalam membangun peradaban yang besar.

Secara garis besar, pembahasan dalam buku dikelompokkan ke dalam empat bab kajian yang masing-masing tema sub-babnya saling terkait.

Bagian kesatu, buku ini membahas masalah ketuhanan dan emansipasi harkat manusia. Bab ini mengulas tentang keimanan dan makna-makna seputar masalah tersebut seperti; tujuan hidup manusia, ibadah, semangat tauhid, kemajemukan masyarakat dan juga hubungannya dengan perkembangan pengetahuan masyarakat.

Bagian kedua, membahas masalah disiplin ilmu keIslaman tradisional. Di sini Cak Nur memaparkan kondisi perkembangan pengetahuan yang diperoleh dan kemudian dipelajari oleh umat Islam. Mulai dari filsafat, kalam, fikih, sampai tasawuf.

Bagian ketiga, membahas masalah doktrin kitab suci dan hubungannya dalam membangun masyarakat yang beretika. Dia menuliskan dan mengajukan pemikirannya mengenai konsep a-Quran terhadap alam semesta (kosmos) dan manusia (antropos) selain juga menyinggung masalah etos kerja dan dan pengaruh pandangan dunia teologis.

Bagian keempat, membahas masalah universalisme Islam dan kemodernan. Di bagian ini dibahas masalah kosmopolitanisme kebudayaan Islam, maupun makna modernitas menurut Islam. Dan salah satu poin terpenting dan menjadi ide utama dalam buku ini adalah pembahasan mengenai reaktualisasi nilai-nilai kultural dan spiritual dalam proses transformasi masyarakat.

Pada akhirnya, tidaklah berlebihan jika buku ini dikatakan sebagai landasan perjuangan pembangunan peradaban Islam yang modern ini Indonesia.

Aku yang membaca buku ini sebagai bagian dari upayaku memahami NDP HMI, turut mendapatkan pencerahan lanjutan akan suatu perjuangan berkelanjutan yang bukan hanya mesti aku jalani di HMI, melainkan juga selepasnya pada kehidupan beragama dan berbangsa.

Ngaji NDP Bersama Kawan-kawan HMI Cabang Pandeglang

Akhir pekan ini menjadi suatu momentum yang menyenangkan bagiku. Berawal dari obrolan lepas bersama Fikri Anidzar Albar, kawan seperjuanganku pada LK2 HMI cabang Cilegon 2015 yang kini menjabat sebagai Ketua Umum HMI cabang Pandeglang, aku berkesempatan mengaji Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI bersama kawan-kawan HMI cabang Pandeglang.

Selepas Training of Trainer (TOT) NDP HMI yang terselenggara pada bulan Ramadhan kemarin, kami para lulusannya dibebani dengan tanggungan magang untuk mengisi materi NDP. Bukan apa-apa, hanya sekadar sebagai penguat pendalaman materi yang sudah kami dapatkan dan juga sebagai sarana berbagi pengetahuan dengan kawan-kawan kader HMI lainnya.

Pada obrolanku bersama Fikri, aku meminta pertolongannya agar menjadi fasilitator bagi magangku di lingkungan HMI cabang Pandeglang. Permintaanku ini dia sambut dengan antusias. Bahkan dengan bersemangat dia langsung menetapkan waktu pelaksanaannya pada hari Sabtu (07/07) ini.

Setelah segala persiapan teknis selesai HMI cabang Padeglang persiapkan, yang dalam hal ini bergerak di bawah arahan Kabid. PA HMI cabang Pandeglang, Tubagus Sofyan Taufiq, aku mempersiapkan diriku untuk keberangkatan ke tempat ini.

Beruntung, pada Jumat malam (06/07) aku mendapat kabar dari Fikri bahwa salah satu senior HMI cabang Pandeglang akan berangkat dari Jakarta menuju Pandeglang dan aku dapat menumpangi mobilnya. Kesempatan bagus ini tidak aku sia-siakan. Mengendarai mobil pribadi, selain lebih murah karena ongkos perjalanan sudah barang tentu gratis, juga lebih nyaman daripada mesti berpayah-payahan naik kereta atau bis.

Senior yang merupakan mantan Ketua Umum HMI cabang Pandeglang, bernama Iin Muchlisin itu merupakan kawan perjalanan yang menyenangkan. Sepanjang perjalanan selama sekitar empat jam itu kami membicarakan banyak hal. Mulai dari wacana-wacana seputar politik dan pergerakan hingga tren teknologi dan gadget.

Kami tiba di Pandeglang pada sepertiga malam terakhir. Karena Fikri tidak membalas pesanku, Kanda Iin mengajakku untuk menginap saja di kediamannya.

Rumah Kanda Iin terletak di kaki gunung Pulosari. Udara dingin menyambut kami sesampainya kami di sana. Aku langsung merebahkan diriku begitu tiba.

Pada pagi harinya Fikri datang menjemputku. Tempat yang akan dipergunakan untuk acara ngaji NDP ini terletak di sautu desa di daerah Labuan. Mengambil tempat pada sebuah pondok pesantren yang bernama Ponpes Asy-Syadzili.

Kami berangkat dari Pulosari saat hari mulai beranjak siang setelah sebelumnya menyantap sarapan di kediaman kanda Iin dan tiba pada waktu Zuhur.

Saat tiba di tempat acara, baru ada Tubagus dan Asep, kader HMI Pandeglang yang merupakan tuan rumah acara ini. Dia santri di ponpes Asy-Syadzili itu. Setelah menunaikan salat Zuhur, kami menyantap makan siang yang disediakan pihak ponpes.

Ponpes ini adalah pesantren tradisional (salafiyah). Letaknya berada di tengah-tengah hamparan sawah dan cukup jauh aksesnya dari jalan raya. Kondisi ini yang kemudian menjadikan kader-kader HMI cabang Pandeglang yang ingin turut hadir dalam acara ini kesulitan mencari lokasinya.

Setelah para peserta acara ngaji NDP berkumpul, kami pun memulainya. Tinggal setengah jam lagi sebelum salat Ashar saat itu.

Aku membuka diskusi dengan memaparkan secara ringkas sejarah perumusan NDP. Bagaimana NDP ini merupakan kesimpulan suatu perjalanan spiritual sekaligus emosional yang Cak Nur jalani. Selepas itu aku juga menjelaskan mengenai hakikat NDP yang merupakan nilai-nilai pokok ajaran Islam menurut HMI yang diintisarikan dari al-Quran dan as-Sunnah.

Azan Ashar berkumandang. Kami menjeda forum untuk menunaikan Shalat berjamaah.

Setelah menunaikan salat Ashar, kajian kami lanjutkan. Pada sesi kali ini aku membuka diskusi dengan menjelaskan mengenai hubungan korelatif antara al-Quran, NDP, kader HMI, dan masyarakat. Penjelasan sederhananya adalah al-Quran sebagai pedoman hidup umat Islam nilai-nilainya secara kontekstual terjelaskan dalam teks NDP. Kemudian teks tersebut kader HMI jadikan filosofi gerakan perjuangannya dalam melakukan perubahan sosial di masyarakat.

Penjelasan lalu aku lanjutkan pada pemahaman holisitik mengenai topik-topik yang ada di NDP. Topik-topik tesebut secara umum terbagi tiga, ketuhanan, kemanusiaan, dan kemasyarakatan. Dari ketiga topik tersebut, dapat dipetik tiga nilai esensial yang NDP usung. Yakni tauhid, kemerdekaan, dan keadilan.

Selanjutnya, aku meminta para peserta kajian untuk menyebutkan satu per satu bab dalam NDP kemudian aku jelaskan apa saja kiranya yang menjadi nilai-nilai pokok pada bab itu.

Dengan metodologi penyampaian yang deduktif ini, di mana aku langsung mengemukakan poin penting kesimpulan dari suatu bab baru kemudian memberikan argumentasi penjelasnya, aku berharap para peserta kajian mendapatkan gambaran yang menyeluruh, meski belum begitu utuh, mengenai isi kandungan NDP.

Selain itu, aku juga ingin menghapus trauma pasca LK1 yang membebani psikologi mereka bahwa materi NDP itu berat, sulit, dan berputar-putar di kisaran wacana teologis semata.

Satu hal yang aku pikir tepat adalah bahwa kawan-kawan di HMI cabang Pandeglang ini lebih membutuhkan pemahaman NDP yang bersifat praktis ketimbang teoritis. Sebab tipikal mereka adalah tipikal aktivis demonstran yang fokus pada wacana ketidakadilan pemerintah dan pembelaan hak-hak rakyat yang terampas. Mereka membutuhkan spirit ideologis untuk menjadi bahan bakar perjuangan mereka. Bagi kader HMI, spirit tersebut tentu saja ada di NDP. Namun mereka akan terhalangi dari spirit tersebut saat NDP disampaikan kepada mereka dalam bentuk yang terlampau teoritis.

Kajian kami akhiri saat senja menjelang. Selepas foto bersama, aku, Fikri, dan beberapa kawan HMI cabang Pandeglang bergeser ke Cafe Badak yang terletak di kota Labuan. Cafe ini dimiliki dan dikelola oleh senior HMI cabang Pandeglang bernama kanda Hussain. Di sini aku dan kawan-kawan dijamu dengan makanan dan minuman.

Selepas menunaikan salat Maghrib di Cafe, kami melanjutkan perjalanan untuk menikmati malam di Pantai Carita. Kebetulan ada salah seorang anggota HMI cabang Pandeglang yang orang-tuanya adalah pengelola salah satu titik wisata di pantai tersebut. Kami mendapatkan akses masuk secara gratis berkat itu.

Kami tidak sekadar menikmati malam di Pantai Carita. Atas permintaan Fikri dan kawan-kawan yang lain, total ada kami berenam saat itu, aku melanjutkan pemaparan NDP. Kali ini, aku mengajak mereka mendalami bab Dasar-Dasar Kepercayaan. Aku mengajak mereka berdialog mengenai topik-topik yang ada di bab itu. Mulai dari topik tentang Kepercayaan, hingga Hari Kiamat.

Tanpa terasa malam mulai larut. Kami meninggalkan Pantai Carita pada pukul sebelas malam. Kami berpindah menuju kediaman Ahmad Munirudin, Wakil Sekretaris Umum bidang PU (Pemberdayaan Umat) HMI cabang Pandeglang, di mana aku akan menginap sebelum esoknya kembali ke Jakarta.

Pengalamanku dengan Pandeglang adalah pengalaman yang menyenangkan dan penuh dengan kehangatan persahabatan. Aku antusias untuk kembali mengunjungi daerah ini, entah dengan niatan perkaderan ataupun sekadar kunjungan jalan-jalan. Ada sesuatu dari Pandeglang yang selalu membuatku rindu. Untuk sesuatu itulah aku akan kembali lagi.

Membaca Satu Minggu Satu Buku? Mengapa Tidak?!

Ini Yang Harus Kamu Lakukan Agar Dapat Menyelesaikan Satu Buku Setiap Minggunya

Bagaimana caranya agar kita dapat menyelesaikan satu buku dalam satu minggu?

Para pemimpin adalah pembaca yang baik. Faktanya, rata-rata seseorang membaca dua buku dalam setahun. Namu rata-rata CEO/ pemimpin organisasi dan negara, membaca sekitar empat sampai enam buku dalam sebulan!

Jadi, bagaimana kita bisa sampai pada titik itu di mana untuk mencapainya setidaknya kita harus membaca satu buku dalam satu minggu?

Salah satu alasan mengapa membaca buku adalah sesuatu yang sangat bermanfaat adalah kenyataan bahwa seseorang telah merangkum pengalamannya dalam berpuluh-puluh tahun ke dalam satu bentuk buku. Kemudian kita hanya perlu duduk selama beberapa hari untuk membaca buku itu. Kita dapat menyerap pengalaman berpuluh-puluh tahun hanya dalam hitungan hari.

Suatu keuntungan yang sangat besar, bukan?

Lantas bagaimana kita dapat membaca satu buku dalam satu minggu tanpa perlu menguasai teknik speed reading?

Ini rahasianya: PERHATIKAN ANGKA-ANGKANYA

Angka-angka Untuk Menyelesaikan Satu Buku Satu Minggu

Sebagian besar buku yang dijual di Google Play Books dan Amazon memiliki kata dengan jumlah di kisaran 64.000 kata.

Sedangkan rata-rata kemampuan baca setiap orang, berdasarkan penelitian para pakar di bidang ini, adalah 200 kata per menit.

Jika kita membagi 64.000 kata dengan 200 kata per menit maka hasilnya adalah 320 menit bagi kita untuk bisa menyelesaikan buku dengan 64.000 kata.

Lalu, berapa kata dalam sehari yang kita butuhkan untuk menyelesaikan jumlah itu dalam seminggu?

Jika dibagi tujuh hari, maka hasilnya adalah 45 MENIT setiap hari!

Ya! Hanya butuh 45 menit membaca setiap harinya untuk dapat menyelesaikan satu buku dalam satu minggu.

Tampak terjangkau, bukan?

Namun ada satu syarat yang harus kita penuhi: KITA MESTI MENETAPKAN JADWAL MEMBACA KITA!

Menetapkan Jadwal Membaca

Jadwal membaca ini harus kita tetapkan karena jika kita hanya berkata di dalam hati, “Hm, saya akan membaca pada saat ini atau di tempat itu,” hal tersebut tidak akan pernah terjadi. Itu lebih mirip angan-angan atau suatu ketertarikan (interest) semata.

Namun jika kita menetapkan suatu jadwal, baik di buku agenda maupun di kalender kita, maka itu adalah sebuah komitmen atau perjanjian waktu yang kita buat. Sama seperti kita membuat perjanjian pertemuan dengan rekan kerja, keluarga, atau kekasih kita, suatu perjanjian yang begitu penting yang tidak mungkin kita ingkari.

Membaca adalah satu bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Kepedulian tersebut bukanlah suatu bentuk egoisme.

Jadi apakah Kamu ingin menjadi seorang pembelajar seumur hidup? Luangkan dan jadwalkan waktumu 45 MENIT saja dalam sehari untuk membaca.

Pada saat kemampuan membaca kita telah meningkat, kita mampu menyelesaikan target bacaan harian dengan lebih cepat. Mungkin kita hanya butuh 30 menit. Atau bahkan 15 menit!

Waktu yang mesti Kamu luangkan untuk membaca (agar dapat menyelesaikan satu buku seminggu) sungguh tidak sebanyak yang kamu sangka.

Jadwalkan Hanya Pada Waku Terjaga

Satu lagi hal penting yang harus kita perhatikan. Saat kita mengatur jadwal untuk membaca, pastikan jadwal tersebut kita tetapkan pada waktu di mana kita terjaga.

Beberapa orang menetapkan waktu untuk membaca pada saat-saat larut di malam hari dan menjadikan aktifitas membaca ini sebagai suatu pengantar tidur. Meskipun hal ini tidak sepenuhnya buruk, ia tidak cukup efektif sebagai komitmen untuk menyelesaikan satu buku dalam satu minggu.

Pada saat kita terjaga, pada saat kita tengah dalam kondisi yang prima, pada saat itulah kita mengatur jadwal membaca kita. Luangkan sekadar 45 Menit dan kita akan menyelesaikannya.

Misalnya, pada waktu tenang di pagi hari selepas sarapan. Atau di siang hari saat istirahat dari kesibukan kerja. Atau di sore hari sembari menunggu senja. Atau di malam hari saat menikmati kopi dan obrolan bersama kawan-kawan.

INGATLAH, leaders are readers, para pemimpin adalah pembaca yang baik.

If Knowledge is power, reading is your superpower

***

Artikel ini saya terjemahkan secara bebas dari video motivasi dari Jim Kwik yang berjudul “How To Read One Book Every Week” pada saluran YouTube miliknya.

Video selengkapnya dapat ditonton di bawah ini:

 

%d blogger menyukai ini: