Mengapa Mahasiswa Malas Mengkaji Ilmu?

Sebuah Pertanyaan dan (Semoga) Jawaban

Banyak kemungkinan yang bisa menjadi faktor penyebab kajian keilmuan kurang mendapatkan minat. Bisa jadi karena konten kajiannya. Bisa jadi karena penyampai kajiannya. Bisa jadi karena waktu dan tempat kajiannya berlangsung. Bisa jadi juga karena hal-hal sederhana seperti sekadar karena kajiannya itu tidak tampak “menarik.”

Dalam memandang persoalan ini, saya tidak ingin terjebak dalam pepatah; buruk rupa, cermin dibelah. Pihak yang pertama-tama perlu melakukan introspeksi adalah penyelenggara kajian dan unsur-unsur kesalahan dan kekeliruan pertama-tama juga harus diasumsikan melekat pada pihak tersebut.

Namun tetap menarik bagi saya untuk mencoba memahami apa yang sebenarnya menjadi problematika mahasiswa-mahasiswa itu.

Kalau kita berkaca pada data-data yang berkenaan dengan intelektualitas yang ada di lingkungan mahasiswa, kita akan menemukan kenyataan bahwa memang ada degradasi yang cukup parah.

Apa sebenarnya yang mahasiswa-mahasiswa itu lakukan? Beratus-ratus ribu jumlah mereka, namun berapa persenkah yang mau meluangkan waktu untuk benar-benar berpikir?

– Ahmad D. Rajiv

Kemarin, aku diajak oleh salah seorang kawanku di kota ini ke warung kopi. Sesampainya di sana, kami duduk dan memesan minuman. Kami tidak sendiri saat itu. Ada beberapa kawan lain yang turut serta. Apa yang terjadi kemudian menunjukkan betapa kita sudah begitu tenggelam ke dalam realitas lain selain apa yang ada di hadapan mata kita; masing-masing orang di sekeliling meja itu sibuk dengan ponselnya sendiri-sendiri, sibuk bercengkrama dengan orang-orang lain di tempat-tempat lain sedangkan orang-orang yang ada di hadapannya sama-sama terperangkap dalam kebisuan.

Saat para mahasiswa datang ke kafe-kafe, yang pertama-tama mereka cari bukanlah makanan atau minuman, melainkan colokan dan akses internet.

– Ahmad D. Rajiv

Ada kecendrungan bahwa para mahasiswa ini lemah dalam mengahadapi apa yang ada di hadapan mereka dan lebih memilih untuk berada di suatu tempat yang lain, di dunia yang maya. Tidak heran jika saat para mahasiswa ini bertemu atau berdiskusi, status, stories, dan obrolan di grup-grup chatlah yang dominan mereka perhatikan.

Begitu juga saat mereka sendirian di kosan dan berhadapan dengan pelajaran yang harus mereka pahami. Mereka lebih suka memperbaharui postingan status dan stories dengan foto-foto buku, kopi, atau laptop, kemudian tenggelam dalam obrolan dengan orang-orang yang mengomentari postingan mereka itu ketimbang benar-benar mempelajari apa yang ada di hadapan mata mereka.

Maka bukan hal yang aneh jika “skripsi” bagi mahasiswa-mahasiswa itu ibarat beban hidup yang tak tertanggungkan dan proses yang mereka jalani dengan begitu tertatih-tatih. Sebab mengkaji ilmu bukanlah aktifitas yang menarik bagi mereka.

Apabila ada suatu kajian keilmuan yang ramai, biasanya malah karena faktor-faktor lain di luar dari pada ilmu itu sendiri. Seperti iming-iming sertifikat, tempat yang “wah”, ataupun pembicara yang “terkenal.” Soal pembicara yang terkenal ini pun yang lebih dikejar darinya adalah sensasi viralitasnya. Syukur-syukur bila mereka bisa dapat foto bareng pembicara yang akan memancing ratusan love di Instagram. Sedikit sekali yang benar-benar tergerak untuk mengambil manfaat keilmuan.

Fenomena ketidaktertarikan akan kajian keilmuan ini bahkan turut terjadi di organisasi yang berbasis kader. Organisasi yang karakteristik kaderisasinya adalah kaderisasi keilmuan atau intelektualitas. Jika di lingkaran yang katanya intelektual itu saja kajian keilmuan mulai kehilangan minat para anggotanya, apatahlagi lingkaran lain yang memang basisnya bukan intelektualitas?

Kalau kita mau melihat ke dalam, degradasi itu bermula dari individu-individu mahasiswa. Apatisme dan hedonisme adalah dua virus utama. Jangankan mahasiswa biasa, mahasiswa yang merupakan kader organisasi pun banyak terjangkiti virus ini. Kajian Keilmuan tidak mungkin akan berkembang pada individu yang masih menyimpan apatisme dan hedonisme.

Kedua virus ini hanya bisa diobati dengan dua cara; aktif membaca, dan aktif menulis. Membaca membantu kita mengikis akar-akar apatisme dengan memberikan kesadaran kepedulian akan keadaan sekitar. Sedangkan menulis mengasah kepekaan kita lewat gagasan-gagasan yang kita coba hadirkan dan tawarkan sebagai solusi atas permasalahan yang sudah kita baca. Kepekaan inilah yang dengan sendirinya menjauhkan kita dari sifat-sifat hedonis.

Kedua pondasi ini, membaca dan menulis, adalah stimulus yang akan terus menerus merangsang mahasiswa untuk mengkaji ilmu.

Seperti itulah kiranya.

Iklan

Dari Mana Asalnya Perbedaan Pandangan?

Sebuah Catatan Lepas

Kalau dipikir-pikir ya, sepertinya berbeda pandangan itu sudah menjadi tabiat manusia. Ada aja alasan bagi perbedaan pandangan itu. Kalau kata pepatah arabnya, likulli ra’sin ra’yun. Bagi setiap kepala, ada pandangannya masing-masing.

Ini tentu dapat kita maklumi dengan kesadaran bahwa setiap manusia itu unik. Keunikan mereka terletak pada variasi pengalaman yang mereka terima. Apalagi di zaman keterbukaan informasi seperti sekarang ini.

Barangkali kalau di zaman dahulu, akses informasi orang-orang itu seragam. Seandainya pun bervariasi, variasinya itu tidak terlalu banyak. Sehingga kita dapat dengan mudah memetakan keadaan pikiran orang-orang. Apa yang mereka rasakan dapat diketahui dengan mudah karena tersampaikan dan tampak secara kolektif.

Sedangkan pada masa keterbukaan informasi ini, masing-masing orang, apapun suku, agama, dan rasnya, memiliki akses kepada informasi. Akses ini memungkinkan dia untuk memperoleh pengetahuan tanpa batas. Pengetahuan-pengetahuan ini akan membangun pemahamannya. Akses yang tanpa batas itu menjadikan setiap orang dapat memiliki preferensi yang berbeda-beda hingga ke taraf yang paling individualistis.

Taraf tersebut lahir dari kenyataan bahwa setiap orang dapat membangun keunikan preferensi mereka sendiri berdasarkan pilihan masing-masing atas sajian informasi yang ada. Ragam perbedaan pandangan pun menjadi semakin unik.

Ambil contoh dalam persoalan praktek peribadatan Islam. Saat ini, apabila kita menguasai ilmu perbandingan mazhab (aliran fikih) kita dapat dengan mudah menemukan sosok yang peribadatannya itu tidak konsisten di atas satu mazhab saja. Misalkan saat dia salat, dia bisa melakukan praktek wudhu dengan Mazhab Syafii, salat dengan Mazhab Hambali, dan berdoa dengan Mazhab Maliki.

Semua itu dia lakukan tanpa proses pengambilan pengetahuan yang legal formal melalui sekolah atau pesantren. Pengetahuan yang dia dapat itu dia ambil dari Internet, yang aksesnya tanpa batas. Atau dari kajian-kajian keislaman lepasan. Atau dari buku-buku yang dia beli di pertokoan. Atau dia mengambilnya dari obrolan-obrolan sambil lalu di jalan-jalan. Atau bisa juga dari kajian otodidak yang dia lakukan sendiri dengan mengandalkan keterbukaan akses informasi.

Pada intinya, pengetahuannya itu tidak dia dapatkan dengan cara-cara yang sistematis. Kenyataan ini membuat kita sulit melakukan pemetaan demografis berkaitan dengan hal-hal tersebut. Bisa jadi pada suatu wilayah yang terkenal dengan aliran tertentu, ternyata dalam praktiknya, menyimpan keragaman yang kolaboratif hasil dari keunikan masing-masing individu yang ada di dalamnya.

Jika kita menarik semuanya ke awal, kita kan menemukan kenyataan bahwa memang dorongan untuk berbeda pandangan itu sudah sejak dahulu ada. Sejak Adam baru saja tercipta. Maka upaya untuk menyeragamkan manusia itu mustahil. Semakin mustahil dengan efek-efek hasil keterbukaan tadi.

Apabila kita hadir dalam rapat-rapat, kita bisa semakin sadar bahwa bagaimana perbedaan pandangan itu sudah merupakan tabiat kita sebagai manusia. Kadangkala satu keputusan yang sifatnya sederhana saja bisa memakan waktu berjam-jam untuk menemukan titik temu.

Begitu banyak kepala yang harus kita tundukkan, harus kita taklukan agar pandangan kita dapat diterima. Meskipun kita sudah memiliki kapasitas untuk menyampaikan pandangan tersebut dan punya legitimasi untuk memutuskan kebenarannya, kita masih akan berhadapan dengan perbedaan pandangan. Apatah lagi apabila kita tidak punya pondasi apa-apa selain pengetahuan-pengetahuan lepas.

Menurut Ibnu Rusyd, perbedaan pandangan itu pangkalnya dua saja; perbedaan pengetahuan (termasuk informasi) dan perbedaan pemahaman (atau penafsiran).

Namun menurutku akar paling dalam dari perbedaan pandangan adalah perbedaan pijakan. Baik pijakan pikiran maupun pijakan keyakinan. Dalam membahas satu konsep yang sama saja, misalkan konsep “keadilan,” dua orang yang memiliki pijakan pikiran dan keyakinan yang berbeda, akan saling berbeda pandangan dari pangkal hingga ujung.

Ilusi Pertemanan

Hubungan antar manusia yang paling umum adalah pertemanan. Hubungan ini dihiasi dengan berbagai macam gejolak perasaan. Selain itu, hubungan ini juga berkelindan dengan berbagai macam manipulasi.

Manipulasi ini menjadikan suatu hubungan pertemanan yang tampaknya menyenangkan, tidak lebih dari serangkaian ilusi.

Seseorang yang kau sangka temanmu, bisa jadi hanyalah seseorang yang memanipulasimu dengan perasaan pertemanan. Dia ingin membuatmu tenang dan nyaman agar dia dapat dengan mudahnya mengambil beberapa keuntungan darimu, atau menjadikanmu alat untuk mencapai keuntungannya. Kau terperangkap dalam ilusi yang dia bangun. Kau adalah mangsa bagi serigala yang lapar yang ada di dalam dirinya.

Homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi manusia yang lain.

Manipulasi bukanlah sesuatu yang sulit. Seakan-akan manipulasi itu sendiri sudah merupakan tabiat manusia. Mampu menentukan mana yang manipulasi dan mana yang bukan dari sekian ikatan pertemanan yang kita miliki, itulah yang sulit.

Tapi manusia selalu berubah-ubah. Kadangkala perubahannya itu lebih cepat dari angin yang berhembus. Lebih cepat dari pergantian menit dan detik. Perubahan itupun kerapkali tanpa disadari.

Ada yang pada awal mula membangun pertemanan yang manipulatif. Namun kemudian tersadarkan oleh ketulusan temannya, dan lantas kemudian turut menjadi tulus pula.

Ada yang pada awal mula membangun pertemanan dengan niatan-niatan yang tulus. Namun karena tersakiti berkali-kali, akhirnya menjalani sisa hubungan pertemanan dengan manipulatif. Dengan senyuman-senyuman palsu dan tawa-tawa hambar.

Manusia memang pandai menyembunyikan perasaannya. Menyembunyikan kekesalan dan kemerahannya di balik senyuman dan perlakuan yang manis.

Bagaimana kita bertahan di tengah serangan beragam kepalsuan ini? Tapi tunggu, benarkah kepalsuan-kepalsuan itu adalah serangan, ataukah kita yang menyikapinya terlalu berlebihan?

Aku yakin, bahwa semua manusia ingin perlakuan yang jujur dan tulus. Namun bagaimanakah jika kejujuran dan ketulusan itu berarti suatu bentuk kebencian? Akankah kita masih sanggup menerimanya? Ataukah bahkan kita lebih memilih untuk menghadapi kepalsuan yang manis ketimbang tegar berhadapan dengan kenyataan yang pahit?

Maka seringkali, ilusi-ilusi itu sebenarnya tidak datang dari orang lain. Melainkan dari diri kita sendiri. Kita menciptakan ilusi-ilusi itu karena kita takut menghadapi kenyataan-kenyataan yang ada.

Sebegitu tidak adilkah dunia sehingga apa yang bisa kita lakukan hanyalah membangun ilusi?

Lihatlahlah orang-orang di sekelilingmu dan tatap mata mereka baik-baik kemudian tanyakan pertanyaan ini pada dirimu sendiri, “tuluskah orang itu?”

Aku bukannya ingin mengajakmu untuk terperangkap dalam prasangka buruk. Aku hanya ingin kau sadar bahwa manusia baik hati itu tidak ada. Manusia adalah seperangkat kepentingan dengan segudang alasan.

Lantas, kau pun harus turut mempertanyakan motif pribadimu. Mungkinkah ilusi?

Beberapa hal, beberapa perasaan, beberapa perkataan, dan beberapa tindakan tampak ada begitu saja tanpa adanya kesadaran dari diri kita. Kita suka tidak sadar bahwa pertemanan yang kita jalani itu ilusi. Bukan karena kita tidak mampu menjalaninya, melainkan karena ilusi itulah yang lebih menyenangkan bagi kita.

Apakah ilusi yang menyenangkan itu mampu membuat kita bahagia? Mungkin kita akan menjawab, “iya!” Tapi dapatkah kita melihat, bahwa jika ditimbang dengan akal sehat, kebahagiaan yang lahir dari suatu bentuk ilusi, sejatinya juga merupakan sebuah ilusi?

Tapi, manakah sebenarnya yang ilusi dan manakah yang sebenarnya yang nyata. Jangan-jangan, pertemanan yang kita anggap ilusi, itulah pertemanan yang sebenarnya. Sedangkan pertemanan yang kita lihat sebagai kenyataan, hanyalah ilusi yang tak terketahui.

Teman Datang Hanya Pada Saat Dia Butuh

Memiliki hubungan pertemanan memang menyenangkan. Beberapa orang bahkan memandang bahwa teman adalah salah satu kebutuhan primer manusia. Tidak ada manusia yang mampu hidup sendiri. Manusia membutuhkan sosok untuk berbagi. Sosok untuk mendengarkan apa yang dia katakan. Sosok untuk membenarkan gagasannya maupun meluruskan kesalahannya. Dengan prespektif ini aku ingin mengatakan bahwa pertemanan itu adalah kebutuhan. Kebutuhan akan sesuatu yang bukan hanya bersifat material, namun juga moril. Ungkapan orang-orang bahwa, “teman yang sesungguhnya adalah teman yang datang tidak hanya pada saat dia butuh semata,” menurutku adalah ungkapan yang keliru. Sebab dalam pandanganku, bagaimanapun bentuknya teman itu hanya datang saat dia butuh. Minimal dia butuh akan pertemanan itu sendiri. Saat ada seorang teman yang tampaknya tetap datang kepada kita meski kita sedang tidak memiliki apa-apa, sebenarnya bukan berarti dia datang bukan dengan kebutuhan. Minimal dorongannya untuk datang adalah dorongan moril karena dia butuh dengan pertemanan itu. Kebutuhan itu ada karena dia senang, bahagia, dan nyaman dengan hubungan pertemanan itu. Patut diingat bahwa kebutuhan akan kebahagiaan jauh lebih esensial bagi manusia ketimbang kebutuhan akan materi. Maka dari itu tidak heran jika ada seorang teman yang tetap bertahan bersama temannya meski mereka tidak mendapatkan keuntungan materi apa-apa dari pertemanan mereka itu. Namun memang efek dari teman yang kebutuhan utamanya bersifat materil lebih negatif daripada teman yang kebutuhannya bersifat moril. Kesan yang ditimbulkan oleh model pertama bisa sangat buruk. Terutama saat terjadi persinggungan dan sang teman memilih untuk menjauh. Apalagi jika alasannya untuk menjauh itu adalah karena temannya tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan materil yang dia inginkan. Tapi bukan berarti teman yang kebutuhannya bersifat moril akan lebih langgeng pertemanannya dari teman yang kebutuhannya materil. Bentuknya saja yang berbeda. Misalnya jika suatu saat tiba-tiba dia merasa bahwa hubungan pertemanannya merugikan dirinya atau tidak memberinya manfaat apapun, bahkan manfaat yang paling sepele semisal perasaan bahagia saat berjumpa, dia tentu akan mengakhiri pertemanan tersebut. Kedua semangat pertemanan tersebut, materil dan moril, sama-sama memiliki kebutuhan yang harus tertuntaskan. Saat kebutuhan itu tidak terpenuhi, tidak akan akan ada pertemanan. Begitu juga sebaliknya, dengan memenuhi kebutuhan itu, pertemanan dapat menjadi sesuatu yang benar-benar menyenangkan. Siapapun teman yang masih bertahan bersama temannya pasti karena kebutuhan. Atau dalam ungkapan salah seorang temanku, “semua itu karena kepentingan, kebutuhan itu pun sejatinya adalah kepentingan juga.” Kebutuhannya paling minimal adalah perasaan bahagia saat berjumpa, perasaan senang karena seiya sekata dan sepemikiran, perasaan nyaman karena dapat saling mendengarkan dan bertukar pikiran dari hati ke hati. Dari sini aku memandang diriku sendiri, dan juga manusia-manusia lainnya, sebagai sesosok makhluk yang begitu individualistis, di mana segala sesuatu yang dia lakukan untuk orang lain sejatinya adalah untuk dirinya sendiri saja. Orang-orang yang berfilsafat menamakan sesuatu yang kembali kepada diri sendiri itu sebagai kebahagiaan. Sedangkan orang-orang yang beragama menamakannya; pahala, sesuatu keuntungan yang akan mengantarkan pelakunya pada pencapaian tertinggi, yaitu Surga. Pertemanan hadir sebagai alat untuk menuntaskan hasrat kita sebagai manusia akan kebahagiaan yang bersifat sosial. Ia hadir agar kita mampu mengisi kekosongan di dalam jiwa kita yang tidak mampu kita isi dengan tangan kita sendiri.

Pandanganku Tentang Bacaan dan Pengaruhnya Pada Seseorang

Malam ini tiba-tiba aku teringat salah satu bacaan yang paling berpengaruh dalam hidupku. Bacaan itu adalah novel The Alchemist karya Paulo Coelho. Buku yang aku baca sekitar sepuluh tahun yang lalu itu masih memberikan kesan yang kuat pada diriku hari ini. Aku tidak sedang ingin membahas mengenai isi novel tersebut. Satu hal yang tengah aku pikirkan sekarang adalah betapa bacaan kita bisa begitu memengaruhi persepsi, pola pikir, pandangan, hingga akhirnya perkataan dan perbuatan kita. Ada seorang kawan yang pernah memberiku nasehat. Dia bilang jika kamu ingin tahu tentang seseorang, bagaimana pemikiran dan kecendrungan pendapatnya, tanyakan saja kepada dirinya, buku apa saja yang dia baca. Haruki Murakami, salah seorang novelis kenamaan dari Jepang, mengungkapkan bahwa kalau kamu sekadar membaca apa yang orang-orang biasa baca, maka kamu juga akan berpikir biasa saja seperti mereka. Ini berarti bahwa jika kita ingin berbeda dari orang kebanyakan maka bacalah bacaan yang berbeda dari orang kebanyakan. Jika kita ingin lebih dari orang kebanyakan, maka bacalah lebih dari orang kebanyakan. Pembaca di atas rata-rata akan punya pemikiran yang di atas rata-rata pula. Sesuatu yang berkebalikan juga berlaku. Jika kita hanya membaca sesuatu (atau seseorang) yang itu-itu saja maka pikiran dan pandangan kita akan berputar di situ-situ juga. Mungkin kalian pernah berbincang-bincang dengan seseorang yang sepanjang omongannya kutipan yang dia pakai sebagai penguat argumentasi hanya itu-itu saja. Tokoh yang melulu dia kutip selalu yang itu-itu saja. Berdiskusi dengan orang semacam ini kadangkala membuat diri ini kesal. Sebab orang itu sudah kadung meyakini kebenaran sesuai dengan bacaannya sehingga apa yang dia dengar di luar dari bacaannya akan dia anggap salah. Di sini aku menyadari bahwa keluasan bacaan seseorang sangat berpengaruh pada keluasan pikiran dan pandangannnya serta turut pula berpengaruh signifikan pada kelapangan hatinya. Orang-orang yang memiliki referensi bacaan beragam, biasanya memiliki hati yang lapang pula. Dalam artian dia lapang dada ketika berhadapan dengan perbedaan pandangan dan pemikiran dalam diskusi atau debat. Dia juga bukan tipikal orang yang suka memaksakan pendapatnya. Hal ini karena dia memiliki latar belakang kesadaran bahwa ilmu itu luas. Kesadaran ini lahir imbas dari banyak dan beragamnya bacaan. Seorang bijak dahulu berkata, “semakin banyak engkau membaca semakin sadar dirimu bahwa banyak sekali hal yang kamu tidak tahu.” Ada anekdot yang kerap terlontarkan pada diskusi-diskusi yang membahas mengenai perilaku sebagian umat Islam yang cenderung mudah marah, anekdot itu menyindir bahwa sebenarnya problem orang-orang semacam itu cuman satu; kurang baca. Mungkin dapat dikatakan bahwa diri kita adalah apa yang kita baca. Kalau apa yang kita baca itu sekadar status-status galau di WhatsApp, caption-caption sok bijak di Instagram dan artikel-artikel acak di Internet, maka akan sebatas itulah pandangan dan pemikiran kita. Tidak akan ada sesuatu yang mendalam pada diri kita jika bacaan kita terbatas. Kita akan memandang dunia ini dengan dangkal dan kekanak-kanakkan. Pendapat yang lahir dari diri kita pun hanyalah pandangan yang egois dan emosional yang bahkan seringkali tidak mampu kita jelaskan, apalagi pertahankan dengan baik. Indonesia menduduki peringkat sangat rendah dalam hal minat baca. Kenyataan ini menjawab berbagai bentuk keanehan, ironi, dan hal-hal menyedihkan (sekaligus menjengkelkan) yang kita temukan dalam keseharian kita, di dunia nyata, terlebih-lebih lagi di Dunia Maya.

Jodoh Memang di Tangan Tuhan, Tapi Dia Tidak Akan Begitu Saja Memberikannya

Takdir memang misteri. Dengan konsep yang masih menjadi perdebatan hingga kini, Takdir meresap sebagai apologi yang tertanam dalam diri manusia atas hal-hal yang tak tertanggungkan bagi mereka; kegagalan-kegagalan yang menyedihkan dan musibah-musibah yang menguras air mata. Termasuk dalam persoalan cinta. Mereka yang sepertinya bijak akan mengajukan apologi ketika sesuatu yang disebut Takdir ini tiba-tiba datang dalam bentuk yang tidak menyenangkan. Mereka akan berkata, “sabar saja, semua pasti ada hikmahnya.” Tentu saja semua ada hikmahnya! Namun hikmah itu bukan seperti durian runtuh yang jatuh dari langit. Hikmah itu pasif dan kita sebagai manusia adalah dimensi aktifnya. Sehingga apabila kita sendiri tidak mau mencari hikmah itu, dia tidak akan mengemuka sama sekali. Banyak status-status di media sosial yang membahas mengenai takdir dalam persoalan percintaan. Atau nama lainnya adalah; jodoh. Sebagaian besar masyarakat agamis akan berkata, “tenang saja, jodoh itu di tangan Tuhan.” Ya iya lah! Memangnya ada sesuatu di dunia ini yang tidak berada dalam tangan (kuasa) Tuhan? Jangankan jodoh, daun yang jatuh pun Dia awasi. Sesuatu yang sangat disayangkan apabila wacana mengenai Takdir ini mengubah manusia menjadi sosok yang pasif dan pesimistis. Ah, buat apa berusaha mati-matian mendapatkannya, toh kalau dia adalah jodoh saya (sudah takdirnya bersama saya) ujung-ujungnya dia bakal ke saya juga, saya pasrah saja, kalaupun seandainya dia akhirnya dia tidak bersama saya, berarti ya memang dia bukan jodoh saya. Orang-orang semacam ini akan dipecundangi oleh Takdir itu sendiri, dan turut pula dipecundagi oleh mereka yang mampu mengusai takdir. Apakah takdir mampu kita kuasai? Ya! Takdir adalah “ukuran” dan “takaran.” Inna khalaqnaa kulla syai-in biqadar, kata Allah. Segala sesuatu sudah ada ukurannya atau takarannya dan manusia diberi instrumen akal serta kehendak bebas untuk bisa memahami ukuran-ukuran itu lantas memanfaatkannya untuk mencapai tujuannya. Ukuran dan takaran itu adalah Kausalitas, atau Hukum Sebab Akibat. Kausalitas itulah Takdir Allah atas Manusia. Allah menetapkan faktor-faktor tertentu yang apabila ukuran dan takarannya terpenuhi akan menghasilkan akibat-akibat tertentu pula. Misalnya saja untuk mendapatkan akibat berupa “cinta seorang perempuan” maka harus ada ukuran atau takaran yang terpenuhi. Katakanlah ukurannya adalah ketampanan, kebaikan, kemapanan, dan lain sebagainya, yang apabila faktor-faktor ini terpenuhi “cinta seorang perempuan” itu akan datang sebagai akibatnya. Tentu saja ukuran dan takaran ini sangat fluktuatif dan unik tergantung daripada akibat (hasil) yang ingin diraih. Misalkan dalam konteks catatan ini, akibat itu adalah “cinta seorang perempuan” maka ukuran dan takarannya tergantung sang perempuan. Kadangkala bahkan ukuran dan takaran seorang perempuan tidak berkaitan dengan hal-hal materil. Pada titik inilah kepandaian seorang laki-laki memahami takdir yang berlaku pada perempuan tersebut sangat menentukan persentasi keberhasilannya mendapatkan cinta perempuan itu. Jodoh memang di tangan Tuhan, maka dari itu Tuhan telah menyediakan seperangkat alat; akal, kehendak, kemampuan fisik, pikiran, dan semangat yang datang dari Jiwa, untuk meraih jodoh yang Dia genggam itu. Jangan harap Tuhan akan memberikan jodoh yang ada di tangan-Nya itu jika kamu tidak berusaha untuk menggapainya dengan usahamu. Apa gunanya Dia menciptakanmu sebagai manusia kalau untuk persoalan yang keuntungannya itu kembali ke dirimu sendiri ini, yang bisa kamu lakukan hanya ongkang-ongkang kaki, dan lantas kamu berharap Dia menjatuhkan jodoh yang ada di tangan-Nya itu ke dalam pelukanmu?! Hal semacam itu hanya dapat terjadi dalam satu tempat; mimpimu!

%d blogger menyukai ini: