Mengapa Mahasiswa Malas Mengkaji Ilmu?

Sebuah Pertanyaan dan (Semoga) Jawaban

Banyak kemungkinan yang bisa menjadi faktor penyebab kajian keilmuan kurang mendapatkan minat. Bisa jadi karena konten kajiannya. Bisa jadi karena penyampai kajiannya. Bisa jadi karena waktu dan tempat kajiannya berlangsung. Bisa jadi juga karena hal-hal sederhana seperti sekadar karena kajiannya itu tidak tampak “menarik.”

Dalam memandang persoalan ini, saya tidak ingin terjebak dalam pepatah; buruk rupa, cermin dibelah. Pihak yang pertama-tama perlu melakukan introspeksi adalah penyelenggara kajian dan unsur-unsur kesalahan dan kekeliruan pertama-tama juga harus diasumsikan melekat pada pihak tersebut.

Namun tetap menarik bagi saya untuk mencoba memahami apa yang sebenarnya menjadi problematika mahasiswa-mahasiswa itu.

Kalau kita berkaca pada data-data yang berkenaan dengan intelektualitas yang ada di lingkungan mahasiswa, kita akan menemukan kenyataan bahwa memang ada degradasi yang cukup parah.

Apa sebenarnya yang mahasiswa-mahasiswa itu lakukan? Beratus-ratus ribu jumlah mereka, namun berapa persenkah yang mau meluangkan waktu untuk benar-benar berpikir?

– Ahmad D. Rajiv

Kemarin, aku diajak oleh salah seorang kawanku di kota ini ke warung kopi. Sesampainya di sana, kami duduk dan memesan minuman. Kami tidak sendiri saat itu. Ada beberapa kawan lain yang turut serta. Apa yang terjadi kemudian menunjukkan betapa kita sudah begitu tenggelam ke dalam realitas lain selain apa yang ada di hadapan mata kita; masing-masing orang di sekeliling meja itu sibuk dengan ponselnya sendiri-sendiri, sibuk bercengkrama dengan orang-orang lain di tempat-tempat lain sedangkan orang-orang yang ada di hadapannya sama-sama terperangkap dalam kebisuan.

Saat para mahasiswa datang ke kafe-kafe, yang pertama-tama mereka cari bukanlah makanan atau minuman, melainkan colokan dan akses internet.

– Ahmad D. Rajiv

Ada kecendrungan bahwa para mahasiswa ini lemah dalam mengahadapi apa yang ada di hadapan mereka dan lebih memilih untuk berada di suatu tempat yang lain, di dunia yang maya. Tidak heran jika saat para mahasiswa ini bertemu atau berdiskusi, status, stories, dan obrolan di grup-grup chatlah yang dominan mereka perhatikan.

Begitu juga saat mereka sendirian di kosan dan berhadapan dengan pelajaran yang harus mereka pahami. Mereka lebih suka memperbaharui postingan status dan stories dengan foto-foto buku, kopi, atau laptop, kemudian tenggelam dalam obrolan dengan orang-orang yang mengomentari postingan mereka itu ketimbang benar-benar mempelajari apa yang ada di hadapan mata mereka.

Maka bukan hal yang aneh jika “skripsi” bagi mahasiswa-mahasiswa itu ibarat beban hidup yang tak tertanggungkan dan proses yang mereka jalani dengan begitu tertatih-tatih. Sebab mengkaji ilmu bukanlah aktifitas yang menarik bagi mereka.

Apabila ada suatu kajian keilmuan yang ramai, biasanya malah karena faktor-faktor lain di luar dari pada ilmu itu sendiri. Seperti iming-iming sertifikat, tempat yang “wah”, ataupun pembicara yang “terkenal.” Soal pembicara yang terkenal ini pun yang lebih dikejar darinya adalah sensasi viralitasnya. Syukur-syukur bila mereka bisa dapat foto bareng pembicara yang akan memancing ratusan love di Instagram. Sedikit sekali yang benar-benar tergerak untuk mengambil manfaat keilmuan.

Fenomena ketidaktertarikan akan kajian keilmuan ini bahkan turut terjadi di organisasi yang berbasis kader. Organisasi yang karakteristik kaderisasinya adalah kaderisasi keilmuan atau intelektualitas. Jika di lingkaran yang katanya intelektual itu saja kajian keilmuan mulai kehilangan minat para anggotanya, apatahlagi lingkaran lain yang memang basisnya bukan intelektualitas?

Kalau kita mau melihat ke dalam, degradasi itu bermula dari individu-individu mahasiswa. Apatisme dan hedonisme adalah dua virus utama. Jangankan mahasiswa biasa, mahasiswa yang merupakan kader organisasi pun banyak terjangkiti virus ini. Kajian Keilmuan tidak mungkin akan berkembang pada individu yang masih menyimpan apatisme dan hedonisme.

Kedua virus ini hanya bisa diobati dengan dua cara; aktif membaca, dan aktif menulis. Membaca membantu kita mengikis akar-akar apatisme dengan memberikan kesadaran kepedulian akan keadaan sekitar. Sedangkan menulis mengasah kepekaan kita lewat gagasan-gagasan yang kita coba hadirkan dan tawarkan sebagai solusi atas permasalahan yang sudah kita baca. Kepekaan inilah yang dengan sendirinya menjauhkan kita dari sifat-sifat hedonis.

Kedua pondasi ini, membaca dan menulis, adalah stimulus yang akan terus menerus merangsang mahasiswa untuk mengkaji ilmu.

Seperti itulah kiranya.

Iklan

Bagaimana Melepaskan Diri Dari Ketergantungan Ponsel?

Penyakit paling akut bagi generasi ini bukanlah kanker atau AIDS, melainkan ketergantungan pada ponsel. Kecanduan akan perangkat bergerak ini memang bukan menyerang dan melemahkan fisik, meski pada beberapa kasus juga turut berpengaruh signifikan pada fisik, namun menyerang sesuatu yang lebih esensial dari pada itu. Dia menyerang jiwa dan pikiran pecandunya, menjebaknya dalam suatu kondisi tak terkendali yang tunduk sepenuhnya pada hasrat yang selalu meminta untuk dipuaskan.

Manusia memang dapat menjadikan berbagai macam hal sebagai candu. Candu tersebut dapat bersifat material maupun non material. Candu material misalnya alkohol, narkoba, perempuan, dan lain sebagainya. Candu non material misalnya tidur, ibadah, klepto, dan lain sebagainya. Adapun ponsel, dengan segala macam fasilitas yang ada di dalamnya; internet, media sosial, dan game, seakan menggubungkan antara dua kondisi kecanduan tersebut. Pada ponsel, ada candu yang bersifat material, berupa ponsel itu sendiri dengan segala macam embel-embelnya. Selain itu, ada juga candunya yang bersifat non material, seperti aktifitas media sosial atau bermain game.

Jika kita mengamati keadaan sekitar, dan juga mengamati diri kita sendiri, kecanduan pada ponsel ini sudah menyentuh ambang batas memprihatinkan. Kapan saja dan di mana saja ponsel itu seakan-akan tidak boleh lepas dari diri kita. Jika pun tiba-tiba terlepas, kita merasa begitu hampa. Seakan ada satu bagian dari diri kita yang hilang. Ponsel membuat kita melupakan atau minimal tidak memerhatikan segala sesuatu yang terjadi di sekeliling kita. Misalkan saja saat kita berkumpul bersama teman-teman, kita akan cenderung sibuk dengan ponsel masing-masing ketimbang membangun percakapan yang sehat dan hangat. Dorongan untuk mengabadikan momen melalui ponsel jauh lebih besar daipada keinginan untuk menikmati kebersamaan secara utuh. Menanggapi obrolan di perpesanan ponsel lebih penting bagi kita daripada obrolan yang ada di hadapan kita. Bahkan pada taraf tertentu, menggunakan ponsel sudah menjadi aktifitas kita yang utama. Sedangkan aktifitas-aktifitas lain hanyalah pengisi waktu luang di sela-sela penggunaan ponsel itu.

Sebagai teknologi, yang notabene esensinya adalah alat untuk memudahkan kehidupan manusia, ponsel tentu punya segudang manfaat. Bagi orang-orang bijak yang mampu mengendalikan dirinya dengan baik, potensi ponsel ini bisa termaksimalkan untuk segala sesuatu yang sangat menguntungkan bagi penggunanya. Sebagai seorang penulis misalnya, ponsel bisa sangat berguna untuk menangkap ide, menyusun draft, hingga melahirkan tulisan-tulisan yang bermanfaat. Bagi seorang dai, misalnya pula, ponsel bisa menjadi alat yang sangat berguna untuk menyebarluaskan pesan-pesan dakwah ke penjuru segala arah.

Dari sini sebenarnya menjadi jelas bahwa masalahnya adalah bukan menghilangkan sama sekali penggunaan ponsel sebagai solusi bagi kecanduannya sebagaimana pada kasus kecanduan narkoba, tapi bagaimana mengalihkan kecanduan tersebut menjadi kebiasaan baik yang berkelanjutan. Mengubah unsur negatif dari penggunaan ponsel menjadi potensi positif yang bermanfaat.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut aku pikir langkah pertamanya mestilah berawal dari kesadaran. Suatu pemahaman yang mendalam akan maksud dan tujuan penggunaan ponsel itu. Maka pertanyaan-pertanyaan seperti, apa manfaat yang ingin didapatkan dari ponsel dan untuk apa ponsel tersebut dipergunakan mesti terjawab mula-mula. Baru kemudian melangkah ke bagaimana memanfaatkan ponsel tersebut semaksimal mungkin untuk hal-hal yang positif. Seseorang harus punya kesadaran penuh yang berkelanjutan untuk tetap bisa terjaga dan tidak terbuai oleh godaan-godaan candu yang ada di ponsel. Maka manajemen waktu penggunaan yang efisien mesti dibarengi dengan kemampuan pengendalian diri yang cukup. Pengendalian ini dapat melibatkan orang-orang terdekat pengguna atau memanfaatkan beberapa aplikasi yang dirancang untuk membantu menghilangkan kecanduan seseorang akan ponsel. Beberapa aplikasi itu memiliki kemampuan untuk memperingatkan pengguna jika dia sudah melewati batas penggunaan yang ditentukan.

Tips lainnya yang mungkin juga bermanfaat adalah untuk tidak memasang terlalu banyak aplikasi media sosial. Tiga aplikasi media sosial sudah terlalu banyak. Pilihlah hanya aplikasi media sosial yang benar-benar dipergunakan dengan efektif dan merepresentasikan kehidupan nyata yang sebenarnya. Selain itu, perlu juga bagi kita untuk memberi jadwal-jadwal khusus bagi penggunaan aplikasi tersebut. Misalnya saja penggunaan Facebook dibatasi pada jam sekian hingga jam sekian. Jika di luar daripada jam itu maka Facebook tidak boleh digunakan.

Hanya pasang aplikasi yang berkaitan erat dengan aktifitas produktif dan profesional kita juga adalah salah satu tips yang aku rasa cukup ampuh membangun batasan yang sehat antara diri kita dengan ponsel.

Apabila kita sudah menyelesaikan masalah mendasar berupa kesadaran akan kebermanfaatan penggunaan ponsel, hal-hal selain daripada itu tidak lebih daripada perkara teknis yang sifatnya cair. Dia dapat dikembang-luaskan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.

Maka dari itu mari mulai menanam kesadaran yang kuat dalam diri kita masing-masing bahwa ponsel adalah alat untuk memudahkan kehidupan kita, bukan candu yang membawa kerusakan bagi pikiran, jiwa, dan akhirnya raga kita.

Apa yang Paling Penting Dari Membaca

Aku tengah berada di Wisma DPR RI yang terletak di kawasan Puncak. Aku di sini dalam rangka kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Bangsa yang diadakan oleh Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK). Ketika berada dalam suasana semacam ini; agenda yang memakan waktu berhari-hari, aku biasanya tidak memiliki waktu yang cukup luang untuk menyelesaikan tanggung jawab pribadi harianku dalam membaca dan menulis. Ini malam kedua aku berada di sini. Kemarin aku bisa mengatasi berbagai hambatan yang ada dan menyelesaikan tanggung jawab itu. Untuk bacaan, aku penuhi dengan cara mencuri-curi waktu di sela-sela forum kegiatan dan memanfaatkan beberapa saat sebelum tidur. Sedangkan untuk tulisan, aku berhasil memanfaatkan waktu jeda antara waktu Maghrib dan Isya untuk menuangkan apa saja yang ada di pikiranku mengenai suatu hal yang menguras energi perasaanku.

Malam ini juga aku tidak ingin gagal. Aku masih bisa melakukan sesuatu untuk memenuhi tanggung jawabku. Untuk itulah aku menulis catatan ini.

Catatan ini adalah jalan tengah bagiku untuk dapat menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan. Aku menulis tentang membaca. Sebagaimana juga aku suka membaca sesuatu tentang menulis.

Lanjutkan membaca “Apa yang Paling Penting Dari Membaca”

Antara Pengelola Perkaderan dan Penyelenggara Perkaderan

Dari kanan ke kiri: Ilham (Jakarta Raya), Syahrul (Ciputat), TB (Cilegon), Rajiv (Jakarta Selatan), Hola (Jakarta Selatan), Raja (Pandeglang), Ucu (Lebak).

Dalam peran dan fungsinya, posisi Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI adalah sebagai pengelola. Dalam artian BPL bertanggungjawab atas kualitas pelatihan/ perkaderan dan memiliki wewenang untuk bagaimana caranya agar kualitas yang diharapkan tersebut dapat tercapai.

Namun posisi BPL ini akan timpang dan tidak dapat berjalan dengan baik, atau bahkan mandeg sama sekali jika tidak ada dukungan dari struktur kepemimpinan yang ada di tubuh HMI itu sendiri. Struktur Kepemimpinan di HMI mulai dari Pengurus Besar (PB) hingga ke tingkatan Komisariat berperan sebagai penyelenggara perkaderan. Sehingga BPL sangat bergantung kepada Struktural itu untuk melahirkan perkaderan yang berkualitas.

Sebagai contoh misalkan pada tingkatan Komisariat. BPL memang berwenang untuk mengelola perkaderan yang berlangsung di komisariat itu, namun pengelolaan itu tidak akan terlaksana jika pihak Komisariat tidak menyelenggarakan satupun program perkaderan. Seperti Latihan Kader I atau Basic Training. Penyelenggaraan Basic Training adalah tugas Komisariat. Maka ia yang menentukan tanggal pelaksanaan, tempat pelaksanaan, serta teknis pelaksanaan. Lantas pada saat pelaksanaannya, BPL lah yang berwenang untuk mengelolanya. Dengan mengintruksikan beberapa anggotanya untuk menjadi Instruktur atau Master of Training. Wewenang itu juga termasuk menerapkan metode tertentu pada Basic Training itu guna mencapai tujuan yang sesuai dengan Pedoman Perkaderan. Pada wilayah pengelolaan ini, Komisariat sebagai penyelenggara bertugas menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan Instruktur atau Master of Training agar latihan/ training bisa berjalan dengan baik dan memiliki kualitas sesuai dengan yang diharapkan.

Demikianlah seterusnya pada setiap tingkatan kepempimpinan dan jenjang perkaderan di HMI. Ada Struktural yang bertindak sebagai penyelenggara, ada BPL yang bertindak sebagai pengelola. Hal serupa juga berlaku pada program-program perkaderan lainnya yang mencakup training-training formal maupun informal serta perkaderan non-formal seperti Follow Up dan Upgrading. Pihak struktural mempersiapkan penyelenggaraan perkaderan-perkaderan itu, dan BPL kemudian mengelolanya dengan berpedoman pada Pedoman Perkaderan maupun pedoman-pedoman ke-HMI-an lainnya.

Masalah akan timbul ketika Struktural maupun BPL bertindak di luar posisinya. Misalnya saja ketika Struktural mengelola sendiri Perkaderan. Seperti jika Komisariat mengelola Basic Training tanpa Instruktur BPL. Atau ketika BPL mengurusi segala hal yang berkaitan dengan Perkaderan, termasuk penyelenggaraannya (kecuali penyelenggaran perkaderan internal BPL itu sendiri.)

Kesadaran masing-masing pihak, baik BPL maupun Struktural, untuk bertindak sesuai dengan fungsi dan perannya masing-masing sangat penting untuk menghindari adanya tumpang tindih tanggung jawab maupun konflik kepentingan pada proses perkaderan. Kenyataan hari ini di mana banyak pihak yang belum memiliki kesadaran yang baik akan fungsi dan peranannya masing-masing sangat menyedihkan. Kualitas Perkaderan menjadi tebengkalai karena hal itu. Belum lagi ketika kemudian Perkaderan disusupi hal-hal yang tidak berkaitan dengannya. Seperti ketika Perkaderan menjadi arena permainan politik dan perebutan pengaruh.

Perkaderan yang sehat akan melahirkan kader-kader yang berkualitas. Kader-kader yang berkualitas akan menjadi penopang utama organisasi dan roda penggeraknya yang dapat memajukan organisasi hingga semakin dekat dengan tujuannya. Sebaliknya, perkaderan yang sakit akan melahirkan kader-kader pragmatis, miskin nilai, dan buta arah serta tujuan. Sehingga pada akhirnya malah semakin membuat organisasi jauh melenceng dari garis perjuangannya.

Menjadi Bagian dari Perkaderan

Hari ini adalah momentum bersejarah dalam hidupku. Hari ini aku, secara resmi, memulai perjalananku di dunia perkaderan di HMI. Perjalananku itu aku mulai dari sini, dari Latihan Kader II (Intermediate Training) HMI cabang Bekasi. Setelah sebelumnya melalui proses perkaderan instruktur di Senior Course yang aku ikuti beberapa waktu lalu, hari ini adalah hari di mana proses itu menampakkan benihnya yang sudah mulai bertumbuh.

Aku magang di LK ini bersama beberapa kawan sesama alumni SC HMI cabang Jakarta Barat. Mereka adalah Ferdian Mahmuda, dari HMI cabang Ciputat, dan Salim M.N. dari HMI cabang Jakarta Timur. Senang rasanya bisa bersama kawan-kawanku itu di magang pertamaku ini. Senang bisa kembali belajar bersama-sama.

Namun yang lebih menyenangkan adalah pada training ini kami dikoordinatori oleh instruktur idolaku, yunda Anah Shity Ijah Khodijah atau yang lebih dikenal dengan akronim namanya; ASIK. Suasana arena training dan kawan-kawan HMI cabang Bekasi yang akrab menambah kesenangan yang ada pada proses ini. Sehingga proses ini aku yakin tidak akan menjadi suatu perjalanan yang membosankan dan meletihkan.

Perkaderan adalah karir kedua yang bisa kader HMI geluti selain karir politik. Perkaderan yang notabene adalah ranah pengabdian, memiliki daya tariknya sendiri bagi kader-kader HMI yang punya kesadaran akan keberlangsungan regenerasi kader di tubuh HMI. Meskipun Perkaderan adalah dunia yang bisa begitu menyedot tenaga dan jiwa, tetap saja ada kader yang mengambil jalan ini karena keterpanggilan hatinya akan pengabdian.

Kader-kader yang menempuh jalan perkaderan itu bahagia ketika tunas-tunas muda dan generasi baru penggerak Himpunan lahir. Mereka bahagia ketika mengenalkan Himpunan kepada generasi muda potensial yang nantinya akan menjadi pelanjut estafet perjuangan Bangsa dan Agama.

Menjadi bagian dari Perkaderan ini adalah upayaku untuk turut menyumbangkan pengabdian. Khususnya bagi Himpunan, dan juga bagi generasi muda Indonesia pada umumnya.

Aku sendiri sadar bahwa dunia Perkaderan bukanlah dunia yang suci. Para instruktur pada Perkaderan ini bukanlah sosok-sosok maksum tanpa dosa. Maka dari itu dengan niatan yang semoga saja tulus ini aku ingin masuk ke dalam arus dan memberikan kontribusi yang juga semoga saja dapat mengarahkan arus ini ke arah yang lebih baik.

Selain itu aku juga ingin bisa menimba ilmu perkaderan sebanyak-banyaknya yang kemudian ilmu tersebut dapat aku aplikasikan dalam membangun generasi muda pada tempat di mana aku hidup nantinya. Entah itu di salah satu pondok pesantren Hidayatullah (ormas Islam tempatku berafiliasi) tempat aku mengabdi suatu saat nanti, ataupun lingkungan masyarakat di mana aku tinggal. Saat ini saja, sedikit ilmu perkaderan yang aku reguk dari HMI sudah bisa aku tetapkan ketika aku berkecimpung di Syabab Hidayatullah, sayap kepemudaan Hidayatullah.

Salah seorang kawan karibku yang juga seorang instruktur di HMI, Mualimin, pernah berkata bahwa perkaderan bukankah tentang siapa yang lebih pintar dari siapa, atau tentang tirani senioritas yang dibalut secara intelektual, melainkan tentang proses pembelajaran yang terus menerus. Di mana seorang instruktur bertugas untuk mengawal proses itu dan mendorong setiap kader agar terus menempuhnya.

Proses ini akan menjadi medan pembelajaran bagiku. Aku harus memanfaatkannya sebaik-baiknya.

Menjadi Kader Dakwah di Era Milenial

Kader Dakwah adalah pengemban Dakwah di tubuh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Mereka adalah kader-kader HMI yang tergabung dalam Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI), lembaga pengembangan profesi di HMI yang konsentrasinya ada pada bidang Dakwah. Meski setiap kader HMI sejatinya juga mengemban Dakwah sebagai bagian integral dari identitas keislamannya, Kader Dakwah adalah mereka yang secara khusus dibina untuk dapat mengemban Dakwah secara lebih profesional.

Dalam perjalanan dakwahnya, banyak tantangan yang Kader Dakwah hadapi. Salah satu yang paling serius adalah situasi dan kondisi zaman yang kini tengah berada pada era milenial. Era di mana informasi dapat disajikan jauh lebih cepat dari makanan cepat saji. Era di mana setiap orang dapat mencari tahu tentang apa saja hanya dengan mengetik beberapa kata di mesin pencari. Era di mana kehidupan di dunia maya mulai menggerus kehidupan di dunia nyata.

Era Milenial ini menjadi tantangan tersendiri bagi Kader Dakwah di mana suatu tugas dakwah tidak lagi terbatas pada penyampaian-penyampaian formal di mimbar-mimbar ceramah ataupun rubrik-rubrik dakwah di setiap majalah. Dakwah di era ini melebar sedemikian luasnya. Baik dari sisi objeknya, maupun sisi subjeknya, yaitu para pelaku dakwah.

Di era ini, Dakwah dapat ada di mana saja. Selain di masjid-masjid dan majelis-majelis, Dakwah juga ada di ruang publik yang lebih luas dan juga di media sosial, Internet, dan ruang-ruang lain di dunia maya. Dengan kata lain, ada di mana-mana. Sehingga Dakwah dapat menyentuh siapa pun. Tidak lagi terfokus pada mereka yang ingin saja. Dakwah kini menjadi lebih membumi dan merakyat.

Pada era ini pula, siapapun dengan gadget di tangan dapat menjadi seorang da’i. Atau pendakwah. Tidak penting betul apakah bacaan Qur’an-nya baik atau buruk. Atau apakah kapasitas keilmuannya di bidang Keislaman cukup dan mumpuni. Asal dia mampu merangkai kata-kata dan punya sedikit kemampuan berbicara, dia sudah sah menjadi da’i, menjadi pelaku Dakwah, orang yang menyampaikan Dakwah.

Anomali yang begitu besar ini membuat profesi da’i itu sendiri menjadi absurd. Dalam dunia di mana batas-batas menjadi kabur, batas antara seseorang yang pandai menyampaikan dakwah, dengan orang yang memang menjalani profesi sebagai seorang da’i, atau Kader Dakwah, juga turut menjelma sesuatu yang samar-samar.

Namun kondisi tersebut tidak lantas menjadikan Kader Dakwah kehilangan siginifikansinya. Kader Dakwah hanya perlu merumuskan peran yang lebih efektif dengan pembeda yang unggul dari para pelaku Dakwah lainnya.

Selain itu mereka perlu membekali diri mereka dengan kecakapan-kecakapan khas era milenial. Agar tidak ketinggalan langkah dari generasi milenial lain yang juga ingin mengambil bagian dalam dakwah meski secara membabi buta. Seperti kecakapan dalam memanfaatkan Internet, memanfaatkan dan mengelola media sosial dan kecakapan jurnalistik. Kecakapan-kecakapan tersebut adalah kecakapan dasar yang akan akan sangat membantu Kader Dakwah dalam menyampaikan Dakwah di tengah arus informasi era milenial yang sangat deras.

Kader Dakwah juga dituntut untuk dapat menyampaikan Dakwah kapan pun dan di mana pun. Pada titik ini, seorang Kader Dakwah tidak bisa lagi hanya sebatas mahir berceramah. Namun juga mesti mahir berdialog, berdiskusi, dan bahkan juga berdebat. Memiliki kemahiran literasi sehingga dapat menyebarkan dakwah dengan tulisan yang pada era ini tidak hanya terbatas pada buku, koran, dan majalah, namun meluas ke media sosial, blog, dan kanal-kanal media massa. Serta juga kemahiran konsultasi, demi dapat menjawab berbagai macam komentar yang menghampiri. Komentar-komentar yang tidak lagi dapat dibatasi maupun disaring pada era milenial yang identik dengan keterbukaan ini.

Di samping itu yang tidak kalah pentingnya untuk disadari oleh Kader Dakwah adalah meskipun siapapun dapat berdakwah di era milenial ini, Kader Dakwah tetap memiliki diferensiasi-nya sendiri di mana mereka telah memiliki bekal-bekal dasar yang menjadikan dakwah mereka adalah suatu gerakan yang profesional. Dalam artian memiliki rancang bangun yang jelas, serta visi dan misi yang lengkap serta terukur dalam suatu sistem yang rapi. Setiap orang bisa saja menjadi pelaku Dakwah, namun tidak setiap orang dapat menjadi Kader Dakwah.

Proyeksi yang cukup ideal ini bisa juga menjadi hanya sekedar slogan semata. Yaitu ketika seorang yang mengaku dirinya adalah Kader Dakwah namun dia tidak memiliki kecakapan yang profesional dalam dakwahnya itu, dan hanya berdakwah “ala kadarnya” dengan dalih hadits Rasulullah, “sampaikanlah dariku walau satu ayat.”

%d blogger menyukai ini: