Kabar Gembira Dari Pontianak

Catatan Mengenai Kemenangan HMI Pada Pilpresma IAIN Pontianak

Siang tadi, aku menerima selentingan kabar yang cukup menggembirakan. Dalam suasana siang yang menyenangkan dengan ditemani oleh karya sastra menawan dari Knut Hamsun yang baru saja mulai aku baca, kabar tersebut menambah rasa senang di hatiku.

Kabar tersebut datang dari kota yang baru-baru ini saja aku tinggalkan setelah menghabiskan waktu di sana selama dua pekan penuh; Pontianak. Kabar gembiranya berkenaan dengan kemenangan kawan-kawan HMI cabang Pontianak dalam kontestasi pemilihan presiden dan wakil presiden mahasiswa di lingkungan IAIN Pontianak.

Kandidat yang diusung oleh kawan-kawan HMI di sana, Khairul Tamam dan Badrus Saleh, berhasil memenangi pemilihan.

(BACA: Perhitungan Suara Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa IAIN Pontianak)

Kemenangan kawan-kawanku ini menggembirakan bagiku sebab selama keberadaanku di sana, kebanyakan orang-orang yang berinteraksi denganku, adalah mereka, kader-kader HMI IAIN Pontianak.

Mulai dari unsur-unsur LKD (Latihan Kader Dakwah) yang aku kelola, hingga teman ngopi, nongkrong, dan jalan-jalan, sebagian besar berasal dari kampus Islam terbesar di Kalimantan Barat tersebut.

Aku bahkan berkesempatan untuk terlibat diskusi yang diselenggarakan oleh Komisariat Dakwah, salah satu komisariat HMI di IAIN Pontianak di samping Komisariat Syariah dan Komisariat Tarbiyah, sebanyak dua kali. Sekali sebagai peserta, sekali sebagai pembicara.

Maka dari itu, sedikit banyak aku turut menyaksikan sendiri bagaimana mereka membangun konsolidasi politik internal dan menyusun kekuatan untuk menghadapi pemilihan ini. Sebagai orang luar yang mengamati pergerakan ini secara sederhana, aku bisa dengan jelas merasakan geliat antusiasme mereka untuk memenangkan kontestasi ini dengan didorong, salah satunya, oleh semangat perkaderan HMI.

Aku bahkan sempat membangun percakapan mengenai pergerakan mereka ini. Mengenai harapan-harapan mereka yang mereka titipkan pada kontestasi ini, berserta pula kekhawatiran yang menggelayuti langkah-langkah mereka.

Dalam dua kali diskusi yang mereka selenggarakan, sekali membahas mengenai refleksi pergantian tahun, dan sekali membahas mengenai Mission HMI di mana aku bertindak sebagai pembicara, aku mampu menangkap harapan beserta kekhawatiran itu.

Harapan dan kekhawatiran mereka berkutat pada bagaimana kursi kepemimpinan yang ingin mereka capai ini menentukan pergerakan HMI di internal kampus IAIN ke depannya.

Kursi kepemimpinan internal kampus memang merupakan alat yang efektif untuk memuluskan agenda perkaderan. Dengan kepemimpinan tersebut, geliat perkaderan dan perekrutan dapat diberi kesempatan yang seluas-luasnya. Sebaliknya, saat kursi kepemimpinan tersebut dipegang oleh orang-orang yang kontra dengan HMI, akan ada upaya-upaya tertentu dalam menghalang-halangi perekrutan dan perkaderan.

Kini kawan-kawan HMI IAIN Pointianak dapat bernafas lega. Namun tentu jangan sampai menjadi jumawa. Kesombongan adalah kekalahan pertama orang-orang besar. Kemenangan ini mesti disikapi dengan rendah hati. Segala niatan dan tujuan harus dikembalikan kepada basis nilai yang dianut oleh HMI. Niatan yang ikhlas dari kesadaran ilahiah akan kebenaran, dan tujuan yang mencoba mencapai ridha ilahi. Sebagaimana yang termaktub dalam pasal 04 Anggaran Dasar HMI.

Kesempatan yang diperoleh dari kursi kepemipinan ini haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan perekrutan dan perkaderan, yang merupakan fungsi utama HMI sebagai organisasi kader di mana insan cita (yang berkualitas akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan Islam, dan bertanggung-jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT) dibentuk dan dibina.

Namun kesempatan tersebut janganlah sampai memuat unsur ketidakadilan bagi pegerakan-pergerakan eksternal lainnya yang ada lingkungan kampus. Sebab tindakan tersebut justru akan berlawanan dengan nilai-nilai dasar perjuangan HMI sendiri yang begitu menujungjung kemerdekaan dalam berpikir dan bertindak. Cukuplah jika kursi kepemimpinan tersebut menjadi pembuka ruang fasilitas agar perkaderan dan perekrutan dapat berjalan dengan mulus dan tanpa tertanggu.

Terakhir, kita semua tentu harus sadar bahwa kepemimpinan adalah ujian dari Allah. Ujian yang akan memperlihatkan bagaimana kualitas kita sebagai khalifah Allah di muka bumi. Maka bagi kawan-kawan HMI di IAIN Pontianak, buktikanlah bahwa kepemimpinan yang berada di genggaman kalian ini adalah anugerah dan berkah. Bukan hanya bagi anggota dan kader HMI, melainkan juga bagi seluruh mahasiswa IAIN Pontianak.

Esensi Nilai Kemanusiaan Ada Pada Kerja-kerja Sosial

Catatan Selepas Ngaji NDP HMI Sesi ke-04 di HMI cabang Pandeglang

HMI menuntut kader-kadernya untuk mewujudkan tatanan masyarakat ideal yang dalam bahasa Konstitusi HMI, difrasakan dengan “masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.” Ini artinya, kader-kader HMI adalah mereka yang punya tanggung jawab sosial kemasyarakatan yang tinggi. Mereka adalah kader umat dan kader bangsa, yang memiliki hak sebagai pembaharu dan tanggung jawab sebagai penggerak perubahan sosial di masyarakat.

Perubahan sosial yang baik juga adalah salah satu pokok ajaran Islam. Agama dan ajaran yang menjadi asas HMI ini menuntut para pemeluknya untuk menjadi para penegak keadilan. Menjadi penggerak perubahan sosial ke arah yang lebih baik, ke arah yang berketuhanan yang maha esa. Semangat ke-tauhid-an yang menyala-nyala menjadi spirit kader-kader HMI dalam mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Maka dari itu, tidak heran apabila Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI menjadikan wacana manusia sebagai penggerak perubahan sosial sebagai salah satu nilainya yang paling esensial. Wacana tersebut sudah mengemuka dimulai dari BAB II NDP HMI yang bertajuk, “Pengertian-pengertian Dasar Tentang Kemanusiaan.”

Pada Jumat (22/9) lalu aku bersama kawan-kawan HMI cabang Pandeglang mengaji NDP HMI pada BAB ini. Kajian yang sudah menginjak kali keempat itu terselenggara di sela-sela Basic Training HMI Komisariat STAIBANA, Pandeglang. Hadir dalam kajian tersebut anggota HMI cabang Pandeglang dari berbagai Komisariat.

Pembahasan mengenai “Pengertian-pengertian Dasar Tentang Kemanusiaan” dimulai dari wacana bahwa sebagai hamba dan wakil Allah dimuka Bumi, manusia telah dianugerahi suatu instrumen bawaan yang akan menuntun manusia dalam rangka memenuhi tugasnya tadi. Instrumen itu adalah fithrah. Fithrah merupakan kecendrungan manusia kepada Kebenaran (hanief). Kecendrungan ini tertanam di dalam hati nurani manusia. Membuatnya mampu merasakan kebenaran, kebaikan, dan keindahan pada dirinya dan apa yang ada di sekitarnya. Juga membuatnya merasa berat hati dan gelisah akan kesalahan, keburukan, dan kejelekan yang meracuni dirinya dan juga menimpa tatanan masyarakatnya (bangsa dan negara).

Pembahasan kemudian berlanjut pada kesadaran bahwa nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang manusia condong kepadanya itu tampak pada kerja-kerjanya sehari-hari. Kerja-kerja sosial yang berorientasi pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan adalah inti dari kemanusiaan yang ada pada dirinya. Maka dengan menuruti fithrah yang tertanam di dalam hati nuraninya, manusia sejatinya tengah menguatkan dan mengokohkan kemanusiaannya. Kerja-kerja sosial tersebut akan membawa manusia menuju kebahagiaannya.

Kebahagiaan manusia dalam prespektif NDP HMI, terletak pada kerja-kerjanya sebagai individu dalam suatu tatanan masyarakat (bangsa dan negara) yang cenderung kepada kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Kerja-kerja semacam itu adalah kerja-kerja yang ikhlas. Kerja yang tidak mengharapkan, atau tidak berorientasi apapun di luar dari pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang terdapat dalam pekerjaan itu sendiri. Kerja ikhlas yang hanya mengharapkan dan berorientasi pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan ini pada akhirnya akan membawa manusia kepada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang mutlak. Yakni tuhannya, Allah SWT. Pangkal dan tujuan pekerjaan manusia yang ikhlas, adalah Allah SWT. Keikhlasan yang semata-mata untuk Allah inilah sumber dari kebahagiaan manusia.

Semangat pekerjaan yang berlandaskan nilai Ikhlas ini kemudian mesti terterapkan pada kehidupannya sehari-hari. Pada kerja-kerjanya sebagai individu yang merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Sebab nilai-nilai yang tidak terterapkan dalam kehidupan sehari-hari, akan kehilangan arti dan maknanya. Oleh karena itu manusia muslim dalam prespektif NDP HMI, dituntut untuk bisa melakukan kerja-kerja yang sifatnya sosial. Kader HMI, dalam usahanya untuk menyempurnakan kemanusiaannya sebagai hamba dan wakil Allah di muka Bumi, harus berperan aktif dalam memperjuangkan tatanan masyarakat berkeadilan yang makmur. Tanpa kerja-kerja sosial dalam perjuangan tersebut, kemanusiaan kader-kader HMI, dan juga manusia muslim pada umumnya, kehilangan arti dan maknanya.

Sekelumit pembahasan mengenai esensi nilai kemanusiaan dengan kesimpulan bahwa esensi tersebut terletak pada kerja-kerja sosial ini berjalan mengalir pada kajian kami malam itu. Tanpa terasa, waktu lima jam berlalu dengan berbagai debat dan diskusi mengenai topik yang kami bahas.

Belakangan ini, gelombang aksi demonstrasi kader HMI di berbagai cabang dari penjuru-penjuru Indonesia bergejolak. Termasuk di Pandeglang. Kesadaran kemanusiaan yang dipetik dari Nilai-nilai Dasar Perjuangan HMI ini mesti mewarnai aksi-aksi tersebut. Sehingga setiap gerak langkah dan teriakan-teriakan orasi kader-kader HMI itu bukanlah langkah dan teriakan yang mengharapkan pamrih atau unsur-unsur keduniaan lainnya. Melainkan semata-mata demi menegakkan kebenaran, kebaikan, dan keindahan dalam rangka mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Aku berharap, kajianku bersama kawan-kawan HMI cabang Pandeglang ini dapat memantik kesadaran kemanusiaan tersebut yang kemudian akan memberi warna yang signifikan pada aksi-aksi sosial mereka di lapangan. Semoga.

Tikungan Tajam Perkaderan

Romantisisme Dalam Proses Perkaderan Himpunan

LINGKUNGAN perkaderan di Himpunan adalah sketsa di mana beragam manusia dari beragam latar belakang hadir dan hidup bersama-sama. Jalinan interaksi manusia-manusia itu melahirkan berbagai cerita yang menarik.

Beberapa dari cerita-cerita itu adalah romansa. Jenis cerita inilah yang aku rasa paling menarik dari jenis cerita yang lainnya. Romansa yang tercipta selama perkaderan di Himpunan berlangsung, tidak kalah menarik dengan romansa yang ada di karya puisi dan prosa.

Manusia-manusia yang terlibat dalam suatu momentum perkaderan di Himpunan minimal terdiri dari empat golongan. Pertama, para pemandu. Atau yang biasa lebih dikenal dengan panggilan “master,” berasal dari frasa Master of Training (pemandu pelatihan.) Kedua, peserta perkaderan. Ketiga, panitia penyelenggara. Keempat, para pengunjung.

Keempat golongan manusia ini berinteraksi dan bersosialisasi dalam satu lingkungan secara intens selama beberapa hari. Dari interaksi yang intens ini, wajar jika kemudian beberapa di antara mereka terlibat romansa. Atau yang biasa disebut dalam bahasa gaul sebagai cinlok (cinta lokasi).

Bentuknya pun beragam. Romansa itu bisa terjadi antar peserta. Antar peserta dengan master, atau dengan panitia. Bahkan antar para master.

img-20180719-wa0011
Master of Training

Jika kita melandaskan pemikiran pada prinsip bahwa cinta bisa terjadi pada siapa saja kepada siapa saja dalam kondisi apapun dan di manapun, kenyataan semacam ini tentu wajar adanya.

Bukan merupakan kesalahan jika ada benih-benih cinta yang kemudian tumbuh dan berkembang antar manusia yang terlibat dalam satu perkaderan yang sama. Meskipun ada di antara manusia itu, yakni para master, yang terikat dengan serangkaian kode etik untuk menjaga profesionalitas mereka dalam mengelola pelatihan.

Hal yang menarik dari romansa ini bukanlah pada kenyataan akan keberadaannya. Melainkan pada fenomena tikung-menikung pada proses pematangan romansa yang terjadi di sana.

Tentang Tikung-Menikung

img-20180721-wa0019
Para Penikung Potensial

Tikung-menikung maksudnya adalah tindakan seseorang untuk mengambil alih hubungan percintaan orang lain dengan mengalihkan perasaan objek cintanya kepada dirinya sendiri. Secara kasar, “menikung” di sini maksudnya adalah “merebut” gebetan orang.

Ungkapan “merebut” sebenarnya kurang pas. Karena biasanya dalam proses ambil alih tersebut, sang objek belum benar-benar terikat oleh satu komitmen percintaan tertentu.

Ilustrasinya begini; Si B sedang berupaya mendekati si A. Saat upaya pendekatannya tengah berlangsung, tiba-tiba ada si G yang mengambil alih perhatian si A dari si B. Meskipun toh si G juga belum tentu akan jadian dengan si A, tindakan si G ini sudah bisa dikatakan sebagai “menikung” si B.

Fenomena tikung-menikung ini ada karena pada dasarnya satu sosok, laki-laki maupun perempuan, sangatlah mungkin disukai oleh lebih dari satu orang.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa jika sejak pertama sosok yang disukai lebih dari satu orang ini tidak memberikan tanggapan apa-apa atas upaya pendekatan yang dilakukan atasnya dari siapapun, fenomena tikung-menikung tidak akan muncul.

Fenomena itu muncul jika si sosok pada mulanya memberikan harapan kepada seseorang yang mendekatinya kemudian lantas mengalihkan harapan tersebut ke orang lain karena sebab-sebab tertentu yang datang dari orang lain itu. Pada titik inilah orang pertama telah “menikung” orang kedua.

Jika menilik pada hakikat kemerdekaan dalam berperasaan, tikung-menikung adalah hal biasa dalam proses seseorang mencari pasangan yang tepat bagi hidupnya.

Namun situasi bisa jadi runyam jika korban-korban tikungan, yang kadangkala sangat tajam, terlalu baper (bawa perasaan).

Kebaperan korban tikungan bisa berakibat pada memburuknya relasi-relasi sosial yang ia jalani. Terutama relasinya dengan objek perasaan cintanya dan juga dengan sang penikung.

Selain itu, menjadi korban tikungan mestilah menyisakan rasa sakitnya sendiri di dalam hati.

Lingkungan Perkaderan; Arena Balapan Penuh Tikungan

img_20180721_091405
Setiap Tikungan Adalah Kesempatan

Percintaan adalah perlombaan. Katakanlah begitu. Dalam upaya untuk menyentuh hati seseorang yang kita cintai dan menjadikannya kekasih kita, sejatinya kita tengah berada dalam perlombaan. Sebab selain kita, tentu ada orang lain yang juga ingin menyentuh hati seseorang yang kita cintai itu.

Dalam lingkungan perkaderan, berbagai percintaan terjadi. Ada seorang master naksir salah seorang peserta. Ada peserta yang kesemsem dengan peserta lainnya. Ada pula panitia yang menaruh perhatian khusus kepada peserta tertentu. Serta berbagai bentuk percintaan lainnya.

Jika ada satu saja sosok yang didekati lebih dari satu orang, maka otomatis akan ada perlombaan. Fenomena tikung-menikung pun menjadi tak terhindarkan. Beberapa tikungan itu bisa begitu sangat tajam dan menyakitkan.

Beberapa hari yang lalu, aku baru selesai mengelola pelatihan di HMI cabang Jakarta Pusat Utara. Pada pelatihan bertajuk Intermediate Training (Latihan Kader 2) itu, yang juga dibarengi dengan training Senior Course (SC), ada sekitar 100-an orang yang terlibat secara intens selama masa 10 hari training.

Dengan komposisi laki-laki dan perempuan sekitar 3:1, kemungkinan adanya cinlok-cinlok sangat besar. Besarnya kemungkinan ini juga berimplikasi pada mencuatnya beberapa tikungan. Pada beberapa sosok tertentu, nuansa persaingan dan tikung-menikung begitu kuat dan kental.

Dalam catatanku saja, yang tentu tidak mewakili kenyataan yang sebenarnya, ada sekitar 5 romansa. Cerita-cerita romansa itu sampai kepadaku melalui penuturan pelakunya. Sebagian dari romansa tersebut lebih rumit dari pada yang lain. Karena melibatkan begitu banyak orang.

Pada romansa yang rumit itu berbagai praktik tikung-menikung terjadi. Korbannya pun bukan hanya satu dua orang.

Berbagai tindakan kreatif bermunculan untuk menghasilkan tikungan yang cantik. Tikungan yang pada akhirnya akan mengantar pada kemenangan dalam perlombaan.

Fenomena ini menarik bagiku. Menjadi catatan yang bagus untuk disimpan. Namun ada beberapa bagiannya yang cukup membuatku miris. Bahkan sedih. Beberapa dari korban tikungan itu ternyata tersakiti dengan begitu dalamnya.

Kenyataan ini membuatku lantas berpikir, apa sebenarnya yang mampu membuat seseorang bertahan dalam perlombaan yang penuh dengan tikungan ini?

Bagaimana Bertahan Pada Tikungan Tajam

img-20180723-wa0013
Bersyukur dan Ikhlas

Manusia adalah makhluk merdeka. Kemerdekaan adalah nilai kemanusiaan yang paling esensial. Itulah salah satu nilai yang termaktub dalam doktrin perjuangan Himpunan. Seorang kader Himpunan akan memaknai kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya.

Paulo Coelho, pengarang asal Brazil, pernah berkata bahwa “Kamu tidak akan memahami cinta sebelum kamu memahami Kemerdekaan.”

Mencintai seseorang, berarti menginginkan kebaikan penuh bagi orang tersebut. Kita berharap kita mampu memberikan yang terbaik bagi seseorang yang kita cintai. Bagi seorang manusia, tidak ada yang lebih baik daripada kemerdekaan dirinya.

Sehingga saat kita mencintai seseorang, kita memberikan kepadanya kemerdekaannya sepenuh-penuhnya. Kita menghargai setiap pilihan yang dia ambil dengan setulus-tulusnya. Meski pilihan itu bukanlah kita.

Inilah maksud dari perkataan Paulo Coelho tadi. Dengan memahami hakikat kemerdekaan, kita dapat sadar bahwa cinta kita kepada seseorang jangan sampai malah bermaksud merenggut kemerdekaannya.

Cinta yang merenggut kemerdekaan, adalah cinta yang tidak tulus karena disusupi oleh egoisme. Hasrat yang mendorong kita memaksa orang yang kita cintai melakukan apapun yang kita inginkan. Padahal dirinya adalah manusia merdeka yang bebas dengan segala pilihan serta tanggung jawabnya.

Dengan memahami ini, tikungan tajam tidak akan terasa menyakitkan. Apalagi sampai membunuh. Dengan memahami ini, tikungan setajam apapun tidak akan membuat kita jatuh, melainkan akan membuat kita bangkit dan lebih kencang melaju.

Ngaji NDP Bersama Kawan-kawan HMI Cabang Pandeglang

Akhir pekan ini menjadi suatu momentum yang menyenangkan bagiku. Berawal dari obrolan lepas bersama Fikri Anidzar Albar, kawan seperjuanganku pada LK2 HMI cabang Cilegon 2015 yang kini menjabat sebagai Ketua Umum HMI cabang Pandeglang, aku berkesempatan mengaji Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI bersama kawan-kawan HMI cabang Pandeglang.

Selepas Training of Trainer (TOT) NDP HMI yang terselenggara pada bulan Ramadhan kemarin, kami para lulusannya dibebani dengan tanggungan magang untuk mengisi materi NDP. Bukan apa-apa, hanya sekadar sebagai penguat pendalaman materi yang sudah kami dapatkan dan juga sebagai sarana berbagi pengetahuan dengan kawan-kawan kader HMI lainnya.

Pada obrolanku bersama Fikri, aku meminta pertolongannya agar menjadi fasilitator bagi magangku di lingkungan HMI cabang Pandeglang. Permintaanku ini dia sambut dengan antusias. Bahkan dengan bersemangat dia langsung menetapkan waktu pelaksanaannya pada hari Sabtu (07/07) ini.

Setelah segala persiapan teknis selesai HMI cabang Padeglang persiapkan, yang dalam hal ini bergerak di bawah arahan Kabid. PA HMI cabang Pandeglang, Tubagus Sofyan Taufiq, aku mempersiapkan diriku untuk keberangkatan ke tempat ini.

Beruntung, pada Jumat malam (06/07) aku mendapat kabar dari Fikri bahwa salah satu senior HMI cabang Pandeglang akan berangkat dari Jakarta menuju Pandeglang dan aku dapat menumpangi mobilnya. Kesempatan bagus ini tidak aku sia-siakan. Mengendarai mobil pribadi, selain lebih murah karena ongkos perjalanan sudah barang tentu gratis, juga lebih nyaman daripada mesti berpayah-payahan naik kereta atau bis.

Senior yang merupakan mantan Ketua Umum HMI cabang Pandeglang, bernama Iin Muchlisin itu merupakan kawan perjalanan yang menyenangkan. Sepanjang perjalanan selama sekitar empat jam itu kami membicarakan banyak hal. Mulai dari wacana-wacana seputar politik dan pergerakan hingga tren teknologi dan gadget.

Kami tiba di Pandeglang pada sepertiga malam terakhir. Karena Fikri tidak membalas pesanku, Kanda Iin mengajakku untuk menginap saja di kediamannya.

Rumah Kanda Iin terletak di kaki gunung Pulosari. Udara dingin menyambut kami sesampainya kami di sana. Aku langsung merebahkan diriku begitu tiba.

Pada pagi harinya Fikri datang menjemputku. Tempat yang akan dipergunakan untuk acara ngaji NDP ini terletak di sautu desa di daerah Labuan. Mengambil tempat pada sebuah pondok pesantren yang bernama Ponpes Asy-Syadzili.

Kami berangkat dari Pulosari saat hari mulai beranjak siang setelah sebelumnya menyantap sarapan di kediaman kanda Iin dan tiba pada waktu Zuhur.

Saat tiba di tempat acara, baru ada Tubagus dan Asep, kader HMI Pandeglang yang merupakan tuan rumah acara ini. Dia santri di ponpes Asy-Syadzili itu. Setelah menunaikan salat Zuhur, kami menyantap makan siang yang disediakan pihak ponpes.

Ponpes ini adalah pesantren tradisional (salafiyah). Letaknya berada di tengah-tengah hamparan sawah dan cukup jauh aksesnya dari jalan raya. Kondisi ini yang kemudian menjadikan kader-kader HMI cabang Pandeglang yang ingin turut hadir dalam acara ini kesulitan mencari lokasinya.

Setelah para peserta acara ngaji NDP berkumpul, kami pun memulainya. Tinggal setengah jam lagi sebelum salat Ashar saat itu.

Aku membuka diskusi dengan memaparkan secara ringkas sejarah perumusan NDP. Bagaimana NDP ini merupakan kesimpulan suatu perjalanan spiritual sekaligus emosional yang Cak Nur jalani. Selepas itu aku juga menjelaskan mengenai hakikat NDP yang merupakan nilai-nilai pokok ajaran Islam menurut HMI yang diintisarikan dari al-Quran dan as-Sunnah.

Azan Ashar berkumandang. Kami menjeda forum untuk menunaikan Shalat berjamaah.

Setelah menunaikan salat Ashar, kajian kami lanjutkan. Pada sesi kali ini aku membuka diskusi dengan menjelaskan mengenai hubungan korelatif antara al-Quran, NDP, kader HMI, dan masyarakat. Penjelasan sederhananya adalah al-Quran sebagai pedoman hidup umat Islam nilai-nilainya secara kontekstual terjelaskan dalam teks NDP. Kemudian teks tersebut kader HMI jadikan filosofi gerakan perjuangannya dalam melakukan perubahan sosial di masyarakat.

Penjelasan lalu aku lanjutkan pada pemahaman holisitik mengenai topik-topik yang ada di NDP. Topik-topik tesebut secara umum terbagi tiga, ketuhanan, kemanusiaan, dan kemasyarakatan. Dari ketiga topik tersebut, dapat dipetik tiga nilai esensial yang NDP usung. Yakni tauhid, kemerdekaan, dan keadilan.

Selanjutnya, aku meminta para peserta kajian untuk menyebutkan satu per satu bab dalam NDP kemudian aku jelaskan apa saja kiranya yang menjadi nilai-nilai pokok pada bab itu.

Dengan metodologi penyampaian yang deduktif ini, di mana aku langsung mengemukakan poin penting kesimpulan dari suatu bab baru kemudian memberikan argumentasi penjelasnya, aku berharap para peserta kajian mendapatkan gambaran yang menyeluruh, meski belum begitu utuh, mengenai isi kandungan NDP.

Selain itu, aku juga ingin menghapus trauma pasca LK1 yang membebani psikologi mereka bahwa materi NDP itu berat, sulit, dan berputar-putar di kisaran wacana teologis semata.

Satu hal yang aku pikir tepat adalah bahwa kawan-kawan di HMI cabang Pandeglang ini lebih membutuhkan pemahaman NDP yang bersifat praktis ketimbang teoritis. Sebab tipikal mereka adalah tipikal aktivis demonstran yang fokus pada wacana ketidakadilan pemerintah dan pembelaan hak-hak rakyat yang terampas. Mereka membutuhkan spirit ideologis untuk menjadi bahan bakar perjuangan mereka. Bagi kader HMI, spirit tersebut tentu saja ada di NDP. Namun mereka akan terhalangi dari spirit tersebut saat NDP disampaikan kepada mereka dalam bentuk yang terlampau teoritis.

Kajian kami akhiri saat senja menjelang. Selepas foto bersama, aku, Fikri, dan beberapa kawan HMI cabang Pandeglang bergeser ke Cafe Badak yang terletak di kota Labuan. Cafe ini dimiliki dan dikelola oleh senior HMI cabang Pandeglang bernama kanda Hussain. Di sini aku dan kawan-kawan dijamu dengan makanan dan minuman.

Selepas menunaikan salat Maghrib di Cafe, kami melanjutkan perjalanan untuk menikmati malam di Pantai Carita. Kebetulan ada salah seorang anggota HMI cabang Pandeglang yang orang-tuanya adalah pengelola salah satu titik wisata di pantai tersebut. Kami mendapatkan akses masuk secara gratis berkat itu.

Kami tidak sekadar menikmati malam di Pantai Carita. Atas permintaan Fikri dan kawan-kawan yang lain, total ada kami berenam saat itu, aku melanjutkan pemaparan NDP. Kali ini, aku mengajak mereka mendalami bab Dasar-Dasar Kepercayaan. Aku mengajak mereka berdialog mengenai topik-topik yang ada di bab itu. Mulai dari topik tentang Kepercayaan, hingga Hari Kiamat.

Tanpa terasa malam mulai larut. Kami meninggalkan Pantai Carita pada pukul sebelas malam. Kami berpindah menuju kediaman Ahmad Munirudin, Wakil Sekretaris Umum bidang PU (Pemberdayaan Umat) HMI cabang Pandeglang, di mana aku akan menginap sebelum esoknya kembali ke Jakarta.

Pengalamanku dengan Pandeglang adalah pengalaman yang menyenangkan dan penuh dengan kehangatan persahabatan. Aku antusias untuk kembali mengunjungi daerah ini, entah dengan niatan perkaderan ataupun sekadar kunjungan jalan-jalan. Ada sesuatu dari Pandeglang yang selalu membuatku rindu. Untuk sesuatu itulah aku akan kembali lagi.

Ketika Hal Pertama yang Aku Lakukan di Pagi Hari Adalah Membuka Ponsel

Aku tidur hampir sepanjang hari dan baru terbangun beberapa jam sebelum Maghrib. Hari libur ini, yang ditetapkan sebagai hari libur karena pegelaran pilkada serentak yang mana tidak termasuk pilkada Jakarta sehingga aku tidak perlu ikut-ikutan bangun ini, memberikan suasana kantuk yang nikmat. Belum lagi cuaca yang cenderung dingin belakangan ini. Bahkan pada siang hari matahari hanya sedikit tampak dan langit dikuasai warna abu-abu. Mendekam dalam selimut menjadi sesuatu yang paling menyenangkan untuk dilakukan.

Sebenarnya aku sempat terbangun di pagi hari. Pada malam hari sebelumnya, sesaat sebelum aku tidur, aku sudah merencanakan agar aku bisa mengerjakan lanjutan dari proyek terjemahan yang sedang aku garap dan juga membaca beberapa halaman dari buku yang akan aku presentasikan dalam sebuah ulasan. Namun pada saat terbangun di pagi hari itu, kemalasan begitu saja menyergapku. Saat itu, aku tidak begitu memerdulikannya dan malah menikmatinya. Baru kemudian saat-saat sore hari, di mana aku tidak mungkin tidur lebih lama lagi dan benar-benar harus bangun, aku baru menyesali kemalasanku tersebut. Aku mulai merenung dan berpikir, mengapa dia begitu mudah menaklukan diriku?

Aku ingat, ternyata ada yang salah dengan aktifitas pagiku. Seharusnya hal-hal yang pertama kali aku lakukan ketika membuka mata di pagi hari adalah; minum air putih, ke kamar mandi, menulis morning pages lalu sarapan. Tapi tadi pagi tidak. Hal yang pertama kali aku lakukan adalah meraih ponselku dan mengecek WhatsApp. Kemudian aku pun tenggelam dalam percakapan-percakapan grup yang seakan tidak ada habisnya. Sebagian besar percakapan adalah keriuhan pilkada.

Bosan dengan percakapan tersebut aku pun menutup WhatsApp. Namun masalah tetap berlanjut. Ibarat kata, keluar dari mulut singa malah masuk ke mulut buaya. Selepas menutup WhatsApp aku malah membuka Instagram. Manyaksikan satu persatu Story yang juga seakan tidak ada habisnya. Dari Instagram aku kemudian masuk ke YouTube. Semakin tenggelam lah diriku ke dalam ponselku yang kemudian membuatku sama sekali lupa dengan apa-apa yang seharusnya aku kerjakan. Aku baru berhenti memegang ponselku saat baterainya habis. Tapi alih-alih bangkit dari pembaringan, aku malah melanjutkan tidurku.

Sempurnanya kemalasanku mulai pagi hingga sore tadi aku lihat bermula dari satu problem utama; aku mengawali pagiku dengan buruk. Saat ponsel mengambil-alih aktifitas pagiku saat itu pula aku sudah memulai suatu hari yang buruk. Mengawali hari dengan ponsel adalah penyebab utama kemalasan diriku. Karena kecanduan dengan ponsel aku jadi tidak menghiraukan apapun di luarnya. Aku menjadi apatis.

Pagi hari yang baik memang sangat menentukan bagi tingkat produktifitas seseorang. Para pengusaha sukses dan penulis-penulis besar selalu mengawali pagi hari mereka dengan serangkaian aktifitas produktif yang khas. Sebagian penulis, misalnya, memanfaatkan pagi hari untuk menuangkan apapun yang ada di dalam pikirannya ke dalam bentuk tulisan. Aku pun menganut sistem semacam ini. Sistem yang aku anut adalah Morning Pages yang digagas oleh Julia Cameron dalam bukunya, The Artist Way.

Maka ketika pagi hari diambil-alih oleh hal-hal yang buruk dan tidak produktif, hampir dapat dipastikan sepanjang hari yang tersisa akan terasa buruk dan akan ada efek negatif siginifikan yang mengakibatkan menurunnya kualitas produktifitas.

Dari sini aku ingin membangun komitmen untuk tidak memegang ponsel hingga seluruh rutinitas pagiku selesai. Terutama Morning Pages. Komitmen ini sebenarnya sudah lama ada di dalam hatiku namun dalam perjalanannya komitmen tersebut belum cukup kuat tertanam. Aku masih saja suka terpengaruh dengan gagasan untuk meraih ponsel saat pertama kali membuka mata. Awalnya gagasan itu hanya berupa gagasan untuk mengecek jam. Namun kemudian malah berkembang menjadi gagasan untuk turut mengecek perpesanan, terutama WhatsApp, dan media sosial, terutama Instagram. Akhirnya gagasan semula yang cuma ‘mengecek’ sepenuhnya beralih menjadi ‘menghabiskan waktu’. Waktuku habis untuk bermain-main di ruang perpesanan dan media sosial.

Kecendrungan yang buruk itu semakin lama semaki memberikan efek candu. Jika aku tidak segera mengambil langkah yang benar-benar tegas, bukan sesuatu yang tidak mungkin jika di kemudian hari aku benar-benar mengidap penyakit nophonephobia. Aku tentu tidak ingin hal itu terjadi. Aku ingin pagi hariku berjalan dengan baik dan memberi energi yang cukup bagi pikiran dan jiwaku sehingga aku bisa menjalani hariku dengan produktif.

Aku harus benar-benar BERUSAHA!

%d blogger menyukai ini: