Esensi Nilai Kemanusiaan Ada Pada Kerja-kerja Sosial

Catatan Selepas Ngaji NDP HMI Sesi ke-04 di HMI cabang Pandeglang

HMI menuntut kader-kadernya untuk mewujudkan tatanan masyarakat ideal yang dalam bahasa Konstitusi HMI, difrasakan dengan “masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.” Ini artinya, kader-kader HMI adalah mereka yang punya tanggung jawab sosial kemasyarakatan yang tinggi. Mereka adalah kader umat dan kader bangsa, yang memiliki hak sebagai pembaharu dan tanggung jawab sebagai penggerak perubahan sosial di masyarakat.

Perubahan sosial yang baik juga adalah salah satu pokok ajaran Islam. Agama dan ajaran yang menjadi asas HMI ini menuntut para pemeluknya untuk menjadi para penegak keadilan. Menjadi penggerak perubahan sosial ke arah yang lebih baik, ke arah yang berketuhanan yang maha esa. Semangat ke-tauhid-an yang menyala-nyala menjadi spirit kader-kader HMI dalam mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Maka dari itu, tidak heran apabila Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI menjadikan wacana manusia sebagai penggerak perubahan sosial sebagai salah satu nilainya yang paling esensial. Wacana tersebut sudah mengemuka dimulai dari BAB II NDP HMI yang bertajuk, “Pengertian-pengertian Dasar Tentang Kemanusiaan.”

Pada Jumat (22/9) lalu aku bersama kawan-kawan HMI cabang Pandeglang mengaji NDP HMI pada BAB ini. Kajian yang sudah menginjak kali keempat itu terselenggara di sela-sela Basic Training HMI Komisariat STAIBANA, Pandeglang. Hadir dalam kajian tersebut anggota HMI cabang Pandeglang dari berbagai Komisariat.

Pembahasan mengenai “Pengertian-pengertian Dasar Tentang Kemanusiaan” dimulai dari wacana bahwa sebagai hamba dan wakil Allah dimuka Bumi, manusia telah dianugerahi suatu instrumen bawaan yang akan menuntun manusia dalam rangka memenuhi tugasnya tadi. Instrumen itu adalah fithrah. Fithrah merupakan kecendrungan manusia kepada Kebenaran (hanief). Kecendrungan ini tertanam di dalam hati nurani manusia. Membuatnya mampu merasakan kebenaran, kebaikan, dan keindahan pada dirinya dan apa yang ada di sekitarnya. Juga membuatnya merasa berat hati dan gelisah akan kesalahan, keburukan, dan kejelekan yang meracuni dirinya dan juga menimpa tatanan masyarakatnya (bangsa dan negara).

Pembahasan kemudian berlanjut pada kesadaran bahwa nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang manusia condong kepadanya itu tampak pada kerja-kerjanya sehari-hari. Kerja-kerja sosial yang berorientasi pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan adalah inti dari kemanusiaan yang ada pada dirinya. Maka dengan menuruti fithrah yang tertanam di dalam hati nuraninya, manusia sejatinya tengah menguatkan dan mengokohkan kemanusiaannya. Kerja-kerja sosial tersebut akan membawa manusia menuju kebahagiaannya.

Kebahagiaan manusia dalam prespektif NDP HMI, terletak pada kerja-kerjanya sebagai individu dalam suatu tatanan masyarakat (bangsa dan negara) yang cenderung kepada kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Kerja-kerja semacam itu adalah kerja-kerja yang ikhlas. Kerja yang tidak mengharapkan, atau tidak berorientasi apapun di luar dari pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang terdapat dalam pekerjaan itu sendiri. Kerja ikhlas yang hanya mengharapkan dan berorientasi pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan ini pada akhirnya akan membawa manusia kepada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang mutlak. Yakni tuhannya, Allah SWT. Pangkal dan tujuan pekerjaan manusia yang ikhlas, adalah Allah SWT. Keikhlasan yang semata-mata untuk Allah inilah sumber dari kebahagiaan manusia.

Semangat pekerjaan yang berlandaskan nilai Ikhlas ini kemudian mesti terterapkan pada kehidupannya sehari-hari. Pada kerja-kerjanya sebagai individu yang merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Sebab nilai-nilai yang tidak terterapkan dalam kehidupan sehari-hari, akan kehilangan arti dan maknanya. Oleh karena itu manusia muslim dalam prespektif NDP HMI, dituntut untuk bisa melakukan kerja-kerja yang sifatnya sosial. Kader HMI, dalam usahanya untuk menyempurnakan kemanusiaannya sebagai hamba dan wakil Allah di muka Bumi, harus berperan aktif dalam memperjuangkan tatanan masyarakat berkeadilan yang makmur. Tanpa kerja-kerja sosial dalam perjuangan tersebut, kemanusiaan kader-kader HMI, dan juga manusia muslim pada umumnya, kehilangan arti dan maknanya.

Sekelumit pembahasan mengenai esensi nilai kemanusiaan dengan kesimpulan bahwa esensi tersebut terletak pada kerja-kerja sosial ini berjalan mengalir pada kajian kami malam itu. Tanpa terasa, waktu lima jam berlalu dengan berbagai debat dan diskusi mengenai topik yang kami bahas.

Belakangan ini, gelombang aksi demonstrasi kader HMI di berbagai cabang dari penjuru-penjuru Indonesia bergejolak. Termasuk di Pandeglang. Kesadaran kemanusiaan yang dipetik dari Nilai-nilai Dasar Perjuangan HMI ini mesti mewarnai aksi-aksi tersebut. Sehingga setiap gerak langkah dan teriakan-teriakan orasi kader-kader HMI itu bukanlah langkah dan teriakan yang mengharapkan pamrih atau unsur-unsur keduniaan lainnya. Melainkan semata-mata demi menegakkan kebenaran, kebaikan, dan keindahan dalam rangka mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Aku berharap, kajianku bersama kawan-kawan HMI cabang Pandeglang ini dapat memantik kesadaran kemanusiaan tersebut yang kemudian akan memberi warna yang signifikan pada aksi-aksi sosial mereka di lapangan. Semoga.

Iklan
%d blogger menyukai ini: