Kabar Gembira Dari Pontianak

Catatan Mengenai Kemenangan HMI Pada Pilpresma IAIN Pontianak

Siang tadi, aku menerima selentingan kabar yang cukup menggembirakan. Dalam suasana siang yang menyenangkan dengan ditemani oleh karya sastra menawan dari Knut Hamsun yang baru saja mulai aku baca, kabar tersebut menambah rasa senang di hatiku.

Kabar tersebut datang dari kota yang baru-baru ini saja aku tinggalkan setelah menghabiskan waktu di sana selama dua pekan penuh; Pontianak. Kabar gembiranya berkenaan dengan kemenangan kawan-kawan HMI cabang Pontianak dalam kontestasi pemilihan presiden dan wakil presiden mahasiswa di lingkungan IAIN Pontianak.

Kandidat yang diusung oleh kawan-kawan HMI di sana, Khairul Tamam dan Badrus Saleh, berhasil memenangi pemilihan.

(BACA: Perhitungan Suara Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa IAIN Pontianak)

Kemenangan kawan-kawanku ini menggembirakan bagiku sebab selama keberadaanku di sana, kebanyakan orang-orang yang berinteraksi denganku, adalah mereka, kader-kader HMI IAIN Pontianak.

Mulai dari unsur-unsur LKD (Latihan Kader Dakwah) yang aku kelola, hingga teman ngopi, nongkrong, dan jalan-jalan, sebagian besar berasal dari kampus Islam terbesar di Kalimantan Barat tersebut.

Aku bahkan berkesempatan untuk terlibat diskusi yang diselenggarakan oleh Komisariat Dakwah, salah satu komisariat HMI di IAIN Pontianak di samping Komisariat Syariah dan Komisariat Tarbiyah, sebanyak dua kali. Sekali sebagai peserta, sekali sebagai pembicara.

Maka dari itu, sedikit banyak aku turut menyaksikan sendiri bagaimana mereka membangun konsolidasi politik internal dan menyusun kekuatan untuk menghadapi pemilihan ini. Sebagai orang luar yang mengamati pergerakan ini secara sederhana, aku bisa dengan jelas merasakan geliat antusiasme mereka untuk memenangkan kontestasi ini dengan didorong, salah satunya, oleh semangat perkaderan HMI.

Aku bahkan sempat membangun percakapan mengenai pergerakan mereka ini. Mengenai harapan-harapan mereka yang mereka titipkan pada kontestasi ini, berserta pula kekhawatiran yang menggelayuti langkah-langkah mereka.

Dalam dua kali diskusi yang mereka selenggarakan, sekali membahas mengenai refleksi pergantian tahun, dan sekali membahas mengenai Mission HMI di mana aku bertindak sebagai pembicara, aku mampu menangkap harapan beserta kekhawatiran itu.

Harapan dan kekhawatiran mereka berkutat pada bagaimana kursi kepemimpinan yang ingin mereka capai ini menentukan pergerakan HMI di internal kampus IAIN ke depannya.

Kursi kepemimpinan internal kampus memang merupakan alat yang efektif untuk memuluskan agenda perkaderan. Dengan kepemimpinan tersebut, geliat perkaderan dan perekrutan dapat diberi kesempatan yang seluas-luasnya. Sebaliknya, saat kursi kepemimpinan tersebut dipegang oleh orang-orang yang kontra dengan HMI, akan ada upaya-upaya tertentu dalam menghalang-halangi perekrutan dan perkaderan.

Kini kawan-kawan HMI IAIN Pointianak dapat bernafas lega. Namun tentu jangan sampai menjadi jumawa. Kesombongan adalah kekalahan pertama orang-orang besar. Kemenangan ini mesti disikapi dengan rendah hati. Segala niatan dan tujuan harus dikembalikan kepada basis nilai yang dianut oleh HMI. Niatan yang ikhlas dari kesadaran ilahiah akan kebenaran, dan tujuan yang mencoba mencapai ridha ilahi. Sebagaimana yang termaktub dalam pasal 04 Anggaran Dasar HMI.

Kesempatan yang diperoleh dari kursi kepemipinan ini haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan perekrutan dan perkaderan, yang merupakan fungsi utama HMI sebagai organisasi kader di mana insan cita (yang berkualitas akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan Islam, dan bertanggung-jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT) dibentuk dan dibina.

Namun kesempatan tersebut janganlah sampai memuat unsur ketidakadilan bagi pegerakan-pergerakan eksternal lainnya yang ada lingkungan kampus. Sebab tindakan tersebut justru akan berlawanan dengan nilai-nilai dasar perjuangan HMI sendiri yang begitu menujungjung kemerdekaan dalam berpikir dan bertindak. Cukuplah jika kursi kepemimpinan tersebut menjadi pembuka ruang fasilitas agar perkaderan dan perekrutan dapat berjalan dengan mulus dan tanpa tertanggu.

Terakhir, kita semua tentu harus sadar bahwa kepemimpinan adalah ujian dari Allah. Ujian yang akan memperlihatkan bagaimana kualitas kita sebagai khalifah Allah di muka bumi. Maka bagi kawan-kawan HMI di IAIN Pontianak, buktikanlah bahwa kepemimpinan yang berada di genggaman kalian ini adalah anugerah dan berkah. Bukan hanya bagi anggota dan kader HMI, melainkan juga bagi seluruh mahasiswa IAIN Pontianak.

Tentang Pontianak dan Manusia-manusianya

Manusia memang selalu unik di manapun mereka berada. Termasuk di Pontianak ini. Setelah beberapa hari berinteraksi dengan kawan-kawan dari HMI cabang Pontianak, baik yang berasal dari struktural pengurus cabang, BPL, maupun LDMI, aku bisa menangkap keunikan itu dengan caranya sendiri-sendiri.

Kedatanganku di sini dalam rangka pengelolaan training Latihan Kader Dakwah (LKD) yang diselenggarakan oleh LDMI HMI pada akhir tahun nanti. Kedatanganku sengaja lebih awal dari hari pelaksanaan pelatihan demi dapat melakukan konsolidasi konsep dan teknis dengan pihak-pihak terkait; Pengurus Cabang, BPL, dan LDMI itu sendiri.

Aku sudah mendiskusikan berbagai macam hal. Diskusi paling menarik adalah diskusiku bersama ketua umum BPL HMI cabang Pontianak, Abdul Muiz.

Dari Kanda Muiz, aku mendapatkan pemahaman penting mengenai kultur perkaderan di lingkungan HMI cabang Pontianak. Dalam diskusi tersebut juga kami menyatukan pemahaman mengenai training yang akan kami kelola. Mulai dari penyeleksian dalam tahapan screening, hingga metode penilaian yang akan kami terapkan.

Kanda Muiz sepakat dengan gagasanku untuk menerapkan metode penilaian kualitatif. Metode ini aku dapatkan ilmunya dari Training Management Training yang aku ikut beberapa waktu lalu. Dengan metode ini, konversi nilai itu tidak ke dalam angka-angka. Tapi kata-kata.

Sebelumnya, gagasan mengenai metode penilaian ini sudah aku diskusikan juga secara mendalam bersama koordinator Steering Committee, ayunda Fauziah Husaini. Aku sudah terlebih dahulu menjalin diskusi yang intens via WhatsApp dengan yunda Fauziah. Aku membantunya mempersiapkan perangkat lunak pelatihan berupa konsep dan kurikulum.

Selama berinteraksi dengan manusia-manusia Pontianak ini, salah satu kekentalan budaya yang aku temui, terutama di lingkungan HMI, adalah budaya melayu. Irama logat melayu yang kental masih umum menghiasai lidah pada penutur bahasa di sini.

Selain itu, aku juga menemukan kekentalan budaya China/ Tionghoa yang tampak jelas di jalan-jalan kota. Budaya Tionghoa di sini juga berbanding lurus dengan budaya Kristen. Secara etnis Tionghoa itu sebagian besar adalah pemeluk agama Kristen. Bangunan-bangunan gereja yang megah dan indah dapat dengan mudahnya kita temukan.

Belum lagi kedatanganku ke sini bertepatan dengan liburan natal sekaligus juga tahun baru. Perayaan kedua momentum tersebut terasa begitu hidup.

Ada satu karakteristik kebudayaan HMI cabang Pontianak yang aku pikir bernilai sangat positif dan dapat menjadi pelajaran berharga bagi kader HMI di cabang-cabang lain, terutama cabangku sendiri.

Karakteristik tersebut adalah bagaimana kader-kader HMI cabang Pontianak mau memberikan kontribusinya pada kegiatan-kegiatan yang ada meskipun kegiatan tersebut tidak memiliki kaitan langsung dengan mereka selain bahwa kegiatan tersebut berada dalam naungan HMI. Misalkan saja LKD ini. Ternyata, para panitia (organizing committee) kegiatan ini terdiri dari utusan-utusan setiap komisariat. Tidak hanya terbatas pada anggota LDMI semata. Mereka masih mau membantu kegiatan lembaga profesi padahal mereka sendiri bukanlah bagian langsung dari lembaga tersebut.

Menurutku kemauan itu adalah suatu nilai yang sangat positif. Pada beberapa cabang, jangankan bukan bagian dari institusi penyelenggara, berbeda gerbong politik pun dapat menjadi alasan keengganan seseorang untuk memberikan sumbangsihnya pada suatu kegiatan.

Masih ada beberapa hari lagi yang akan aku habiskan di sini, insya Allah. Aku berharap beberapa hari ke depan itu akan menjadi momentum yang bisa aku manfaatkan untuk bisa lebih banyak lagi belajar dari manusia-manusia di sini.

Merancang Suatu Bentuk Pelatihan yang Ideal

Catatan Harian TMT BPL PB HMI Korwil JABODETABEKA Banten; Hari ke-03

Salah satu kelemahan utama instruktur di HMI adalah kemampuan merancang pelatihan. Hal tersebut aku sadari betul setelah seharian kemarin bersama fasilitator TMT belajar bagaimana membuat rancangan yang rapi dan juga sangat detil. Mulai dari awal hingga akhir suatu pelatihan. Awalannya pun bukan sekedar sehari dua hari sebelum pelatihan, melainkan lebih jauh dari itu dengan menariknya ke awal penyusunan konsep yang benar-benar matang.

Hari ketiga pelatihan TMT ini, Kamis (11/10) dimulai dengan suasana yang ceria. Fasiltator mengajak kami bergoyang di pagi hari dengan senam Maumere. Inilah salah satu unsur yang menarik dari pelatihan ini. Ada sisipan-sisipan kesenangan yang membuat suasana menjadi santai di tengah-tengah materi yang sebenarnya sangat serius.

Pada hari ini, fokus utamanya adalah perancangan pelatihan. Perancangan tersebut, seperti yang sudah aku singgung di awal, bukan hanya rancangan pelatihannya saja. Melainkan juga rancangan langkah-langkah awal mula dari analisa situasi yang kemudian akan menjadi bahan penyusunan konsep pelatihan dan pembuatan modul bagi pelatihan tersebut.

Aku merasakan bahwa perihal perancangan ini benar-benar aktivitas yang sangat menguras pikiran. Tidak heran jika sepanjang hari kemarin, kami hanya berkutat di praktek perancangan pelatihan ini dengan lebih dari satu cara dan lebih dari sekali revisi atas apa yang sudah kami kerjakan. Kami dituntut oleh fasiltator untuk bisa membuat rancangan yang benar-benar rapi dan detil. Bukan sekadar suatu rancangan yang simulatif semata, melainkan suatu rancangan yang aplikatif dan realistis. Suatu rancangan yang benar-benar dapat terterapkan secara nyata. Lengkap dengan antisipasi atas kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Pada sesi pertama di pagi hari, setelah suasana cair oleh goyang Maumere, fasilitator memberikan pemahaman teoritis mengenai perancangan pelatihan. Apa saja instrumen yang dibutuhkan untuk menyusun rancangan tersebut dan apa pula langkah-langkahnya.

Selepas penyampaian teoritis tersebut, yang memakan waktu tidak sampai satu jam, kami langsung dibagi kedalam empat kelompok di mana masing-masing kelompok terdiri dari tiga orang. Setiap kelompok diberi tugas untuk menyusun rancangan pelatihan Basic Training (Latihan Kader I) HMI dengan mengunakan diagram ikan Ishikawa. Aku berkesempatan berkelompok bersama Hendro (Bandar Lampung) dan Irsyad (Depok). Kami menyusun rancangan LK1 dengan latar belakang sebuah komisariat di HMI cabang Bandar Lampung.

img-20181012-wa0001
Hasil rancangan pertama yang sederahana. Menggunakan diagram Ishikawa.

Pada siang harinya. selepas salat Zuhur, kami mempresentasikan hasil rancangan kami dengan metode Wood Cafe. Teknisnya, masing-masing kelompok menentukan satu orang sebagai presentator yang diam di tempat (stand) yang telah ditentukan untuk kelompok tersebut, sedangkan dua anggota kelompok sisanya bertindak sebagai visitor yang akan mengunjungi stand kelompok lain secara bergilir untuk mendengarkan pemaparan presentator mereka.

Selepas presentasi, ada refleksi dari fasilitator untuk mengevaluasi hasil rancangan kami. Dari hasil evaluasi tersebut tampaklah banyaknya kekurangan dari rancangan kami. Salah satu yang paling esensial adalah ketelitian langkah demi langkah yang masih kurang. Rancangan kami masih terlalu luas, terlalu general. Startegi taktisnya dari rancangan tersebut belum kami bubuhkan sehingga sulit membayangkan penerapannya secara nyata.

Oleh karena itu, fasilitator kemudian melebur kami menjadi dua kelompok saja untuk bisa melanjutkan (melengkapi) rancangan kami. Kami diberi waktu hingga malam hari untuk merampungkan rancangan ini dengan lebih rapi dan lebih detil. Bergabung ke dalam kelompok kami kelompok yang terdiri dari TB. Masykur (Cilegon), Iqbal (Tangerang), dan Heru (Serang).

Malam hari selepas salat Isya dan makan malam, kami kemudian menjabarkan hasil rancangan kami secara bergilir. Dalam presentasi kali ini, kami maju bergiliran setiap kelompok. Kelompok lain yang menyaksikan kemudian memberikan kritik dan saran atas hasil kerja kami.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kemudian kami memasuki sesi terakhir untuk hari ini. Sesi yang menurutku paling menguras pikiran.

Masih sama seperti sebelumnya, kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan diarahkan untuk merancang pelatihan. Ada tiga kelompok, kelompok pertama merancang Basic Training, kelompok kedua merancang Intermediate Training dan kelompok terakhir merancang Training of Trainer. Aku bersama Irsyad (Depok), Wakid (Malang), dan Yogi (Serang) mendapat tugas untuk merancang Basic Training.

Bedanya, kali ini metode untuk merancang yang kami pergunakan kali ini adalah metode 4D (Discovery, Dream, Design, Destiny), suatu metode yang akan menghasilkan suatu skema yang rapi dan detil. Setelah fasilitator menjelaskan mengenai langkah-langkah yang mesti kami tempuh dalam menyusun rancangan ini, kami langsung mulai membangun rancangannya.

Pada titik inilah aku, dan kawan-kawanku yang lain merasakan betapa aktifitas ini menguras pikiran dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Menjadi seorang konseptor yang mampu menghasilkan rancangan yang matang bukanlah sesuatu yang mudah. Butuh kecerdasan yang tinggi dan imajinasi yang luas demi bisa dapat menyusun langkah demi langkah dengan presisi yang tepat dan akurat beserta kemungkinan-kemungkinan yang menyertainya.

Hingga pukul dua dini hari, kami belum kunjung juga menyelesaikan rancangan kami. Kami masih berkutat pada diskusi yang alot untuk menentukan langkah demi langkah yang mesti kami tetapkan. Kealotan juga terjadi saat kami mendata tantangan dan ancaman yang mungkin akan ada di hadapan langkah-langkah yang kami tetapkan serta bagaimana mengatasinya.

Master of Training memutuskan agar kami melanjutkan tugas perancangan ini di pagi hari dan mengarahkan kami agar istirahat.

Aku merasa beruntung karena fasilitator membawakan materi ini dengan santai. Padahal materinya adalah materi yang serius. Aku melihat di sinilah keseimbangan yang perlu kami ambil ketika mengelola pelatihan. Materi yang berat jika disajikan dengan metode yang juga berat, tentu akan menimbulkan kejenuhan. Maka salah satu triknya, materi yang berat disajikan dalam bingkai metode yang ringan dilengkapi dengan partisipasi yang luas dari para peserta.

Menatap Arah Baru Perkaderan Pengelola Pelatihan di HMI

Catatan Harian TMT BPL PB HMI Korwil JABODETABEKA Banten; Hari ke-01

Selama kurang lebih lima hari ke depan, aku akan menjalani proses perkaderan dengan tajuk Training Managament Training (TMT) yang diselenggarakan oleh BPL PB HMI Koordinator Wilayah JABODETABEKA Banten. Pelatihan ini diselenggarakan di kota Cilegon. Kota yang memiliki banyak kenangan bagiku. Dengan cuacanya yang panas dan gerah kota ini menyambutku saat aku tiba pada hari Sabtu (06/10) lalu.

Aku datang terlalu awal. Namun aku memang meniatkannya karena ingin terlebih dahulu bertegur sapa dengan kawan-kawan dari HMI cabang Cilegon.

Akhir pekan aku jalani di kota Cilegon ini dengan sedikit jalan-jalan. Menikmati angin sore yang segar di pinggiran waduk yang terletak tidak jauh dari sekretariat HMI cabang Cilegon. Selain itu, aku turut membantu panitia penyelenggara menyiapkan beberapa hal. Termasuk tempat yang akan dipergunakan untuk pelatihan ini. Yakni BLK (Balai Latihan Kerja) kota Cilegon.

img_20181007_145956
Angin sore yang segar.

Para peserta selain diriku baru berdatangan pada hari Senin. Pada hari itu pula, sore harinya, kami menuju BLK setelah sebelumnya bermalam di sekretariat HMI cabang Cilegon. Setibanya kami di BLK, pendaftaran peserta langsung dibuka. Sepanjang hari itu hingga malam hari, kami tidak melakukan apa-apa selain menata tempat pelatihan sembari menunggu kedatangan kawan-kawan peserta yang lain.

Screening Test dan Pembukaan

Pada pagi hari Selasa, setelah semua peserta yang terdaftar datang, dimulailah screening test berupa tes tertulis yang terdiri dari 10 soal. Soal-soal tersebut disusun langsung oleh Arif Maulana, ketua umum BPL PB HMI. Semua soal berkisar pada teknis pengelolaan pelatihan di HMI. Sebenarnya tes ini lebih cocok disebut sebagai pre-test ketimbang screening. Sebab sejatinya tidak ada yang ter-‘saring’ dari proses ini dan juga soal-soal yang diajukan lebih kepada pengujian pemahaman dan wawasan kami mengenai pelatihan di HMI.

Selepas Zuhur, pelatihan ini kemudian dibuka. Hadir dalam pembukaan jajaran pengurus HMI cabang Cilegon beserta kawan-kawan anggota HMI cabang Cilegon, KAHMI Banten, dan juga Ketua Bidang PA PB HMI, Helmi Yunan Ihnaton yang kemudian dirinya membuka rangkaian kegiatan training ini secara resmi. Prosesi pembukaan selesai selepas waktu Ashar. Kami kemudian diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan bebas hingga lepas Isya di mana kami akan memulai forum dengan orientasi training.

img-20181009-wa0034
Selepas seremonial pembukaan.

Orientasi Training

Sebenarnya apa sih TMT ini? Jujur saja, pertanyaan tersebut masih menggelayut pada banyak benak kader HMI. Bahkan juga para peserta yang datang untuk mengikuti pelatihan ini masih berpijak pada gambaran yang kabur mengenai apa sebenarnya TMT ini berserta maksud dan tujuannya.

TMT ini sebenarnya adalah produk Pedoman Perkaderan hasil kongres ke-29 di Pekanbaru. Secara konsep, ia masih sangat muda. Saking mudanya, belum ada sama sekali penyelenggaraan TMT tersebut meski sudah beberapa tahun ini masuk ke dalam Pedoman Perkaderan. Maka TMT yang kami ikuti ini adalah proyek percontohan untuk membuktikan efektivitas dan efisiensi TMT ini dalam mencetak sumber daya pengelola pelatihan yang mumpuni.

Bertindak sebagai master of training (MoT) dalam pelatihan ini adalah Arif Maulana sendiri.

Dalam Orientasi Training dia menjabarkan visinya mengenai pola perkaderan pengelola pelatihan HMI di masa yang akan datang. Beberapa dari visinya tersebut bernuansa revolusioner. Misalkan visinya mengenai peran master of training yang akan lebih dominan pada setiap pelatihan karena terlibat sejak rancangan awal pelatihan. Menurutntya, MoT harus benar-benar menjadi perancang, pengelola, dan pengevaluasi pelatihan. Bukan sekasar penjaga pelatihan yang perannya cenderung sebagai pengawas saja.

Visi ini cukup menggebrak karena akan bergesekan dengan tradisi-tradisi dalam perkaderan di HMI.

Dalam penjabarannya, dia mengungkapkan maksud dari konsep TMT ini. Konsep ini, beserta dengan konsep TOT (Training of Trainer) yang merupakan jenjang pelatihan di bawah TMT, adalah upaya untuk memperbahrui pola perkaderan di HMI dengan membangun suatu bentuk perkaderan yang tersusun dengan rapi dan terstandarisasi. Selama ini, pelatihan yang terstandarisasi hanyalah pelatihan formal. Sedangkan pelatihan informal kerap terselenggara dengan konsep yang ala kadarnya. Terutama pelatihan untuk pengelola pelatihan yang masih terpecah antara moda Senior Course, Training Instruktur, dan Training of Trainer, yang mana masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Secara sederhana, TMT bermaksud untuk menambal kekurangan-kekurangan yang tidak teratasi oleh perkaderan pengelola pelatihan seperti Senior Course dan Training Instruktur. Yakni kemampuan/ keterampilan (skill) yang mencakup perencanaan, pengelolaan, dan pengevaluasian pelatihan.

Memang, ketiga skill tersebut kurang mendapat perhatian dari perkaderan pengelola pelatihan yang sudah ada di mana pada perkaderan tersebut aspek penguasaan materi mendapatkan porsi yang lebih dominan sedangkan skill teknis untuk pelatihan hanya diberi porsi-porsi dasar saja. Seandainya pun ada porsi lebih, kelebihannya tersebut terpusat ada pada proses pengelolaan pelatihan saja. Bukan pada perencanaan dan pengevaluasian.

Ke depannya, akan ada penyelarasan/ standarisasi dalam dunia perkaderan para pengelola pelatihan. Lebih radikal dari itu, akan ada pula penyelarasan berbagai istilah yang terdapat dalam perkaderan di HMI. Misalkan penggunaan istilah “instruktur” dan “master” sebagai mereka yang sudah lulus dan memenuhi kualifikasi pengelolaan training, akan digeser dengan istilah “trainer.”

Istilah ini dikemukakan agar dapat lebih sesuai dengan istilah-istilah perkaderan lainnya di mana kata training-lah yang kerap digunakan. Seperti pada pelatihan formal yang menggunakan istilah Basic Training, Intermediate Training, dan Advance Training.

Akhirnya pula perkaderan atau pelatihan untuk membina kader guna memenuhi kualifikasi tersebut menggunakan istilah yang juga selaras yakni Training of Trainer dan Training Management Training.

Lebih lanjut, dalam Orientasi Training, Arif Maulana selaku Master of Training memberikan gambaran mengenai alur yang akan kami jalani selama pelatihan ini; muatan materi dan pembinaan yang akan memberikan kami kemampuan untuk merancang, mengelola, dan mengevaluasi setiap pelatihan di HMI.

Orientasi Training diselingi dengan permainan perkenalan dan juga penempelan kertas ekspektasi dan kontribusi di Pohon Harapan. Kami juga menyepakati beberapa hal terkait dengan norma-norma selama pelatihan ini berjalan.

Forum berakhir pada pukul sepuluh lewat. Suatu hal yang sangat jarang dalam training di HMI. Namun memang ke depannya, Arif Maulana mengatakan bahwa kita ingin membangun pola pelatihan yang pendekatannya lebih humanistik. Salah satunya adalah dengan tidak memperlebar forum hingga larut malam.

Hari ini berakhir dengan baik. Semoga besok bisa lebih baik lagi.

Dua Buku Yang Aku Beli Hari Ini

Berburu buku bisa menjadi suatu kegiatan yang sangat menyenangkan. Apalagi jika kita mampu menemukan sebuah buku langka yang berharga dengan harga yang melegakan jiwa.

Sore ini aku kembali menelusuri selasar basement Blok M Square untuk berburu buku. Siapa tau aku bisa menemukan satu dua buku yang bisa aku jadikan bahan bacaan sepekan ke depan.

Salah satu kelebihan berbelanja buku di Blok M sini adalah kita bisa mendapatkan buku bagus dengan harga yang relatif murah. Meski memang, beberapa buku yang dijual di sini adalah buku bajakan. Tapi tentu tidak semua.

Beberapa buku bagus dalam cetakan asli juga turut dijual murah. Harga murahnya adalah karena tahun terbitannya yang sudah lama. Maupun kondisi bukunya yang merupakan buku bekas.

Jika pandai mencari-cari, dengan modal lima puluh ribu rupiah saja kita bisa berbelanja minimal dua buku. Setiap kali ke sini aku memang selalu hanya membawa dana dengan jumlah segitu. Aku tertarik untuk mengincar buku-buku bekas ataupun buku-buku cetakan lama.

Setelah sekitar dua jam berkeliling dan melihat-lihat, aku menjatuhkan pilihan kepada dua buku yang menarik perhatianku. Buku pertama adalah sebuah novel karya penerima anugerah Nobel di bidang Sastra, Bernard Shaw yang berjudul Cleopatra. Kedua adalah buku berjudul “The Amazing Results of Positive Thinking.”

Aku belum pernah membaca karya Bernard Shaw sebelumnya. Namanya hanya beberapa kali aku baca pada esai-esai yang membahas mengenai masalah sastra. Karena itulah timbul rasa penasaran dalam diriku akan karyanya. Ketika melihat namanya sebagai pengarang novel yang aku pegang, aku langsung berpikir bahwa sekarang lah saatnya aku mencicipi karya dari seorang sastrawan yang sudah mendunia ini.

Membaca karya sastra para peraih penghargaan Nobel Sastra punya keuntungan tersendiri. Kita jadi bisa menikmati karya dari pengarang yang kualitas kesusastraannya sudah diakui oleh Dunia. Dengan begitu, potensi kekecewaan selepas membaca karya tersebut bisa sangat kecil.

Potensi kekecewaan yang utama dalam membaca karya sastra para pengarang tingkat Dunia terletak pada kualitas terjemahan yang buruk. Aku harap, novel ini diterjemahkan dengan bagus oleh penerjemahnya. Tadi aku sempat membaca beberapa halaman isinya dan dalam penilaian sementaraku, terjemahannya cukup bagus.

Buku kedua dari judulnya saja sudah dapat diketahui bahwa buku tersebut adalah buku tentang pengembangan diri. Berpikir positif adalah salah satu sikap yang bisa sangat membantu seseorang dalam menghadapi persoalan sehari-hari.

Buku itu diberi judul dengan bahasa Indoenesia sebagai “Cara Hidup dan Berpikir Positif.” Bukan sekadar judulnya saja yang membuat aku tertarik, melainkan juga gambaran mengenai isi buku yang disuguhkan di bawah judul tersebut. Gambaran tersebut berbunyi:

Suatu contoh kehidupan bagaimana cara berpikir positif telah merubah kehidupan berjuta-juta orang, dan bagaimana buku ini akan mengubah kehidupan Anda dengan CARA HIDUP DAN BERPIKIR POSITIF

Sudah sekian lama aku tidak membaca buku yang bertema self improvment. Aku pikir sekarang-sekarang ini aku butuh bacaan semacam itu untuk membangkitkan kembali gairahku dalam melangkah untuk mencapai mimpi-mimpiku.

Buku-buku semacam ini adalah pengasah pikiran dan pengaya jiwa. Ia membantu kita mengembangkan diri kita menjadi suatu sosok yang lebih baik. Serta menginsafkan kita dari kekeliruan-kekeliruan pikiran maupun tindakan yang membuat kita terhalang dari kesuksesan pribadi kita.

Buku ini disusun oleh Dr. Norman V. Peale yang merupakan hasil dari “pengalaman yang mengharukan dari mereka yang mengadakan perubahan-perubahan drastis dalam hidupnya dengan menggunakan prinsip-prinsip yang dinamis.

Dalam menjelaskan mengenai bukunya, Dr. Norman mengungkapkan bahwa buku ini adalah “petunjuk yang praktis dan penuntun yang mantap bagaimana Anda bisa mulai melangkah untuk mencapai sukses, mempunyai Kepercayaan pada diri sendiri, perasaan sehat, Kehebatan serta Kekuatan yang didapatkan dari dalam diri Anda sendiri yang mungkin Anda tidak pernah tahu sebelumnya.

Betapa sebuah ungkapan yang meyakinkan. Namun aku rasa aku tidak bisa begitu saja memercayai ungkapan tersebut. Setelah selesai membaca buku ini baru aku akan memutuskan penilaianku apakah buku ini memang seperti klaim penyusunnya ataukah hanya sekadar motivasi kosong seperti yang banyak bertebaran dari mulut-mulut motivator Indonesia dan karya-karya mereka.

 

Preman Pensiun dan Terjemahan yang Terbengkalai

night-television-tv-theme-machines.jpg

Beberapa hari belakangan, aku hanya menghabiskan waktuku untuk menonton serial “Preman Pensiun” menggunakan iFlix. Bacaanku aku tinggalkan, pekerjaan menulisku apalagi. Tugas terjemahan yang sudah seharusnya aku setor pekan ini terbengkalai begitu saja. Inilah penyakitku ketika aku sudah ketagihan dengan tontonan. Aku rasa penyakit ini juga menjangkiti banyak orang lain.

Meski sebagian besar episode Preman Pensiun, terutama musim kedua, sudah aku tonton sepanjang bulan Ramadhan tahun 2015, ada kesenangan tersendiri ketika kembali menontonnya hari ini.

Lanjutkan membaca “Preman Pensiun dan Terjemahan yang Terbengkalai”

%d blogger menyukai ini: