Tetaplah Berjuang, Meski Kelaparan

Kesanku Setelah Membaca Novel “Lapar” Karya Knut Hamsun

Aku baru saja mengembalikan sebuah novel yang aku pinjam, secara diam-diam, dan sudah menemaniku selama sebulan belakangan ini kepada pemiliknya, salah seorang perempuan kawanku di Himpunan. Novel tersebut, aku baca hingga tiga kali dan tetap saja menyisakan kekaguman yang menimbulkan kesan mendalam di hatiku.

Bukan novel yang besar sebenarnya. Ukurannya kecil dan jumlah halamannya hanya 289. Novel sekecil ini bagi pembaca yang serius, bisa selesai dalam dua atau tiga hari. Bahkan sekali duduk bagi pembaca yang benar-benar serius. Namun ukurannya yang kecil sama sekali tidak dapat menahan luapan sastrawinya yang begitu besar. Tidak heran, banyak kritikus sastra yang menganggap novel ini sebagai novel yang memengaruhi gaya penuturan sastra modern.

knut_hamsun
Knut Hamsun, 1890. Pada tahun yang sama dengan penerbitan Sult.

Novel ini berjudul, dalam Bahasa Indonesia, Lapar. Novel ini adalah terjemahan dari edisi bahasa Inggris yang berjudul Hunger yang merupakan terjemahan pula dari edisi bahasa asli dari novel ini, yakni bahasa skandinavia, tepatnya Norwegia, yang berjudul Sult. Pengarangnya bernama Knut Hamsun, seorang pengarang penerima penghargaan novel sastra pada tahun 1920

Kisah dari novel ini sebenarnya sederhana. Namun begitulah para pengarang besar dunia bekerja; menghasilkan makna yang luar biasa dari cerita-cerita sederhana. Katakanlah seperti The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway atau The Alchemist karya Paulo Coelho.

Apa Kekuatan Luar Biasa yang Terkandung Dalam Novel Ini?

Aku bisa bilang bahwa “semangat” lah kekuatan utama novel ini. Semangat pantang menyerah dari seorang penulis yang mesti menghadapi rasa lapar namun tetap bersikukuh untuk hidup dari kepenulisannya. Meskipun pada akhirnya sang penulis menyerah dan kalah oleh kehidupan, setidak-tidaknya dia sudah berjuang dengan perjuangan yang mengagumkan.

Memang bukan suatu pekerjaan yang mudah menjadi seorang penulis itu. Apalagi penulis yang mampu melahirkan suatu karya yang luar biasa.

Banyak kritikus dan sastrawan dekat Knut yang memberi kesaksian bahwa tokoh utama dalam novel ini adalah Knut sendiri, di mana dia sebenarnya menceritakan masa mudanya pada awal-awal karirnya sebagai seorang penulis.

Knut juga sempat menyerah dari jalan kepenulisan sebagaimana tokoh utama dalam novel ini, bahkan beberapa kali, namun kemudian ia kembali dan kembali lagi dan akhirnya kepenulisan menjadi jalan hidupnya.

Apa yang bisa aku petik dari novel ini?

Saat membaca novel ini, kesan yang paling mendalam adalah tentang perjuangan menjalani profesi yang sudah kita pilih. Aku jadi merasa malu dengan Sang Tokoh karena aku begitu banyak mengeluh akan ketidak-mampuanku menghasilkan karya padahal aku sebenarnya memiliki banyak fasilitas untuk itu.

Tidak seperti Sang Tokoh, aku tidak terjebak dalam situasi kelaparan, aku pun masih memiliki sarana untuk menulis; laptop, smartphone, dan akses Internet. Sedangkan sang tokoh, yang dia punya hanyalah lembaran-lembaran kertas dan sebuah pensil serta baju yang melekat di badan, yang kemudian dia preteli satu per satu demi bisa makan. Dengan segala macam kekurangan itu dia tetap menulis meski berkali-kali dia dihempas oleh kehidupan.

Membaca perjuangan sang tokoh yang dihadirkan Knut dengan begitu detil dan dalam akan mampu menggugah kita dengan banyak cara. Kadang dia membuat kita prihatin, kadang dia membuat kite tergelitik, kadang dia membuat kita terharu. Sang Tokoh adalah pribadi yang tidak sempurna, dan memang tidak ada pribadi yang sempurna, sehingga dia mampu menghadirkan kemanusiaan yang benar-benar utuh.

Sungguh suatu kemanusiaan yang luar biasa.

Iklan

Kesan Bacaan “Cerita Buat Para Kekasih” Karya Agus Noor

Cerita buat Para KekasihCerita buat Para Kekasih by Agus Noor

My rating: 3 of 5 stars

Ini buku Agus Noor pertama yang secara utuh aku baca. Sebelumnya, aku hanya membaca beberapa cerpennya yang tersebar di Internet dan di blog pribadinya, Dunia Sukab. Salah satu yang paling memukau adalah “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi.” Agus Noor memang seorang penutur cerita yang piawai menangkap peristiwa-peristiwa sosial untuk dia sajikan secara kritis dalam cerita-ceritanya.

Secara keseluruhan, aku akan mengatakan cerita-cerita dalam buku ini bagus. Namun aku tidak menyukai beberapa cerita yang dalam pandanganku terlampau surealis atau mistis yang penuh dengan metafora-metafora yang membingungkan. Bagiku, kekuatan sebuah cerita adalah kedekatanya dengan pengalaman keseharian kita. Meskipun dengan latar belakang yang fiktif dan bahasa yang tinggi ataupun tertimbun oleh diksi-diksi asing, apabila ceritanya mampu menyentuh kesadaran pengalaman yang terjangkau oleh kita, cerita tersebut akan menarik.

Maka cerita-cerita yang Agus Noor sajikan berangkat dari problematika sosial, sebagian besar soal cinta dan romansa, adalah yang aku sukai dari buku ini.

Sebagaimana judulnya, cerita-cerita dalam buku ini sebagian besar adalah cerita-cerita cinta. Bacaan ini cocok bagi mereka yang sedang semangat dalam menikmati ekspresi tersebut. Banyak kutipan-kutipan percintaan yang bisa seseorang ambil, baik untuk dipersembahkan kepada sang kekasih, atau sekadar dipergunakan untuk caption di Instagram . Salah satunya misalnya kutipan,

Wanita memang selalu berbahaya, karna kita tak pernah tahu apa yang dipikirkannya

Meskipun ritmeku dalam membaca buku ini cukup pelan, aku menikmatinya. Semoga saja juga aku bisa menikmati karya-karya Agus Noor selanjutnya.

View all my reviews

Review Anna Karenina Oleh Leo Tolstoy (Percobaan Menggunakan Fitur Lintas Postingan Goodreads ke Blog)

Anna KareninaAnna Karenina by Leo Tolstoy
My rating: 4 of 5 stars

Cinta memang tidak selamanya menyenangkan. Beberapa dari cinta itu tersembunyi di balik hasrat-hasrat dan nafsu. Benarkah suatu tindakan yang kita katakan atas nama cinta memang benar-benar atas nama cinta? Jangan-jangan ia hanyalah persangkaan kita saja. Sejatinya ia adalah hasrat dan nafsu.

View all my reviews

Orang-orang Yang Lari Dari Perubahan

Kesan Dari Novel Vegetarian Karya Han Kang

Perubahan pasti terjadi pada setiap orang. Entah karena apa. Entah perubahan itu besar atau kecil. Perubahan adalah kepastian pada siklus alam semesta yang berada dalam ruang dan waktu. Manusia menyadari ini.

Namun beberapa perubahan tidak dapat diterima begitu saja. Beberapa bahkan tidak dapat diterima sama sekali. Saat menghadapi perubahan yang tak tertanggungkan, beberapa orang akan memilih untuk meninggalkan.

Hal semacam itulah yang terjadi pada Yeong Hye saat dia tiba-tiba berubah menjadi seorang vegetarian karena mimpi-mimpi yang dia alami.

Orang-orang di sekitarnya tidak mampu menanggung perubahan drastis yang terjadi padanya. Sehingga menghasilkan konflik yang membangun keseluruhan cerita dari novel “Vegetarian” karya Han Kang yang baru selesai kubaca malam tadi ini.

Konflik serupa juga ada pada Metamorphosis karya Kafka. Pada Metamorphosis, Kafka menghadirkan suatu konflik dalam menghadapi perubahan yang benar-benar radikal sehingga cenderung tidak masuk akal.

Apa yang Han Kang hadirkan dalam novelnya ini masih lebih terkangkau ketimbang karangan Kafka yang terasa jauh mengawang-ngawang. Namun memang benang merahnya sama.

Mereka sama-sama bercerita mengenai manusia yang gagap di hadapan perubahan. Betapa orang yang kita sayangi bisa benar-benar menjadi sosok yang sama sekali lain saat berhadapan dengan perubahan yang kita alami. Mereka bahkan tidak segan-segan meninggalkan kita ketika mereka merasa bahwa diri kita adalah sosok yang berbeda dari sosok yang mereka sayangi sebelumya.

Selain kesamaan itu, ada perbedaan Han Kang dalam bertutur dalam novel ini dengan Kafka dalam Metamorphosis. Yaitu pada penokohan karakter. Jika Kafka lebih memusatkan perhatian pada Samsa sebagai tokoh utama, dan menjadikan karakter-karakter lainnya sekadar sebagai reaksi sampingan dari reaksi utama yang terjadi pada diri Samsa sendiri, Han Kang justru lebih memusatkan penuturannya pada karakter-karakter di sekeliling Yeong Hye yang paling kuat dan keras reaksinya atas apa yang terjadi pada Yeong Hye.

Tentu saja meskipun membawa warna yang kurang lebih sama, antara Vegetarian dan Metamorphosis terdapat corak masing-masing yang khas. Corak yang memiliki kekuatannya sendiri sehingga bisa berdiri sebagai karya yang sama-sama memukau.

Novel-novel dengan kekhasan corak yang kuat semacam ini menawarkan sesuatu yang lebih daripada sekadar cerita-cerita biasa. Meskipun kadangkala cerita yang dihadirkan memanglah cerita yang biasa.

Aku pikir di situlah seninya bercerita. Seni bercerita bukanlah terletak pada ceritanya, melainkan pada penuturan cerita tersebut. Betapa banyak cerita hebat jadi terdengar biasa saja karena dituturkan dengan cara yang membosankan. Betapa banyak pula cerita biasa saja, yang berasal dari kehidupan sehari-hari, menjelma luar biasa berkat penuturan yang memukau.

Aku kagum bagaimana Han Kang bisa menggali sebegitu dalamnya karakter yang dia tuturkan. Berbagai hal yang melatar-belakangi reaksi karakter tersebut dia hadirkan dengan reflektif. Membacanya, menjadikanku turut menengok latar belakang yang ada dalam kehidupanku. Latar belakang yang membuatku menjadi diriku yang sekarang ini. Betapa banyak hal yang sudah aku jalani?

Selain itu, aku juga bertanya-tanya. Apakah jika orang terkasihku tiba-tiba berubah seperti apa yang terjadi pada Yeong Hye, aku akan mampu menghadapinya? Ataukah aku akan meninggalkannya seperti suami Yeong Hye meninggalkannya. Sebaliknya, jika aku tiba-tiba berubah dengan suatu perubahan yang tak tertanggungkan, apakah orang terkasihku akan mampu menjalaninya?

Pikiran mengenai hal itu merajai akalku malam ini. Aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan-kemungkinan itu membuat dadaku sesak, dan tanpa terasa, air mataku mengalir.

Landasan Perjuangan Pembangunan Peradaban Islam yang Modern di Indonesia

Ulasan Buku: Islam, Doktrin dan Peradaban

Salah satu tugas yang dibebankan kepada kami pasca mengikuti Training of Trainer (TOT) NDP HMI adalah menyelesaikan bacaan atas beberapa buku yang telah ditentukan dan juga menulis review atau ulasan atas buku-buku tersebut.

Buku-buku yang harus kami baca adalah karangan Nurcholish Madjid atau yang kerap akrab disapa Cak Nur. Sebagai perumus NDP HMI, karya-karya Cak Nur pasca selesainya karir beliau di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bisa dikatakan merupakan pengembangan dari NDP.

NDP yang merupakan teks ideologi HMI memuat serangkaian gagasan mengenai ajaran-ajaran pokok dalam agama Islam yang secara konstitusional merupakan landasan perjuangan HMI. Dalam karya-karya Cak Nur selanjutnya, gagasan mengenai ajaran-ajaran pokok dalam agama Islam itu mengalami perluasan dan pengembangan pembahasan. Beberapa senior di HMI bahkan mengatakan bahwa, karya-karya Cak Nur pasca HMI merupakan syarah (penjelasan) atas apa yang dia tuangkan di teks NDP.

Maka dari itu, dalam upaya untuk memahami teks NDP, menyelami pemikiran Cak Nur melalui karya-karyanya menduduki peran penting.

Buku pertama dalam daftar bacaan kami adalah “Islam, Doktrin dan Peradaban.”

Buku ini merupakan kumpulan makalah yang Cak Nur bawakan pada Klub Kajian Agama (KKA) Paramadina pada era 90-an.

Dalam pembacaanku, buku ini tampak sebagai upaya Cak Nur untuk menjelaskan Islam yang lebih terbuka dengan mengedepankan penanaman nilai-nilai esensial Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa perlu terjebak dalam simbolisme eksklusif yang melebarkan jarak antara Islam dan Peradaban Kemanusiaan.

Kondisi keberagamaan masyarakat, khususnya di Indonesia, yang begitu beragam, majemuk, dan plural, mendorong adanya suatu pemahaman keislaman yang tidak hanya menonjolkan satu entitas saja. Melainkan mampu menjadi titik temu antara keberagaman yang ada. Baik keberagaman internal, berupa jamaknya aliran-aliran pemahaman dalam Islam, maupun keberagaman eksternal, berupa pluralnya suku, agama, dan ras yang ada.

Dengan menitikberatkan pada nilai-nilai universal yang menjadi titik temu, Islam dapat tampil sebagai jawaban bagi bangunan peradaban yang maju dan modern.

Buku ini menolak suatu bentuk pemahaman yang dogmatis akan Islam. Bentuk pemahaman apapun yang mengklaim dirinya sebagai satu-satunya pemahaman yang benar. Sebagai gantinya, buku ini menawarkan bentuk pemahaman yang analitis. Suatu bentuk yang mendekati ajaran Islam, bahkan hingga ke sumber-sumber sucinya, dengan pisau analisa yang jujur dan terbuka.

Dalam pandangan buku ini, sejauh yang dapat aku pahami, Islam bukanlah sekadar doktrin yang keras dan kaku. Melainkan suatu pandangan kehidupan (the way of life) yang statis pada nilai-nilai esensialnya namun dinamis pada bentuk penerapan praktisnya. Dengan pandangan ini, Islam dapat menyesuaikan diri dengan segala bentuk tempat dan waktu di mana ia dapat merasuk masuk menjadi api yang membakar semangat membangun peradaban, namun tetap bisa ramah pada kondisi sosio-kultural masyarakat.

Buku ini merupakan gagasan Cak Nur untuk membawa Islam menyongsong era modern. Pada pengantarnya, Cak Nur mengungkapkan tentang datangnya era baru (globalisasi dalam teknologi komunikasi dan transportasi) yang mesti secara siap disongsong oleh umat Islam dengan pengetahuan.

Agama menurutnya masih memiliki peran karena manusia masih membutuhkan “pedoman”. Humanisme Universal, maupun Marxisme-Leninisme sebagai bentuk “agama baru” menurutnya telah gagal menggantikan agama formal. Kegagalan tersebut berakar dari naluri manusia yang berketuhanan.

Peran agama Islam dalam menyongsong kemajuan dan modernitas, jangan sampai seperti sejarah pahit yang pernah umat Islam alami ketika pintu-pintu perkembangan ilmu pengetahuan ditutup oleh doktrin-doktrin keagamaan yang sebenarnya hanya merupakan suatu penafsiran tertentu saja.

Suatu doktrin yang kadangkala bahkan memadamkan spirit ideal yang Nabi Muhammad usung ketika membawakan Islam. Seperti spirit untuk terus menerus belajar dan menggali pengetahuan melalui alam semesta yang padam oleh doktrin-doktrin tertentu yang menuding ilmu pengetahuan modern sebagai warisan kafir yang mesti dijauhi.

Oleh karena itu dalam buku ini juga kental sekali dorongan Cak Nur agar umat Islam mau menggeluti ilmu pengetahuan sebagai alat utama membangun peradaban. Melalui semangat tauhid, yang dalam pandangan Cak Nur bermakna “menempatkan sakralitas pada tempatnya”, yakni pada Tuhan semata, Cak Nur mendorong agar umat Islam mengekplorasi alam semesta yang memang Tuhan sediakan untuk kebaikan umat manusia.

Melalui semangat tauhid seperti itu juga, Cak Nur melawan fanatisme yang berakar pada pengkultusan (sakralisasi) seseorang atau pemahaman tertentu. Sehingga bagi Cak Nur, segala sesuatu selain Tuhan, kebenarannya adalah relatif dan dapat digugat dengan analisa yang objektif.

Pada buku ini kita dapat melihat luasnya bacaan beliau dan pemahamannya yang baik tentang bagaimana seharusnya Islam di Indonesia dikembangkan, juga bagaimana bentuk relasi agama dan negara.

Menurutnya, semangat kemajemukan (pluralisme) sangatlah dibutuhkan dalam pembentukan karakter bangsa yang besar. Islam menurutnya telah memberikan landasan etis bagi terciptanya sebuah negara bangsa.

Dalam penutup pengantar magnum opusnya ini, terdapat beberapa diskursus yang menjadi benang merah pikiran Cak Nur. Menurutnya, sikap kritis, niat dan motivasi yang benar, pengetahuan tentang konteks yang tepat, demokrasi dan kebebasan yang positif akan membawa kita pada usaha yang benar dalam membangun peradaban yang besar.

Secara garis besar, pembahasan dalam buku dikelompokkan ke dalam empat bab kajian yang masing-masing tema sub-babnya saling terkait.

Bagian kesatu, buku ini membahas masalah ketuhanan dan emansipasi harkat manusia. Bab ini mengulas tentang keimanan dan makna-makna seputar masalah tersebut seperti; tujuan hidup manusia, ibadah, semangat tauhid, kemajemukan masyarakat dan juga hubungannya dengan perkembangan pengetahuan masyarakat.

Bagian kedua, membahas masalah disiplin ilmu keIslaman tradisional. Di sini Cak Nur memaparkan kondisi perkembangan pengetahuan yang diperoleh dan kemudian dipelajari oleh umat Islam. Mulai dari filsafat, kalam, fikih, sampai tasawuf.

Bagian ketiga, membahas masalah doktrin kitab suci dan hubungannya dalam membangun masyarakat yang beretika. Dia menuliskan dan mengajukan pemikirannya mengenai konsep a-Quran terhadap alam semesta (kosmos) dan manusia (antropos) selain juga menyinggung masalah etos kerja dan dan pengaruh pandangan dunia teologis.

Bagian keempat, membahas masalah universalisme Islam dan kemodernan. Di bagian ini dibahas masalah kosmopolitanisme kebudayaan Islam, maupun makna modernitas menurut Islam. Dan salah satu poin terpenting dan menjadi ide utama dalam buku ini adalah pembahasan mengenai reaktualisasi nilai-nilai kultural dan spiritual dalam proses transformasi masyarakat.

Pada akhirnya, tidaklah berlebihan jika buku ini dikatakan sebagai landasan perjuangan pembangunan peradaban Islam yang modern ini Indonesia.

Aku yang membaca buku ini sebagai bagian dari upayaku memahami NDP HMI, turut mendapatkan pencerahan lanjutan akan suatu perjuangan berkelanjutan yang bukan hanya mesti aku jalani di HMI, melainkan juga selepasnya pada kehidupan beragama dan berbangsa.

Buku yang Aku Beli Di Bandara

Beberapa tahun lalu aku pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Pada waktu itu aku tengah mengikuti pendaftaran perguruan tinggi yang aku impikan sejak lama. Jalan yang terbuka menuju perguruan tinggi itu tidak terduga bagiku. Tiba-tiba saja Tuhan membukakan kesempatan yang aku pikir sudah tertutup. Mimpi yang sudah mulai aku kubur, kembali menyala.

Aku tiba dalam keadaan tanpa tahu apa-apa. Dengan berbekal beberapa kontak dan nama aku menghadapi Jakarta. Saat itu aku hanya datang untuk mengikuti pendaftaran saja. Pendaftaran tersebut akan disusul ujian seleksi tiga bulan kemudian pas seminggu selepas Lebaran. Untuk itu, aku hanya beberapa hari berada di Jakarta demi pendaftaran tersebut.

Dari tempat asalku, aku dibekali dengan ongkos yang cukup untuk pulang pergi Jakarta dengan pesawat dan akomodasi selama seminggu. Dengan berhemat, aku mampu menyisihkan sebagian dari bekal tersebut. Aku menggunakannya untuk membeli buku untuk menemaniku selama perjalanan pulang. Urusan pendaftaranku selesai dengan cukup baik. Perjalanan pulang menurutku akan terasa menyenangkan jika ditemani dengan teman duduk yang setia.

Tak aku sangka, buku yang aku beli di bandara Soekarno Hatta itu memberikan pengaruh yang sangat besar dalam hidupku. Aku pikir aku memilih dan membeli buku itu bukanlah suatu kebetulan yang menyenangkan semata. Melainkan suatu momentum takdir yang begitu mengagumkan.

Lanjutkan membaca “Buku yang Aku Beli Di Bandara”

%d blogger menyukai ini: