Tetaplah Berjuang, Meski Kelaparan

Kesanku Setelah Membaca Novel “Lapar” Karya Knut Hamsun

Aku baru saja mengembalikan sebuah novel yang aku pinjam, secara diam-diam, dan sudah menemaniku selama sebulan belakangan ini kepada pemiliknya, salah seorang perempuan kawanku di Himpunan. Novel tersebut, aku baca hingga tiga kali dan tetap saja menyisakan kekaguman yang menimbulkan kesan mendalam di hatiku.

Bukan novel yang besar sebenarnya. Ukurannya kecil dan jumlah halamannya hanya 289. Novel sekecil ini bagi pembaca yang serius, bisa selesai dalam dua atau tiga hari. Bahkan sekali duduk bagi pembaca yang benar-benar serius. Namun ukurannya yang kecil sama sekali tidak dapat menahan luapan sastrawinya yang begitu besar. Tidak heran, banyak kritikus sastra yang menganggap novel ini sebagai novel yang memengaruhi gaya penuturan sastra modern.

knut_hamsun
Knut Hamsun, 1890. Pada tahun yang sama dengan penerbitan Sult.

Novel ini berjudul, dalam Bahasa Indonesia, Lapar. Novel ini adalah terjemahan dari edisi bahasa Inggris yang berjudul Hunger yang merupakan terjemahan pula dari edisi bahasa asli dari novel ini, yakni bahasa skandinavia, tepatnya Norwegia, yang berjudul Sult. Pengarangnya bernama Knut Hamsun, seorang pengarang penerima penghargaan novel sastra pada tahun 1920

Kisah dari novel ini sebenarnya sederhana. Namun begitulah para pengarang besar dunia bekerja; menghasilkan makna yang luar biasa dari cerita-cerita sederhana. Katakanlah seperti The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway atau The Alchemist karya Paulo Coelho.

Apa Kekuatan Luar Biasa yang Terkandung Dalam Novel Ini?

Aku bisa bilang bahwa “semangat” lah kekuatan utama novel ini. Semangat pantang menyerah dari seorang penulis yang mesti menghadapi rasa lapar namun tetap bersikukuh untuk hidup dari kepenulisannya. Meskipun pada akhirnya sang penulis menyerah dan kalah oleh kehidupan, setidak-tidaknya dia sudah berjuang dengan perjuangan yang mengagumkan.

Memang bukan suatu pekerjaan yang mudah menjadi seorang penulis itu. Apalagi penulis yang mampu melahirkan suatu karya yang luar biasa.

Banyak kritikus dan sastrawan dekat Knut yang memberi kesaksian bahwa tokoh utama dalam novel ini adalah Knut sendiri, di mana dia sebenarnya menceritakan masa mudanya pada awal-awal karirnya sebagai seorang penulis.

Knut juga sempat menyerah dari jalan kepenulisan sebagaimana tokoh utama dalam novel ini, bahkan beberapa kali, namun kemudian ia kembali dan kembali lagi dan akhirnya kepenulisan menjadi jalan hidupnya.

Apa yang bisa aku petik dari novel ini?

Saat membaca novel ini, kesan yang paling mendalam adalah tentang perjuangan menjalani profesi yang sudah kita pilih. Aku jadi merasa malu dengan Sang Tokoh karena aku begitu banyak mengeluh akan ketidak-mampuanku menghasilkan karya padahal aku sebenarnya memiliki banyak fasilitas untuk itu.

Tidak seperti Sang Tokoh, aku tidak terjebak dalam situasi kelaparan, aku pun masih memiliki sarana untuk menulis; laptop, smartphone, dan akses Internet. Sedangkan sang tokoh, yang dia punya hanyalah lembaran-lembaran kertas dan sebuah pensil serta baju yang melekat di badan, yang kemudian dia preteli satu per satu demi bisa makan. Dengan segala macam kekurangan itu dia tetap menulis meski berkali-kali dia dihempas oleh kehidupan.

Membaca perjuangan sang tokoh yang dihadirkan Knut dengan begitu detil dan dalam akan mampu menggugah kita dengan banyak cara. Kadang dia membuat kita prihatin, kadang dia membuat kite tergelitik, kadang dia membuat kita terharu. Sang Tokoh adalah pribadi yang tidak sempurna, dan memang tidak ada pribadi yang sempurna, sehingga dia mampu menghadirkan kemanusiaan yang benar-benar utuh.

Sungguh suatu kemanusiaan yang luar biasa.

Iklan

Kabar Gembira Dari Pontianak

Catatan Mengenai Kemenangan HMI Pada Pilpresma IAIN Pontianak

Siang tadi, aku menerima selentingan kabar yang cukup menggembirakan. Dalam suasana siang yang menyenangkan dengan ditemani oleh karya sastra menawan dari Knut Hamsun yang baru saja mulai aku baca, kabar tersebut menambah rasa senang di hatiku.

Kabar tersebut datang dari kota yang baru-baru ini saja aku tinggalkan setelah menghabiskan waktu di sana selama dua pekan penuh; Pontianak. Kabar gembiranya berkenaan dengan kemenangan kawan-kawan HMI cabang Pontianak dalam kontestasi pemilihan presiden dan wakil presiden mahasiswa di lingkungan IAIN Pontianak.

Kandidat yang diusung oleh kawan-kawan HMI di sana, Khairul Tamam dan Badrus Saleh, berhasil memenangi pemilihan.

(BACA: Perhitungan Suara Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa IAIN Pontianak)

Kemenangan kawan-kawanku ini menggembirakan bagiku sebab selama keberadaanku di sana, kebanyakan orang-orang yang berinteraksi denganku, adalah mereka, kader-kader HMI IAIN Pontianak.

Mulai dari unsur-unsur LKD (Latihan Kader Dakwah) yang aku kelola, hingga teman ngopi, nongkrong, dan jalan-jalan, sebagian besar berasal dari kampus Islam terbesar di Kalimantan Barat tersebut.

Aku bahkan berkesempatan untuk terlibat diskusi yang diselenggarakan oleh Komisariat Dakwah, salah satu komisariat HMI di IAIN Pontianak di samping Komisariat Syariah dan Komisariat Tarbiyah, sebanyak dua kali. Sekali sebagai peserta, sekali sebagai pembicara.

Maka dari itu, sedikit banyak aku turut menyaksikan sendiri bagaimana mereka membangun konsolidasi politik internal dan menyusun kekuatan untuk menghadapi pemilihan ini. Sebagai orang luar yang mengamati pergerakan ini secara sederhana, aku bisa dengan jelas merasakan geliat antusiasme mereka untuk memenangkan kontestasi ini dengan didorong, salah satunya, oleh semangat perkaderan HMI.

Aku bahkan sempat membangun percakapan mengenai pergerakan mereka ini. Mengenai harapan-harapan mereka yang mereka titipkan pada kontestasi ini, berserta pula kekhawatiran yang menggelayuti langkah-langkah mereka.

Dalam dua kali diskusi yang mereka selenggarakan, sekali membahas mengenai refleksi pergantian tahun, dan sekali membahas mengenai Mission HMI di mana aku bertindak sebagai pembicara, aku mampu menangkap harapan beserta kekhawatiran itu.

Harapan dan kekhawatiran mereka berkutat pada bagaimana kursi kepemimpinan yang ingin mereka capai ini menentukan pergerakan HMI di internal kampus IAIN ke depannya.

Kursi kepemimpinan internal kampus memang merupakan alat yang efektif untuk memuluskan agenda perkaderan. Dengan kepemimpinan tersebut, geliat perkaderan dan perekrutan dapat diberi kesempatan yang seluas-luasnya. Sebaliknya, saat kursi kepemimpinan tersebut dipegang oleh orang-orang yang kontra dengan HMI, akan ada upaya-upaya tertentu dalam menghalang-halangi perekrutan dan perkaderan.

Kini kawan-kawan HMI IAIN Pointianak dapat bernafas lega. Namun tentu jangan sampai menjadi jumawa. Kesombongan adalah kekalahan pertama orang-orang besar. Kemenangan ini mesti disikapi dengan rendah hati. Segala niatan dan tujuan harus dikembalikan kepada basis nilai yang dianut oleh HMI. Niatan yang ikhlas dari kesadaran ilahiah akan kebenaran, dan tujuan yang mencoba mencapai ridha ilahi. Sebagaimana yang termaktub dalam pasal 04 Anggaran Dasar HMI.

Kesempatan yang diperoleh dari kursi kepemipinan ini haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan perekrutan dan perkaderan, yang merupakan fungsi utama HMI sebagai organisasi kader di mana insan cita (yang berkualitas akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan Islam, dan bertanggung-jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT) dibentuk dan dibina.

Namun kesempatan tersebut janganlah sampai memuat unsur ketidakadilan bagi pegerakan-pergerakan eksternal lainnya yang ada lingkungan kampus. Sebab tindakan tersebut justru akan berlawanan dengan nilai-nilai dasar perjuangan HMI sendiri yang begitu menujungjung kemerdekaan dalam berpikir dan bertindak. Cukuplah jika kursi kepemimpinan tersebut menjadi pembuka ruang fasilitas agar perkaderan dan perekrutan dapat berjalan dengan mulus dan tanpa tertanggu.

Terakhir, kita semua tentu harus sadar bahwa kepemimpinan adalah ujian dari Allah. Ujian yang akan memperlihatkan bagaimana kualitas kita sebagai khalifah Allah di muka bumi. Maka bagi kawan-kawan HMI di IAIN Pontianak, buktikanlah bahwa kepemimpinan yang berada di genggaman kalian ini adalah anugerah dan berkah. Bukan hanya bagi anggota dan kader HMI, melainkan juga bagi seluruh mahasiswa IAIN Pontianak.

Menghadiri Forum Diskusi HMI cabang Pontianak Komisariat Dakwah dengan Tajuk; Ekspektasi Mahasiswa Pasca Tahun Baru Masehi

Hari Jumat lalu, 04 Januari 2018 pasca salat Ashar, aku berkesempatan menghadirkan diskusi rutin yang diselenggarakan oleh HMI cabang Pontianak Komisariat Dakwah.

Sebelumnya, selepas salat Jumat di Masjid Agung al-Mujahidin, aku dan kawanku, Albi, yang juga merupakan anggota HMI dari Komisariat Dakwah, menemui kanda Saiful Bahri, senior HMI cabang Pontianak Komisariat Syariah, di Taman Catur UNTAN (Universitas Tanjungpura). Rencananya, aku akan menghabiskan waktu siang di Asrama Mahasiswa Kubu Raya yang merupakan kediaman kanda Saiful sedangkan Albi pergi mengikuti kelas perkuliahan.

Selepas Ashar, aku bersama kanda Saiful melucur menuju Kampus Hijau IAIN Pontianak. Setelah mengantarku, dia meminta izin untuk menghadiri rapat PRIMARAYA (Perhimpunan Mahasiswa Kubu Raya) dan berjanji akan menjemputku selepas diskusi nanti.

Diskusi ini mengambil tempat di Taman Biro AUK di kompleks IAIN Pontianak. Dengan dihadiri oleh sekitar 20an anggota Komisariat Dakwah, dan juga beberapa orang dari komisariat lainnya, diskusi dimulai pada pukul setengah empat sore.

Pemateri pada diskusi kali ini, yunda Fauziah Husnaini, senior Komisariat Dakwah dan juga instruktur BPL HMI cabang Pontianak, membuka diskusi dengan ungkapan reflektif,

Tahun baru dihabiskan dengan dua cara, hura-hura yang sia-sia atau dengan sesuatu yang bermanfaat. Mereka yang menghabiskan waktu tahun baru untuk hura-hura, termasuklah ke dalam kalangan yang merugi sebagaimana termaktub dalam surat al-Ashr ayat 02.

Kemudian yunda Fauziah mulai memaparkan materinya yang berkutat pada refleksi mengenai harapan mahasiswa, khususnya kader HMI Komisariat Dakwah ke depannya. Harapan yang baik bagi kehidupan mahasiswa itu sendiri.

Yunda Fauziah juga banyak menyinggung mengenai harapan-harapan (atau dengan kata lain, ekspektasi) yang ada di pundak para anggota HMI dari Komisariat Dakwah. Bagaimana mereka harus bisa menyolidkan diri dengan membangun ikatan emosional yang kuat, baik ke atas, ke senior-senior HMI, maupun ke bawah, ke junior-junior yang baru-baru saja ditahbiskan menjadi anggota. HMI kuat karena silaturahmi. Ketika silaturahmi itu kendor, maka HMI akan melemah, tegasnya.

Bagi yunda Fauziah, mahasiswa haruslah memiliki tujuan yang terarah. Dengan langkah-langkah yang terperinci. Jangan sampai larut dalam kenyamanan. Beliau bahkan menyarankan agar langkah-langkah untuk mewujudkan harapan tersebut tercatat dalam suatu bentuk tulisan yang dapat dilihat kembali sebagai alat ukur pencapaian harapan-harapan tersebut di masa depan.

Diskusi ini juga dihiasi dengan tanggapan-tanggapan yang datang dari peserta diskusi. Salah satu tanggapan yang menarik datang dari salah seorang anggota HMI dari Komisariat Dakwah.

Menurutnya, ada degradasi kesadaran para anggota HMI dalam menghadiri kegiatan-kegiatan keilmuan. Degradasi ini kemudian mengakibatkan lemahnya kualitas intelektual mereka.

Tanggapan ini disambung dengan pertanyaan; apa mimpi ketua Komisariat Dakwah bagi perkembangan komisariat depannya? Pertanyaan ini dijawab oleh yunda Desy, selalu ketua umum Komisariat Dakwah, dengan pernyataan bahwa mimpinya adalah bagaimana agar anggota bisa menjadi kader-kader berkualitas.

Sungguh suatu mimpi yang besar yang membutuhkan kerja keras yang betul-betul serius untuk mewujudkannya jika mengingat mengenai degradasi yang sudah disebutkan tadi.

Diskusi terus berlanjut tanpa terasa hingga penghujung senja. Setelah ditutup dengan foto bersama, masing-masing peserta diskusi mulai kembali ke kehidupan pribadi mereka masing-masing.

Aku sendiri masih menunggu beberapa saat sembari bercengkrama dengan kawan-kawan anggota Komisariat Dakwah mengenai dinamika yang terjadi di kampus mereka. Menarik menyimak pemaparan mereka mengenai dinamika tersebut yang mana mereka tidak lama lagi akan menggelar pemilihan presiden mahasiswa.

Tak lama kemudian kanda Saiful datang menjemputku dan kami pun kembali ke Asrama Mahasiswa Kubu Raya.

Tentang Pontianak dan Manusia-manusianya

Manusia memang selalu unik di manapun mereka berada. Termasuk di Pontianak ini. Setelah beberapa hari berinteraksi dengan kawan-kawan dari HMI cabang Pontianak, baik yang berasal dari struktural pengurus cabang, BPL, maupun LDMI, aku bisa menangkap keunikan itu dengan caranya sendiri-sendiri.

Kedatanganku di sini dalam rangka pengelolaan training Latihan Kader Dakwah (LKD) yang diselenggarakan oleh LDMI HMI pada akhir tahun nanti. Kedatanganku sengaja lebih awal dari hari pelaksanaan pelatihan demi dapat melakukan konsolidasi konsep dan teknis dengan pihak-pihak terkait; Pengurus Cabang, BPL, dan LDMI itu sendiri.

Aku sudah mendiskusikan berbagai macam hal. Diskusi paling menarik adalah diskusiku bersama ketua umum BPL HMI cabang Pontianak, Abdul Muiz.

Dari Kanda Muiz, aku mendapatkan pemahaman penting mengenai kultur perkaderan di lingkungan HMI cabang Pontianak. Dalam diskusi tersebut juga kami menyatukan pemahaman mengenai training yang akan kami kelola. Mulai dari penyeleksian dalam tahapan screening, hingga metode penilaian yang akan kami terapkan.

Kanda Muiz sepakat dengan gagasanku untuk menerapkan metode penilaian kualitatif. Metode ini aku dapatkan ilmunya dari Training Management Training yang aku ikut beberapa waktu lalu. Dengan metode ini, konversi nilai itu tidak ke dalam angka-angka. Tapi kata-kata.

Sebelumnya, gagasan mengenai metode penilaian ini sudah aku diskusikan juga secara mendalam bersama koordinator Steering Committee, ayunda Fauziah Husaini. Aku sudah terlebih dahulu menjalin diskusi yang intens via WhatsApp dengan yunda Fauziah. Aku membantunya mempersiapkan perangkat lunak pelatihan berupa konsep dan kurikulum.

Selama berinteraksi dengan manusia-manusia Pontianak ini, salah satu kekentalan budaya yang aku temui, terutama di lingkungan HMI, adalah budaya melayu. Irama logat melayu yang kental masih umum menghiasai lidah pada penutur bahasa di sini.

Selain itu, aku juga menemukan kekentalan budaya China/ Tionghoa yang tampak jelas di jalan-jalan kota. Budaya Tionghoa di sini juga berbanding lurus dengan budaya Kristen. Secara etnis Tionghoa itu sebagian besar adalah pemeluk agama Kristen. Bangunan-bangunan gereja yang megah dan indah dapat dengan mudahnya kita temukan.

Belum lagi kedatanganku ke sini bertepatan dengan liburan natal sekaligus juga tahun baru. Perayaan kedua momentum tersebut terasa begitu hidup.

Ada satu karakteristik kebudayaan HMI cabang Pontianak yang aku pikir bernilai sangat positif dan dapat menjadi pelajaran berharga bagi kader HMI di cabang-cabang lain, terutama cabangku sendiri.

Karakteristik tersebut adalah bagaimana kader-kader HMI cabang Pontianak mau memberikan kontribusinya pada kegiatan-kegiatan yang ada meskipun kegiatan tersebut tidak memiliki kaitan langsung dengan mereka selain bahwa kegiatan tersebut berada dalam naungan HMI. Misalkan saja LKD ini. Ternyata, para panitia (organizing committee) kegiatan ini terdiri dari utusan-utusan setiap komisariat. Tidak hanya terbatas pada anggota LDMI semata. Mereka masih mau membantu kegiatan lembaga profesi padahal mereka sendiri bukanlah bagian langsung dari lembaga tersebut.

Menurutku kemauan itu adalah suatu nilai yang sangat positif. Pada beberapa cabang, jangankan bukan bagian dari institusi penyelenggara, berbeda gerbong politik pun dapat menjadi alasan keengganan seseorang untuk memberikan sumbangsihnya pada suatu kegiatan.

Masih ada beberapa hari lagi yang akan aku habiskan di sini, insya Allah. Aku berharap beberapa hari ke depan itu akan menjadi momentum yang bisa aku manfaatkan untuk bisa lebih banyak lagi belajar dari manusia-manusia di sini.

Kesan Bacaan “Cerita Buat Para Kekasih” Karya Agus Noor

Cerita buat Para KekasihCerita buat Para Kekasih by Agus Noor

My rating: 3 of 5 stars

Ini buku Agus Noor pertama yang secara utuh aku baca. Sebelumnya, aku hanya membaca beberapa cerpennya yang tersebar di Internet dan di blog pribadinya, Dunia Sukab. Salah satu yang paling memukau adalah “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi.” Agus Noor memang seorang penutur cerita yang piawai menangkap peristiwa-peristiwa sosial untuk dia sajikan secara kritis dalam cerita-ceritanya.

Secara keseluruhan, aku akan mengatakan cerita-cerita dalam buku ini bagus. Namun aku tidak menyukai beberapa cerita yang dalam pandanganku terlampau surealis atau mistis yang penuh dengan metafora-metafora yang membingungkan. Bagiku, kekuatan sebuah cerita adalah kedekatanya dengan pengalaman keseharian kita. Meskipun dengan latar belakang yang fiktif dan bahasa yang tinggi ataupun tertimbun oleh diksi-diksi asing, apabila ceritanya mampu menyentuh kesadaran pengalaman yang terjangkau oleh kita, cerita tersebut akan menarik.

Maka cerita-cerita yang Agus Noor sajikan berangkat dari problematika sosial, sebagian besar soal cinta dan romansa, adalah yang aku sukai dari buku ini.

Sebagaimana judulnya, cerita-cerita dalam buku ini sebagian besar adalah cerita-cerita cinta. Bacaan ini cocok bagi mereka yang sedang semangat dalam menikmati ekspresi tersebut. Banyak kutipan-kutipan percintaan yang bisa seseorang ambil, baik untuk dipersembahkan kepada sang kekasih, atau sekadar dipergunakan untuk caption di Instagram . Salah satunya misalnya kutipan,

Wanita memang selalu berbahaya, karna kita tak pernah tahu apa yang dipikirkannya

Meskipun ritmeku dalam membaca buku ini cukup pelan, aku menikmatinya. Semoga saja juga aku bisa menikmati karya-karya Agus Noor selanjutnya.

View all my reviews

Merancang Suatu Bentuk Pelatihan yang Ideal

Catatan Harian TMT BPL PB HMI Korwil JABODETABEKA Banten; Hari ke-03

Salah satu kelemahan utama instruktur di HMI adalah kemampuan merancang pelatihan. Hal tersebut aku sadari betul setelah seharian kemarin bersama fasilitator TMT belajar bagaimana membuat rancangan yang rapi dan juga sangat detil. Mulai dari awal hingga akhir suatu pelatihan. Awalannya pun bukan sekedar sehari dua hari sebelum pelatihan, melainkan lebih jauh dari itu dengan menariknya ke awal penyusunan konsep yang benar-benar matang.

Hari ketiga pelatihan TMT ini, Kamis (11/10) dimulai dengan suasana yang ceria. Fasiltator mengajak kami bergoyang di pagi hari dengan senam Maumere. Inilah salah satu unsur yang menarik dari pelatihan ini. Ada sisipan-sisipan kesenangan yang membuat suasana menjadi santai di tengah-tengah materi yang sebenarnya sangat serius.

Pada hari ini, fokus utamanya adalah perancangan pelatihan. Perancangan tersebut, seperti yang sudah aku singgung di awal, bukan hanya rancangan pelatihannya saja. Melainkan juga rancangan langkah-langkah awal mula dari analisa situasi yang kemudian akan menjadi bahan penyusunan konsep pelatihan dan pembuatan modul bagi pelatihan tersebut.

Aku merasakan bahwa perihal perancangan ini benar-benar aktivitas yang sangat menguras pikiran. Tidak heran jika sepanjang hari kemarin, kami hanya berkutat di praktek perancangan pelatihan ini dengan lebih dari satu cara dan lebih dari sekali revisi atas apa yang sudah kami kerjakan. Kami dituntut oleh fasiltator untuk bisa membuat rancangan yang benar-benar rapi dan detil. Bukan sekadar suatu rancangan yang simulatif semata, melainkan suatu rancangan yang aplikatif dan realistis. Suatu rancangan yang benar-benar dapat terterapkan secara nyata. Lengkap dengan antisipasi atas kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Pada sesi pertama di pagi hari, setelah suasana cair oleh goyang Maumere, fasilitator memberikan pemahaman teoritis mengenai perancangan pelatihan. Apa saja instrumen yang dibutuhkan untuk menyusun rancangan tersebut dan apa pula langkah-langkahnya.

Selepas penyampaian teoritis tersebut, yang memakan waktu tidak sampai satu jam, kami langsung dibagi kedalam empat kelompok di mana masing-masing kelompok terdiri dari tiga orang. Setiap kelompok diberi tugas untuk menyusun rancangan pelatihan Basic Training (Latihan Kader I) HMI dengan mengunakan diagram ikan Ishikawa. Aku berkesempatan berkelompok bersama Hendro (Bandar Lampung) dan Irsyad (Depok). Kami menyusun rancangan LK1 dengan latar belakang sebuah komisariat di HMI cabang Bandar Lampung.

img-20181012-wa0001
Hasil rancangan pertama yang sederahana. Menggunakan diagram Ishikawa.

Pada siang harinya. selepas salat Zuhur, kami mempresentasikan hasil rancangan kami dengan metode Wood Cafe. Teknisnya, masing-masing kelompok menentukan satu orang sebagai presentator yang diam di tempat (stand) yang telah ditentukan untuk kelompok tersebut, sedangkan dua anggota kelompok sisanya bertindak sebagai visitor yang akan mengunjungi stand kelompok lain secara bergilir untuk mendengarkan pemaparan presentator mereka.

Selepas presentasi, ada refleksi dari fasilitator untuk mengevaluasi hasil rancangan kami. Dari hasil evaluasi tersebut tampaklah banyaknya kekurangan dari rancangan kami. Salah satu yang paling esensial adalah ketelitian langkah demi langkah yang masih kurang. Rancangan kami masih terlalu luas, terlalu general. Startegi taktisnya dari rancangan tersebut belum kami bubuhkan sehingga sulit membayangkan penerapannya secara nyata.

Oleh karena itu, fasilitator kemudian melebur kami menjadi dua kelompok saja untuk bisa melanjutkan (melengkapi) rancangan kami. Kami diberi waktu hingga malam hari untuk merampungkan rancangan ini dengan lebih rapi dan lebih detil. Bergabung ke dalam kelompok kami kelompok yang terdiri dari TB. Masykur (Cilegon), Iqbal (Tangerang), dan Heru (Serang).

Malam hari selepas salat Isya dan makan malam, kami kemudian menjabarkan hasil rancangan kami secara bergilir. Dalam presentasi kali ini, kami maju bergiliran setiap kelompok. Kelompok lain yang menyaksikan kemudian memberikan kritik dan saran atas hasil kerja kami.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kemudian kami memasuki sesi terakhir untuk hari ini. Sesi yang menurutku paling menguras pikiran.

Masih sama seperti sebelumnya, kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan diarahkan untuk merancang pelatihan. Ada tiga kelompok, kelompok pertama merancang Basic Training, kelompok kedua merancang Intermediate Training dan kelompok terakhir merancang Training of Trainer. Aku bersama Irsyad (Depok), Wakid (Malang), dan Yogi (Serang) mendapat tugas untuk merancang Basic Training.

Bedanya, kali ini metode untuk merancang yang kami pergunakan kali ini adalah metode 4D (Discovery, Dream, Design, Destiny), suatu metode yang akan menghasilkan suatu skema yang rapi dan detil. Setelah fasilitator menjelaskan mengenai langkah-langkah yang mesti kami tempuh dalam menyusun rancangan ini, kami langsung mulai membangun rancangannya.

Pada titik inilah aku, dan kawan-kawanku yang lain merasakan betapa aktifitas ini menguras pikiran dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Menjadi seorang konseptor yang mampu menghasilkan rancangan yang matang bukanlah sesuatu yang mudah. Butuh kecerdasan yang tinggi dan imajinasi yang luas demi bisa dapat menyusun langkah demi langkah dengan presisi yang tepat dan akurat beserta kemungkinan-kemungkinan yang menyertainya.

Hingga pukul dua dini hari, kami belum kunjung juga menyelesaikan rancangan kami. Kami masih berkutat pada diskusi yang alot untuk menentukan langkah demi langkah yang mesti kami tetapkan. Kealotan juga terjadi saat kami mendata tantangan dan ancaman yang mungkin akan ada di hadapan langkah-langkah yang kami tetapkan serta bagaimana mengatasinya.

Master of Training memutuskan agar kami melanjutkan tugas perancangan ini di pagi hari dan mengarahkan kami agar istirahat.

Aku merasa beruntung karena fasilitator membawakan materi ini dengan santai. Padahal materinya adalah materi yang serius. Aku melihat di sinilah keseimbangan yang perlu kami ambil ketika mengelola pelatihan. Materi yang berat jika disajikan dengan metode yang juga berat, tentu akan menimbulkan kejenuhan. Maka salah satu triknya, materi yang berat disajikan dalam bingkai metode yang ringan dilengkapi dengan partisipasi yang luas dari para peserta.

Menuju Sosok Seorang Fasilitator

Catatan Harian TMT BPL PB HMI Korwil JABODETABEKA Banten; Hari ke-02

Training ini berjalan dengan santai. Namun muatan materinya butuh perhatian yang sangat serius sebab berkaitan dengan suatu bangunan ideal yang akan menentukan pola perkaderan HMI di masa depan. Dalam menyajikan materi, MoT menggunakan metode yang beragam. Namun dari keberagaman metode itu, ada satu kekuatan khas yang mewarnai semuanya, yakni warna partisipatif di mana semua peserta mesti memberikan kontribusi aktifnya dalam alur penyajian materi.

Pada pagi hari, selepas salat Subuh kami melakukan olahraga ringan. Lantas kemudian pada pukul setengah sembilan, forum dibuka setelah sebelumnya kami menyelesaikan kegiatan pribadi masing-masing dan juga menyantap sarapan yang sudah disediakan oleh panitia pada pukul tujuh.

Untuk hari Rabu (10/10) ini, materi utama yang akan kami serap adalah Benchmark Fasilitator. Materi yang sungguh menarik dan sarat akan muatan yang penuh makna. Salah satu kesimpulan penting dari materi tersebut adalah penggunaan istilah ‘fasilitator’ sebagai ganti dari istilah ‘narasumber,’ atau ‘instruktur,’ atau bahkan ‘master.’ Fasilitator menjadi padanan yang tepat bagi istilah trainer sebagaimana yang sudah aku singgung pada catatanku sebelumnya.

img_20181010_144618
Moderator dari KOHATI cabang Cilegon yang turut membantu mencairkan suasana.

Rangkuman Materi Benchmark Fasilitator

Materi ini berguna untuk membangun suatu pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya tolak ukur tertentu (bencmark) yang diterapkan atas para fasilitator di setiap training.

Fasilitator itu sendiri memiliki peranan kunci pada training. Dia berperan sebagai penentu kualitas training dan juga hasil akhir daripada training tersebut. Mulai dari tataran konsep training, kurikulum, metode, metodologi, hingga ekspektasi (tujuan dan terget) dari training.

Dalam visi BPL PB HMI, ke depannya pada perkaderan di HMI, posisi narasumber dan instruktur, akan digeser oleh fasilitator. Sehingga mulai dari pengelolaan training, hingga penyampaian materi-materi yang ada di dalamnya dipegang oleh sosok berkualifikasi fasilitator.

Untuk itu, perlu adanya suatu bentuk tolak ukur tertentu yang menjadi patokan bagi sosok fasilitator yang ideal pada Perkaderan. Pada titik inilah, Benchmark Fasilitator mendapatkan urgensinya.

Benchmark Fasilitator berlandaskan pada tiga jenjang; Pertama: keterampilan komunikasi, kemudian, Kedua: berjenjang menuju keterampilan memafasilitasi kelompok, dan Ketiga: berpuncak pada keterampilan perencanaan partisipatif.

Dalam jenjang pertama benchmark tersebut terdapat langkah demi langkah berupa skill atau keterampilan khusus yang mesti dikuasai oleh seorang fasilitator yang baik. Antara lain, adalah keterampilan mengamati (probing), mendengar, bertanya, berdiskusi (dialog), memberikan umpan balik (feedback) dlsb.

Sedangkan pada jenjang kedua, keterampilan yang dituntut itu mencakup; membangun kepercayaan, monitoring tahap-tahap kelompok, monitoring peran kelompok, membangun dinamika kelompok, mendorong kerja kelompok, mendorong partisipasi yang merata, dan penyelesaian konflik.

Terakhir, yang merupakan benchmark tertinggi bagi fasilitator adalah keterampilan perencanaan partisipatif yang mencakup keterampilan-keterampilan tertentu yakni, assessment, desain, perencanaan, manajemen, implementasi, monitoring, dan evaluasi.

Dengan Benchmark Fasilitator ini, training di HMI akan tertata rapi dan tersusun sesuai standar yang diharapkan hasilnya akan lebih maksimal dalam mewujudkan tujuan dari Perkaderan itu sendiri.

Namun, apakah Benchmark ini dapat serta merta terterapkan di lingkungan perkaderan HMI, mulai dari tingkatan komisariat, hingga tingkat nasional?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, butuh suatu analisa tersendiri yang akan mengurai mulai dari kekuatan, kelemahan, ancaman, hingga peluang yang terdapat pada masing-masing lingkungan perkaderan di HMI.

Suatu lingkungan perkaderan (HMI tingkatan cabang, atau tingkatan komisariat) mesti memiliki tantangannya sendiri-sendiri dalam mewujudkan dan menegakkan benchmark ini. Tugas kita adalah menciptakan agen-agen fasilitator pembaharu yang akan menggeser kultur-kultur perkaderan lama dan membawa nafas baru bagi perkaderan melalui Benchmark Fasilitator ini sehingga pada nantinya, setiap perkaderan di HMI dapat memiliki suatu bentuk kualitas yang khas dan bernilai tinggi serta seragam dan selaras mulai dari lingkungan perkaderan lokal, hingga nasional.

***

Master of Training (MoT), atau fasilitator (mungkin ke depannya aku akan cenderung menggunakan istilah ini pada catatan-catatanku) menyisipkan dua kali kegiatan kelompok sepanjang hari kemarin. Pada kegiatan yang pertama, kami dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok meneliti, menyusun dan mempresentasikan lima metode pembelajaran yang dapat dipergunakan dalam training.

Dokumen ringkasan hasil kerja kami dapat dilihat di LINK ini

Kelompokku sendiri, yang terdiri dari aku, Wakid (Malang), Iqbal (Tangerang), Heru (Serang), TB. Masykur (Cilegon), dan Oka (Jakarta Raya) mendapatkan bagian untuk meneliti, menyusun, dan mempresentasikan metode; 1. Mind Maping, 2. Inquiry, 3. Role Playing, 4. Comparative Script, dan 5. Debat.

img-20181010-wa0004
Kelompok kami berdiskusi untuk menyusun materi presentasi.

Lalu pada malam hari, kami kembali dibagi menjadi beberapa kelompok. Kali ini, aku satu kelompok dengan Iqbal (Tangerang) dan Totong (Serang). Tugas kami adalah membuat rangkuman materi hari Rabu (10/10) ini dan menyusun gambaran penerapannya pada lingkungan perkaderan kami masing-masing. Rangkuman yang kami susun adalah apa yang aku tulis di catatan ini di atas.

img-20181010-wa0041
Presentasi kelompok kedua bersama Iqbal dan Totong.

Forum berakhir agak terlambat pada pukul 23.00. Selepas berbincang-bincang sebentar dengan kawan-kawan yang datang berkunjung ke arena training ini, aku langsung ke kamar dan istirahat. Hari esok yang menyenangkan menanti.

Menatap Arah Baru Perkaderan Pengelola Pelatihan di HMI

Catatan Harian TMT BPL PB HMI Korwil JABODETABEKA Banten; Hari ke-01

Selama kurang lebih lima hari ke depan, aku akan menjalani proses perkaderan dengan tajuk Training Managament Training (TMT) yang diselenggarakan oleh BPL PB HMI Koordinator Wilayah JABODETABEKA Banten. Pelatihan ini diselenggarakan di kota Cilegon. Kota yang memiliki banyak kenangan bagiku. Dengan cuacanya yang panas dan gerah kota ini menyambutku saat aku tiba pada hari Sabtu (06/10) lalu.

Aku datang terlalu awal. Namun aku memang meniatkannya karena ingin terlebih dahulu bertegur sapa dengan kawan-kawan dari HMI cabang Cilegon.

Akhir pekan aku jalani di kota Cilegon ini dengan sedikit jalan-jalan. Menikmati angin sore yang segar di pinggiran waduk yang terletak tidak jauh dari sekretariat HMI cabang Cilegon. Selain itu, aku turut membantu panitia penyelenggara menyiapkan beberapa hal. Termasuk tempat yang akan dipergunakan untuk pelatihan ini. Yakni BLK (Balai Latihan Kerja) kota Cilegon.

img_20181007_145956
Angin sore yang segar.

Para peserta selain diriku baru berdatangan pada hari Senin. Pada hari itu pula, sore harinya, kami menuju BLK setelah sebelumnya bermalam di sekretariat HMI cabang Cilegon. Setibanya kami di BLK, pendaftaran peserta langsung dibuka. Sepanjang hari itu hingga malam hari, kami tidak melakukan apa-apa selain menata tempat pelatihan sembari menunggu kedatangan kawan-kawan peserta yang lain.

Screening Test dan Pembukaan

Pada pagi hari Selasa, setelah semua peserta yang terdaftar datang, dimulailah screening test berupa tes tertulis yang terdiri dari 10 soal. Soal-soal tersebut disusun langsung oleh Arif Maulana, ketua umum BPL PB HMI. Semua soal berkisar pada teknis pengelolaan pelatihan di HMI. Sebenarnya tes ini lebih cocok disebut sebagai pre-test ketimbang screening. Sebab sejatinya tidak ada yang ter-‘saring’ dari proses ini dan juga soal-soal yang diajukan lebih kepada pengujian pemahaman dan wawasan kami mengenai pelatihan di HMI.

Selepas Zuhur, pelatihan ini kemudian dibuka. Hadir dalam pembukaan jajaran pengurus HMI cabang Cilegon beserta kawan-kawan anggota HMI cabang Cilegon, KAHMI Banten, dan juga Ketua Bidang PA PB HMI, Helmi Yunan Ihnaton yang kemudian dirinya membuka rangkaian kegiatan training ini secara resmi. Prosesi pembukaan selesai selepas waktu Ashar. Kami kemudian diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan bebas hingga lepas Isya di mana kami akan memulai forum dengan orientasi training.

img-20181009-wa0034
Selepas seremonial pembukaan.

Orientasi Training

Sebenarnya apa sih TMT ini? Jujur saja, pertanyaan tersebut masih menggelayut pada banyak benak kader HMI. Bahkan juga para peserta yang datang untuk mengikuti pelatihan ini masih berpijak pada gambaran yang kabur mengenai apa sebenarnya TMT ini berserta maksud dan tujuannya.

TMT ini sebenarnya adalah produk Pedoman Perkaderan hasil kongres ke-29 di Pekanbaru. Secara konsep, ia masih sangat muda. Saking mudanya, belum ada sama sekali penyelenggaraan TMT tersebut meski sudah beberapa tahun ini masuk ke dalam Pedoman Perkaderan. Maka TMT yang kami ikuti ini adalah proyek percontohan untuk membuktikan efektivitas dan efisiensi TMT ini dalam mencetak sumber daya pengelola pelatihan yang mumpuni.

Bertindak sebagai master of training (MoT) dalam pelatihan ini adalah Arif Maulana sendiri.

Dalam Orientasi Training dia menjabarkan visinya mengenai pola perkaderan pengelola pelatihan HMI di masa yang akan datang. Beberapa dari visinya tersebut bernuansa revolusioner. Misalkan visinya mengenai peran master of training yang akan lebih dominan pada setiap pelatihan karena terlibat sejak rancangan awal pelatihan. Menurutntya, MoT harus benar-benar menjadi perancang, pengelola, dan pengevaluasi pelatihan. Bukan sekasar penjaga pelatihan yang perannya cenderung sebagai pengawas saja.

Visi ini cukup menggebrak karena akan bergesekan dengan tradisi-tradisi dalam perkaderan di HMI.

Dalam penjabarannya, dia mengungkapkan maksud dari konsep TMT ini. Konsep ini, beserta dengan konsep TOT (Training of Trainer) yang merupakan jenjang pelatihan di bawah TMT, adalah upaya untuk memperbahrui pola perkaderan di HMI dengan membangun suatu bentuk perkaderan yang tersusun dengan rapi dan terstandarisasi. Selama ini, pelatihan yang terstandarisasi hanyalah pelatihan formal. Sedangkan pelatihan informal kerap terselenggara dengan konsep yang ala kadarnya. Terutama pelatihan untuk pengelola pelatihan yang masih terpecah antara moda Senior Course, Training Instruktur, dan Training of Trainer, yang mana masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Secara sederhana, TMT bermaksud untuk menambal kekurangan-kekurangan yang tidak teratasi oleh perkaderan pengelola pelatihan seperti Senior Course dan Training Instruktur. Yakni kemampuan/ keterampilan (skill) yang mencakup perencanaan, pengelolaan, dan pengevaluasian pelatihan.

Memang, ketiga skill tersebut kurang mendapat perhatian dari perkaderan pengelola pelatihan yang sudah ada di mana pada perkaderan tersebut aspek penguasaan materi mendapatkan porsi yang lebih dominan sedangkan skill teknis untuk pelatihan hanya diberi porsi-porsi dasar saja. Seandainya pun ada porsi lebih, kelebihannya tersebut terpusat ada pada proses pengelolaan pelatihan saja. Bukan pada perencanaan dan pengevaluasian.

Ke depannya, akan ada penyelarasan/ standarisasi dalam dunia perkaderan para pengelola pelatihan. Lebih radikal dari itu, akan ada pula penyelarasan berbagai istilah yang terdapat dalam perkaderan di HMI. Misalkan penggunaan istilah “instruktur” dan “master” sebagai mereka yang sudah lulus dan memenuhi kualifikasi pengelolaan training, akan digeser dengan istilah “trainer.”

Istilah ini dikemukakan agar dapat lebih sesuai dengan istilah-istilah perkaderan lainnya di mana kata training-lah yang kerap digunakan. Seperti pada pelatihan formal yang menggunakan istilah Basic Training, Intermediate Training, dan Advance Training.

Akhirnya pula perkaderan atau pelatihan untuk membina kader guna memenuhi kualifikasi tersebut menggunakan istilah yang juga selaras yakni Training of Trainer dan Training Management Training.

Lebih lanjut, dalam Orientasi Training, Arif Maulana selaku Master of Training memberikan gambaran mengenai alur yang akan kami jalani selama pelatihan ini; muatan materi dan pembinaan yang akan memberikan kami kemampuan untuk merancang, mengelola, dan mengevaluasi setiap pelatihan di HMI.

Orientasi Training diselingi dengan permainan perkenalan dan juga penempelan kertas ekspektasi dan kontribusi di Pohon Harapan. Kami juga menyepakati beberapa hal terkait dengan norma-norma selama pelatihan ini berjalan.

Forum berakhir pada pukul sepuluh lewat. Suatu hal yang sangat jarang dalam training di HMI. Namun memang ke depannya, Arif Maulana mengatakan bahwa kita ingin membangun pola pelatihan yang pendekatannya lebih humanistik. Salah satunya adalah dengan tidak memperlebar forum hingga larut malam.

Hari ini berakhir dengan baik. Semoga besok bisa lebih baik lagi.

Review Anna Karenina Oleh Leo Tolstoy (Percobaan Menggunakan Fitur Lintas Postingan Goodreads ke Blog)

Anna KareninaAnna Karenina by Leo Tolstoy
My rating: 4 of 5 stars

Cinta memang tidak selamanya menyenangkan. Beberapa dari cinta itu tersembunyi di balik hasrat-hasrat dan nafsu. Benarkah suatu tindakan yang kita katakan atas nama cinta memang benar-benar atas nama cinta? Jangan-jangan ia hanyalah persangkaan kita saja. Sejatinya ia adalah hasrat dan nafsu.

View all my reviews

Esensi Nilai Kemanusiaan Ada Pada Kerja-kerja Sosial

Catatan Selepas Ngaji NDP HMI Sesi ke-04 di HMI cabang Pandeglang

HMI menuntut kader-kadernya untuk mewujudkan tatanan masyarakat ideal yang dalam bahasa Konstitusi HMI, difrasakan dengan “masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.” Ini artinya, kader-kader HMI adalah mereka yang punya tanggung jawab sosial kemasyarakatan yang tinggi. Mereka adalah kader umat dan kader bangsa, yang memiliki hak sebagai pembaharu dan tanggung jawab sebagai penggerak perubahan sosial di masyarakat.

Perubahan sosial yang baik juga adalah salah satu pokok ajaran Islam. Agama dan ajaran yang menjadi asas HMI ini menuntut para pemeluknya untuk menjadi para penegak keadilan. Menjadi penggerak perubahan sosial ke arah yang lebih baik, ke arah yang berketuhanan yang maha esa. Semangat ke-tauhid-an yang menyala-nyala menjadi spirit kader-kader HMI dalam mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Maka dari itu, tidak heran apabila Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI menjadikan wacana manusia sebagai penggerak perubahan sosial sebagai salah satu nilainya yang paling esensial. Wacana tersebut sudah mengemuka dimulai dari BAB II NDP HMI yang bertajuk, “Pengertian-pengertian Dasar Tentang Kemanusiaan.”

Pada Jumat (22/9) lalu aku bersama kawan-kawan HMI cabang Pandeglang mengaji NDP HMI pada BAB ini. Kajian yang sudah menginjak kali keempat itu terselenggara di sela-sela Basic Training HMI Komisariat STAIBANA, Pandeglang. Hadir dalam kajian tersebut anggota HMI cabang Pandeglang dari berbagai Komisariat.

Pembahasan mengenai “Pengertian-pengertian Dasar Tentang Kemanusiaan” dimulai dari wacana bahwa sebagai hamba dan wakil Allah dimuka Bumi, manusia telah dianugerahi suatu instrumen bawaan yang akan menuntun manusia dalam rangka memenuhi tugasnya tadi. Instrumen itu adalah fithrah. Fithrah merupakan kecendrungan manusia kepada Kebenaran (hanief). Kecendrungan ini tertanam di dalam hati nurani manusia. Membuatnya mampu merasakan kebenaran, kebaikan, dan keindahan pada dirinya dan apa yang ada di sekitarnya. Juga membuatnya merasa berat hati dan gelisah akan kesalahan, keburukan, dan kejelekan yang meracuni dirinya dan juga menimpa tatanan masyarakatnya (bangsa dan negara).

Pembahasan kemudian berlanjut pada kesadaran bahwa nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang manusia condong kepadanya itu tampak pada kerja-kerjanya sehari-hari. Kerja-kerja sosial yang berorientasi pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan adalah inti dari kemanusiaan yang ada pada dirinya. Maka dengan menuruti fithrah yang tertanam di dalam hati nuraninya, manusia sejatinya tengah menguatkan dan mengokohkan kemanusiaannya. Kerja-kerja sosial tersebut akan membawa manusia menuju kebahagiaannya.

Kebahagiaan manusia dalam prespektif NDP HMI, terletak pada kerja-kerjanya sebagai individu dalam suatu tatanan masyarakat (bangsa dan negara) yang cenderung kepada kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Kerja-kerja semacam itu adalah kerja-kerja yang ikhlas. Kerja yang tidak mengharapkan, atau tidak berorientasi apapun di luar dari pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang terdapat dalam pekerjaan itu sendiri. Kerja ikhlas yang hanya mengharapkan dan berorientasi pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan ini pada akhirnya akan membawa manusia kepada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang mutlak. Yakni tuhannya, Allah SWT. Pangkal dan tujuan pekerjaan manusia yang ikhlas, adalah Allah SWT. Keikhlasan yang semata-mata untuk Allah inilah sumber dari kebahagiaan manusia.

Semangat pekerjaan yang berlandaskan nilai Ikhlas ini kemudian mesti terterapkan pada kehidupannya sehari-hari. Pada kerja-kerjanya sebagai individu yang merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Sebab nilai-nilai yang tidak terterapkan dalam kehidupan sehari-hari, akan kehilangan arti dan maknanya. Oleh karena itu manusia muslim dalam prespektif NDP HMI, dituntut untuk bisa melakukan kerja-kerja yang sifatnya sosial. Kader HMI, dalam usahanya untuk menyempurnakan kemanusiaannya sebagai hamba dan wakil Allah di muka Bumi, harus berperan aktif dalam memperjuangkan tatanan masyarakat berkeadilan yang makmur. Tanpa kerja-kerja sosial dalam perjuangan tersebut, kemanusiaan kader-kader HMI, dan juga manusia muslim pada umumnya, kehilangan arti dan maknanya.

Sekelumit pembahasan mengenai esensi nilai kemanusiaan dengan kesimpulan bahwa esensi tersebut terletak pada kerja-kerja sosial ini berjalan mengalir pada kajian kami malam itu. Tanpa terasa, waktu lima jam berlalu dengan berbagai debat dan diskusi mengenai topik yang kami bahas.

Belakangan ini, gelombang aksi demonstrasi kader HMI di berbagai cabang dari penjuru-penjuru Indonesia bergejolak. Termasuk di Pandeglang. Kesadaran kemanusiaan yang dipetik dari Nilai-nilai Dasar Perjuangan HMI ini mesti mewarnai aksi-aksi tersebut. Sehingga setiap gerak langkah dan teriakan-teriakan orasi kader-kader HMI itu bukanlah langkah dan teriakan yang mengharapkan pamrih atau unsur-unsur keduniaan lainnya. Melainkan semata-mata demi menegakkan kebenaran, kebaikan, dan keindahan dalam rangka mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Aku berharap, kajianku bersama kawan-kawan HMI cabang Pandeglang ini dapat memantik kesadaran kemanusiaan tersebut yang kemudian akan memberi warna yang signifikan pada aksi-aksi sosial mereka di lapangan. Semoga.

%d blogger menyukai ini: