Sebuah Pertanyaan dan (Semoga) Jawaban

Banyak kemungkinan yang bisa menjadi faktor penyebab kajian keilmuan kurang mendapatkan minat. Bisa jadi karena konten kajiannya. Bisa jadi karena penyampai kajiannya. Bisa jadi karena waktu dan tempat kajiannya berlangsung. Bisa jadi juga karena hal-hal sederhana seperti sekadar karena kajiannya itu tidak tampak “menarik.”

Dalam memandang persoalan ini, saya tidak ingin terjebak dalam pepatah; buruk rupa, cermin dibelah. Pihak yang pertama-tama perlu melakukan introspeksi adalah penyelenggara kajian dan unsur-unsur kesalahan dan kekeliruan pertama-tama juga harus diasumsikan melekat pada pihak tersebut.

Namun tetap menarik bagi saya untuk mencoba memahami apa yang sebenarnya menjadi problematika mahasiswa-mahasiswa itu.

Kalau kita berkaca pada data-data yang berkenaan dengan intelektualitas yang ada di lingkungan mahasiswa, kita akan menemukan kenyataan bahwa memang ada degradasi yang cukup parah.

Apa sebenarnya yang mahasiswa-mahasiswa itu lakukan? Beratus-ratus ribu jumlah mereka, namun berapa persenkah yang mau meluangkan waktu untuk benar-benar berpikir?

– Ahmad D. Rajiv

Kemarin, aku diajak oleh salah seorang kawanku di kota ini ke warung kopi. Sesampainya di sana, kami duduk dan memesan minuman. Kami tidak sendiri saat itu. Ada beberapa kawan lain yang turut serta. Apa yang terjadi kemudian menunjukkan betapa kita sudah begitu tenggelam ke dalam realitas lain selain apa yang ada di hadapan mata kita; masing-masing orang di sekeliling meja itu sibuk dengan ponselnya sendiri-sendiri, sibuk bercengkrama dengan orang-orang lain di tempat-tempat lain sedangkan orang-orang yang ada di hadapannya sama-sama terperangkap dalam kebisuan.

Saat para mahasiswa datang ke kafe-kafe, yang pertama-tama mereka cari bukanlah makanan atau minuman, melainkan colokan dan akses internet.

– Ahmad D. Rajiv

Ada kecendrungan bahwa para mahasiswa ini lemah dalam mengahadapi apa yang ada di hadapan mereka dan lebih memilih untuk berada di suatu tempat yang lain, di dunia yang maya. Tidak heran jika saat para mahasiswa ini bertemu atau berdiskusi, status, stories, dan obrolan di grup-grup chatlah yang dominan mereka perhatikan.

Begitu juga saat mereka sendirian di kosan dan berhadapan dengan pelajaran yang harus mereka pahami. Mereka lebih suka memperbaharui postingan status dan stories dengan foto-foto buku, kopi, atau laptop, kemudian tenggelam dalam obrolan dengan orang-orang yang mengomentari postingan mereka itu ketimbang benar-benar mempelajari apa yang ada di hadapan mata mereka.

Maka bukan hal yang aneh jika “skripsi” bagi mahasiswa-mahasiswa itu ibarat beban hidup yang tak tertanggungkan dan proses yang mereka jalani dengan begitu tertatih-tatih. Sebab mengkaji ilmu bukanlah aktifitas yang menarik bagi mereka.

Apabila ada suatu kajian keilmuan yang ramai, biasanya malah karena faktor-faktor lain di luar dari pada ilmu itu sendiri. Seperti iming-iming sertifikat, tempat yang “wah”, ataupun pembicara yang “terkenal.” Soal pembicara yang terkenal ini pun yang lebih dikejar darinya adalah sensasi viralitasnya. Syukur-syukur bila mereka bisa dapat foto bareng pembicara yang akan memancing ratusan love di Instagram. Sedikit sekali yang benar-benar tergerak untuk mengambil manfaat keilmuan.

Fenomena ketidaktertarikan akan kajian keilmuan ini bahkan turut terjadi di organisasi yang berbasis kader. Organisasi yang karakteristik kaderisasinya adalah kaderisasi keilmuan atau intelektualitas. Jika di lingkaran yang katanya intelektual itu saja kajian keilmuan mulai kehilangan minat para anggotanya, apatahlagi lingkaran lain yang memang basisnya bukan intelektualitas?

Kalau kita mau melihat ke dalam, degradasi itu bermula dari individu-individu mahasiswa. Apatisme dan hedonisme adalah dua virus utama. Jangankan mahasiswa biasa, mahasiswa yang merupakan kader organisasi pun banyak terjangkiti virus ini. Kajian Keilmuan tidak mungkin akan berkembang pada individu yang masih menyimpan apatisme dan hedonisme.

Kedua virus ini hanya bisa diobati dengan dua cara; aktif membaca, dan aktif menulis. Membaca membantu kita mengikis akar-akar apatisme dengan memberikan kesadaran kepedulian akan keadaan sekitar. Sedangkan menulis mengasah kepekaan kita lewat gagasan-gagasan yang kita coba hadirkan dan tawarkan sebagai solusi atas permasalahan yang sudah kita baca. Kepekaan inilah yang dengan sendirinya menjauhkan kita dari sifat-sifat hedonis.

Kedua pondasi ini, membaca dan menulis, adalah stimulus yang akan terus menerus merangsang mahasiswa untuk mengkaji ilmu.

Seperti itulah kiranya.

Iklan

Diterbitkan oleh Ahmad D. Rajiv

Ahmad D Rajiv, Penulis dan Penerjemah.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: