Sebuah Catatan Lepas

Kalau dipikir-pikir ya, sepertinya berbeda pandangan itu sudah menjadi tabiat manusia. Ada aja alasan bagi perbedaan pandangan itu. Kalau kata pepatah arabnya, likulli ra’sin ra’yun. Bagi setiap kepala, ada pandangannya masing-masing.

Ini tentu dapat kita maklumi dengan kesadaran bahwa setiap manusia itu unik. Keunikan mereka terletak pada variasi pengalaman yang mereka terima. Apalagi di zaman keterbukaan informasi seperti sekarang ini.

Barangkali kalau di zaman dahulu, akses informasi orang-orang itu seragam. Seandainya pun bervariasi, variasinya itu tidak terlalu banyak. Sehingga kita dapat dengan mudah memetakan keadaan pikiran orang-orang. Apa yang mereka rasakan dapat diketahui dengan mudah karena tersampaikan dan tampak secara kolektif.

Sedangkan pada masa keterbukaan informasi ini, masing-masing orang, apapun suku, agama, dan rasnya, memiliki akses kepada informasi. Akses ini memungkinkan dia untuk memperoleh pengetahuan tanpa batas. Pengetahuan-pengetahuan ini akan membangun pemahamannya. Akses yang tanpa batas itu menjadikan setiap orang dapat memiliki preferensi yang berbeda-beda hingga ke taraf yang paling individualistis.

Taraf tersebut lahir dari kenyataan bahwa setiap orang dapat membangun keunikan preferensi mereka sendiri berdasarkan pilihan masing-masing atas sajian informasi yang ada. Ragam perbedaan pandangan pun menjadi semakin unik.

Ambil contoh dalam persoalan praktek peribadatan Islam. Saat ini, apabila kita menguasai ilmu perbandingan mazhab (aliran fikih) kita dapat dengan mudah menemukan sosok yang peribadatannya itu tidak konsisten di atas satu mazhab saja. Misalkan saat dia salat, dia bisa melakukan praktek wudhu dengan Mazhab Syafii, salat dengan Mazhab Hambali, dan berdoa dengan Mazhab Maliki.

Semua itu dia lakukan tanpa proses pengambilan pengetahuan yang legal formal melalui sekolah atau pesantren. Pengetahuan yang dia dapat itu dia ambil dari Internet, yang aksesnya tanpa batas. Atau dari kajian-kajian keislaman lepasan. Atau dari buku-buku yang dia beli di pertokoan. Atau dia mengambilnya dari obrolan-obrolan sambil lalu di jalan-jalan. Atau bisa juga dari kajian otodidak yang dia lakukan sendiri dengan mengandalkan keterbukaan akses informasi.

Pada intinya, pengetahuannya itu tidak dia dapatkan dengan cara-cara yang sistematis. Kenyataan ini membuat kita sulit melakukan pemetaan demografis berkaitan dengan hal-hal tersebut. Bisa jadi pada suatu wilayah yang terkenal dengan aliran tertentu, ternyata dalam praktiknya, menyimpan keragaman yang kolaboratif hasil dari keunikan masing-masing individu yang ada di dalamnya.

Jika kita menarik semuanya ke awal, kita kan menemukan kenyataan bahwa memang dorongan untuk berbeda pandangan itu sudah sejak dahulu ada. Sejak Adam baru saja tercipta. Maka upaya untuk menyeragamkan manusia itu mustahil. Semakin mustahil dengan efek-efek hasil keterbukaan tadi.

Apabila kita hadir dalam rapat-rapat, kita bisa semakin sadar bahwa bagaimana perbedaan pandangan itu sudah merupakan tabiat kita sebagai manusia. Kadangkala satu keputusan yang sifatnya sederhana saja bisa memakan waktu berjam-jam untuk menemukan titik temu.

Begitu banyak kepala yang harus kita tundukkan, harus kita taklukan agar pandangan kita dapat diterima. Meskipun kita sudah memiliki kapasitas untuk menyampaikan pandangan tersebut dan punya legitimasi untuk memutuskan kebenarannya, kita masih akan berhadapan dengan perbedaan pandangan. Apatah lagi apabila kita tidak punya pondasi apa-apa selain pengetahuan-pengetahuan lepas.

Menurut Ibnu Rusyd, perbedaan pandangan itu pangkalnya dua saja; perbedaan pengetahuan (termasuk informasi) dan perbedaan pemahaman (atau penafsiran).

Namun menurutku akar paling dalam dari perbedaan pandangan adalah perbedaan pijakan. Baik pijakan pikiran maupun pijakan keyakinan. Dalam membahas satu konsep yang sama saja, misalkan konsep “keadilan,” dua orang yang memiliki pijakan pikiran dan keyakinan yang berbeda, akan saling berbeda pandangan dari pangkal hingga ujung.

Iklan

Diterbitkan oleh Ahmad D. Rajiv

Ahmad D Rajiv, Penulis dan Penerjemah.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: