Hubungan antar manusia yang paling umum adalah pertemanan. Hubungan ini dihiasi dengan berbagai macam gejolak perasaan. Selain itu, hubungan ini juga berkelindan dengan berbagai macam manipulasi.

Manipulasi ini menjadikan suatu hubungan pertemanan yang tampaknya menyenangkan, tidak lebih dari serangkaian ilusi.

Seseorang yang kau sangka temanmu, bisa jadi hanyalah seseorang yang memanipulasimu dengan perasaan pertemanan. Dia ingin membuatmu tenang dan nyaman agar dia dapat dengan mudahnya mengambil beberapa keuntungan darimu, atau menjadikanmu alat untuk mencapai keuntungannya. Kau terperangkap dalam ilusi yang dia bangun. Kau adalah mangsa bagi serigala yang lapar yang ada di dalam dirinya.

Homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi manusia yang lain.

Manipulasi bukanlah sesuatu yang sulit. Seakan-akan manipulasi itu sendiri sudah merupakan tabiat manusia. Mampu menentukan mana yang manipulasi dan mana yang bukan dari sekian ikatan pertemanan yang kita miliki, itulah yang sulit.

Tapi manusia selalu berubah-ubah. Kadangkala perubahannya itu lebih cepat dari angin yang berhembus. Lebih cepat dari pergantian menit dan detik. Perubahan itupun kerapkali tanpa disadari.

Ada yang pada awal mula membangun pertemanan yang manipulatif. Namun kemudian tersadarkan oleh ketulusan temannya, dan lantas kemudian turut menjadi tulus pula.

Ada yang pada awal mula membangun pertemanan dengan niatan-niatan yang tulus. Namun karena tersakiti berkali-kali, akhirnya menjalani sisa hubungan pertemanan dengan manipulatif. Dengan senyuman-senyuman palsu dan tawa-tawa hambar.

Manusia memang pandai menyembunyikan perasaannya. Menyembunyikan kekesalan dan kemerahannya di balik senyuman dan perlakuan yang manis.

Bagaimana kita bertahan di tengah serangan beragam kepalsuan ini? Tapi tunggu, benarkah kepalsuan-kepalsuan itu adalah serangan, ataukah kita yang menyikapinya terlalu berlebihan?

Aku yakin, bahwa semua manusia ingin perlakuan yang jujur dan tulus. Namun bagaimanakah jika kejujuran dan ketulusan itu berarti suatu bentuk kebencian? Akankah kita masih sanggup menerimanya? Ataukah bahkan kita lebih memilih untuk menghadapi kepalsuan yang manis ketimbang tegar berhadapan dengan kenyataan yang pahit?

Maka seringkali, ilusi-ilusi itu sebenarnya tidak datang dari orang lain. Melainkan dari diri kita sendiri. Kita menciptakan ilusi-ilusi itu karena kita takut menghadapi kenyataan-kenyataan yang ada.

Sebegitu tidak adilkah dunia sehingga apa yang bisa kita lakukan hanyalah membangun ilusi?

Lihatlahlah orang-orang di sekelilingmu dan tatap mata mereka baik-baik kemudian tanyakan pertanyaan ini pada dirimu sendiri, “tuluskah orang itu?”

Aku bukannya ingin mengajakmu untuk terperangkap dalam prasangka buruk. Aku hanya ingin kau sadar bahwa manusia baik hati itu tidak ada. Manusia adalah seperangkat kepentingan dengan segudang alasan.

Lantas, kau pun harus turut mempertanyakan motif pribadimu. Mungkinkah ilusi?

Beberapa hal, beberapa perasaan, beberapa perkataan, dan beberapa tindakan tampak ada begitu saja tanpa adanya kesadaran dari diri kita. Kita suka tidak sadar bahwa pertemanan yang kita jalani itu ilusi. Bukan karena kita tidak mampu menjalaninya, melainkan karena ilusi itulah yang lebih menyenangkan bagi kita.

Apakah ilusi yang menyenangkan itu mampu membuat kita bahagia? Mungkin kita akan menjawab, “iya!” Tapi dapatkah kita melihat, bahwa jika ditimbang dengan akal sehat, kebahagiaan yang lahir dari suatu bentuk ilusi, sejatinya juga merupakan sebuah ilusi?

Tapi, manakah sebenarnya yang ilusi dan manakah yang sebenarnya yang nyata. Jangan-jangan, pertemanan yang kita anggap ilusi, itulah pertemanan yang sebenarnya. Sedangkan pertemanan yang kita lihat sebagai kenyataan, hanyalah ilusi yang tak terketahui.

Iklan

Diterbitkan oleh Ahmad D. Rajiv

Ahmad D Rajiv, Penulis dan Penerjemah.

Join the Conversation

2 Comments

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: