Catatan Harian TMT BPL PB HMI Korwil JABODETABEKA Banten; Hari ke-03

Salah satu kelemahan utama instruktur di HMI adalah kemampuan merancang pelatihan. Hal tersebut aku sadari betul setelah seharian kemarin bersama fasilitator TMT belajar bagaimana membuat rancangan yang rapi dan juga sangat detil. Mulai dari awal hingga akhir suatu pelatihan. Awalannya pun bukan sekedar sehari dua hari sebelum pelatihan, melainkan lebih jauh dari itu dengan menariknya ke awal penyusunan konsep yang benar-benar matang.

Hari ketiga pelatihan TMT ini, Kamis (11/10) dimulai dengan suasana yang ceria. Fasiltator mengajak kami bergoyang di pagi hari dengan senam Maumere. Inilah salah satu unsur yang menarik dari pelatihan ini. Ada sisipan-sisipan kesenangan yang membuat suasana menjadi santai di tengah-tengah materi yang sebenarnya sangat serius.

Pada hari ini, fokus utamanya adalah perancangan pelatihan. Perancangan tersebut, seperti yang sudah aku singgung di awal, bukan hanya rancangan pelatihannya saja. Melainkan juga rancangan langkah-langkah awal mula dari analisa situasi yang kemudian akan menjadi bahan penyusunan konsep pelatihan dan pembuatan modul bagi pelatihan tersebut.

Aku merasakan bahwa perihal perancangan ini benar-benar aktivitas yang sangat menguras pikiran. Tidak heran jika sepanjang hari kemarin, kami hanya berkutat di praktek perancangan pelatihan ini dengan lebih dari satu cara dan lebih dari sekali revisi atas apa yang sudah kami kerjakan. Kami dituntut oleh fasiltator untuk bisa membuat rancangan yang benar-benar rapi dan detil. Bukan sekadar suatu rancangan yang simulatif semata, melainkan suatu rancangan yang aplikatif dan realistis. Suatu rancangan yang benar-benar dapat terterapkan secara nyata. Lengkap dengan antisipasi atas kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Pada sesi pertama di pagi hari, setelah suasana cair oleh goyang Maumere, fasilitator memberikan pemahaman teoritis mengenai perancangan pelatihan. Apa saja instrumen yang dibutuhkan untuk menyusun rancangan tersebut dan apa pula langkah-langkahnya.

Selepas penyampaian teoritis tersebut, yang memakan waktu tidak sampai satu jam, kami langsung dibagi kedalam empat kelompok di mana masing-masing kelompok terdiri dari tiga orang. Setiap kelompok diberi tugas untuk menyusun rancangan pelatihan Basic Training (Latihan Kader I) HMI dengan mengunakan diagram ikan Ishikawa. Aku berkesempatan berkelompok bersama Hendro (Bandar Lampung) dan Irsyad (Depok). Kami menyusun rancangan LK1 dengan latar belakang sebuah komisariat di HMI cabang Bandar Lampung.

img-20181012-wa0001
Hasil rancangan pertama yang sederahana. Menggunakan diagram Ishikawa.

Pada siang harinya. selepas salat Zuhur, kami mempresentasikan hasil rancangan kami dengan metode Wood Cafe. Teknisnya, masing-masing kelompok menentukan satu orang sebagai presentator yang diam di tempat (stand) yang telah ditentukan untuk kelompok tersebut, sedangkan dua anggota kelompok sisanya bertindak sebagai visitor yang akan mengunjungi stand kelompok lain secara bergilir untuk mendengarkan pemaparan presentator mereka.

Selepas presentasi, ada refleksi dari fasilitator untuk mengevaluasi hasil rancangan kami. Dari hasil evaluasi tersebut tampaklah banyaknya kekurangan dari rancangan kami. Salah satu yang paling esensial adalah ketelitian langkah demi langkah yang masih kurang. Rancangan kami masih terlalu luas, terlalu general. Startegi taktisnya dari rancangan tersebut belum kami bubuhkan sehingga sulit membayangkan penerapannya secara nyata.

Oleh karena itu, fasilitator kemudian melebur kami menjadi dua kelompok saja untuk bisa melanjutkan (melengkapi) rancangan kami. Kami diberi waktu hingga malam hari untuk merampungkan rancangan ini dengan lebih rapi dan lebih detil. Bergabung ke dalam kelompok kami kelompok yang terdiri dari TB. Masykur (Cilegon), Iqbal (Tangerang), dan Heru (Serang).

Malam hari selepas salat Isya dan makan malam, kami kemudian menjabarkan hasil rancangan kami secara bergilir. Dalam presentasi kali ini, kami maju bergiliran setiap kelompok. Kelompok lain yang menyaksikan kemudian memberikan kritik dan saran atas hasil kerja kami.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kemudian kami memasuki sesi terakhir untuk hari ini. Sesi yang menurutku paling menguras pikiran.

Masih sama seperti sebelumnya, kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan diarahkan untuk merancang pelatihan. Ada tiga kelompok, kelompok pertama merancang Basic Training, kelompok kedua merancang Intermediate Training dan kelompok terakhir merancang Training of Trainer. Aku bersama Irsyad (Depok), Wakid (Malang), dan Yogi (Serang) mendapat tugas untuk merancang Basic Training.

Bedanya, kali ini metode untuk merancang yang kami pergunakan kali ini adalah metode 4D (Discovery, Dream, Design, Destiny), suatu metode yang akan menghasilkan suatu skema yang rapi dan detil. Setelah fasilitator menjelaskan mengenai langkah-langkah yang mesti kami tempuh dalam menyusun rancangan ini, kami langsung mulai membangun rancangannya.

Pada titik inilah aku, dan kawan-kawanku yang lain merasakan betapa aktifitas ini menguras pikiran dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Menjadi seorang konseptor yang mampu menghasilkan rancangan yang matang bukanlah sesuatu yang mudah. Butuh kecerdasan yang tinggi dan imajinasi yang luas demi bisa dapat menyusun langkah demi langkah dengan presisi yang tepat dan akurat beserta kemungkinan-kemungkinan yang menyertainya.

Hingga pukul dua dini hari, kami belum kunjung juga menyelesaikan rancangan kami. Kami masih berkutat pada diskusi yang alot untuk menentukan langkah demi langkah yang mesti kami tetapkan. Kealotan juga terjadi saat kami mendata tantangan dan ancaman yang mungkin akan ada di hadapan langkah-langkah yang kami tetapkan serta bagaimana mengatasinya.

Master of Training memutuskan agar kami melanjutkan tugas perancangan ini di pagi hari dan mengarahkan kami agar istirahat.

Aku merasa beruntung karena fasilitator membawakan materi ini dengan santai. Padahal materinya adalah materi yang serius. Aku melihat di sinilah keseimbangan yang perlu kami ambil ketika mengelola pelatihan. Materi yang berat jika disajikan dengan metode yang juga berat, tentu akan menimbulkan kejenuhan. Maka salah satu triknya, materi yang berat disajikan dalam bingkai metode yang ringan dilengkapi dengan partisipasi yang luas dari para peserta.

Iklan

Diterbitkan oleh Ahmad D. Rajiv

Ahmad D Rajiv, Penulis dan Penerjemah.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: