Catatan Harian TMT BPL PB HMI Korwil JABODETABEKA Banten; Hari ke-02

Training ini berjalan dengan santai. Namun muatan materinya butuh perhatian yang sangat serius sebab berkaitan dengan suatu bangunan ideal yang akan menentukan pola perkaderan HMI di masa depan. Dalam menyajikan materi, MoT menggunakan metode yang beragam. Namun dari keberagaman metode itu, ada satu kekuatan khas yang mewarnai semuanya, yakni warna partisipatif di mana semua peserta mesti memberikan kontribusi aktifnya dalam alur penyajian materi.

Pada pagi hari, selepas salat Subuh kami melakukan olahraga ringan. Lantas kemudian pada pukul setengah sembilan, forum dibuka setelah sebelumnya kami menyelesaikan kegiatan pribadi masing-masing dan juga menyantap sarapan yang sudah disediakan oleh panitia pada pukul tujuh.

Untuk hari Rabu (10/10) ini, materi utama yang akan kami serap adalah Benchmark Fasilitator. Materi yang sungguh menarik dan sarat akan muatan yang penuh makna. Salah satu kesimpulan penting dari materi tersebut adalah penggunaan istilah ‘fasilitator’ sebagai ganti dari istilah ‘narasumber,’ atau ‘instruktur,’ atau bahkan ‘master.’ Fasilitator menjadi padanan yang tepat bagi istilah trainer sebagaimana yang sudah aku singgung pada catatanku sebelumnya.

img_20181010_144618
Moderator dari KOHATI cabang Cilegon yang turut membantu mencairkan suasana.

Rangkuman Materi Benchmark Fasilitator

Materi ini berguna untuk membangun suatu pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya tolak ukur tertentu (bencmark) yang diterapkan atas para fasilitator di setiap training.

Fasilitator itu sendiri memiliki peranan kunci pada training. Dia berperan sebagai penentu kualitas training dan juga hasil akhir daripada training tersebut. Mulai dari tataran konsep training, kurikulum, metode, metodologi, hingga ekspektasi (tujuan dan terget) dari training.

Dalam visi BPL PB HMI, ke depannya pada perkaderan di HMI, posisi narasumber dan instruktur, akan digeser oleh fasilitator. Sehingga mulai dari pengelolaan training, hingga penyampaian materi-materi yang ada di dalamnya dipegang oleh sosok berkualifikasi fasilitator.

Untuk itu, perlu adanya suatu bentuk tolak ukur tertentu yang menjadi patokan bagi sosok fasilitator yang ideal pada Perkaderan. Pada titik inilah, Benchmark Fasilitator mendapatkan urgensinya.

Benchmark Fasilitator berlandaskan pada tiga jenjang; Pertama: keterampilan komunikasi, kemudian, Kedua: berjenjang menuju keterampilan memafasilitasi kelompok, dan Ketiga: berpuncak pada keterampilan perencanaan partisipatif.

Dalam jenjang pertama benchmark tersebut terdapat langkah demi langkah berupa skill atau keterampilan khusus yang mesti dikuasai oleh seorang fasilitator yang baik. Antara lain, adalah keterampilan mengamati (probing), mendengar, bertanya, berdiskusi (dialog), memberikan umpan balik (feedback) dlsb.

Sedangkan pada jenjang kedua, keterampilan yang dituntut itu mencakup; membangun kepercayaan, monitoring tahap-tahap kelompok, monitoring peran kelompok, membangun dinamika kelompok, mendorong kerja kelompok, mendorong partisipasi yang merata, dan penyelesaian konflik.

Terakhir, yang merupakan benchmark tertinggi bagi fasilitator adalah keterampilan perencanaan partisipatif yang mencakup keterampilan-keterampilan tertentu yakni, assessment, desain, perencanaan, manajemen, implementasi, monitoring, dan evaluasi.

Dengan Benchmark Fasilitator ini, training di HMI akan tertata rapi dan tersusun sesuai standar yang diharapkan hasilnya akan lebih maksimal dalam mewujudkan tujuan dari Perkaderan itu sendiri.

Namun, apakah Benchmark ini dapat serta merta terterapkan di lingkungan perkaderan HMI, mulai dari tingkatan komisariat, hingga tingkat nasional?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, butuh suatu analisa tersendiri yang akan mengurai mulai dari kekuatan, kelemahan, ancaman, hingga peluang yang terdapat pada masing-masing lingkungan perkaderan di HMI.

Suatu lingkungan perkaderan (HMI tingkatan cabang, atau tingkatan komisariat) mesti memiliki tantangannya sendiri-sendiri dalam mewujudkan dan menegakkan benchmark ini. Tugas kita adalah menciptakan agen-agen fasilitator pembaharu yang akan menggeser kultur-kultur perkaderan lama dan membawa nafas baru bagi perkaderan melalui Benchmark Fasilitator ini sehingga pada nantinya, setiap perkaderan di HMI dapat memiliki suatu bentuk kualitas yang khas dan bernilai tinggi serta seragam dan selaras mulai dari lingkungan perkaderan lokal, hingga nasional.

***

Master of Training (MoT), atau fasilitator (mungkin ke depannya aku akan cenderung menggunakan istilah ini pada catatan-catatanku) menyisipkan dua kali kegiatan kelompok sepanjang hari kemarin. Pada kegiatan yang pertama, kami dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok meneliti, menyusun dan mempresentasikan lima metode pembelajaran yang dapat dipergunakan dalam training.

Dokumen ringkasan hasil kerja kami dapat dilihat di LINK ini

Kelompokku sendiri, yang terdiri dari aku, Wakid (Malang), Iqbal (Tangerang), Heru (Serang), TB. Masykur (Cilegon), dan Oka (Jakarta Raya) mendapatkan bagian untuk meneliti, menyusun, dan mempresentasikan metode; 1. Mind Maping, 2. Inquiry, 3. Role Playing, 4. Comparative Script, dan 5. Debat.

img-20181010-wa0004
Kelompok kami berdiskusi untuk menyusun materi presentasi.

Lalu pada malam hari, kami kembali dibagi menjadi beberapa kelompok. Kali ini, aku satu kelompok dengan Iqbal (Tangerang) dan Totong (Serang). Tugas kami adalah membuat rangkuman materi hari Rabu (10/10) ini dan menyusun gambaran penerapannya pada lingkungan perkaderan kami masing-masing. Rangkuman yang kami susun adalah apa yang aku tulis di catatan ini di atas.

img-20181010-wa0041
Presentasi kelompok kedua bersama Iqbal dan Totong.

Forum berakhir agak terlambat pada pukul 23.00. Selepas berbincang-bincang sebentar dengan kawan-kawan yang datang berkunjung ke arena training ini, aku langsung ke kamar dan istirahat. Hari esok yang menyenangkan menanti.

Iklan

Diterbitkan oleh Ahmad D. Rajiv

Ahmad D Rajiv, Penulis dan Penerjemah.

Join the Conversation

2 Comments

  1. Nunggu catatannya sampe selesai pelatihan, sungguh menarik prosesnya. Mudah-mudahan agen-agen fasilitator perubahan akan banyak terlahir. Perlu 12 tahun (dari 2006) untuk merealisasikan TMT ini, tolong sampaikan salam hormat saya buat Kang Arip Maulana yang tetap istiqomah menjalankan proses perubahan.

    Suka

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: