Tetaplah Berjuang, Meski Kelaparan

Kesanku Setelah Membaca Novel “Lapar” Karya Knut Hamsun

Aku baru saja mengembalikan sebuah novel yang aku pinjam, secara diam-diam, dan sudah menemaniku selama sebulan belakangan ini kepada pemiliknya, salah seorang perempuan kawanku di Himpunan. Novel tersebut, aku baca hingga tiga kali dan tetap saja menyisakan kekaguman yang menimbulkan kesan mendalam di hatiku.

Bukan novel yang besar sebenarnya. Ukurannya kecil dan jumlah halamannya hanya 289. Novel sekecil ini bagi pembaca yang serius, bisa selesai dalam dua atau tiga hari. Bahkan sekali duduk bagi pembaca yang benar-benar serius. Namun ukurannya yang kecil sama sekali tidak dapat menahan luapan sastrawinya yang begitu besar. Tidak heran, banyak kritikus sastra yang menganggap novel ini sebagai novel yang memengaruhi gaya penuturan sastra modern.

knut_hamsun
Knut Hamsun, 1890. Pada tahun yang sama dengan penerbitan Sult.

Novel ini berjudul, dalam Bahasa Indonesia, Lapar. Novel ini adalah terjemahan dari edisi bahasa Inggris yang berjudul Hunger yang merupakan terjemahan pula dari edisi bahasa asli dari novel ini, yakni bahasa skandinavia, tepatnya Norwegia, yang berjudul Sult. Pengarangnya bernama Knut Hamsun, seorang pengarang penerima penghargaan novel sastra pada tahun 1920

Kisah dari novel ini sebenarnya sederhana. Namun begitulah para pengarang besar dunia bekerja; menghasilkan makna yang luar biasa dari cerita-cerita sederhana. Katakanlah seperti The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway atau The Alchemist karya Paulo Coelho.

Apa Kekuatan Luar Biasa yang Terkandung Dalam Novel Ini?

Aku bisa bilang bahwa “semangat” lah kekuatan utama novel ini. Semangat pantang menyerah dari seorang penulis yang mesti menghadapi rasa lapar namun tetap bersikukuh untuk hidup dari kepenulisannya. Meskipun pada akhirnya sang penulis menyerah dan kalah oleh kehidupan, setidak-tidaknya dia sudah berjuang dengan perjuangan yang mengagumkan.

Memang bukan suatu pekerjaan yang mudah menjadi seorang penulis itu. Apalagi penulis yang mampu melahirkan suatu karya yang luar biasa.

Banyak kritikus dan sastrawan dekat Knut yang memberi kesaksian bahwa tokoh utama dalam novel ini adalah Knut sendiri, di mana dia sebenarnya menceritakan masa mudanya pada awal-awal karirnya sebagai seorang penulis.

Knut juga sempat menyerah dari jalan kepenulisan sebagaimana tokoh utama dalam novel ini, bahkan beberapa kali, namun kemudian ia kembali dan kembali lagi dan akhirnya kepenulisan menjadi jalan hidupnya.

Apa yang bisa aku petik dari novel ini?

Saat membaca novel ini, kesan yang paling mendalam adalah tentang perjuangan menjalani profesi yang sudah kita pilih. Aku jadi merasa malu dengan Sang Tokoh karena aku begitu banyak mengeluh akan ketidak-mampuanku menghasilkan karya padahal aku sebenarnya memiliki banyak fasilitas untuk itu.

Tidak seperti Sang Tokoh, aku tidak terjebak dalam situasi kelaparan, aku pun masih memiliki sarana untuk menulis; laptop, smartphone, dan akses Internet. Sedangkan sang tokoh, yang dia punya hanyalah lembaran-lembaran kertas dan sebuah pensil serta baju yang melekat di badan, yang kemudian dia preteli satu per satu demi bisa makan. Dengan segala macam kekurangan itu dia tetap menulis meski berkali-kali dia dihempas oleh kehidupan.

Membaca perjuangan sang tokoh yang dihadirkan Knut dengan begitu detil dan dalam akan mampu menggugah kita dengan banyak cara. Kadang dia membuat kita prihatin, kadang dia membuat kite tergelitik, kadang dia membuat kita terharu. Sang Tokoh adalah pribadi yang tidak sempurna, dan memang tidak ada pribadi yang sempurna, sehingga dia mampu menghadirkan kemanusiaan yang benar-benar utuh.

Sungguh suatu kemanusiaan yang luar biasa.

Iklan

Kabar Gembira Dari Pontianak

Catatan Mengenai Kemenangan HMI Pada Pilpresma IAIN Pontianak

Siang tadi, aku menerima selentingan kabar yang cukup menggembirakan. Dalam suasana siang yang menyenangkan dengan ditemani oleh karya sastra menawan dari Knut Hamsun yang baru saja mulai aku baca, kabar tersebut menambah rasa senang di hatiku.

Kabar tersebut datang dari kota yang baru-baru ini saja aku tinggalkan setelah menghabiskan waktu di sana selama dua pekan penuh; Pontianak. Kabar gembiranya berkenaan dengan kemenangan kawan-kawan HMI cabang Pontianak dalam kontestasi pemilihan presiden dan wakil presiden mahasiswa di lingkungan IAIN Pontianak.

Kandidat yang diusung oleh kawan-kawan HMI di sana, Khairul Tamam dan Badrus Saleh, berhasil memenangi pemilihan.

(BACA: Perhitungan Suara Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa IAIN Pontianak)

Kemenangan kawan-kawanku ini menggembirakan bagiku sebab selama keberadaanku di sana, kebanyakan orang-orang yang berinteraksi denganku, adalah mereka, kader-kader HMI IAIN Pontianak.

Mulai dari unsur-unsur LKD (Latihan Kader Dakwah) yang aku kelola, hingga teman ngopi, nongkrong, dan jalan-jalan, sebagian besar berasal dari kampus Islam terbesar di Kalimantan Barat tersebut.

Aku bahkan berkesempatan untuk terlibat diskusi yang diselenggarakan oleh Komisariat Dakwah, salah satu komisariat HMI di IAIN Pontianak di samping Komisariat Syariah dan Komisariat Tarbiyah, sebanyak dua kali. Sekali sebagai peserta, sekali sebagai pembicara.

Maka dari itu, sedikit banyak aku turut menyaksikan sendiri bagaimana mereka membangun konsolidasi politik internal dan menyusun kekuatan untuk menghadapi pemilihan ini. Sebagai orang luar yang mengamati pergerakan ini secara sederhana, aku bisa dengan jelas merasakan geliat antusiasme mereka untuk memenangkan kontestasi ini dengan didorong, salah satunya, oleh semangat perkaderan HMI.

Aku bahkan sempat membangun percakapan mengenai pergerakan mereka ini. Mengenai harapan-harapan mereka yang mereka titipkan pada kontestasi ini, berserta pula kekhawatiran yang menggelayuti langkah-langkah mereka.

Dalam dua kali diskusi yang mereka selenggarakan, sekali membahas mengenai refleksi pergantian tahun, dan sekali membahas mengenai Mission HMI di mana aku bertindak sebagai pembicara, aku mampu menangkap harapan beserta kekhawatiran itu.

Harapan dan kekhawatiran mereka berkutat pada bagaimana kursi kepemimpinan yang ingin mereka capai ini menentukan pergerakan HMI di internal kampus IAIN ke depannya.

Kursi kepemimpinan internal kampus memang merupakan alat yang efektif untuk memuluskan agenda perkaderan. Dengan kepemimpinan tersebut, geliat perkaderan dan perekrutan dapat diberi kesempatan yang seluas-luasnya. Sebaliknya, saat kursi kepemimpinan tersebut dipegang oleh orang-orang yang kontra dengan HMI, akan ada upaya-upaya tertentu dalam menghalang-halangi perekrutan dan perkaderan.

Kini kawan-kawan HMI IAIN Pointianak dapat bernafas lega. Namun tentu jangan sampai menjadi jumawa. Kesombongan adalah kekalahan pertama orang-orang besar. Kemenangan ini mesti disikapi dengan rendah hati. Segala niatan dan tujuan harus dikembalikan kepada basis nilai yang dianut oleh HMI. Niatan yang ikhlas dari kesadaran ilahiah akan kebenaran, dan tujuan yang mencoba mencapai ridha ilahi. Sebagaimana yang termaktub dalam pasal 04 Anggaran Dasar HMI.

Kesempatan yang diperoleh dari kursi kepemipinan ini haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan perekrutan dan perkaderan, yang merupakan fungsi utama HMI sebagai organisasi kader di mana insan cita (yang berkualitas akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan Islam, dan bertanggung-jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT) dibentuk dan dibina.

Namun kesempatan tersebut janganlah sampai memuat unsur ketidakadilan bagi pegerakan-pergerakan eksternal lainnya yang ada lingkungan kampus. Sebab tindakan tersebut justru akan berlawanan dengan nilai-nilai dasar perjuangan HMI sendiri yang begitu menujungjung kemerdekaan dalam berpikir dan bertindak. Cukuplah jika kursi kepemimpinan tersebut menjadi pembuka ruang fasilitas agar perkaderan dan perekrutan dapat berjalan dengan mulus dan tanpa tertanggu.

Terakhir, kita semua tentu harus sadar bahwa kepemimpinan adalah ujian dari Allah. Ujian yang akan memperlihatkan bagaimana kualitas kita sebagai khalifah Allah di muka bumi. Maka bagi kawan-kawan HMI di IAIN Pontianak, buktikanlah bahwa kepemimpinan yang berada di genggaman kalian ini adalah anugerah dan berkah. Bukan hanya bagi anggota dan kader HMI, melainkan juga bagi seluruh mahasiswa IAIN Pontianak.

Menghadiri Forum Diskusi HMI cabang Pontianak Komisariat Dakwah dengan Tajuk; Ekspektasi Mahasiswa Pasca Tahun Baru Masehi

Hari Jumat lalu, 04 Januari 2018 pasca salat Ashar, aku berkesempatan menghadirkan diskusi rutin yang diselenggarakan oleh HMI cabang Pontianak Komisariat Dakwah.

Sebelumnya, selepas salat Jumat di Masjid Agung al-Mujahidin, aku dan kawanku, Albi, yang juga merupakan anggota HMI dari Komisariat Dakwah, menemui kanda Saiful Bahri, senior HMI cabang Pontianak Komisariat Syariah, di Taman Catur UNTAN (Universitas Tanjungpura). Rencananya, aku akan menghabiskan waktu siang di Asrama Mahasiswa Kubu Raya yang merupakan kediaman kanda Saiful sedangkan Albi pergi mengikuti kelas perkuliahan.

Selepas Ashar, aku bersama kanda Saiful melucur menuju Kampus Hijau IAIN Pontianak. Setelah mengantarku, dia meminta izin untuk menghadiri rapat PRIMARAYA (Perhimpunan Mahasiswa Kubu Raya) dan berjanji akan menjemputku selepas diskusi nanti.

Diskusi ini mengambil tempat di Taman Biro AUK di kompleks IAIN Pontianak. Dengan dihadiri oleh sekitar 20an anggota Komisariat Dakwah, dan juga beberapa orang dari komisariat lainnya, diskusi dimulai pada pukul setengah empat sore.

Pemateri pada diskusi kali ini, yunda Fauziah Husnaini, senior Komisariat Dakwah dan juga instruktur BPL HMI cabang Pontianak, membuka diskusi dengan ungkapan reflektif,

Tahun baru dihabiskan dengan dua cara, hura-hura yang sia-sia atau dengan sesuatu yang bermanfaat. Mereka yang menghabiskan waktu tahun baru untuk hura-hura, termasuklah ke dalam kalangan yang merugi sebagaimana termaktub dalam surat al-Ashr ayat 02.

Kemudian yunda Fauziah mulai memaparkan materinya yang berkutat pada refleksi mengenai harapan mahasiswa, khususnya kader HMI Komisariat Dakwah ke depannya. Harapan yang baik bagi kehidupan mahasiswa itu sendiri.

Yunda Fauziah juga banyak menyinggung mengenai harapan-harapan (atau dengan kata lain, ekspektasi) yang ada di pundak para anggota HMI dari Komisariat Dakwah. Bagaimana mereka harus bisa menyolidkan diri dengan membangun ikatan emosional yang kuat, baik ke atas, ke senior-senior HMI, maupun ke bawah, ke junior-junior yang baru-baru saja ditahbiskan menjadi anggota. HMI kuat karena silaturahmi. Ketika silaturahmi itu kendor, maka HMI akan melemah, tegasnya.

Bagi yunda Fauziah, mahasiswa haruslah memiliki tujuan yang terarah. Dengan langkah-langkah yang terperinci. Jangan sampai larut dalam kenyamanan. Beliau bahkan menyarankan agar langkah-langkah untuk mewujudkan harapan tersebut tercatat dalam suatu bentuk tulisan yang dapat dilihat kembali sebagai alat ukur pencapaian harapan-harapan tersebut di masa depan.

Diskusi ini juga dihiasi dengan tanggapan-tanggapan yang datang dari peserta diskusi. Salah satu tanggapan yang menarik datang dari salah seorang anggota HMI dari Komisariat Dakwah.

Menurutnya, ada degradasi kesadaran para anggota HMI dalam menghadiri kegiatan-kegiatan keilmuan. Degradasi ini kemudian mengakibatkan lemahnya kualitas intelektual mereka.

Tanggapan ini disambung dengan pertanyaan; apa mimpi ketua Komisariat Dakwah bagi perkembangan komisariat depannya? Pertanyaan ini dijawab oleh yunda Desy, selalu ketua umum Komisariat Dakwah, dengan pernyataan bahwa mimpinya adalah bagaimana agar anggota bisa menjadi kader-kader berkualitas.

Sungguh suatu mimpi yang besar yang membutuhkan kerja keras yang betul-betul serius untuk mewujudkannya jika mengingat mengenai degradasi yang sudah disebutkan tadi.

Diskusi terus berlanjut tanpa terasa hingga penghujung senja. Setelah ditutup dengan foto bersama, masing-masing peserta diskusi mulai kembali ke kehidupan pribadi mereka masing-masing.

Aku sendiri masih menunggu beberapa saat sembari bercengkrama dengan kawan-kawan anggota Komisariat Dakwah mengenai dinamika yang terjadi di kampus mereka. Menarik menyimak pemaparan mereka mengenai dinamika tersebut yang mana mereka tidak lama lagi akan menggelar pemilihan presiden mahasiswa.

Tak lama kemudian kanda Saiful datang menjemputku dan kami pun kembali ke Asrama Mahasiswa Kubu Raya.

Mengapa Mahasiswa Malas Mengkaji Ilmu?

Sebuah Pertanyaan dan (Semoga) Jawaban

Banyak kemungkinan yang bisa menjadi faktor penyebab kajian keilmuan kurang mendapatkan minat. Bisa jadi karena konten kajiannya. Bisa jadi karena penyampai kajiannya. Bisa jadi karena waktu dan tempat kajiannya berlangsung. Bisa jadi juga karena hal-hal sederhana seperti sekadar karena kajiannya itu tidak tampak “menarik.”

Dalam memandang persoalan ini, saya tidak ingin terjebak dalam pepatah; buruk rupa, cermin dibelah. Pihak yang pertama-tama perlu melakukan introspeksi adalah penyelenggara kajian dan unsur-unsur kesalahan dan kekeliruan pertama-tama juga harus diasumsikan melekat pada pihak tersebut.

Namun tetap menarik bagi saya untuk mencoba memahami apa yang sebenarnya menjadi problematika mahasiswa-mahasiswa itu.

Kalau kita berkaca pada data-data yang berkenaan dengan intelektualitas yang ada di lingkungan mahasiswa, kita akan menemukan kenyataan bahwa memang ada degradasi yang cukup parah.

Apa sebenarnya yang mahasiswa-mahasiswa itu lakukan? Beratus-ratus ribu jumlah mereka, namun berapa persenkah yang mau meluangkan waktu untuk benar-benar berpikir?

– Ahmad D. Rajiv

Kemarin, aku diajak oleh salah seorang kawanku di kota ini ke warung kopi. Sesampainya di sana, kami duduk dan memesan minuman. Kami tidak sendiri saat itu. Ada beberapa kawan lain yang turut serta. Apa yang terjadi kemudian menunjukkan betapa kita sudah begitu tenggelam ke dalam realitas lain selain apa yang ada di hadapan mata kita; masing-masing orang di sekeliling meja itu sibuk dengan ponselnya sendiri-sendiri, sibuk bercengkrama dengan orang-orang lain di tempat-tempat lain sedangkan orang-orang yang ada di hadapannya sama-sama terperangkap dalam kebisuan.

Saat para mahasiswa datang ke kafe-kafe, yang pertama-tama mereka cari bukanlah makanan atau minuman, melainkan colokan dan akses internet.

– Ahmad D. Rajiv

Ada kecendrungan bahwa para mahasiswa ini lemah dalam mengahadapi apa yang ada di hadapan mereka dan lebih memilih untuk berada di suatu tempat yang lain, di dunia yang maya. Tidak heran jika saat para mahasiswa ini bertemu atau berdiskusi, status, stories, dan obrolan di grup-grup chatlah yang dominan mereka perhatikan.

Begitu juga saat mereka sendirian di kosan dan berhadapan dengan pelajaran yang harus mereka pahami. Mereka lebih suka memperbaharui postingan status dan stories dengan foto-foto buku, kopi, atau laptop, kemudian tenggelam dalam obrolan dengan orang-orang yang mengomentari postingan mereka itu ketimbang benar-benar mempelajari apa yang ada di hadapan mata mereka.

Maka bukan hal yang aneh jika “skripsi” bagi mahasiswa-mahasiswa itu ibarat beban hidup yang tak tertanggungkan dan proses yang mereka jalani dengan begitu tertatih-tatih. Sebab mengkaji ilmu bukanlah aktifitas yang menarik bagi mereka.

Apabila ada suatu kajian keilmuan yang ramai, biasanya malah karena faktor-faktor lain di luar dari pada ilmu itu sendiri. Seperti iming-iming sertifikat, tempat yang “wah”, ataupun pembicara yang “terkenal.” Soal pembicara yang terkenal ini pun yang lebih dikejar darinya adalah sensasi viralitasnya. Syukur-syukur bila mereka bisa dapat foto bareng pembicara yang akan memancing ratusan love di Instagram. Sedikit sekali yang benar-benar tergerak untuk mengambil manfaat keilmuan.

Fenomena ketidaktertarikan akan kajian keilmuan ini bahkan turut terjadi di organisasi yang berbasis kader. Organisasi yang karakteristik kaderisasinya adalah kaderisasi keilmuan atau intelektualitas. Jika di lingkaran yang katanya intelektual itu saja kajian keilmuan mulai kehilangan minat para anggotanya, apatahlagi lingkaran lain yang memang basisnya bukan intelektualitas?

Kalau kita mau melihat ke dalam, degradasi itu bermula dari individu-individu mahasiswa. Apatisme dan hedonisme adalah dua virus utama. Jangankan mahasiswa biasa, mahasiswa yang merupakan kader organisasi pun banyak terjangkiti virus ini. Kajian Keilmuan tidak mungkin akan berkembang pada individu yang masih menyimpan apatisme dan hedonisme.

Kedua virus ini hanya bisa diobati dengan dua cara; aktif membaca, dan aktif menulis. Membaca membantu kita mengikis akar-akar apatisme dengan memberikan kesadaran kepedulian akan keadaan sekitar. Sedangkan menulis mengasah kepekaan kita lewat gagasan-gagasan yang kita coba hadirkan dan tawarkan sebagai solusi atas permasalahan yang sudah kita baca. Kepekaan inilah yang dengan sendirinya menjauhkan kita dari sifat-sifat hedonis.

Kedua pondasi ini, membaca dan menulis, adalah stimulus yang akan terus menerus merangsang mahasiswa untuk mengkaji ilmu.

Seperti itulah kiranya.

Dari Mana Asalnya Perbedaan Pandangan?

Sebuah Catatan Lepas

Kalau dipikir-pikir ya, sepertinya berbeda pandangan itu sudah menjadi tabiat manusia. Ada aja alasan bagi perbedaan pandangan itu. Kalau kata pepatah arabnya, likulli ra’sin ra’yun. Bagi setiap kepala, ada pandangannya masing-masing.

Ini tentu dapat kita maklumi dengan kesadaran bahwa setiap manusia itu unik. Keunikan mereka terletak pada variasi pengalaman yang mereka terima. Apalagi di zaman keterbukaan informasi seperti sekarang ini.

Barangkali kalau di zaman dahulu, akses informasi orang-orang itu seragam. Seandainya pun bervariasi, variasinya itu tidak terlalu banyak. Sehingga kita dapat dengan mudah memetakan keadaan pikiran orang-orang. Apa yang mereka rasakan dapat diketahui dengan mudah karena tersampaikan dan tampak secara kolektif.

Sedangkan pada masa keterbukaan informasi ini, masing-masing orang, apapun suku, agama, dan rasnya, memiliki akses kepada informasi. Akses ini memungkinkan dia untuk memperoleh pengetahuan tanpa batas. Pengetahuan-pengetahuan ini akan membangun pemahamannya. Akses yang tanpa batas itu menjadikan setiap orang dapat memiliki preferensi yang berbeda-beda hingga ke taraf yang paling individualistis.

Taraf tersebut lahir dari kenyataan bahwa setiap orang dapat membangun keunikan preferensi mereka sendiri berdasarkan pilihan masing-masing atas sajian informasi yang ada. Ragam perbedaan pandangan pun menjadi semakin unik.

Ambil contoh dalam persoalan praktek peribadatan Islam. Saat ini, apabila kita menguasai ilmu perbandingan mazhab (aliran fikih) kita dapat dengan mudah menemukan sosok yang peribadatannya itu tidak konsisten di atas satu mazhab saja. Misalkan saat dia salat, dia bisa melakukan praktek wudhu dengan Mazhab Syafii, salat dengan Mazhab Hambali, dan berdoa dengan Mazhab Maliki.

Semua itu dia lakukan tanpa proses pengambilan pengetahuan yang legal formal melalui sekolah atau pesantren. Pengetahuan yang dia dapat itu dia ambil dari Internet, yang aksesnya tanpa batas. Atau dari kajian-kajian keislaman lepasan. Atau dari buku-buku yang dia beli di pertokoan. Atau dia mengambilnya dari obrolan-obrolan sambil lalu di jalan-jalan. Atau bisa juga dari kajian otodidak yang dia lakukan sendiri dengan mengandalkan keterbukaan akses informasi.

Pada intinya, pengetahuannya itu tidak dia dapatkan dengan cara-cara yang sistematis. Kenyataan ini membuat kita sulit melakukan pemetaan demografis berkaitan dengan hal-hal tersebut. Bisa jadi pada suatu wilayah yang terkenal dengan aliran tertentu, ternyata dalam praktiknya, menyimpan keragaman yang kolaboratif hasil dari keunikan masing-masing individu yang ada di dalamnya.

Jika kita menarik semuanya ke awal, kita kan menemukan kenyataan bahwa memang dorongan untuk berbeda pandangan itu sudah sejak dahulu ada. Sejak Adam baru saja tercipta. Maka upaya untuk menyeragamkan manusia itu mustahil. Semakin mustahil dengan efek-efek hasil keterbukaan tadi.

Apabila kita hadir dalam rapat-rapat, kita bisa semakin sadar bahwa bagaimana perbedaan pandangan itu sudah merupakan tabiat kita sebagai manusia. Kadangkala satu keputusan yang sifatnya sederhana saja bisa memakan waktu berjam-jam untuk menemukan titik temu.

Begitu banyak kepala yang harus kita tundukkan, harus kita taklukan agar pandangan kita dapat diterima. Meskipun kita sudah memiliki kapasitas untuk menyampaikan pandangan tersebut dan punya legitimasi untuk memutuskan kebenarannya, kita masih akan berhadapan dengan perbedaan pandangan. Apatah lagi apabila kita tidak punya pondasi apa-apa selain pengetahuan-pengetahuan lepas.

Menurut Ibnu Rusyd, perbedaan pandangan itu pangkalnya dua saja; perbedaan pengetahuan (termasuk informasi) dan perbedaan pemahaman (atau penafsiran).

Namun menurutku akar paling dalam dari perbedaan pandangan adalah perbedaan pijakan. Baik pijakan pikiran maupun pijakan keyakinan. Dalam membahas satu konsep yang sama saja, misalkan konsep “keadilan,” dua orang yang memiliki pijakan pikiran dan keyakinan yang berbeda, akan saling berbeda pandangan dari pangkal hingga ujung.

Ilusi Pertemanan

Hubungan antar manusia yang paling umum adalah pertemanan. Hubungan ini dihiasi dengan berbagai macam gejolak perasaan. Selain itu, hubungan ini juga berkelindan dengan berbagai macam manipulasi.

Manipulasi ini menjadikan suatu hubungan pertemanan yang tampaknya menyenangkan, tidak lebih dari serangkaian ilusi.

Seseorang yang kau sangka temanmu, bisa jadi hanyalah seseorang yang memanipulasimu dengan perasaan pertemanan. Dia ingin membuatmu tenang dan nyaman agar dia dapat dengan mudahnya mengambil beberapa keuntungan darimu, atau menjadikanmu alat untuk mencapai keuntungannya. Kau terperangkap dalam ilusi yang dia bangun. Kau adalah mangsa bagi serigala yang lapar yang ada di dalam dirinya.

Homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi manusia yang lain.

Manipulasi bukanlah sesuatu yang sulit. Seakan-akan manipulasi itu sendiri sudah merupakan tabiat manusia. Mampu menentukan mana yang manipulasi dan mana yang bukan dari sekian ikatan pertemanan yang kita miliki, itulah yang sulit.

Tapi manusia selalu berubah-ubah. Kadangkala perubahannya itu lebih cepat dari angin yang berhembus. Lebih cepat dari pergantian menit dan detik. Perubahan itupun kerapkali tanpa disadari.

Ada yang pada awal mula membangun pertemanan yang manipulatif. Namun kemudian tersadarkan oleh ketulusan temannya, dan lantas kemudian turut menjadi tulus pula.

Ada yang pada awal mula membangun pertemanan dengan niatan-niatan yang tulus. Namun karena tersakiti berkali-kali, akhirnya menjalani sisa hubungan pertemanan dengan manipulatif. Dengan senyuman-senyuman palsu dan tawa-tawa hambar.

Manusia memang pandai menyembunyikan perasaannya. Menyembunyikan kekesalan dan kemerahannya di balik senyuman dan perlakuan yang manis.

Bagaimana kita bertahan di tengah serangan beragam kepalsuan ini? Tapi tunggu, benarkah kepalsuan-kepalsuan itu adalah serangan, ataukah kita yang menyikapinya terlalu berlebihan?

Aku yakin, bahwa semua manusia ingin perlakuan yang jujur dan tulus. Namun bagaimanakah jika kejujuran dan ketulusan itu berarti suatu bentuk kebencian? Akankah kita masih sanggup menerimanya? Ataukah bahkan kita lebih memilih untuk menghadapi kepalsuan yang manis ketimbang tegar berhadapan dengan kenyataan yang pahit?

Maka seringkali, ilusi-ilusi itu sebenarnya tidak datang dari orang lain. Melainkan dari diri kita sendiri. Kita menciptakan ilusi-ilusi itu karena kita takut menghadapi kenyataan-kenyataan yang ada.

Sebegitu tidak adilkah dunia sehingga apa yang bisa kita lakukan hanyalah membangun ilusi?

Lihatlahlah orang-orang di sekelilingmu dan tatap mata mereka baik-baik kemudian tanyakan pertanyaan ini pada dirimu sendiri, “tuluskah orang itu?”

Aku bukannya ingin mengajakmu untuk terperangkap dalam prasangka buruk. Aku hanya ingin kau sadar bahwa manusia baik hati itu tidak ada. Manusia adalah seperangkat kepentingan dengan segudang alasan.

Lantas, kau pun harus turut mempertanyakan motif pribadimu. Mungkinkah ilusi?

Beberapa hal, beberapa perasaan, beberapa perkataan, dan beberapa tindakan tampak ada begitu saja tanpa adanya kesadaran dari diri kita. Kita suka tidak sadar bahwa pertemanan yang kita jalani itu ilusi. Bukan karena kita tidak mampu menjalaninya, melainkan karena ilusi itulah yang lebih menyenangkan bagi kita.

Apakah ilusi yang menyenangkan itu mampu membuat kita bahagia? Mungkin kita akan menjawab, “iya!” Tapi dapatkah kita melihat, bahwa jika ditimbang dengan akal sehat, kebahagiaan yang lahir dari suatu bentuk ilusi, sejatinya juga merupakan sebuah ilusi?

Tapi, manakah sebenarnya yang ilusi dan manakah yang sebenarnya yang nyata. Jangan-jangan, pertemanan yang kita anggap ilusi, itulah pertemanan yang sebenarnya. Sedangkan pertemanan yang kita lihat sebagai kenyataan, hanyalah ilusi yang tak terketahui.

Tentang Pontianak dan Manusia-manusianya

Manusia memang selalu unik di manapun mereka berada. Termasuk di Pontianak ini. Setelah beberapa hari berinteraksi dengan kawan-kawan dari HMI cabang Pontianak, baik yang berasal dari struktural pengurus cabang, BPL, maupun LDMI, aku bisa menangkap keunikan itu dengan caranya sendiri-sendiri.

Kedatanganku di sini dalam rangka pengelolaan training Latihan Kader Dakwah (LKD) yang diselenggarakan oleh LDMI HMI pada akhir tahun nanti. Kedatanganku sengaja lebih awal dari hari pelaksanaan pelatihan demi dapat melakukan konsolidasi konsep dan teknis dengan pihak-pihak terkait; Pengurus Cabang, BPL, dan LDMI itu sendiri.

Aku sudah mendiskusikan berbagai macam hal. Diskusi paling menarik adalah diskusiku bersama ketua umum BPL HMI cabang Pontianak, Abdul Muiz.

Dari Kanda Muiz, aku mendapatkan pemahaman penting mengenai kultur perkaderan di lingkungan HMI cabang Pontianak. Dalam diskusi tersebut juga kami menyatukan pemahaman mengenai training yang akan kami kelola. Mulai dari penyeleksian dalam tahapan screening, hingga metode penilaian yang akan kami terapkan.

Kanda Muiz sepakat dengan gagasanku untuk menerapkan metode penilaian kualitatif. Metode ini aku dapatkan ilmunya dari Training Management Training yang aku ikut beberapa waktu lalu. Dengan metode ini, konversi nilai itu tidak ke dalam angka-angka. Tapi kata-kata.

Sebelumnya, gagasan mengenai metode penilaian ini sudah aku diskusikan juga secara mendalam bersama koordinator Steering Committee, ayunda Fauziah Husaini. Aku sudah terlebih dahulu menjalin diskusi yang intens via WhatsApp dengan yunda Fauziah. Aku membantunya mempersiapkan perangkat lunak pelatihan berupa konsep dan kurikulum.

Selama berinteraksi dengan manusia-manusia Pontianak ini, salah satu kekentalan budaya yang aku temui, terutama di lingkungan HMI, adalah budaya melayu. Irama logat melayu yang kental masih umum menghiasai lidah pada penutur bahasa di sini.

Selain itu, aku juga menemukan kekentalan budaya China/ Tionghoa yang tampak jelas di jalan-jalan kota. Budaya Tionghoa di sini juga berbanding lurus dengan budaya Kristen. Secara etnis Tionghoa itu sebagian besar adalah pemeluk agama Kristen. Bangunan-bangunan gereja yang megah dan indah dapat dengan mudahnya kita temukan.

Belum lagi kedatanganku ke sini bertepatan dengan liburan natal sekaligus juga tahun baru. Perayaan kedua momentum tersebut terasa begitu hidup.

Ada satu karakteristik kebudayaan HMI cabang Pontianak yang aku pikir bernilai sangat positif dan dapat menjadi pelajaran berharga bagi kader HMI di cabang-cabang lain, terutama cabangku sendiri.

Karakteristik tersebut adalah bagaimana kader-kader HMI cabang Pontianak mau memberikan kontribusinya pada kegiatan-kegiatan yang ada meskipun kegiatan tersebut tidak memiliki kaitan langsung dengan mereka selain bahwa kegiatan tersebut berada dalam naungan HMI. Misalkan saja LKD ini. Ternyata, para panitia (organizing committee) kegiatan ini terdiri dari utusan-utusan setiap komisariat. Tidak hanya terbatas pada anggota LDMI semata. Mereka masih mau membantu kegiatan lembaga profesi padahal mereka sendiri bukanlah bagian langsung dari lembaga tersebut.

Menurutku kemauan itu adalah suatu nilai yang sangat positif. Pada beberapa cabang, jangankan bukan bagian dari institusi penyelenggara, berbeda gerbong politik pun dapat menjadi alasan keengganan seseorang untuk memberikan sumbangsihnya pada suatu kegiatan.

Masih ada beberapa hari lagi yang akan aku habiskan di sini, insya Allah. Aku berharap beberapa hari ke depan itu akan menjadi momentum yang bisa aku manfaatkan untuk bisa lebih banyak lagi belajar dari manusia-manusia di sini.

Kesan Bacaan “Cerita Buat Para Kekasih” Karya Agus Noor

Cerita buat Para KekasihCerita buat Para Kekasih by Agus Noor

My rating: 3 of 5 stars

Ini buku Agus Noor pertama yang secara utuh aku baca. Sebelumnya, aku hanya membaca beberapa cerpennya yang tersebar di Internet dan di blog pribadinya, Dunia Sukab. Salah satu yang paling memukau adalah “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi.” Agus Noor memang seorang penutur cerita yang piawai menangkap peristiwa-peristiwa sosial untuk dia sajikan secara kritis dalam cerita-ceritanya.

Secara keseluruhan, aku akan mengatakan cerita-cerita dalam buku ini bagus. Namun aku tidak menyukai beberapa cerita yang dalam pandanganku terlampau surealis atau mistis yang penuh dengan metafora-metafora yang membingungkan. Bagiku, kekuatan sebuah cerita adalah kedekatanya dengan pengalaman keseharian kita. Meskipun dengan latar belakang yang fiktif dan bahasa yang tinggi ataupun tertimbun oleh diksi-diksi asing, apabila ceritanya mampu menyentuh kesadaran pengalaman yang terjangkau oleh kita, cerita tersebut akan menarik.

Maka cerita-cerita yang Agus Noor sajikan berangkat dari problematika sosial, sebagian besar soal cinta dan romansa, adalah yang aku sukai dari buku ini.

Sebagaimana judulnya, cerita-cerita dalam buku ini sebagian besar adalah cerita-cerita cinta. Bacaan ini cocok bagi mereka yang sedang semangat dalam menikmati ekspresi tersebut. Banyak kutipan-kutipan percintaan yang bisa seseorang ambil, baik untuk dipersembahkan kepada sang kekasih, atau sekadar dipergunakan untuk caption di Instagram . Salah satunya misalnya kutipan,

Wanita memang selalu berbahaya, karna kita tak pernah tahu apa yang dipikirkannya

Meskipun ritmeku dalam membaca buku ini cukup pelan, aku menikmatinya. Semoga saja juga aku bisa menikmati karya-karya Agus Noor selanjutnya.

View all my reviews

Merancang Suatu Bentuk Pelatihan yang Ideal

Catatan Harian TMT BPL PB HMI Korwil JABODETABEKA Banten; Hari ke-03

Salah satu kelemahan utama instruktur di HMI adalah kemampuan merancang pelatihan. Hal tersebut aku sadari betul setelah seharian kemarin bersama fasilitator TMT belajar bagaimana membuat rancangan yang rapi dan juga sangat detil. Mulai dari awal hingga akhir suatu pelatihan. Awalannya pun bukan sekedar sehari dua hari sebelum pelatihan, melainkan lebih jauh dari itu dengan menariknya ke awal penyusunan konsep yang benar-benar matang.

Hari ketiga pelatihan TMT ini, Kamis (11/10) dimulai dengan suasana yang ceria. Fasiltator mengajak kami bergoyang di pagi hari dengan senam Maumere. Inilah salah satu unsur yang menarik dari pelatihan ini. Ada sisipan-sisipan kesenangan yang membuat suasana menjadi santai di tengah-tengah materi yang sebenarnya sangat serius.

Pada hari ini, fokus utamanya adalah perancangan pelatihan. Perancangan tersebut, seperti yang sudah aku singgung di awal, bukan hanya rancangan pelatihannya saja. Melainkan juga rancangan langkah-langkah awal mula dari analisa situasi yang kemudian akan menjadi bahan penyusunan konsep pelatihan dan pembuatan modul bagi pelatihan tersebut.

Aku merasakan bahwa perihal perancangan ini benar-benar aktivitas yang sangat menguras pikiran. Tidak heran jika sepanjang hari kemarin, kami hanya berkutat di praktek perancangan pelatihan ini dengan lebih dari satu cara dan lebih dari sekali revisi atas apa yang sudah kami kerjakan. Kami dituntut oleh fasiltator untuk bisa membuat rancangan yang benar-benar rapi dan detil. Bukan sekadar suatu rancangan yang simulatif semata, melainkan suatu rancangan yang aplikatif dan realistis. Suatu rancangan yang benar-benar dapat terterapkan secara nyata. Lengkap dengan antisipasi atas kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Pada sesi pertama di pagi hari, setelah suasana cair oleh goyang Maumere, fasilitator memberikan pemahaman teoritis mengenai perancangan pelatihan. Apa saja instrumen yang dibutuhkan untuk menyusun rancangan tersebut dan apa pula langkah-langkahnya.

Selepas penyampaian teoritis tersebut, yang memakan waktu tidak sampai satu jam, kami langsung dibagi kedalam empat kelompok di mana masing-masing kelompok terdiri dari tiga orang. Setiap kelompok diberi tugas untuk menyusun rancangan pelatihan Basic Training (Latihan Kader I) HMI dengan mengunakan diagram ikan Ishikawa. Aku berkesempatan berkelompok bersama Hendro (Bandar Lampung) dan Irsyad (Depok). Kami menyusun rancangan LK1 dengan latar belakang sebuah komisariat di HMI cabang Bandar Lampung.

img-20181012-wa0001
Hasil rancangan pertama yang sederahana. Menggunakan diagram Ishikawa.

Pada siang harinya. selepas salat Zuhur, kami mempresentasikan hasil rancangan kami dengan metode Wood Cafe. Teknisnya, masing-masing kelompok menentukan satu orang sebagai presentator yang diam di tempat (stand) yang telah ditentukan untuk kelompok tersebut, sedangkan dua anggota kelompok sisanya bertindak sebagai visitor yang akan mengunjungi stand kelompok lain secara bergilir untuk mendengarkan pemaparan presentator mereka.

Selepas presentasi, ada refleksi dari fasilitator untuk mengevaluasi hasil rancangan kami. Dari hasil evaluasi tersebut tampaklah banyaknya kekurangan dari rancangan kami. Salah satu yang paling esensial adalah ketelitian langkah demi langkah yang masih kurang. Rancangan kami masih terlalu luas, terlalu general. Startegi taktisnya dari rancangan tersebut belum kami bubuhkan sehingga sulit membayangkan penerapannya secara nyata.

Oleh karena itu, fasilitator kemudian melebur kami menjadi dua kelompok saja untuk bisa melanjutkan (melengkapi) rancangan kami. Kami diberi waktu hingga malam hari untuk merampungkan rancangan ini dengan lebih rapi dan lebih detil. Bergabung ke dalam kelompok kami kelompok yang terdiri dari TB. Masykur (Cilegon), Iqbal (Tangerang), dan Heru (Serang).

Malam hari selepas salat Isya dan makan malam, kami kemudian menjabarkan hasil rancangan kami secara bergilir. Dalam presentasi kali ini, kami maju bergiliran setiap kelompok. Kelompok lain yang menyaksikan kemudian memberikan kritik dan saran atas hasil kerja kami.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kemudian kami memasuki sesi terakhir untuk hari ini. Sesi yang menurutku paling menguras pikiran.

Masih sama seperti sebelumnya, kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan diarahkan untuk merancang pelatihan. Ada tiga kelompok, kelompok pertama merancang Basic Training, kelompok kedua merancang Intermediate Training dan kelompok terakhir merancang Training of Trainer. Aku bersama Irsyad (Depok), Wakid (Malang), dan Yogi (Serang) mendapat tugas untuk merancang Basic Training.

Bedanya, kali ini metode untuk merancang yang kami pergunakan kali ini adalah metode 4D (Discovery, Dream, Design, Destiny), suatu metode yang akan menghasilkan suatu skema yang rapi dan detil. Setelah fasilitator menjelaskan mengenai langkah-langkah yang mesti kami tempuh dalam menyusun rancangan ini, kami langsung mulai membangun rancangannya.

Pada titik inilah aku, dan kawan-kawanku yang lain merasakan betapa aktifitas ini menguras pikiran dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Menjadi seorang konseptor yang mampu menghasilkan rancangan yang matang bukanlah sesuatu yang mudah. Butuh kecerdasan yang tinggi dan imajinasi yang luas demi bisa dapat menyusun langkah demi langkah dengan presisi yang tepat dan akurat beserta kemungkinan-kemungkinan yang menyertainya.

Hingga pukul dua dini hari, kami belum kunjung juga menyelesaikan rancangan kami. Kami masih berkutat pada diskusi yang alot untuk menentukan langkah demi langkah yang mesti kami tetapkan. Kealotan juga terjadi saat kami mendata tantangan dan ancaman yang mungkin akan ada di hadapan langkah-langkah yang kami tetapkan serta bagaimana mengatasinya.

Master of Training memutuskan agar kami melanjutkan tugas perancangan ini di pagi hari dan mengarahkan kami agar istirahat.

Aku merasa beruntung karena fasilitator membawakan materi ini dengan santai. Padahal materinya adalah materi yang serius. Aku melihat di sinilah keseimbangan yang perlu kami ambil ketika mengelola pelatihan. Materi yang berat jika disajikan dengan metode yang juga berat, tentu akan menimbulkan kejenuhan. Maka salah satu triknya, materi yang berat disajikan dalam bingkai metode yang ringan dilengkapi dengan partisipasi yang luas dari para peserta.

Menuju Sosok Seorang Fasilitator

Catatan Harian TMT BPL PB HMI Korwil JABODETABEKA Banten; Hari ke-02

Training ini berjalan dengan santai. Namun muatan materinya butuh perhatian yang sangat serius sebab berkaitan dengan suatu bangunan ideal yang akan menentukan pola perkaderan HMI di masa depan. Dalam menyajikan materi, MoT menggunakan metode yang beragam. Namun dari keberagaman metode itu, ada satu kekuatan khas yang mewarnai semuanya, yakni warna partisipatif di mana semua peserta mesti memberikan kontribusi aktifnya dalam alur penyajian materi.

Pada pagi hari, selepas salat Subuh kami melakukan olahraga ringan. Lantas kemudian pada pukul setengah sembilan, forum dibuka setelah sebelumnya kami menyelesaikan kegiatan pribadi masing-masing dan juga menyantap sarapan yang sudah disediakan oleh panitia pada pukul tujuh.

Untuk hari Rabu (10/10) ini, materi utama yang akan kami serap adalah Benchmark Fasilitator. Materi yang sungguh menarik dan sarat akan muatan yang penuh makna. Salah satu kesimpulan penting dari materi tersebut adalah penggunaan istilah ‘fasilitator’ sebagai ganti dari istilah ‘narasumber,’ atau ‘instruktur,’ atau bahkan ‘master.’ Fasilitator menjadi padanan yang tepat bagi istilah trainer sebagaimana yang sudah aku singgung pada catatanku sebelumnya.

img_20181010_144618
Moderator dari KOHATI cabang Cilegon yang turut membantu mencairkan suasana.

Rangkuman Materi Benchmark Fasilitator

Materi ini berguna untuk membangun suatu pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya tolak ukur tertentu (bencmark) yang diterapkan atas para fasilitator di setiap training.

Fasilitator itu sendiri memiliki peranan kunci pada training. Dia berperan sebagai penentu kualitas training dan juga hasil akhir daripada training tersebut. Mulai dari tataran konsep training, kurikulum, metode, metodologi, hingga ekspektasi (tujuan dan terget) dari training.

Dalam visi BPL PB HMI, ke depannya pada perkaderan di HMI, posisi narasumber dan instruktur, akan digeser oleh fasilitator. Sehingga mulai dari pengelolaan training, hingga penyampaian materi-materi yang ada di dalamnya dipegang oleh sosok berkualifikasi fasilitator.

Untuk itu, perlu adanya suatu bentuk tolak ukur tertentu yang menjadi patokan bagi sosok fasilitator yang ideal pada Perkaderan. Pada titik inilah, Benchmark Fasilitator mendapatkan urgensinya.

Benchmark Fasilitator berlandaskan pada tiga jenjang; Pertama: keterampilan komunikasi, kemudian, Kedua: berjenjang menuju keterampilan memafasilitasi kelompok, dan Ketiga: berpuncak pada keterampilan perencanaan partisipatif.

Dalam jenjang pertama benchmark tersebut terdapat langkah demi langkah berupa skill atau keterampilan khusus yang mesti dikuasai oleh seorang fasilitator yang baik. Antara lain, adalah keterampilan mengamati (probing), mendengar, bertanya, berdiskusi (dialog), memberikan umpan balik (feedback) dlsb.

Sedangkan pada jenjang kedua, keterampilan yang dituntut itu mencakup; membangun kepercayaan, monitoring tahap-tahap kelompok, monitoring peran kelompok, membangun dinamika kelompok, mendorong kerja kelompok, mendorong partisipasi yang merata, dan penyelesaian konflik.

Terakhir, yang merupakan benchmark tertinggi bagi fasilitator adalah keterampilan perencanaan partisipatif yang mencakup keterampilan-keterampilan tertentu yakni, assessment, desain, perencanaan, manajemen, implementasi, monitoring, dan evaluasi.

Dengan Benchmark Fasilitator ini, training di HMI akan tertata rapi dan tersusun sesuai standar yang diharapkan hasilnya akan lebih maksimal dalam mewujudkan tujuan dari Perkaderan itu sendiri.

Namun, apakah Benchmark ini dapat serta merta terterapkan di lingkungan perkaderan HMI, mulai dari tingkatan komisariat, hingga tingkat nasional?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, butuh suatu analisa tersendiri yang akan mengurai mulai dari kekuatan, kelemahan, ancaman, hingga peluang yang terdapat pada masing-masing lingkungan perkaderan di HMI.

Suatu lingkungan perkaderan (HMI tingkatan cabang, atau tingkatan komisariat) mesti memiliki tantangannya sendiri-sendiri dalam mewujudkan dan menegakkan benchmark ini. Tugas kita adalah menciptakan agen-agen fasilitator pembaharu yang akan menggeser kultur-kultur perkaderan lama dan membawa nafas baru bagi perkaderan melalui Benchmark Fasilitator ini sehingga pada nantinya, setiap perkaderan di HMI dapat memiliki suatu bentuk kualitas yang khas dan bernilai tinggi serta seragam dan selaras mulai dari lingkungan perkaderan lokal, hingga nasional.

***

Master of Training (MoT), atau fasilitator (mungkin ke depannya aku akan cenderung menggunakan istilah ini pada catatan-catatanku) menyisipkan dua kali kegiatan kelompok sepanjang hari kemarin. Pada kegiatan yang pertama, kami dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok meneliti, menyusun dan mempresentasikan lima metode pembelajaran yang dapat dipergunakan dalam training.

Dokumen ringkasan hasil kerja kami dapat dilihat di LINK ini

Kelompokku sendiri, yang terdiri dari aku, Wakid (Malang), Iqbal (Tangerang), Heru (Serang), TB. Masykur (Cilegon), dan Oka (Jakarta Raya) mendapatkan bagian untuk meneliti, menyusun, dan mempresentasikan metode; 1. Mind Maping, 2. Inquiry, 3. Role Playing, 4. Comparative Script, dan 5. Debat.

img-20181010-wa0004
Kelompok kami berdiskusi untuk menyusun materi presentasi.

Lalu pada malam hari, kami kembali dibagi menjadi beberapa kelompok. Kali ini, aku satu kelompok dengan Iqbal (Tangerang) dan Totong (Serang). Tugas kami adalah membuat rangkuman materi hari Rabu (10/10) ini dan menyusun gambaran penerapannya pada lingkungan perkaderan kami masing-masing. Rangkuman yang kami susun adalah apa yang aku tulis di catatan ini di atas.

img-20181010-wa0041
Presentasi kelompok kedua bersama Iqbal dan Totong.

Forum berakhir agak terlambat pada pukul 23.00. Selepas berbincang-bincang sebentar dengan kawan-kawan yang datang berkunjung ke arena training ini, aku langsung ke kamar dan istirahat. Hari esok yang menyenangkan menanti.

%d blogger menyukai ini: