Instruktur HMI dan Kesadaran Kebersihan, Kerapihan, dan Keteraturan

Kesadaran kebersihan, kerapihan, dan keteraturan jarang dimiliki oleh kita, sebagai instruktur HMI dewasa ini. Tidak heran jika arena pelatihan selalu tampak kotor, berantakan, dengan berkas-berkas terlempar ke sana sini. Selepas training, hampir tidak ada arsip yang kemudian dapat dijadikan acuan bagi evaluasi maupun sebagai yurispudensi pengelolaan di masa mendatang.

Kader-kader HMI punya Pedoman Perkaderan yang baik dan Pedoman Kesekretariatan yang rapi, namun sama sekali masih jauh dari penerapan praktis yang memadai. Hal-hal teknis seperti berkas, alat peraga, maupun instrumen-instrumen kebersihan dan kerapihan masih diperlakukan apa adanya dan bahkan cenderung dijalankan dengan setengah hati dan dipandang dengan sebelah mata.

Belum lagi kalau kita bicara mengenai kedisplinan. Hari ini, masih banyak instruktur yang tidak disiplin, doyan menghabiskan malam dengan obrolan panjang tak tentu arah, malas-malasan dalam menunaikan salat, dan suka menunda pekerjaan hingga pada titik paling akhir dari kegiatan.

Degradasi kedisiplinan ini terjadi bukan hanya di lingkungan perkaderan. Pada momentum-momentum seremonial dan program-program kegiatan, “jam karet” masih menjadi budaya yang entah mengapa begitu mengakar di HMI. Terkadang keterlambatan waktu dari ketentuan yang disepakati sebelumnya bisa begitu parah.

Ketiadaan kesadaran ini berlaku secara kolektif dan hampir-hampir menjelma suatu tradisi kebudayaan. Manajemen pengelolaan Training di HMI memang mengagumkan. Namun tidak untuk kebersihan, kerapihan, dan keteraturan pengelolaannya. Apa yang kemudian tampak bersih, rapih, dan teratur paling banter adalah penampilan kita, para instruktur-instrukturnya saja. Penampilan yang bisa begitu mempesona dan memukau saat mereka berada di forum training.

Namun sayang sekali kebersihan, kerapihan, dan keteraturan itu hanyalah sebatas simbol yang melekat pada penampilan kita semata. Bukan suatu nilai yang secara praktis dapat terlihat dari cara kita memperlakukan lingkungan di mana kita berada. Bahkan, kerapkali lingkungan kita perlakuan dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan tampilan kita secara simbolis. Badan kita bersih, tapi kamar kita sangat kotor. Pakaian kita rapih, tapi ruangan kerja kita acak-acakan. Pembawaan kita teratur tapi tugas-tugas administratif kita selesaikan dengan berantakan dan cenderung terburu-buru di akhir waktu.

Gambaran ini tentu saja bukan gambaran keseluruhan karakteristik instruktur di HMI. Hanya saja gambaran ini terlihat semakin meluas akhir-akhir ini. Setidak-tidaknya demikianlah yang dapat kita lihat pada training-training HMI tingkat nasional yang terselenggara di pusat pendidikan dan pelatihan Graha Insan Cita (GIC), Depok.

Persoalan ini mengganjal karena menjadikan wacana keislaman HMI yang melangit tidak tampak membumi dalam perilaku sehari-hari kader HMI, bahkan pada kita, instruktur-instruktur yang notabene adalah suri tauladan dalam pembumian keislaman itu. Islam sebagai basis ideologis dan sumber nilai-nilai dasar perjuangan HMI tidak menemukan aktualisasinya dalam lingkungan perkaderan di HMI. Bukankah fenomena ini adalah sesuatu yang memiriskan hati? Mengingat perkaderan di HMI adalah kawah candradimuka pembentukan muslim intelegensia. Muslim macam apa yang ingin dibentuk dalam lingkungan yang kotor, acak-acakan, dan berantakan?

Aneh rasanya bila pikiran dan lisan kita meneriakkan gagasan-gagasan besar perubahan namun pada kenyataannya gagasan tersebut sama sekali asing dari perilaku kita? Para instruktur di HMI perlu meresapi kembali secara sadar dan bertanggungjawab ajaran Islam sebagai sumber nilai di HMI. Hingga mereka tidak terjebak ke dalam sakralisasi simbol yang melekat pada tampilan diri mereka semata namun di sisi lain subtansi dari tuntutan ajaran Islam terkesampingkan. Sesuatu yang dahulu mendorong Nurcholish Madjid merumuskan Nilai-nilai Dasar Perjuangan karena mendapati hal tersebut marak terjadi di dunia Islam, terutama di Timur Tengah.

Bagaimana reaksi Cak Nur saat mendapati karakteristik umat Islam yang ingin dia singkirkan itu justru marak terdapat pada para sekelompok orang yang mendapuk diri sebagai penerus gagasan perjuangannya?

Iklan

Cinta yang Bertahan Dengan Sabar

Kesan yang aku dapatkan dari Burun-burung Manyar karya YB. Mangunwijaya

Selama membaca berbagai macam ulasan dan kritik sastra, nama YB. Mangunwijaya, yang biasa disapa dengan Romo Mangun, bukanlah nama yang asing. Namun baru kali ini aku berkesempatan membaca salah satu karyanya. Roman karangannya yang aku baca ini berjudul Burung-burung Manyar. Suatu roman yang dapat dikatakan sebagai salah satu karya terbaik beliau.

Roman ini juga bisa dikategorikan sebagai novel sejarah. Latar belakang tempat dan waktunya benar-benar sesuai dengan kenyataan. Beberapa tokoh-tokoh sampingan yang tersebutkan dalam novel ini juga merupakan para pelaku sejarah asli. Misalnya saja bos dari Atik, tokoh utama perempuan, yang adalah Sutan Sjahrir. Ya, Sjahrir yang kita ketahui sebagai salah satu dari the founding fathers.

Meskipun novel ini mengandung suatu semangat nasionalisme dan patriotisme yang tercermin dalam karakteristik tokoh-tokohnya, ditambah dengan bumbu-bumbu budaya Jawa, aku lebih memerhatikan unsur romansanya. Selain karena memang aku bertipikal seorang romantik, unsur romansa inilah yang paling membekas bagi diriku.

Romansa di dalam novel ini terjadi antara dua tokoh utama dengan nama Teto dan Atik. Masing-masing nama itu adalah nama panggilan. Nama asli Teto adalah Setadewa dan nama asli Atik adalah Larasati.

Dalam pandanganku, sepanjang rentang waktu yang dibentangkan oleh novel ini, dengan berbagai macam peristiwa-peristiwa sejarah yang melatarbelakanginya, novel ini bertitik-pusat pada perasaan cinta Teto kepada Atik, yang meski membentur berbagai macam keadaan yang menyulitkan, hingga bahkan menyakitkan, tetap bertahan di dalam dirinya hingga pada akhirnya perasaan tersebut memberikan Teto suatu pemahaman kebijaksanaan yang mendalam mengenai kesadarannya sebagai bagian dari suatu bangsa.

Teto dan Atik terpisah oleh keberpihakan. Meski mereka masih ada jalur ikatan lewat keluarga mereka yang merupakan salah satu keraton di Jawa. Keberpihakan Teto adalah kepada Belanda. Sedangkan Atik kepada Republik Indonesia yang baru-baru berdiri dan masih begitu tertatih-tatih.

Keberpihakan masing-masing Teto dan Atik membuat mereka pada akhirnya tidak dapat bersatu dalam suatu ikatan pernikahan. Keterhalangan karena keadaan inilah yang menjadi benang merah konflik yang terjalin dan berkelindan sepanjang novel ini. Bagaimana Teto dapat berdamai dengan perasaannya? Apa pelajaran dan kebijaksanaan yang kemudian Teto mampu ambil setelah bertahun-tahun bertahan dengan perasaan tersebut? Pada lembar demi lembar novel ini kita diajak pengarang untuk menyelami kedalaman perenungan dan juga gejolak perasaan seorang Teto sepanjang hidupnya.

Meskipun memang novel ini mengambil teknik penceritaan ‘orang ketiga serba tahu,’ kedalaman perasaan yang benar-benar digali hanyalah perasaan Teto.

Burung-burung manyar yang menjadi judul dari novel ini menggambarkan suatu pelajaran penting yang dapat diambil oleh manusia dari peristiwa-peristiwa alam dan tingkah laku hewan. Tampaknya pengarang punya ketertarikan tersendiri untuk menghubungkan tindak tanduk manusia melalui perumpamaan hewaniah. Sebagian besar judul-judul bab dari novel ini menggunakan hal tersebut. Misalkan saja “Anak Harimau, Mengamuk,” “Merpati Lepas,” dan “Singa, Mengerti,” yang merupakan beberapa judul bab yang ada.

Ketabahan cinta Teto mengesankanku. Salah satunya bentuknya adalah bagaimana Teto mampu tetap berpegang pada prinsip-prinsipnya, meskipun sangat sulit, dan memendam perasaannya yang begitu besar dan begitu bergejolak kepada Atik. Gejolak perasaan tersebut kemudian tersalurkan melalui suatu cara lain yang penuh dengan kebijaksanaan saat Teto berada pada masa-masa terakhir hidupnya.

Cinta Teto yang sabar telah mampu memberikannya makna yang luar biasa.

Tetaplah Berjuang, Meski Kelaparan

Kesanku Setelah Membaca Novel “Lapar” Karya Knut Hamsun

Aku baru saja mengembalikan sebuah novel yang aku pinjam, secara diam-diam, dan sudah menemaniku selama sebulan belakangan ini kepada pemiliknya, salah seorang perempuan kawanku di Himpunan. Novel tersebut, aku baca hingga tiga kali dan tetap saja menyisakan kekaguman yang menimbulkan kesan mendalam di hatiku.

Bukan novel yang besar sebenarnya. Ukurannya kecil dan jumlah halamannya hanya 289. Novel sekecil ini bagi pembaca yang serius, bisa selesai dalam dua atau tiga hari. Bahkan sekali duduk bagi pembaca yang benar-benar serius. Namun ukurannya yang kecil sama sekali tidak dapat menahan luapan sastrawinya yang begitu besar. Tidak heran, banyak kritikus sastra yang menganggap novel ini sebagai novel yang memengaruhi gaya penuturan sastra modern.

knut_hamsun
Knut Hamsun, 1890. Pada tahun yang sama dengan penerbitan Sult.

Novel ini berjudul, dalam Bahasa Indonesia, Lapar. Novel ini adalah terjemahan dari edisi bahasa Inggris yang berjudul Hunger yang merupakan terjemahan pula dari edisi bahasa asli dari novel ini, yakni bahasa skandinavia, tepatnya Norwegia, yang berjudul Sult. Pengarangnya bernama Knut Hamsun, seorang pengarang penerima penghargaan novel sastra pada tahun 1920

Kisah dari novel ini sebenarnya sederhana. Namun begitulah para pengarang besar dunia bekerja; menghasilkan makna yang luar biasa dari cerita-cerita sederhana. Katakanlah seperti The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway atau The Alchemist karya Paulo Coelho.

Apa Kekuatan Luar Biasa yang Terkandung Dalam Novel Ini?

Aku bisa bilang bahwa “semangat” lah kekuatan utama novel ini. Semangat pantang menyerah dari seorang penulis yang mesti menghadapi rasa lapar namun tetap bersikukuh untuk hidup dari kepenulisannya. Meskipun pada akhirnya sang penulis menyerah dan kalah oleh kehidupan, setidak-tidaknya dia sudah berjuang dengan perjuangan yang mengagumkan.

Memang bukan suatu pekerjaan yang mudah menjadi seorang penulis itu. Apalagi penulis yang mampu melahirkan suatu karya yang luar biasa.

Banyak kritikus dan sastrawan dekat Knut yang memberi kesaksian bahwa tokoh utama dalam novel ini adalah Knut sendiri, di mana dia sebenarnya menceritakan masa mudanya pada awal-awal karirnya sebagai seorang penulis.

Knut juga sempat menyerah dari jalan kepenulisan sebagaimana tokoh utama dalam novel ini, bahkan beberapa kali, namun kemudian ia kembali dan kembali lagi dan akhirnya kepenulisan menjadi jalan hidupnya.

Apa yang bisa aku petik dari novel ini?

Saat membaca novel ini, kesan yang paling mendalam adalah tentang perjuangan menjalani profesi yang sudah kita pilih. Aku jadi merasa malu dengan Sang Tokoh karena aku begitu banyak mengeluh akan ketidak-mampuanku menghasilkan karya padahal aku sebenarnya memiliki banyak fasilitas untuk itu.

Tidak seperti Sang Tokoh, aku tidak terjebak dalam situasi kelaparan, aku pun masih memiliki sarana untuk menulis; laptop, smartphone, dan akses Internet. Sedangkan sang tokoh, yang dia punya hanyalah lembaran-lembaran kertas dan sebuah pensil serta baju yang melekat di badan, yang kemudian dia preteli satu per satu demi bisa makan. Dengan segala macam kekurangan itu dia tetap menulis meski berkali-kali dia dihempas oleh kehidupan.

Membaca perjuangan sang tokoh yang dihadirkan Knut dengan begitu detil dan dalam akan mampu menggugah kita dengan banyak cara. Kadang dia membuat kita prihatin, kadang dia membuat kite tergelitik, kadang dia membuat kita terharu. Sang Tokoh adalah pribadi yang tidak sempurna, dan memang tidak ada pribadi yang sempurna, sehingga dia mampu menghadirkan kemanusiaan yang benar-benar utuh.

Sungguh suatu kemanusiaan yang luar biasa.

Kabar Gembira Dari Pontianak

Catatan Mengenai Kemenangan HMI Pada Pilpresma IAIN Pontianak

Siang tadi, aku menerima selentingan kabar yang cukup menggembirakan. Dalam suasana siang yang menyenangkan dengan ditemani oleh karya sastra menawan dari Knut Hamsun yang baru saja mulai aku baca, kabar tersebut menambah rasa senang di hatiku.

Kabar tersebut datang dari kota yang baru-baru ini saja aku tinggalkan setelah menghabiskan waktu di sana selama dua pekan penuh; Pontianak. Kabar gembiranya berkenaan dengan kemenangan kawan-kawan HMI cabang Pontianak dalam kontestasi pemilihan presiden dan wakil presiden mahasiswa di lingkungan IAIN Pontianak.

Kandidat yang diusung oleh kawan-kawan HMI di sana, Khairul Tamam dan Badrus Saleh, berhasil memenangi pemilihan.

(BACA: Perhitungan Suara Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa IAIN Pontianak)

Kemenangan kawan-kawanku ini menggembirakan bagiku sebab selama keberadaanku di sana, kebanyakan orang-orang yang berinteraksi denganku, adalah mereka, kader-kader HMI IAIN Pontianak.

Mulai dari unsur-unsur LKD (Latihan Kader Dakwah) yang aku kelola, hingga teman ngopi, nongkrong, dan jalan-jalan, sebagian besar berasal dari kampus Islam terbesar di Kalimantan Barat tersebut.

Aku bahkan berkesempatan untuk terlibat diskusi yang diselenggarakan oleh Komisariat Dakwah, salah satu komisariat HMI di IAIN Pontianak di samping Komisariat Syariah dan Komisariat Tarbiyah, sebanyak dua kali. Sekali sebagai peserta, sekali sebagai pembicara.

Maka dari itu, sedikit banyak aku turut menyaksikan sendiri bagaimana mereka membangun konsolidasi politik internal dan menyusun kekuatan untuk menghadapi pemilihan ini. Sebagai orang luar yang mengamati pergerakan ini secara sederhana, aku bisa dengan jelas merasakan geliat antusiasme mereka untuk memenangkan kontestasi ini dengan didorong, salah satunya, oleh semangat perkaderan HMI.

Aku bahkan sempat membangun percakapan mengenai pergerakan mereka ini. Mengenai harapan-harapan mereka yang mereka titipkan pada kontestasi ini, berserta pula kekhawatiran yang menggelayuti langkah-langkah mereka.

Dalam dua kali diskusi yang mereka selenggarakan, sekali membahas mengenai refleksi pergantian tahun, dan sekali membahas mengenai Mission HMI di mana aku bertindak sebagai pembicara, aku mampu menangkap harapan beserta kekhawatiran itu.

Harapan dan kekhawatiran mereka berkutat pada bagaimana kursi kepemimpinan yang ingin mereka capai ini menentukan pergerakan HMI di internal kampus IAIN ke depannya.

Kursi kepemimpinan internal kampus memang merupakan alat yang efektif untuk memuluskan agenda perkaderan. Dengan kepemimpinan tersebut, geliat perkaderan dan perekrutan dapat diberi kesempatan yang seluas-luasnya. Sebaliknya, saat kursi kepemimpinan tersebut dipegang oleh orang-orang yang kontra dengan HMI, akan ada upaya-upaya tertentu dalam menghalang-halangi perekrutan dan perkaderan.

Kini kawan-kawan HMI IAIN Pointianak dapat bernafas lega. Namun tentu jangan sampai menjadi jumawa. Kesombongan adalah kekalahan pertama orang-orang besar. Kemenangan ini mesti disikapi dengan rendah hati. Segala niatan dan tujuan harus dikembalikan kepada basis nilai yang dianut oleh HMI. Niatan yang ikhlas dari kesadaran ilahiah akan kebenaran, dan tujuan yang mencoba mencapai ridha ilahi. Sebagaimana yang termaktub dalam pasal 04 Anggaran Dasar HMI.

Kesempatan yang diperoleh dari kursi kepemipinan ini haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan perekrutan dan perkaderan, yang merupakan fungsi utama HMI sebagai organisasi kader di mana insan cita (yang berkualitas akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan Islam, dan bertanggung-jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT) dibentuk dan dibina.

Namun kesempatan tersebut janganlah sampai memuat unsur ketidakadilan bagi pegerakan-pergerakan eksternal lainnya yang ada lingkungan kampus. Sebab tindakan tersebut justru akan berlawanan dengan nilai-nilai dasar perjuangan HMI sendiri yang begitu menujungjung kemerdekaan dalam berpikir dan bertindak. Cukuplah jika kursi kepemimpinan tersebut menjadi pembuka ruang fasilitas agar perkaderan dan perekrutan dapat berjalan dengan mulus dan tanpa tertanggu.

Terakhir, kita semua tentu harus sadar bahwa kepemimpinan adalah ujian dari Allah. Ujian yang akan memperlihatkan bagaimana kualitas kita sebagai khalifah Allah di muka bumi. Maka bagi kawan-kawan HMI di IAIN Pontianak, buktikanlah bahwa kepemimpinan yang berada di genggaman kalian ini adalah anugerah dan berkah. Bukan hanya bagi anggota dan kader HMI, melainkan juga bagi seluruh mahasiswa IAIN Pontianak.

Menghadiri Forum Diskusi HMI cabang Pontianak Komisariat Dakwah dengan Tajuk; Ekspektasi Mahasiswa Pasca Tahun Baru Masehi

Hari Jumat lalu, 04 Januari 2018 pasca salat Ashar, aku berkesempatan menghadirkan diskusi rutin yang diselenggarakan oleh HMI cabang Pontianak Komisariat Dakwah.

Sebelumnya, selepas salat Jumat di Masjid Agung al-Mujahidin, aku dan kawanku, Albi, yang juga merupakan anggota HMI dari Komisariat Dakwah, menemui kanda Saiful Bahri, senior HMI cabang Pontianak Komisariat Syariah, di Taman Catur UNTAN (Universitas Tanjungpura). Rencananya, aku akan menghabiskan waktu siang di Asrama Mahasiswa Kubu Raya yang merupakan kediaman kanda Saiful sedangkan Albi pergi mengikuti kelas perkuliahan.

Selepas Ashar, aku bersama kanda Saiful melucur menuju Kampus Hijau IAIN Pontianak. Setelah mengantarku, dia meminta izin untuk menghadiri rapat PRIMARAYA (Perhimpunan Mahasiswa Kubu Raya) dan berjanji akan menjemputku selepas diskusi nanti.

Diskusi ini mengambil tempat di Taman Biro AUK di kompleks IAIN Pontianak. Dengan dihadiri oleh sekitar 20an anggota Komisariat Dakwah, dan juga beberapa orang dari komisariat lainnya, diskusi dimulai pada pukul setengah empat sore.

Pemateri pada diskusi kali ini, yunda Fauziah Husnaini, senior Komisariat Dakwah dan juga instruktur BPL HMI cabang Pontianak, membuka diskusi dengan ungkapan reflektif,

Tahun baru dihabiskan dengan dua cara, hura-hura yang sia-sia atau dengan sesuatu yang bermanfaat. Mereka yang menghabiskan waktu tahun baru untuk hura-hura, termasuklah ke dalam kalangan yang merugi sebagaimana termaktub dalam surat al-Ashr ayat 02.

Kemudian yunda Fauziah mulai memaparkan materinya yang berkutat pada refleksi mengenai harapan mahasiswa, khususnya kader HMI Komisariat Dakwah ke depannya. Harapan yang baik bagi kehidupan mahasiswa itu sendiri.

Yunda Fauziah juga banyak menyinggung mengenai harapan-harapan (atau dengan kata lain, ekspektasi) yang ada di pundak para anggota HMI dari Komisariat Dakwah. Bagaimana mereka harus bisa menyolidkan diri dengan membangun ikatan emosional yang kuat, baik ke atas, ke senior-senior HMI, maupun ke bawah, ke junior-junior yang baru-baru saja ditahbiskan menjadi anggota. HMI kuat karena silaturahmi. Ketika silaturahmi itu kendor, maka HMI akan melemah, tegasnya.

Bagi yunda Fauziah, mahasiswa haruslah memiliki tujuan yang terarah. Dengan langkah-langkah yang terperinci. Jangan sampai larut dalam kenyamanan. Beliau bahkan menyarankan agar langkah-langkah untuk mewujudkan harapan tersebut tercatat dalam suatu bentuk tulisan yang dapat dilihat kembali sebagai alat ukur pencapaian harapan-harapan tersebut di masa depan.

Diskusi ini juga dihiasi dengan tanggapan-tanggapan yang datang dari peserta diskusi. Salah satu tanggapan yang menarik datang dari salah seorang anggota HMI dari Komisariat Dakwah.

Menurutnya, ada degradasi kesadaran para anggota HMI dalam menghadiri kegiatan-kegiatan keilmuan. Degradasi ini kemudian mengakibatkan lemahnya kualitas intelektual mereka.

Tanggapan ini disambung dengan pertanyaan; apa mimpi ketua Komisariat Dakwah bagi perkembangan komisariat depannya? Pertanyaan ini dijawab oleh yunda Desy, selalu ketua umum Komisariat Dakwah, dengan pernyataan bahwa mimpinya adalah bagaimana agar anggota bisa menjadi kader-kader berkualitas.

Sungguh suatu mimpi yang besar yang membutuhkan kerja keras yang betul-betul serius untuk mewujudkannya jika mengingat mengenai degradasi yang sudah disebutkan tadi.

Diskusi terus berlanjut tanpa terasa hingga penghujung senja. Setelah ditutup dengan foto bersama, masing-masing peserta diskusi mulai kembali ke kehidupan pribadi mereka masing-masing.

Aku sendiri masih menunggu beberapa saat sembari bercengkrama dengan kawan-kawan anggota Komisariat Dakwah mengenai dinamika yang terjadi di kampus mereka. Menarik menyimak pemaparan mereka mengenai dinamika tersebut yang mana mereka tidak lama lagi akan menggelar pemilihan presiden mahasiswa.

Tak lama kemudian kanda Saiful datang menjemputku dan kami pun kembali ke Asrama Mahasiswa Kubu Raya.

Mengapa Mahasiswa Malas Mengkaji Ilmu?

Sebuah Pertanyaan dan (Semoga) Jawaban

Banyak kemungkinan yang bisa menjadi faktor penyebab kajian keilmuan kurang mendapatkan minat. Bisa jadi karena konten kajiannya. Bisa jadi karena penyampai kajiannya. Bisa jadi karena waktu dan tempat kajiannya berlangsung. Bisa jadi juga karena hal-hal sederhana seperti sekadar karena kajiannya itu tidak tampak “menarik.”

Dalam memandang persoalan ini, saya tidak ingin terjebak dalam pepatah; buruk rupa, cermin dibelah. Pihak yang pertama-tama perlu melakukan introspeksi adalah penyelenggara kajian dan unsur-unsur kesalahan dan kekeliruan pertama-tama juga harus diasumsikan melekat pada pihak tersebut.

Namun tetap menarik bagi saya untuk mencoba memahami apa yang sebenarnya menjadi problematika mahasiswa-mahasiswa itu.

Kalau kita berkaca pada data-data yang berkenaan dengan intelektualitas yang ada di lingkungan mahasiswa, kita akan menemukan kenyataan bahwa memang ada degradasi yang cukup parah.

Apa sebenarnya yang mahasiswa-mahasiswa itu lakukan? Beratus-ratus ribu jumlah mereka, namun berapa persenkah yang mau meluangkan waktu untuk benar-benar berpikir?

– Ahmad D. Rajiv

Kemarin, aku diajak oleh salah seorang kawanku di kota ini ke warung kopi. Sesampainya di sana, kami duduk dan memesan minuman. Kami tidak sendiri saat itu. Ada beberapa kawan lain yang turut serta. Apa yang terjadi kemudian menunjukkan betapa kita sudah begitu tenggelam ke dalam realitas lain selain apa yang ada di hadapan mata kita; masing-masing orang di sekeliling meja itu sibuk dengan ponselnya sendiri-sendiri, sibuk bercengkrama dengan orang-orang lain di tempat-tempat lain sedangkan orang-orang yang ada di hadapannya sama-sama terperangkap dalam kebisuan.

Saat para mahasiswa datang ke kafe-kafe, yang pertama-tama mereka cari bukanlah makanan atau minuman, melainkan colokan dan akses internet.

– Ahmad D. Rajiv

Ada kecendrungan bahwa para mahasiswa ini lemah dalam mengahadapi apa yang ada di hadapan mereka dan lebih memilih untuk berada di suatu tempat yang lain, di dunia yang maya. Tidak heran jika saat para mahasiswa ini bertemu atau berdiskusi, status, stories, dan obrolan di grup-grup chatlah yang dominan mereka perhatikan.

Begitu juga saat mereka sendirian di kosan dan berhadapan dengan pelajaran yang harus mereka pahami. Mereka lebih suka memperbaharui postingan status dan stories dengan foto-foto buku, kopi, atau laptop, kemudian tenggelam dalam obrolan dengan orang-orang yang mengomentari postingan mereka itu ketimbang benar-benar mempelajari apa yang ada di hadapan mata mereka.

Maka bukan hal yang aneh jika “skripsi” bagi mahasiswa-mahasiswa itu ibarat beban hidup yang tak tertanggungkan dan proses yang mereka jalani dengan begitu tertatih-tatih. Sebab mengkaji ilmu bukanlah aktifitas yang menarik bagi mereka.

Apabila ada suatu kajian keilmuan yang ramai, biasanya malah karena faktor-faktor lain di luar dari pada ilmu itu sendiri. Seperti iming-iming sertifikat, tempat yang “wah”, ataupun pembicara yang “terkenal.” Soal pembicara yang terkenal ini pun yang lebih dikejar darinya adalah sensasi viralitasnya. Syukur-syukur bila mereka bisa dapat foto bareng pembicara yang akan memancing ratusan love di Instagram. Sedikit sekali yang benar-benar tergerak untuk mengambil manfaat keilmuan.

Fenomena ketidaktertarikan akan kajian keilmuan ini bahkan turut terjadi di organisasi yang berbasis kader. Organisasi yang karakteristik kaderisasinya adalah kaderisasi keilmuan atau intelektualitas. Jika di lingkaran yang katanya intelektual itu saja kajian keilmuan mulai kehilangan minat para anggotanya, apatahlagi lingkaran lain yang memang basisnya bukan intelektualitas?

Kalau kita mau melihat ke dalam, degradasi itu bermula dari individu-individu mahasiswa. Apatisme dan hedonisme adalah dua virus utama. Jangankan mahasiswa biasa, mahasiswa yang merupakan kader organisasi pun banyak terjangkiti virus ini. Kajian Keilmuan tidak mungkin akan berkembang pada individu yang masih menyimpan apatisme dan hedonisme.

Kedua virus ini hanya bisa diobati dengan dua cara; aktif membaca, dan aktif menulis. Membaca membantu kita mengikis akar-akar apatisme dengan memberikan kesadaran kepedulian akan keadaan sekitar. Sedangkan menulis mengasah kepekaan kita lewat gagasan-gagasan yang kita coba hadirkan dan tawarkan sebagai solusi atas permasalahan yang sudah kita baca. Kepekaan inilah yang dengan sendirinya menjauhkan kita dari sifat-sifat hedonis.

Kedua pondasi ini, membaca dan menulis, adalah stimulus yang akan terus menerus merangsang mahasiswa untuk mengkaji ilmu.

Seperti itulah kiranya.

Dari Mana Asalnya Perbedaan Pandangan?

Sebuah Catatan Lepas

Kalau dipikir-pikir ya, sepertinya berbeda pandangan itu sudah menjadi tabiat manusia. Ada aja alasan bagi perbedaan pandangan itu. Kalau kata pepatah arabnya, likulli ra’sin ra’yun. Bagi setiap kepala, ada pandangannya masing-masing.

Ini tentu dapat kita maklumi dengan kesadaran bahwa setiap manusia itu unik. Keunikan mereka terletak pada variasi pengalaman yang mereka terima. Apalagi di zaman keterbukaan informasi seperti sekarang ini.

Barangkali kalau di zaman dahulu, akses informasi orang-orang itu seragam. Seandainya pun bervariasi, variasinya itu tidak terlalu banyak. Sehingga kita dapat dengan mudah memetakan keadaan pikiran orang-orang. Apa yang mereka rasakan dapat diketahui dengan mudah karena tersampaikan dan tampak secara kolektif.

Sedangkan pada masa keterbukaan informasi ini, masing-masing orang, apapun suku, agama, dan rasnya, memiliki akses kepada informasi. Akses ini memungkinkan dia untuk memperoleh pengetahuan tanpa batas. Pengetahuan-pengetahuan ini akan membangun pemahamannya. Akses yang tanpa batas itu menjadikan setiap orang dapat memiliki preferensi yang berbeda-beda hingga ke taraf yang paling individualistis.

Taraf tersebut lahir dari kenyataan bahwa setiap orang dapat membangun keunikan preferensi mereka sendiri berdasarkan pilihan masing-masing atas sajian informasi yang ada. Ragam perbedaan pandangan pun menjadi semakin unik.

Ambil contoh dalam persoalan praktek peribadatan Islam. Saat ini, apabila kita menguasai ilmu perbandingan mazhab (aliran fikih) kita dapat dengan mudah menemukan sosok yang peribadatannya itu tidak konsisten di atas satu mazhab saja. Misalkan saat dia salat, dia bisa melakukan praktek wudhu dengan Mazhab Syafii, salat dengan Mazhab Hambali, dan berdoa dengan Mazhab Maliki.

Semua itu dia lakukan tanpa proses pengambilan pengetahuan yang legal formal melalui sekolah atau pesantren. Pengetahuan yang dia dapat itu dia ambil dari Internet, yang aksesnya tanpa batas. Atau dari kajian-kajian keislaman lepasan. Atau dari buku-buku yang dia beli di pertokoan. Atau dia mengambilnya dari obrolan-obrolan sambil lalu di jalan-jalan. Atau bisa juga dari kajian otodidak yang dia lakukan sendiri dengan mengandalkan keterbukaan akses informasi.

Pada intinya, pengetahuannya itu tidak dia dapatkan dengan cara-cara yang sistematis. Kenyataan ini membuat kita sulit melakukan pemetaan demografis berkaitan dengan hal-hal tersebut. Bisa jadi pada suatu wilayah yang terkenal dengan aliran tertentu, ternyata dalam praktiknya, menyimpan keragaman yang kolaboratif hasil dari keunikan masing-masing individu yang ada di dalamnya.

Jika kita menarik semuanya ke awal, kita kan menemukan kenyataan bahwa memang dorongan untuk berbeda pandangan itu sudah sejak dahulu ada. Sejak Adam baru saja tercipta. Maka upaya untuk menyeragamkan manusia itu mustahil. Semakin mustahil dengan efek-efek hasil keterbukaan tadi.

Apabila kita hadir dalam rapat-rapat, kita bisa semakin sadar bahwa bagaimana perbedaan pandangan itu sudah merupakan tabiat kita sebagai manusia. Kadangkala satu keputusan yang sifatnya sederhana saja bisa memakan waktu berjam-jam untuk menemukan titik temu.

Begitu banyak kepala yang harus kita tundukkan, harus kita taklukan agar pandangan kita dapat diterima. Meskipun kita sudah memiliki kapasitas untuk menyampaikan pandangan tersebut dan punya legitimasi untuk memutuskan kebenarannya, kita masih akan berhadapan dengan perbedaan pandangan. Apatah lagi apabila kita tidak punya pondasi apa-apa selain pengetahuan-pengetahuan lepas.

Menurut Ibnu Rusyd, perbedaan pandangan itu pangkalnya dua saja; perbedaan pengetahuan (termasuk informasi) dan perbedaan pemahaman (atau penafsiran).

Namun menurutku akar paling dalam dari perbedaan pandangan adalah perbedaan pijakan. Baik pijakan pikiran maupun pijakan keyakinan. Dalam membahas satu konsep yang sama saja, misalkan konsep “keadilan,” dua orang yang memiliki pijakan pikiran dan keyakinan yang berbeda, akan saling berbeda pandangan dari pangkal hingga ujung.

Ilusi Pertemanan

Hubungan antar manusia yang paling umum adalah pertemanan. Hubungan ini dihiasi dengan berbagai macam gejolak perasaan. Selain itu, hubungan ini juga berkelindan dengan berbagai macam manipulasi.

Manipulasi ini menjadikan suatu hubungan pertemanan yang tampaknya menyenangkan, tidak lebih dari serangkaian ilusi.

Seseorang yang kau sangka temanmu, bisa jadi hanyalah seseorang yang memanipulasimu dengan perasaan pertemanan. Dia ingin membuatmu tenang dan nyaman agar dia dapat dengan mudahnya mengambil beberapa keuntungan darimu, atau menjadikanmu alat untuk mencapai keuntungannya. Kau terperangkap dalam ilusi yang dia bangun. Kau adalah mangsa bagi serigala yang lapar yang ada di dalam dirinya.

Homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi manusia yang lain.

Manipulasi bukanlah sesuatu yang sulit. Seakan-akan manipulasi itu sendiri sudah merupakan tabiat manusia. Mampu menentukan mana yang manipulasi dan mana yang bukan dari sekian ikatan pertemanan yang kita miliki, itulah yang sulit.

Tapi manusia selalu berubah-ubah. Kadangkala perubahannya itu lebih cepat dari angin yang berhembus. Lebih cepat dari pergantian menit dan detik. Perubahan itupun kerapkali tanpa disadari.

Ada yang pada awal mula membangun pertemanan yang manipulatif. Namun kemudian tersadarkan oleh ketulusan temannya, dan lantas kemudian turut menjadi tulus pula.

Ada yang pada awal mula membangun pertemanan dengan niatan-niatan yang tulus. Namun karena tersakiti berkali-kali, akhirnya menjalani sisa hubungan pertemanan dengan manipulatif. Dengan senyuman-senyuman palsu dan tawa-tawa hambar.

Manusia memang pandai menyembunyikan perasaannya. Menyembunyikan kekesalan dan kemerahannya di balik senyuman dan perlakuan yang manis.

Bagaimana kita bertahan di tengah serangan beragam kepalsuan ini? Tapi tunggu, benarkah kepalsuan-kepalsuan itu adalah serangan, ataukah kita yang menyikapinya terlalu berlebihan?

Aku yakin, bahwa semua manusia ingin perlakuan yang jujur dan tulus. Namun bagaimanakah jika kejujuran dan ketulusan itu berarti suatu bentuk kebencian? Akankah kita masih sanggup menerimanya? Ataukah bahkan kita lebih memilih untuk menghadapi kepalsuan yang manis ketimbang tegar berhadapan dengan kenyataan yang pahit?

Maka seringkali, ilusi-ilusi itu sebenarnya tidak datang dari orang lain. Melainkan dari diri kita sendiri. Kita menciptakan ilusi-ilusi itu karena kita takut menghadapi kenyataan-kenyataan yang ada.

Sebegitu tidak adilkah dunia sehingga apa yang bisa kita lakukan hanyalah membangun ilusi?

Lihatlahlah orang-orang di sekelilingmu dan tatap mata mereka baik-baik kemudian tanyakan pertanyaan ini pada dirimu sendiri, “tuluskah orang itu?”

Aku bukannya ingin mengajakmu untuk terperangkap dalam prasangka buruk. Aku hanya ingin kau sadar bahwa manusia baik hati itu tidak ada. Manusia adalah seperangkat kepentingan dengan segudang alasan.

Lantas, kau pun harus turut mempertanyakan motif pribadimu. Mungkinkah ilusi?

Beberapa hal, beberapa perasaan, beberapa perkataan, dan beberapa tindakan tampak ada begitu saja tanpa adanya kesadaran dari diri kita. Kita suka tidak sadar bahwa pertemanan yang kita jalani itu ilusi. Bukan karena kita tidak mampu menjalaninya, melainkan karena ilusi itulah yang lebih menyenangkan bagi kita.

Apakah ilusi yang menyenangkan itu mampu membuat kita bahagia? Mungkin kita akan menjawab, “iya!” Tapi dapatkah kita melihat, bahwa jika ditimbang dengan akal sehat, kebahagiaan yang lahir dari suatu bentuk ilusi, sejatinya juga merupakan sebuah ilusi?

Tapi, manakah sebenarnya yang ilusi dan manakah yang sebenarnya yang nyata. Jangan-jangan, pertemanan yang kita anggap ilusi, itulah pertemanan yang sebenarnya. Sedangkan pertemanan yang kita lihat sebagai kenyataan, hanyalah ilusi yang tak terketahui.

Tentang Pontianak dan Manusia-manusianya

Manusia memang selalu unik di manapun mereka berada. Termasuk di Pontianak ini. Setelah beberapa hari berinteraksi dengan kawan-kawan dari HMI cabang Pontianak, baik yang berasal dari struktural pengurus cabang, BPL, maupun LDMI, aku bisa menangkap keunikan itu dengan caranya sendiri-sendiri.

Kedatanganku di sini dalam rangka pengelolaan training Latihan Kader Dakwah (LKD) yang diselenggarakan oleh LDMI HMI pada akhir tahun nanti. Kedatanganku sengaja lebih awal dari hari pelaksanaan pelatihan demi dapat melakukan konsolidasi konsep dan teknis dengan pihak-pihak terkait; Pengurus Cabang, BPL, dan LDMI itu sendiri.

Aku sudah mendiskusikan berbagai macam hal. Diskusi paling menarik adalah diskusiku bersama ketua umum BPL HMI cabang Pontianak, Abdul Muiz.

Dari Kanda Muiz, aku mendapatkan pemahaman penting mengenai kultur perkaderan di lingkungan HMI cabang Pontianak. Dalam diskusi tersebut juga kami menyatukan pemahaman mengenai training yang akan kami kelola. Mulai dari penyeleksian dalam tahapan screening, hingga metode penilaian yang akan kami terapkan.

Kanda Muiz sepakat dengan gagasanku untuk menerapkan metode penilaian kualitatif. Metode ini aku dapatkan ilmunya dari Training Management Training yang aku ikut beberapa waktu lalu. Dengan metode ini, konversi nilai itu tidak ke dalam angka-angka. Tapi kata-kata.

Sebelumnya, gagasan mengenai metode penilaian ini sudah aku diskusikan juga secara mendalam bersama koordinator Steering Committee, ayunda Fauziah Husaini. Aku sudah terlebih dahulu menjalin diskusi yang intens via WhatsApp dengan yunda Fauziah. Aku membantunya mempersiapkan perangkat lunak pelatihan berupa konsep dan kurikulum.

Selama berinteraksi dengan manusia-manusia Pontianak ini, salah satu kekentalan budaya yang aku temui, terutama di lingkungan HMI, adalah budaya melayu. Irama logat melayu yang kental masih umum menghiasai lidah pada penutur bahasa di sini.

Selain itu, aku juga menemukan kekentalan budaya China/ Tionghoa yang tampak jelas di jalan-jalan kota. Budaya Tionghoa di sini juga berbanding lurus dengan budaya Kristen. Secara etnis Tionghoa itu sebagian besar adalah pemeluk agama Kristen. Bangunan-bangunan gereja yang megah dan indah dapat dengan mudahnya kita temukan.

Belum lagi kedatanganku ke sini bertepatan dengan liburan natal sekaligus juga tahun baru. Perayaan kedua momentum tersebut terasa begitu hidup.

Ada satu karakteristik kebudayaan HMI cabang Pontianak yang aku pikir bernilai sangat positif dan dapat menjadi pelajaran berharga bagi kader HMI di cabang-cabang lain, terutama cabangku sendiri.

Karakteristik tersebut adalah bagaimana kader-kader HMI cabang Pontianak mau memberikan kontribusinya pada kegiatan-kegiatan yang ada meskipun kegiatan tersebut tidak memiliki kaitan langsung dengan mereka selain bahwa kegiatan tersebut berada dalam naungan HMI. Misalkan saja LKD ini. Ternyata, para panitia (organizing committee) kegiatan ini terdiri dari utusan-utusan setiap komisariat. Tidak hanya terbatas pada anggota LDMI semata. Mereka masih mau membantu kegiatan lembaga profesi padahal mereka sendiri bukanlah bagian langsung dari lembaga tersebut.

Menurutku kemauan itu adalah suatu nilai yang sangat positif. Pada beberapa cabang, jangankan bukan bagian dari institusi penyelenggara, berbeda gerbong politik pun dapat menjadi alasan keengganan seseorang untuk memberikan sumbangsihnya pada suatu kegiatan.

Masih ada beberapa hari lagi yang akan aku habiskan di sini, insya Allah. Aku berharap beberapa hari ke depan itu akan menjadi momentum yang bisa aku manfaatkan untuk bisa lebih banyak lagi belajar dari manusia-manusia di sini.

Kesan Bacaan “Cerita Buat Para Kekasih” Karya Agus Noor

Cerita buat Para KekasihCerita buat Para Kekasih by Agus Noor

My rating: 3 of 5 stars

Ini buku Agus Noor pertama yang secara utuh aku baca. Sebelumnya, aku hanya membaca beberapa cerpennya yang tersebar di Internet dan di blog pribadinya, Dunia Sukab. Salah satu yang paling memukau adalah “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi.” Agus Noor memang seorang penutur cerita yang piawai menangkap peristiwa-peristiwa sosial untuk dia sajikan secara kritis dalam cerita-ceritanya.

Secara keseluruhan, aku akan mengatakan cerita-cerita dalam buku ini bagus. Namun aku tidak menyukai beberapa cerita yang dalam pandanganku terlampau surealis atau mistis yang penuh dengan metafora-metafora yang membingungkan. Bagiku, kekuatan sebuah cerita adalah kedekatanya dengan pengalaman keseharian kita. Meskipun dengan latar belakang yang fiktif dan bahasa yang tinggi ataupun tertimbun oleh diksi-diksi asing, apabila ceritanya mampu menyentuh kesadaran pengalaman yang terjangkau oleh kita, cerita tersebut akan menarik.

Maka cerita-cerita yang Agus Noor sajikan berangkat dari problematika sosial, sebagian besar soal cinta dan romansa, adalah yang aku sukai dari buku ini.

Sebagaimana judulnya, cerita-cerita dalam buku ini sebagian besar adalah cerita-cerita cinta. Bacaan ini cocok bagi mereka yang sedang semangat dalam menikmati ekspresi tersebut. Banyak kutipan-kutipan percintaan yang bisa seseorang ambil, baik untuk dipersembahkan kepada sang kekasih, atau sekadar dipergunakan untuk caption di Instagram . Salah satunya misalnya kutipan,

Wanita memang selalu berbahaya, karna kita tak pernah tahu apa yang dipikirkannya

Meskipun ritmeku dalam membaca buku ini cukup pelan, aku menikmatinya. Semoga saja juga aku bisa menikmati karya-karya Agus Noor selanjutnya.

View all my reviews

%d blogger menyukai ini: